
Sudah satu jam Fahman berputar kesana kemari menggunakan mobilnya untuk mencari mobil yang membawa Permata pergi.
"Duh... Kemana sih tu mobil," ucapnya sambil memegang dahinya yang sedikit berdenyut.
"Oh iya! Kak Firdaus pasti punya banyak bodyguard, aku bisa meminta salah satu dari bodyguardnya untuk membantuku." pikirnya.
Tanpa membuang - buang waktu Fahman langsung menelpon kakanya.
Saat telpon terhubung, tatapan Fahman tiba - tiba menangkap sosok yang sejak tadi dicarinya, ya! siapa lagi kalau bukan Permata.
Ia baru saja keluar dari sebuah toko baju dengan calon suaminya.
"Halo Fahman! ada apa kamu meneleponku?" tanya kakanya.
"Kak! aku minta maaf! aku tutup dulu ya," responnya saat panggilannya sudah diterima oleh Firdaus.
Tanpa pikir panjang ia langsung mengemudikan mobilnya menuju toko tersebut.
Tapi sayang, mobil itu sudah melaju kembali hingga ia terpaksa harus mengikutinya.
"Huh! baru juga ketemu udah mutusin nikah aja! terus waktunya cepet banget lagi, hari ini langsung di ajak pilih gaun! padahal Permata pasti masih dalam keadaan syok usai kejadian tadi, bener - bener gak punya perasaan tu orang." dumelnya.
Akhirnya mobil tersebut berhenti juga disalah satu rumah yang lumayan besar.
"Maaf bos, mobil kita gak bisa masuk kedalam." ucap sang sopir.
"Kenapa gak bisa?" herannya.
Werdan tidak dapat melihat langsung karna ia duduk di kursi belakang bersama Permata.
"Ada tiga cewek cantik yang sudah menghadang jalan kita pak," beritahunya.
"Siapa mereka?" tanyanya.
"Saya tidak tau pak," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
Werdan terpaksa membuka kaca jendela mobilnya dan ia sangat terkejut saat mengetahui siapa tiga wanita tersebut.
"Alamak! kenapa mereka bisa ada disini," ucapnya sedikit cemas.
"Maaf kak! ada apa ya?" tanya Permata bingung.
"Eh! gak ada apa - apa Permata," jawabnya sedikit terkejut.
"Gawat! kekasih gue kenapa pada tau di mana rumah gue sih," batinnya merasa cemas.
"Hey! coba liat itu," ucap salah satu dari mereka.
"Eh iya! itu ma kekasih aku..." ucap wanita dua.
"Heh! jangan mimpi ya kamu! dia itu kekasih aku tau... Orang kami pernah serumah bersama," sombong wanita tiga.
__ADS_1
"Alah... Halu aja kamu! sudah tentu dia itu calon suami aku... Liat nih! aku udah dikasih cincin sama dia," sambung wanita satu tak mau kalah.
"Cih!" ucap wanita dua dan tiga bersamaan.
"Pak! sekarang mendingan bapak turun... Terus bilang sama mereka untuk segera tinggalin rumah ini, kalau mereka tanya aku jawab aja akunya gak ada." suruhnya.
"Baik pak," jawabnya.
Akhirnya pak sopir pun keluar dari dalam mobil.
"Maaf nona - nona... Tuan sedang tidak ada dirumah... Jadi nona - nona bisa langsung pulang saja ya..." ucapnya sambil tersenyum.
"Heh pak! bilang sama bos bapak untuk keluar dari dalam mobil sekarang juga," pinta wanita satu.
"Bener itu pak! jelas - jelas tadi saya liat dengan mata kepala saya sendiri kalau calon suami saya ada didalam mobil," sambung wanita dua.
"Nah! bener banget pak! jadi! kalau bapak sampai gak mau turutin apa yang kita minta, maka jangan salahkan kami untuk menghalangi jalan bapak." ancam wanita tiga.
"Aduh nona - nona yang cantik... Sebaiknya nona - nona pulang saja ya... Karna meskipun tuan ada di dalam mobil, tapi tuan baru aja di bawa pulang dari rumah sakit... Jadi butuh istirahat yang cukup..." ucapnya terpaksa berbohong.
"Apa? my husband sakit," ucap wanita satu.
