Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 141


__ADS_3

     Sesampai didalam Dahra dan Rosalia langsung di sambut oleh para pelayan yang memang sudah bertugas untuk membantu rencananya.


     Untung sejak tadi sore Dahra sudah menelpon salah satu temannya yang mempunyai sebuah restoran yang cukup terkenal di kota ini.


     Ia bahkan sempat mengajak Miftah dan teman - temannya untuk makan di sini saat mereka baru pertama kali bertemu.


     "Selamat datang nyonya Dahra," ucap salah seorang pelayan sambil membungkukkan badannya sopan di ikuti oleh yang lain.


     "Selamat datang juga nyonya Rosalia," sambung yang lainnya turut membungkukkan badan mereka kembali.


     Dahra hanya merespon mereka dengan senyuman, lalu meminta mereka untuk mengantarnya ke tempat yang hanya disewa olehnya seorang.


     Mereka hanya mengangguk sambil berkata mari dan Dahra hanya menarik tangan Rosalia kembali untuk mengikutinya.


     "Hmmm... Kenapa mereka tampak sangat hormat kepadamu? gak mungkin kan hanya karna harta saja?" gumam Rosalia.


     Dahra yang mendengar apa yang Rosalia katakan hanya memalingkan wajahnya ke arahnya untuk menjawab pertanyaannya.


     "Wajar saja mereka bersikap seperti itu Rosa, karna ini adalah restoran temanku yang udah sering banget aku kunjungi." jelasnya.


     "Oh... Pantas saja," responnya sambil mengangguk.


     Sesampai di atas yaitu di rooftop mereka mulai duduk di sebuah meja bulat.


     Rosalia sedikit tidak nyaman karna menurutnya ini terlalu berlebihan jika hanya makan satu malam saja.


     "Kenapa sejak tadi kamu hanya sibuk melihat ke kiri dan kanan?" tanya Dahra sambil menaikkan alisnya.


     "Enggak Dahra! aku hanya heran aja, untuk apa sih kamu menyewa tempat khusus hanya untuk makan satu malam saja? apa ini tidak terlalu berlebihan? dibawah kan bisa juga." jawabnya merasa heran.


     "Enggak kok... Biasanya aku juga makan di bawah, cuma hari ini aku cuma ingin makan dengan tenang ditambah pemandangan langit yang indah." jelasnya santai.


     "Huh... Terserah kamu deh Dahra," responnya pasrah usai menghembuskan napas panjang.


     Tak berapa lama kemudian pesanan Dahra pun datang.


     "Lho! kok cepet banget? kapan kita pesannya?" tanyanya sambil mengerutkan dahinya.


     "Silahkan dinikmati nyonya... Semoga saja nyonya suka dengan masakan di restoran ini," ucap sang pelayan yang membawa makanan.


     "Baiklah! terima kasih." responnya lalu ia berlalu dari hadapan mereka setelah menjawab sama - sama.


     Dahra yang sejak makan malam belum merasa puas tanpa ba bi bu langsung menyambar makanan yang ada diatas meja.


     "Ya ampun Dahra..." ucap Rosalia sambil terkekeh pelan karna merasa gemas melihat sikap Dahra yang sangat lahap ketika memakan makanannya.


     "Hehe! maaf ya kini nafsu makanku udah meningkat kembali, ayo dong kamu makan juga." responnya sedikit merasa malu.


     Tak perlu menunggu waktu lama makanan yang mereka pesan kandas dalam sekejap dan yang paling banyak menghabiskannya adalah Dahra.


     Dahra yang baru saja melirik kearah jarum jam yang ada di pergelangan tangannya jadi terkejut di buatnya.


     "Gawat! ini tinggal lima menit lagi, pasti Alterio tak lama lagi akan tiba dengan Askari." batinnya cemas.


     "Aduh... Gimana ini?" batinnya lagi.


     Tiba - tiba sebuah ide melintas di kepalanya.

__ADS_1


     "Aduduh... Duh..." rintihnya memulai drama.


     "Eh! Dahra kamu kenapa?" panik Rosalia bangkit dari tempat duduknya hendak berjalan kearah Dahra tapi di cegah olehnya.


     "Essttt... Rosalia kamu gak perlu bangkit, udah duduk aja!" responnya.


     "Gimana aku bisa duduk kalau kamu sedang merintih Dahra?" tolaknya mulai melangkahkan kakinya ke arah Dahra.


     "Ini pasti gara - gara aku terlalu banyak makan sambal pedas tadi, perutku yang belum terbiasa jadi meronta deh!" keluhnya berbohong, padahal ia juaranya makan pedas.


     "Ya ampun... Kita ke rumah sakit aja yah?" tawarnya.


     "Enggak perlu Rosa, aku kayaknya cuma butuh ke toilet aja deh bentar. Soalnya perutku udah mules banget ini..." tolaknya.


     "Baiklah! mari aku bantu papah," ucapnya hendak melingkarkan satu tangan Dahra di lehernya.


     Dahra menariknya kembali.


     "Udah kamu duduk lagi dan tunggu aku disini aja," pintanya.


     "Tapi kamu sanggup jalan gak tuh?" tanyanya memastikan.


