Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 51


__ADS_3

     Miftah yang masih duduk dalam keadaan memandang kearah lain juga memutuskan untuk keluar dari kamarnya menuju ke balkon, rambut panjangnya dibiarkan terurai tertiup angin malam hingga ia harus berulang kali menggeser rambutnya kebelakang daun telinga agar tak mengenai matanya.


     Ini sebenarnya sangat ingin bermain diruangan Kakanya untuk menghibur dirinya tapi karna sudah larut malam ia lebih memilih duduk diluar sambil mendengarkan dubbing orang lain.


     Ia hanya dapat menghayati apa yang di ucapkan oleh si pembaca sampai - sampai ia merasa seperti menontonnya sendiri, tapi walau pun ia sudah mencari cara untuk menghilangkan pikiran tentang pertanyaannya tetap saja itu tidak semudah apa yang ia duga.


     Pertanyaan itu malah jadi semakin bercabang hingga ia hanya mampu menahan bola kristalnya yang sejak tadi sudah mati - matian ia tahan agar tak jatuh dihadapkan Firdaus.


    Entah kenapa ia merasa seperti ada yang tidak beres dengan Firdaus, kata - katanya membuat Miftah yakin tapi gerakannya malah berkata hal yang lain.


     "Kaka... Sebenarnya Kaka menganggap ku apa? kenapa Kaka bisa berubah begini? Miftah jadi merasa tak nyaman dengan Kaka," pikirnya sedih.


     "Kaka kenapa sangat peduli ketika kita hanya berdua saja? tapi kenapa sikap Kaka dihadapan mama dan papa begitu? apakah Kaka menyembunyikan sesuatu dariku?" pikirnya lagi sambil terus bertanya pada diri sendiri.


     Tiba - tiba saja ia merasa tidak enak hati pada Firdaus, ia merasa kalau ia kini sudah berpikir negatif terhadapnya.


Mungkin saja Firdaus sedang punya masalah dengan orang tuanya hingga ia jadi seperti ini atau pun ia sedang mendapatkan masalah dalam perkerjaannya.


     "Lebih baik aku minta maaf aja sama kaka," batinnya.


"Tapi ini sudah larut... Apakah aku harus mengirimnya sekarang? kira - kira kak Firdaus bakalan terganggu gak yah?" batinnya merasa ragu.


      Hingga akhirnya ia pun memilih mengirim juga karna ia termasuk orang yang suka berubah pikiran dalam waktu cepat, jika tidak segera memutuskan ia tidak mau nantinya malah menyesal.


     - Miftah -


Assalamualaikum Kaka!


Maaf jika mungkin Miftah udah ganggu waktu tidur Kaka! Miftah hanya mau bilang aja takutnya besok lupa 😅

__ADS_1


     - Miftah -


Kaka lebih baik lupakan aja yah pertanyaan Miftah tadi... Mungkin Miftahnya saja yang terlalu berlebihan memikirkan sesuatu... Karna kadang bisa saja Kaka sedang mempunyai masalah pribadi hingga Kaka jadi berubah seperti itu 😣


     Firdaus yang memang belum tertidur langsung membuka ponselnya yang sudah gelap dan terlihatlah notifikasi dua pesan dari Wassap dan saat membukanya ia sangat terkejut saat mengetahui siapa nama pengirim yang terpampang diponselnya.


     "Bagaimana ini? apa Miftah benar - benar ingin membatalkan pernikahannya dengan ku? tapi itu tidak mungkin! dan aku juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi," resahnya sambil memegang dahinya yang sedikit berdenyut.


     Firdaus jadi merasa kesal dengan dirinya sendiri, harusnya ia bisa mengontrol dirinya saat sudah berhadapan dengan orang tuanya tapi itu terasa sangat sulit karna bayangan Jannah masih enggan hilang dalam pikirannya begitu pun hatinya.


     Cintanya terhadap Janah sudah sangat besar sejak dulu, namun ia berusaha menahan dirinya saat ia sudah tamat dari pesantren.


     Ia jadi teringat kejadian saat sang papa tidak mengizinkannya untuk menikah ketika usianya masih terbilang sangat muda.


"*Pa... Aku ingin menikahi seorang gadis pa," ungkapnya saat sedang bersantai diatas sofa bersama keluarganya karna adiknya juga masih bersekolah di Indonesia, mereka beda satu tahun setiap umurnya*.


     "Hahaha! Kaka pasti lagi ngaur," ucap adik kesatu yang bernama Fahman abadan yang memiliki arti lelaki yang pengertian dan itu sangat cocok dengan sifatnya yang memang lebih banyak memahami perasaan saudaranya.


     Baru kali ini ia melihat anaknya berani mengatakan hal seperti itu, bisanya ia terlihat sangat acuh pada wanita meskipun papanya sendiri sudah tau bahwa anaknya itu lumayan banyak pengagum rahasia yang selalu memperhatikannya saat ia sedang berada diluar rumah sama sepertinya saat masih muda dulu.


