Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 86


__ADS_3

     "Ka-kaka," ucapnya terbata - bata dengan mata yang tak lepas menatap mata lawannya.


     "Gitu yah kamu... Lebih suka jika Rajamu yang baik dan tampan ini tidak ada disekitarmu," dengusnya.


     "Hehe! enggak kok kak... Aku cuma becanda! jangan dimasukin ke hati ya..." ucapnya terpaksa berbohong.


     "Hmm... Kamu pikir aku tipikel pria yang mudah mempercayai apa yang kamu katakan itu? huh! aku tidak sebodoh anak kecil yang masih suka memakan coklat tau," resahnya.


     "Iya - iya Miftah tau... Miftah juga baru pulang kak... Miftah capek banget... Miftah mau istirahat oke... Kalau ada salah Miftah minta maaf ya... Miftah cuma gak mau kita suka bertengkar aja..." ungkapnya.


     "Huh! ya sudah karna ini hari pertamamu bekerja pasti capek banget! oke! aku maafkan, tapi tidak untuk kedepannya. Jika kamu masih berani menginginkanku tiada," jelasnya penuh penekanan.


     "Iya Kaka... Lagian mana mungkin aku menginginkan kaka tiada! Kita kan mau menikah dan aku pasti akan sangat merindukanmu nantinya," jelasnya.


     "Kamu serius?" tanya Firdaus merasa senang, seketika amarahnya seperti tidak pernah terjadi.


     "Duarius malahan," ucapnya sambil mengisyaratkan dua jarinya, tak lupa senyum terpaksanya yang terlihat jelas memancar dari bibirnya.


     "Oke deh! selamat istirahat ya Ratuku... Oh iya! apakah kamu sudah makan?" tanyanya.


     "Hehe! belum kak! nanti aja ya... Karna sekarang kalau makan juga gak kerasa... Capek banget..." jawabnya sambil tersenyum.


     "Ya udah kalau begitu! tapi ingat! nanti jangan lupa makan ya," peringat Firdaus sambil membalas senyumannya.


     "Siap Kakaku... Pasti aku akan makan kok," responnya.


     Setelah mendengar ucapan terakhir Miftah baru Firdaus mulai membalikkan badannya untuk menuju kekamarnya yang letaknya setelah kamar Miftah.


     Miftah masih saja mematung ditempat, menunggu hingga tubuh Firdaus masuk kedalam kamarnya sendiri lalu hilang dari pandangan matanya.


     "Kenapa kamu masih saja berdiri disitu? katanya kamu cepek banget!" tanyanya usai membuka gagang pintu kamarnya.


     Miftah yang ditanya bukannya menjawab terlebih dahulu langsung memilih membuka gagang pintu kamarnya dengan tergesa - gesa.


     "Bhukkk,"


     Terdengar suara bantingan pintu yang ringan dari sana dan Firdaus hanya menggeleng - gelengkan kepalanya ketika melihat Miftah yang tampak selalu menjaga jarak bahkan terus menghindarinya meskipun hanya untuk bertanya beberapa hal saja.


_________________________________


     Azan magrib mulai berkumandang, membuat Miftah yang mendengarnya langsung berusaha membuka matanya setelah berjuang melawan rasa kantuk yang sejak tadi masih ia rasakan.


     Ia menutup mulutnya yang sudah hendak menguap dengan satu tangannya, dengan tubuh yang masih lemas ia tetap memaksakan diri untuk terus berjalan hingga sampai didepan kamar mandi.

__ADS_1


     Ia mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat magrib, tak lupa ia berdoa setelah selesai melaksanakannya.


     "Ya Allah... Terima kasih untuk hari ini, engkau mudahkan urusanku hingga membuatku bisa diterima dengan sangat mudah tanpa syarat. Hamba sangat senang ya Rab! semoga untuk kedepannya hamba bisa menyatukan kembali kedua orang tua hamba dengan si izin-Mu. Amiiin ya rabbal a'lamin..." ucapnya lalu mengusapkan tangannya ke wajahnya.


     Kini ia mulai bangkit dari duduknya dan sedikit mengangkat bawahan mukenanya untuk berjalan mengambil Al-Qur'an yang memang selalu ia baca usai melaksanakan sholat jika sempat.


     Setelah membaca ia jadi terhanyut dengan nada - nada yang ia baca sendiri hingga tanpa sadar azan Isya pun berkumandang, baru ia menutup Qur'an nya kembali.


     Miftah yang kini sudah menaruh kembali Al-Qur'an pada tempatnya mulai melanjutkan untuk melaksanakan sholat Isya dengan khusyuk.


     "Tok!"


     "Tok!"


     "Tok!"


     Suara ketukan pintu kini sudah terdengar dari luar kamar, Miftah yang baru saja selesai mengerjakan ibadahnya langsung saja membuka pintu kamarnya dan di lihatnya Firdaus dengan baju kaos abu - abu dan celana hitam.


     "Ada apa Kaka?" tanya Miftah yang masih menggunakan mukenanya.


     "Kamu ini! malah tanya ada apa! ya kalau jam segini biasa abis isya kamu ngapain?" tanya Firdaus.


     "Ya tiduran sambil main hp," jawabnya santai.


     "Kak... Aku bukan anak kecil lagi... Kan aku tau sendiri batas kesanggupanku menahan lapar sampai mana... Tadi aja saking capeknya aku emang gak keluar lagi dari kamar," ungkapnya tanpa sengaja lalu setelah mengingat apa yang ia ucapkan ia langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


     "Ups! mati aku! padahal aku sudah bilang nanti usai istirahat aku akan makan siang waktu sore tapi aku malah lupa dan sekarang dengan bodohnya aku malah mengungkapkannya! aduh... Mampus aku sekarang," batinnya merasa resah.


     "Oh! ternyata Ratuku masih sulit untuk dipercaya ya... Makan siang gak ada! malam! ingin mencoba makan telat juga?" tanya Firdaus dengan tatapan penghunus seperti pedang.


     Miftah tak bisa lagi berkata - kata. Wajahnya sudah mulai pucat. Ia sebenarnya sangat malas melihat sorot kemarahan dari tatapan mata Firdaus hingga membuat tubuhnya meremang.


     "Aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh. Jika kamu masih tak keluar juga dari kamar, maka kamu akan tau sendiri akibatnya," ancamnya dan tanpa ba bi bu Miftah langsung menutup pintunya untuk berkemas.


     "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, se..." Firdaus sengaja memanjangkan angka terakhir untuk memancing Miftah dan akhirnya orang yang sejak tadi sudah didesak keluar dengan wajah yang penuh lekukan.


     "Kaka ini! aku udah kayak orang mau latihan Militer aja," dengusnya sambil melipat kedua tangan dibawah dada.


     "Biarin! lagian kamu ngeyel banget soalnya waktu dibilang," jelasnya.


     "Huh! terserah Kaka aja lah! aku mau ketemu mama," ambeknya dengan tangan yang masih dilipat.


     "Mau ngadu nih ceritanya..." tebak Firdaus.

__ADS_1


     "Ngadu? karna orang seperti Kaka? is! malas banget! acuhin aja apa susah sih!" resahnya sambil menuruni anak tangga yang di ikuti oleh Firdaus dibelakangnya.


     "Kirain! ya siapa tau kan kamu mau ngadu sama mamaku biar aku kena semprotannya," ucap Firdaus.


     "Kaka... Sudah ya... Lebih baik Kaka diem aja deh! aku sedang tidak ingin lagi bertengkar dengan Kaka! sebenarnya ya begitu! cuman karna kelakuan Kaka begitu memaksa ya sudah deh," ungkapnya.


     "Iya - iya Kaka salah..." responnya sambil menghembuskan nafas kasar.


     "Tumben ngaku," ledek Miftah.


     "Heh! Ratuku! sudah mending Rajamu ini mau mengakuinya! meskipun aku tu gak salah sih sebenarnya. Tadi karna kamu ngeyel makanya aku terpaksa begitu," elaknya tak terima.


     "Iya - iya... Terserah Kaka! sudah lebih baik kita bersikap biasa aja didepan papa sama mama. Seolah - olah tidak terjadi apa - apa. Kan gak etis banget kalau kita ketahuan sedang bertengkar didepan mereka," peringat Miftah.


     "Oke deh kalau begitu! aku akan menuruti keinginan mu Ratuku," ucapnya sambil tersenyum.


     "Terima kasih Rajaku..." ucapnya sedikit malas sambil memaksakan senyumannya yang terasa begitu berat.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2