
Zaldira yang merasa tak lucu sama sekali memilih memalingkan wajahnya ke arah lain dan alangkah terkejutnya ia saat melihat sosok Miftah yang berjalan mendekat dengan seorang pria yang sempat di kenali olehnya.
"Kak Miftah! kak Firdaus! ternyata Kaka kesini juga?" tanyanya tak percaya lalu tanpa pikir panjang memberikan semua hadiahnya untuk di pegang oleh Zamrud.
Zamrud sampai kelabakan menerimanya dan hampir saja menjatuhkan kado pemberian dari ibu Zakia untuk putrinya.
"Ya ampun Kaka... Zaldira udah lama kangen banget sama Kaka tau..." ucapnya penuh haru dengan aliran kristal yang mengalir ke dua pipinya.
"Maafin Kaka ya udah jarang ada waktu buat kamu dan anak - anak mengaji lainnya ya... Tapi selama tidak ada Kaka siapa yang mengajari kalian?" responnya memeluk Zaldira.
"Kak Qomarun yang ajari kak," jawabnya balas memeluk Miftah.
"Lho! bukannya kak Qomarun masih sibuk kuliah?" tanyanya bingung.
"Iya Kaka benar, tapi kak Qomarun suka curi - curi waktu demi mengajarkan kami semenjak Kaka tidak ada." beritahunya.
"Masya Allah... Qomarun memang pria yang sangat bertanggung jawab... Apa lagi untuk mengamalkan ilmu Allah... Kaka sangat senang saat mendengarnya." responnya sambil tersenyum.
Firdaus yang merasa kesal saat Miftah memuji pria lain selain dirinya sontak memasang wajah yang sangat datar dan begitu dingin.
Zamrud yang tadi sedikit kesal dengan sikap Zaldira yang tanpa aba - aba memberikan hadiahnya kepadanya bisa melihat jelas ekpresi Firdaus saat menatap Miftah.
"Den Zamrud, hadiah Zaldira sini kasih ke ibu saja... Biar ibu yang pegangin." pintu ibu Zakia kepadanya.
"Eh! gak papa ibu gak usah... