
Keesokan paginya Miftah seperti biasa sudah bersiap - siap untuk kembali berangkat kerja. Ia sedikit merasa lega, karna semalam Firdaus menuruti keinginannya untuk melepaskan genggaman tangan saat hampir mendekati meja makan.
Setelah siap, ia langsung menelpon Haris dan ternyata Haris memang sudah lama menunggunya diluar gerbang.
Saat Miftah hendak menuruni anak tangga ia tak sengaja berpapasan dengan Firdaus.
"Wih! Ratu jelekku sudah siap," guraunya.
"Kalau jelek gak usah dekat - dekat! cari yang cantik sana," usirnya sambil mengibaskan satu tangannya saking malasnya.
"Aku cuma becanda Ratuku... Kamu cantik kok... Cuma kamu betah banget sama dandanan begitu! kok bisa ya," ucapnya sambil memijat dagunya.
"Udah mudharat makanya bisa," jawabnya.
"Mudharat kenapa?" tanyanya lagi.
"Aduh... Kaka bisa diem gak sih? pakai acara pura - pura gak tau lagi! aku duluan ya! mau sarapan soalnya," pamitnya.
"Gak usah! udah abis," ucapnya berniat menipu Miftah.
"Oh... Gitu rupanya! ya sudah kalau gitu lebih baik aku langsung pergi aja ya," ucapnya memutuskan lalu mulai mempercepat langkahnya.
"Eh - eh! Kaka cuma becanda! cepat sarapan dulu," suruhnya.
"Gak mau lah! Intinya gak mau! salah Kaka tadi bilang udah habis," tolaknya mentah - mentah.
Firdaus yang masih berdiri di beberapa anak tangga bagian bawah memutuskan untuk langsung mengejar Miftah, hingga akhirnya ia berhasil menahan tangannya lalu menyeretnya ke meja makan.
"Tuh! kamu makan terus duluan! mama sama papa lagi ada perlu keluar sebentar, makanya memilih makan lebih dulu tanpa menunggumu." jelasnya.
"Tapi kak! Haris udah lama sampai dari tadi... Kasian dia nunggu," alasannya padahal memang nafsu makannya sedang menurun.
"Makan! atau tidak pergi! biar dia menunggumu lama karna tingkahmu ini," ucapnya sambil sedikit menggebrak meja.
"Kaka! Kaka ingin membuat jantungku copot ya," geramnya.
"Ya kalau bisa sih..." responnya sambil tersenyum.
"Dasar Kaka! oke deh! aku mau cepat - cepat makan! biar bisa cepat - cepat hilang dari pandangan Kaka," dengusnya sambil menatap tajam ke arah Firdaus dan Firdaus juga membalasnya tak kalah tajam.
"Disuru makan aja susah!" herannya.
"Suka - suka aku dong! kok malah Kaka yang sewot," ucapnya
"Aku khawatir nanti kamu sakit! makanya aku sewotan biar kamu mau dengar, kalau lembut kadang kamu gak dengar." resahnya sambil menghembuskan nafas kasar.
"Je... Siapa bilang," responnya acuh lalu dengan cepat mengunyah makanannya.
"Aku yang liat sendiri kok! kan aku orangnya openan! gak kayak kamu! bodo amatan!" cibirnya hingga membuat Miftah terbatuk seketika.
__ADS_1
"Khuk! huk! huk! hah? yang enggak - enggak aja! segitu aku udah mau peduli sama Kaka usai lupain luka yang Kaka berikan Kaka masih bisa berkata kalau aku itu bodo amatan?" resahnya.
"Tega Kaka," ucapnya ketus sambil kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya menggunakan sendok.
"Eh! bukan gitu maksud Kaka Miftah..." cemasnya yang merasa takut jika Miftah salah paham dengan apa yang ia ucapkan tadi.
"Huh! terus apa hah?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Ia membiarkan ujung garpu dan sendok bertemu sesaat, hingga membentuk huruf X.
"Ya kamu itu suka bodo amat gitu sama diri kamu sendiri! gak openan soalnya," ucapnya mencoba menjelaskan.
"Aku sibuk! jadi aku gak mau mikirin," jawabnya lalu kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya, hingga Firdaus hanya mampu diam dan tanpa Miftah sadari nasinya habis begitu saja.
"Kak aku udah selesai," beritahunya lalu bangkit dari duduknya.
"Udah selesai apaan?" tanya Firdaus yang sejak tadi hanya melamun dengan tangan yang di lipat dibawah dada.
"Ya makanlah kak... Kalau gitu aku berangkat dulu ya... Bye Kaka..." pamitnya lalu dengan langkah lebar mulai bergegas untuk pergi menjauh dari hadapan Firdaus.
"Hati - hati dijalan," beritahunya.
"Oh iya! kamu jangan main pelak - peluk dengan pria lain dibelakangku ya! ingat itu! jika aku sampai mengetahui hal itu lagi aku pasti akan membuat perhitungan denganmu! bahkan! kamu nantinya hanya bisa pergi denganku," peringatnya hingga membuat Miftah yang awalnya bergerak cepat langsung berhenti melangkah.
Darahnya seperti mendesir, detak jantungnya saja sudah berdengup kencang.
"Hah? dari mana dia tau kalau aku pernah memeluk Haris? itu pun gak sengaja. Apakah dia menyewa seorang mata - mata lagi untuk membuntutiku sedetail itu?" batinnya.
"Terdiam kan kamu? berarti apa yang aku ucapkan tadi benar dong," ucapnya sambil tersenyum miring.
"Hehe! kak! Kaka jangan sampai berpikir buruk ya... Itu suatu hal yang tidak disengaja kok," ucapnya mencoba menjelaskan secara tenang.
"Ah! masak iya! yang benar kamu," responnya tak percaya.
"Aku serius tau kak..." ucapnya memelas dengan bibir yang dimanyunkan.
"Kurang menggemaskan, jadi aku tidak tersentuh." responnya sambil menahan rasa geli dihatinya saat melihat ekpresi Miftah yang seperti bocil yang merengek meminta permen.
"Kaka..." rengeknya sambil mengedipkan mata berkali - kali dengan tangan yang membentuk pistol hingga kedua telunjuknya diketuk berulang - ulang.
"Iya deh! kamu menang! aku percaya kok sama kamu," ucapnya yang langsung membuat senyum Miftah merekah lebar.
"Benarkah? Kaka sudah tidak marah denganku? wah... Makasih Kaka baik..." girangnya yang tanpa sadar sudah sedikit melompat - lompat sambil bertepuk tangan.
"Emang dapat apa kamu neng? sampai segirang itu," tanya Firdaus yang sudah tertawa terbahak - bahak karena sejak tadi sudah tidak kuat menahannya lagi.
"Jgerrrr!"
Kegirangan Miftah hilang seketika saat mendengar apa yang Firdaus ucapkan, rasa senang tadi sudah diganti dengan rasa kesal.
"Is! dasar Kaka! memang gak bisa liat aku bahagia kayaknya," ambeknya lalu membenarkan tali tas selempang yang sudah melewati bahu.
"Enggak kok!" elaknya.
__ADS_1
"Enggak apanya hah? orang lagi bahagia malah dibuat murung gitu aja," geramnya dan tanpa mau mendengarkan jawaban dari lawan bicara ia memilih berlari keluar.
Firdaus hanya diam. Ia sangat tau jika Miftah sedang kesal dengannya, jadi ia membiarkan ia pergi begitu saja setelah puas memancing sedikit emosinya sebagai hiburan.
Mungkin baginya itu sebuah hiburan, tapi tidak bagi Miftah. Gadis itu terus saja berlari hingga melewati gerbang, lalu tanpa aba - aba sudah duduk dibelakang Haris yang sudah tertidur sambil menompang wajahnya dengan satu tangannya yang bersender dikelapa motor.
"Astagfirullah!" ucap Haris merasa terkejut saat merasakan motornya bergoyang lalu bertambah beban.
"Ya Rabbana... Kamu ini! bisa gak sih? bilang dulu kek sebelum naik! jantungku ini hampir terbang tau dibawa angin tadi," komennya setelah melihat ke arah belakang dan sang lawan bicara hanya memasang wajah datar tak lupa lekukan kekesalan yang jelas terlihat disana.
"Jalan," hanya itu yang Miftah ucapkan.
"Apa?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Aku bilang jalan Haris... Sudah jangan banyak bicara! mood ku sedang sangat buruk ini! oh iya! mana helmku," pintanya dengan tangan yang sudah ia ulurkan untuk mengambil dan Haris yang tak ingin mencari gara - gara hanya menurut.
Setelah siap mereka pun berangkat. Disepanjang jalan, Miftah hanya diam melamun tak seperti biasanya. Hawa malah terasa begitu mencengkeram, hingga membuat Haris sedikit merinding dibuatnya.
"Mif! senyum dikit napa," pinta Haris yang sudah tidak sanggup lagi melihat Miftah.
Miftah dengan malas menuruti keinginan Haris. Bukannya terlihat manis, senyuman Miftah malah terlihat seperti monster yang sedang tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya yang penuh dengan taring tajam.
"Udahlah! kamu gak perlu senyum. diam aja," ucap Haris menyerah membujuknya.
"Nah! itu kamu tau! sekarang berhentilah mengeluh dan tetap fokus pada jalanan," perintahnya dengan tatapan tajam menghunus tepat ke arahnya melalui kaca spion.
"I-i-ya," responnya terbata - bata.
_____________________________________
Hai kaka semuanya... 🤗
Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇
"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"
Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊
Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄
Dimana bulan disitu bintang 😀
Dimana gelap disitu terang 🤣
Terima kasih bila tlah datang 😆
Star beri ucapan salam sayang 😘
Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...
Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃 🙏🙏🙏 🍃🍃🍃🍃🍃