Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 105


__ADS_3

     Pagi ini adalah pagi yang sangat menegangkan, bagaimana tidak? dipagi hari ini Miftah akan mencoba membongkar kejahatan sang nyonya didepan papanya.


     Ia tidak tau apakah ia akan berhasil atau tidak, tapi ia selalu berdoa agar segara hajatnya dapat berjalan dengan lancar.


     "Bismillah," ucapnya lalu mulai menurunkan satu kakinya keatas anak tangga, tapi langkahnya jadi terhenti saat matanya tak sengaja melihat pintu kamar Firdaus.


     "Hmm... Apa aku liat dulu kondisi Kaka ya?" batinnya sambil memegang tali tas selempangnya.


     "Tok! tok! tok!" Miftah mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu.


     Lima menit ia menunggu tapi tetap juga tidak ada responan dari dalam hingga ia memilih untuk langsung membukanya dan disitu ia terkejut karna pintu yang awalnya tertutup sudah terbuka dengan Firdaus yang telah memakai baju kemejanya dengan rapi.


     "Lho! Kaka emang udah sembuh?" tanya Miftah merasa heran.


     "Udah dong! masak iya Kaka sakit terus - terusan sih," responnya sambil mengancingkan lengan kemeja putihnya.


     "Oh iya! pagi ini Kaka akan anterin kamu sampai ketempat kerja," ucapnya lalu mulai menarik tangan Miftah untuk berjalan mengikutinya.


     "Tapi kan jalan kearah tempat kerjaku berbeda dengan arah kekantor Kaka..." ucapku mencoba mengingatkan.


     "Dari mana kamu tau? apakah sebelumnya kamu pernah keperusahaanku?" tanya Firdaus yang membuat Miftah terdiam sesaat.


      "Hehehe! aku padahal hanya menebak saja sih... Ternyata benar ya?" tanyanya dan Firdaus hanya tersenyum.


     "Iya benar," jawabnya sambil mencolek hidung Miftah.


     "Mulai lagi deh," resah Miftah dan Firdaus lagi - lagi hanya meresponnya dengan senyuman.   


     "Kita naik apa kak?" tanya Miftah saat mereka sedang menuruni anak tangga.


     "Motor aja deh! mumpung masih pagi banget ini," respon Firdaus.


     "Kenapa gak mobil aja kak? Kaka pun jadi gak terlalu lelah untuk bolak balik nantinya," usulnya.


     "Gak ah! sekalian nikmatin udara pagi," ucapnya dan Miftah hanya mengangguk saja.


     "Oh iya kak! aku mau kasih tau Haris dulu kalau pagi ini aku diantar sama Kaka, kasian nanti Harisnya malah nunggu." beritahunya lalu langsung mengambil benda pipih yang ada didalam tas selempangnya.


     Setelah memberitau Haris mereka pun kembali berjalan untuk menuju ke meja makan.


     Mama dan papa terlihat sudah menunggu kedatangan mereka disana. Meja makan yang awalnya sunyi kini jadi terasa sedikit ramai.

__ADS_1


     Usai makan Firdaus dan Miftah pamit untuk berangkat setelah mencium punggung tangan keduanya.


     "Kak! Miftah kayaknya agak pusing deh! takutnya kalau naik motor bakal linglung, terus jatuh karna gak bisa jaga keseimbangan." ucapnya mencari akal agar Firdaus mau menggunakan mobil.


     "Lho! kamu sakit Ratuku?" tanyanya sambil menaruh satu telapak tangannya didahi Miftah.


     "Gak papa sih kak... Cuma pening aja..." ucapnya mencoba memberi tau.


     "Yaudah lebih baik kamu libur aja hari ini ya..." usulnya.


     "Is... Gak mau... Miftah mau pergi juga pokoknya! tapi naik mobil biar bisa senderan..." rengeknya dengan tatapan memohon.


     Karna tak sanggup melihatnya akhirnya Firdaus pun menyetujuinya.


     "Ye... Makasih banyak ya Kaka," girangnya dan Firdaus hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat perubahannya yang cepat.


     Akhirnya mereka pun pergi dengan mobil hitam kesayangan Firdaus.


     "Kak! udah kak sampai disini aja," ucap Miftah saat mereka hampir sampai ketempat tujuan.


     "Kamu serius mau jalan kaki dari sini kesana? apa gak kejauhan?" tanyanya sambil mengerutkan dahinya.


