Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 159


__ADS_3

     Di waktu subuh yang masih gelap gulita, Miftah terbangun akibat mendengar suara bising dari alaram yang di pakainya semalam.


     Sudah beberapa hari ia tidak masuk kerja lagi di perusahaan papanya, karna sejak awal tujuannya hanya untuk mengungkapkan kejahatan sang nyonya.


     Dengan tubuh yang sedikit sempoyongan Miftah bangkit untuk membersihkan diri agar lebih segar sebelum melaksanakan sholat subuh.


     Dari semalam ia tidak bisa tidur, entah kenapa akhir - akhir ini perasaannya selalu merasa tidak enak di detik - detik menuju pernikahannya dengan Firdaus.


     Meskipun suasana hati bisa di bilang tidak terlalu bagus tapi Miftah tetap bersikap biasa saja, itulah sebabnya ia juga mampu memberi arahan pada orang lain seperti Zaldira semalam.


     Kini tubuhnya sudah segar saat aliran air yang terasa seperti batu es mengguyur tubuhnya, lalu setelah urusannya selesai baru ia keluar dari kamar mandi dengan kondisi anduk yang melilit tubuhnya.


     Dengan tubuh yang sedikit bergetar ia memakai pakaiannya untuk segera melaksanakan sholat subuh.


     Disisi lain Firdaus yang baru saja terbangun melakukan hal yang sama seperti Miftah.


     Usai dengan segala urusannya di subuh hari ia pun keluar dari kamarnya dengan kondisi rambut yang basah karna baru saja kramas.


     Baru saja ia hendak melangkahkan kakinya menuju tangga tiba - tiba saja langkahnya jadi terhenti saat mendengar suara gagang pintu terbuka dari kamar Miftah.


     Ia hanya tertawa saat melihat Miftah berjalan dengan tubuh yang sedikit menunduk, dua tangannya yang menyilang tak berhenti mengelus bahunya.


     Tubuhnya jelas terlihat begitu bergetar dan Firdaus jadi terkejut saat melihat bibir Miftah yang sedikit membiru.


     Miftah yang sempat melihat tawa Firdaus hanya memandang sinis sang pelaku.


     "Ratuku! kenapa bibirmu jadi biru begitu? kamu sakit kah?" tanyanya panik.


     "Udah ah gak usah sok cemas gitu kak! tadi aja Kaka ngeledekin Miftah," dengusnya.


     "Lah! memangnya kapan Kaka ledekin kamu Ratuku?" herannya.


     "Ya Kaka kan sempat ketawain Miftah tadi,  mana ketawanya ngakak banget lagi. Bilang aja Kaka emang suka liat Miftah tersiksa kayak gini," geramnya yang sudah tersulut emosi.


     "Eiisss... Jangan marah - marahlah Ratuku... Rajamu itu kan tadi hanya merasa lucu aja waktu liat tingkahmu tadi... Gak ada maksud sama saling buat menghina kamu kok," jelasnya sambil memandang Miftah.


     "Huh! terserah! Miftah gak peduli, sekarang Miftah mau turun aja. Takutnya mama sama papa udah nunggu lama," resahnya memalingkan wajah ke arah lain karna enggan melihat lawan bicaranya.


     "Hmmm... Kamu kayaknya mudah banget terbawa emosi hari ini, pasti hatimu sedang tidak tenang karna sebuah masalah." pikirnya sambil memijit dagunya.

__ADS_1


     Miftah jadi terkejut saat mendengar apa yang Firdaus katakan dan itu tentu saja benar.


     "Ya ampun! tebakan Kaka kok sering tepat sasaran sih? jadi sulit bohong kan kalau begini jadinya," batinnya sambil menghembuskan napas panjang.


     "Kenapa Ratuku? kayak capek banget aja napasnya seperti itu, apa jangan - jangan tebakan Rajamu ini benar ya..? ayo ngaku..." desaknya sambil menyengir kuda dengan satu mata yang di sipitkan.


     Miftah yang kini sudah bingung ingin menjawab apa memilih mendekati Firdaus saja agar tidak memperpanjang pertanyaan.


     "Rajaku... Ratumu ini sedang tidak enak hati, jadi lebih baik jangan di panas - panasin sebelum makin meledak nanti ya..." peringatnya sedikit menekan kata - katanya.


     "Iya deh... Lebih baik ayo kita turun," putusnya tak ingin pikir panjang dan Miftah jadi mengangguk tersenyum.


     Akhirnya mereka pun berjalan menuruni anak tangga dengan hati - hati, Firdaus tak berhenti memapah Miftah agar tidak jatuh karna ia masih saja tampak bergetar.


     Sang mama yang melihat mantu kesayangannya tampak pucat jadi ikutan cemas.


     "Lho sayang... Kamu kenapa?" tanyanya yang sudah bangkit dari kursi untuk menghampirinya.


 


     "Gak papa kok ma... Hanya kedinginan aja," jawabnya berusaha tersenyum.


     "Syukurlah gak panas, lebih baik sekarang kamu langsung duduk aja ya... Kebetulan bibi pagi ini ada masak kuah sop. Pasti akan terasa hangat jika kamu memakannya," sambungnya yang kini ikutan memapah Miftah untuk berjalan ke arah kursinya.


     "Ya ampun mantu papa kasian banget sih... Kok bisa ya sakit kayak gitu? biasanya papa lihat gak kenapa - napa," cemasnya.


     "Je... Si papa ma pinternya ngomong doang! kacian... Kacian... Tolongin ma enggak," dengus sang mama sambil memandang sinis suaminya.


     "Lah! terus papa harus ngapain ma?" tanyanya tak habis pikir.


     "Entahlah! capek mama," acuhnya memilih mengambil piring lalu menaruh nasi untuk mantu tersayangnya.


     "Si mama di tanya malah gitu," protes sang papa.


     "Suka - suka," responnya lalu menaruh piring yang sudah berisi lauk pauk di depan Miftah.


     "Makasih banyak ya ma," ucap Miftah yang tampak sedikit kesulitan saat berbicara.


     Rasa sakit di bagian kakinya tiba - tiba saja menyerangnya, dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa sakit tersebut yang begitu menekannya.

__ADS_1


     "Duh! Kenapa kini kakiku malah ikut - ikutan terasa sakit? tulangku rasanya seperti mau patah," batinnya yang tanpa sadar sudah berkaca - kaca.


     Firdaus yang merasakan gerak - gerik aneh dari Miftah jadi melihat ke arahnya.


     "Ratuku, kamu kenapa?" tanyanya berbisik di telinga Miftah.


     "Gak papa kok kak," elaknya berusaha bersikap tenang meskipun tubuhnya seperti ingin melayang.


     Miftah kini mencoba untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tapi niatnya terhenti saat tekanan di kakinya semakin dahsyat.


     "Ah!" rintihnya sambil memegang kakinya.


     "Tuh kan! pasti kamu kenapa - napa," ucap Firdaus lalu memegang kaki Miftah pada bagian yang dulu sempat di perban oleh dokter.


     "Aduh Kaka... Jangan sentuh kakiku yang itu... Sakit kak... Sakit..." rintihnya berusaha menyingkirkan tangan Firdaus tapi tak berhasil.


     Tiba - tiba Firdaus teringat dengan obat penghilang rasa nyeri yang dokter titipkan padanya untuk di minum oleh Miftah, dan sialnya dia malah lupa memberikannya supaya rasa sakit itu tak Miftah rasakan agar cepat sembuh.


     "Ya ampun Ratuku! maafkan aku," sedihnya lalu bangkit hendak kekamarnya dengan tergesa - gesa.


     Mama sama papa jadi heran dengan tingkahnya, apa lagi Miftah yang sejak tadi terus memerhatikan punggungnya yang berjalan menjauh menaiki anak tangga.


     Tak berapa lama kemudian Firdaus pun datang dan menyuruh Miftah meminum dua buah pil yang sudah ia keluarkan dari plastik obat.


     Miftah sempat bertanya jika itu obat apa, tapi Firdaus tidak menjawabnya dan memaksanya untuk meminumnya.


     Karena tak ingin berdebat akhirnya Miftah pun menurut tanpa berpikir terlebih dahulu.


     "Firdaus! obat apa itu yang kamu kasih ke mantu mama hah? Miftah tanya kok gak kamu jawab malah kamu paksa," omel mamanya.


     "Iya tuh! pokonya awas aja kalau mantu papa sampai kenapa - napa," sambung papanya tak mau kalah.


     Firdaus hanya menggeleng saat mendengar ocehan orang tuanya. Saking pedulinya mereka sama Miftah sampai lebih banyak memberi perhatian padanya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2