"OMG - OMG - OMG," sambung wanita dua.
"What - what - what?" kejut wanita tiga.
"Gawat! kalau gitu aku harus liat gimana keadaannya," cemas wanita satu.
"Eh aku ikut," ucap wanita dua.
Dengan gesit Werdan langsung menutup kaca mobilnya.
"Duh... Gawat - gawat," ucapnya sambil menundukkan kepalanya hingga tidak dapat di lihat dari luar jendela.
"Lho! Kaka kok ngumpet sih?" heran Permata.
"Permata! tolong Kaka dong..." pintanya memelas.
"Hah? tolongin apa kak?" tanyanya bingung.
"Bantu usir para kekasih Kaka itu," ucapnya yang tak sengaja mengucapkan yang sebenarnya.
"Apa? jadi Kaka udah punya kekasih? tiga lagi! sudah Permata duga jika wanita Kaka banyak," resahnya.
"Permata... Ini bukan saatnya untuk kamu membenarkan dugaan kamu... Lebih baik kamu bantu Kaka untuk buat mereka pergi," pintanya.
"Kaka... Kaka jadi pria harus gentleman dong! masak sama kekasih sendiri aja takut," protesnya.
"Bukan takut Permata..." responnya.
"Terus kalau gak takut kenapa sikap Kaka jadi kayak anak kecil begini," komennya.
"Kamu tu gak tau kalau mulut mereka kayak gimana," ucapnya mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Lah! kayaknya biasa aja kak," responnya.
"Dari segi mana coba kamu bisa mengatakan hal itu? mereka itu mulutnya kayak petasan dan sambel cabe tau... Sekali ngomong langsung juger! atau dalam kata lain bisa kena banget di hati... Paham gak sih?" jelasnya.
"Ya paham kak... Cuma Kaka harus berani ambil resiko lah kalau gak bisa bersikap adil sama para kekasih Kaka," ucapnya.
"Mana aku peduli! yang penting aku udah bayar mereka pun," responnya.
"Ya ampun kak... Perasaan itu gak bakal bisa dibayar pake uang," resahnya.
"Bisa kok," elaknya.
"Oke! kalau Kaka merasa bisa ayo atu Kaka keluar buat samperin mereka... Gak perlu pakai acara bohong segala," ucapnya.
"Tapi..." ucapan Werdan jadi terpotong.
"Tapi apa kak?" tanyanya yang sudah merasa sedikit jengkel.
"Tapi Kaka masih gak berani Permata," jujurnya.
"Berarti Kaka pengecut! aku gak mau nikah sama orang yang pengecut kayak Kaka," geramnya.
"Eisttt... Jangan coba - coba ya kamu membatalkan pernikahan kita! aku udah beli baju gaun untuk kamu lho," peringatnya.
"Kaka kan banyak uang! jadi Kaka gak perlu merasa rugi dong! lagian ukuran baju gaunku pasti muat sama salah satu kekasih Kaka itu," ucapnya sambil melihat dari kaca jendela mobil.
"Permata! pokoknya aku gak akan biarin sampai hal itu terjadi," geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau Kaka gak mau! aku minta Kaka keluar sekarang juga dari mobil ini untuk menuju ke kekasih Kaka," pintanya.
"Kalau sampai Kaka menolak juga, jangan salahkan aku untuk memilih membatalkan acara pernikahan kita ini." tekannya.
"Baiklah - baiklah! aku akan keluar sekarang," ucapnya pasrah.
"Bagus!" responnya sambil melipat kedua tangan di bawah dada.
Dengan tubuh yang sedikit bergetar ia pun keluar dari dalam mobilnya.
"Aaa! my husband keluar juga, dasar sopir pembohong!" ucap wanita satu sambil memandang sinis kearah sang sopir yang hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Hadeh... Sekarang malah aku yang kena," batin sang sopir merasa resah.
"Iya! emang seorang pembohong dia," geram wanita dua sambil menunjuk kearahnya.
"Au tu! berani - beraninya ia menipu si gadis cantik sepertiku," sambung wanita tiga tak mau kalah.
Kini tiga wanita itu sudah berada dihadapannya, ia saja sampai bingung harus berkata apa karna yang terpenting baginya ia hanya ingin menunjukkan pada Permata bahwa ia adalah seorang pria yang gentleman.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