     "Aduh Kaka... Gak jauh kok! lagian aku tuh udah biasa juga dulu jalan dari rumah kepasar... Bawa sekeranjang terong lagi," jawabnya.


     "Iya Kaka... Kalau segitu aku gak bakalan capek kok..." ucapnya mencoba meyakinkan.


     "Ya udah... Kalau gitu kamu hati - hati ya... Kerja yang benar tuh," peringat Firdaus.


     "Huh! Kaka cuma suruh aku doang! Kaka sendiri tuh yang suruh diri Kaka dulu, dari kemarin gak masuk - masuk kantor! entar kerjaan Kaka menumpuk lho... Kalau udah menumpuk pasti capek! nah! kalau udah capek Kaka pasti sakit! kalau udah sakit Kaka pasti gak bisa lanjut kerja lagi! kalau Kaka-" belum sempat Miftah menyelesaikan ucapannya Firdaus langsung membungkam mulut Miftah dengan satu tangannya.


     "Stop! stop! stop! oke - oke Ratuku! aku bakal masuk hari ini! demi kamu! jadi gak usah berceloteh lagi. Lagian aku kan baru sembuh," resahnya.


     Miftah yang baru saja selesai mendengarkan apa yang Firdaus ucapkan langsung menghempaskan tangannya yang masih setia membungkam mulutnya.


     "Is Kaka! masak demi aku sih! demi kesuksesan perusahaan Kakalah..." protesnya.


     "Tapi iya juga sih! kan Kaka baru sembuh," sambungnya sambil memegang dagunya.


     "Nah! itu kamu tau!" seru Firdaus sambil mencubit batang hidung Miftah dan sang korban hanya merintih sambil mengelus hidungnya yang terasa sakit.


    "Kebiasaan! main cubat - cubit aja! yaudah sana berangkat kerja! jangan putar balik kerumah lagi tuh! lama," responnya.

__ADS_1


     "Iya - iya Ratuku... Kalau begitu Rajamu ini ingin berangkat dulu ya..." pamitnya.


     "Oke deh! hati - hati dijalan ya... Jangan ngebut - ngebut tuh," peringatnya.


     "Beres Ratuku... Siap laksanakan," responnya sambil memberi hormat pada Miftah yang sudah menutup mulutnya dengan satu tangannya saat menahan tawa.


     "Kalau mau ketawa, ketawa aja sih... Napa harus ditahan - tahan hah?" tanyanya.


     Saat mendengar apa yang Firdaus ucapkan baru Miftah melepaskan tawanya setelah susah payah menahannya.


     "Kok ketawanya sampai segitunya? apakah Rajamu semenggemaskan itu?" tanya Firdaus.


     "Ya iyalah... Kaka malah gak sadar kalau Kaka itu gemesin banget tau... Ups," ceplos Miftah dan ia langsung menutup mulutnya dengan tiga jarinya.


     "Hahaha... Ketahuan kan kalau aku ini memang menggemaskan," bangganya sambil memijat dagunya.


     "Udah ah! dari pada aku sibuk meladeni seribu kepedean Kaka lebih baik aku pamit untuk langsung ketempat kerjaku aja ya... Bye Kaka baik..." ucapnya sambil membuka pintu mobil lalu pergi tanpa menunggu jawaban setelah menutupnya kembali.


     "Hei! aku belum jawab kamu udah main pergi aja! hadeh... Untung Ratuku! kalau bukan," geramnya.


     Miftah yang sudah berjalan cepat mulai melihat kebelakang setelah merasa jaraknya dengan mobil Firdaus sudah sedikit jauh.


     Ia dapat melihat jika Firdaus sedang memutar haluan mobil dengan wajah yang tak bersahabat. Ia hanya mampu menahan rasa geli dihatinya saat melihat wajah datar tanpa ekspresi dari Firdaus.


     "Kaka - Kaka... Makanya jangan nyebelin napa! kan jadi Miftah buat kesel," ucapnya sambil sambil menutup mulutnya saat tertawa.


     Puas dengan urusan tertawa baru ia melanjutkan kembali langkah kakinya yang sempat ia tundah.


     Dari kejauhan ia dapat melihat mobil hitam sang nyonya yang baru saja tiba. Tak jauh dibelakangnya ia juga dapat melihat sebuah mobil berwarna merah menyala sedang berdiri dibelakang mobilnya.


     Ternyata mobil berwarna merah menyala itu dimiliki oleh papanya Miftah. Setelah kedua mobil itu masuk kedalam baru Miftah ikut memasuki gerbang.



Mobil papa Miftah


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2