     "Firdaus! kamu gak lagi becanda kan?" tanya sang papa tak yakin.


"*Pa... Firdaus serius papa... Firdaus ingin menikahinya... Ia pun juga sudah menerima Firdaus setelah Firdaus berjuang mendapatkan cintanya pa..." jelasnya sambil menatap mata papa nya dalam*.


     "Pa... Kayaknya kak Firdaus beneran suka deh pa sama gadis yang ada dipondok itu," ucap Fahman membantu meyakinkan sang papa.


"*Benar apa yang dikatakan anakmu itu pa... Lagian selama ini pun Firdauslah yang paling malas jika berbicara soal perasaan," ucap mama membuka suara*.


     "Tapi masalahnya Firdaus masih sangat muda ma... Dia kan harus menggapai mimpi dia dulu baru melangkah kepelaminan," jelas sang papa.

__ADS_1


"*Iya juga sih pa," respon mama membenarkan*.


     "Kaka lebih baik fokus belajar aja dulu... Nanti kalau Kaka udah sukses baru Kaka datangi rumahnya dan pada saat itu kan keyakinan orang tua gadis yang Kaka cintai jadi semakin meyakinkan, ditambah lagi sifat Kaka kan juga sudah lebih dewasa." saran adik kedua yang diakui cara berpikir nya yang terkenal sudah sangat dewasa. Ia bernama Fathullah yang maknanya pembukaan, kejayaan Allah.


     "Benar banget itu kaka... Apa yang Fathul katakan tadi memang harus Kaka utamakan dulu sebelum melangkah ketempat tersebut," sambung adek ketiga tak mau kalah setelah sejak tadi hanya menyimak saja, ia bernama Abraham yang maknanya ayah semua orang.


     "Tapi kaka sudah sangat mencintai nya pasti ikut akan sulit," responnya sambil menghembuskan nafas kasar.


*Sang papa yang melihatnya seperti kehilangan harapan pun mulai berpindah duduk kesampingnya*.


     "Putraku, papa sangat paham tentang kondisimu sekarang! kamu masih dalam keadaan jatuh cinta untuk pertama kalinya dan cinta pertama itulah yang akan sulit untuk kamu lupakan sampai kapan pun," ucap sang papa balas menatap dalam kearah putra tertuanya itu.


     "Kamu pasti tau arti dari kalimat Almahabbatul u..la la tunsa fi..ha," jelas papanya yang juga paham tentang hal itu.


"*Firdaus tau pa! cinta yang pertama yang tak bisa dilupakan," jawabnya yang kini sudah sedikit berkaca - kaca*.


     "Papa tau kamu itu sudah sangat mantap untuk pilihan hatimu sekarang tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan kemantapan hati saja Firdaus! kita sebagian laki - laki juga harus berusaha memperlihatkan kemantapan kita pada orang tuanya dengan cara menggapai mimpi kita terlebih dahulu sehingga kita tampak lebih layak meskipun mereka sebenarnya tidak mempermasalahkannya," jelas papanya.


     "Tapi pa, Firdaus takut gadis yang Firdaus cintai nantinya berubah pikiran." resahnya.


"*Firdaus kamu harus percaya sama papa! kalau dia memang jodohmu pasti keyakinan dia itu gak bakal berubah terhadapmu dan ada saja cara yang membuatmu dapat bersatu dengannya jadi lebih baik kamu lanjutkan dulu pendidikan mu kejenjang perkuliahan lalu disambung dengan perusahan papa, nanti ketika usiamu sudah memasuki dua puluh lima maka papa tidak akan melarangmu lagi dalam memilih pasangan." ucap papanya serius*.


     "Baiklah! Firdaus paham pa! tapi beneran ya pa! kalau Firdaus sudah berhasil menyelesaikan apa yang papa ucapkan tadi berarti Firdaus bebas menikahi wanita mana pun yang Firdaus cintai," ucapnya memperingatkan kembali.


     "Kamu gak perlu khawatir! papa pasti merestui siapa pun yang kamu cintai itu," ucapnya mantap.


"*Makasih ya pa," responnya merasa terharu dengan tekat yang sudah bulat tertanam didalam dirinya*.


     Keluarganya hanya mampu melihatnya penuh senyuman dan turut merasa senang dengan keputusan Firdaus tersebut, mereka sangat berharap semoga Firdaus mampu melalui semuanya dengan baik.

__ADS_1


     Tiba - tiba sebuah daun menerpa wajahnya karna terbawa angin malam dan pada saat itulah ia langsung tersadar dari lamunannya lalu langsung bergegas keluar kamar untuk menemui Miftah karna ia seperti tak sanggup jika menemukan kata perpisahan dibalik pesan nantinya.


__ADS_2