     "Insya Allah sanggup Rosa... Soalnya gak lama lagi pelayan bakal datang, dan nagih uang selesai kita makan ples sewa tempat ini." jawabnya.


     "Oke kalau begitu," angguknya setuju.


     "Yes! rencanaku berjalan dengan lancar, semoga aja aku masih ada waktu untuk turun dan tidak bertemu dengan Askari." batinnya berharap.


     "Kalau gitu aku tinggal dulu yah sebentar," pamitnya masih dengan dramanya layaknya seseorang yang benar - benar merasa kesakitan.


     "Beres..." responnya sambil mangancungkan ibu jarinya.


     Rosalia akhirnya duduk kembali saat melihat punggung Dahra yang sudah lenyap dari pandangan matanya usai menuruni satu persatu anak tangga.


     Rosalia tampak kembali memerhatikan keadaan sekitar, ia jadi teringat kenangannya dulu saat masih bersama dengan Askari.


     Askari sangat sering mengajaknya untuk makan malam di rooftop bersamamya sebelum mereka menikah.


     Ceritanya Askari sering makan di rooftop paling atas begitu pun Rosalia.


     Cuma ia tidak menyewa tempat itu untuknya saja, lagian pada saat itu rooftop tampak ramai dengan kalangan muda mudi yang sedang kencan bersama pasangannya masing - masing.


     Rosalia yang awalnya hendak turun kembali karna hanya dia satu - satunya wanita tanpa pasangan jadi menghentikan langkahnya karna hampir menabrak seseorang saat hendak menuruni tangga.


     Tatapan mata mereka jadi bertemu beberapa saat.


     "Deg!"


     "Deg!"


     "Deg!"


     Jantung mereka sama - sama berdetak begitu kencang, tak ada satu pun yang berniat untuk memutuskan tatapan mata tersebut hingga akhirnya mereka sadar saat ada seorang pelayan yang hendak mengantarkan makanan untuk para pengunjung di atas.


     "Ma-maaf! aku hampir menabrakmu tadi," ucapnya terbata - bata sambil membenarkan tas selempangnya.


     Askari yang masih mematung sambil memandang wajah Rosalia membuat sang pemilik wajah harus melambaikan satu tangannya di depan wajahnya meskipun agak bergetar.

__ADS_1


     "Kak," ucapnya kembali menyadarkan lawan bicaranya.


     "Eh! iya gak papa kok," responnya akhirnya.


     "Syukurlah... Kalau begitu aku pamit duluan ya?" izinnya hendak melangkah kedepan kembali.


     "Lho! kamu gak berniat untuk makan?" tanya Askari.


     "Niatnya mau makan juga sih kak... Tapi aku sepertinya sedang tidak ingin makan di atas kali ini," jawabnya sambil menunduk.


     Askari yang sempat bingung akhirnya jadi paham saat melihat suasana di rooftop saat ini.


     "Oh... Aku paham kenapa kamu tidak ingin makan di sana, apa karena banyak pasangan yang sedang makan malam disini?" tebaknya hingga membuat Rosalia terdiam.


     "Eng-enggak kok kak! aku memang ingin makan di bawah saja," elaknya sedikit terbata - bata.


     "Sudah... Kamu tidak perlu membohongi saya, lebih baik ayo makan bersama saya saja." ajaknya sambil menarik tangan Rosalia untuk mengikuti langkah kakinya dan anehnya Rosalia yang biasa terkenal wanita tegas jadi tak mempermasalahkannya.


     Padahal pria itu belum sama sekali di kenali olehnya.


     Setelah duduk di salah satu meja yang paling pojok baru mereka berniat untuk memesan makanan sambil menunggu sang pelayan datang.


     "Sudah tidak perlu tegang dengan saya, saya gak bakal gigit kamu kok." candanya yang makin membuat Rosalia menunduk karna menahan rasa malu.


     "Oh iya! Perkenalkan namaku Askari, salam kenal ya." sambungnya sambil mengulurkan tangannya.


     Rosalia dengan ragu - ragu mulai menyambut uluran tangan Askari yang cukup hangat.


     "Aku Rosalia! salam kenal kembali," responnya berusaha tersenyum.


     "Kenapa kamu terus menunduk hemm? angkat saja wajahmu, gak perlu merasa malu. Kamu bahkan sangat cantik kok," pujinya dan Rosalia hanya berkata terima kasih.


     "Bahkan saking cantiknya aku sampai ingin menjadikanmu istriku lho..." godanya entah dari mana ia belajar kata - kata itu.


     Blusssh


    Wajah Rosalia jadi semakin merah jadinya.


     "Baiklah! tapi berhenti menggodaku," pintanya memohon.


     "Oke Rosalia," responnya.


      Tak berapa lama kemudian sang pelayan pun datang dan mereka memesan makanan yang mereka inginkan.


     Saat makan pun keduanya kini tampak terlihat akrab dan tak berhenti bercanda bahkan saling bertukar cerita, padahal mereka baru saja bertemu.


     Ya! mungkin begitulah yang di namakan cinta pada pandangan pertama.


     Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk langsung menikah dan berpacaran setelahnya dan itu akan terasa lebih indah karna melakukannya dengan orang yang sudah sah menjadi miliknya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2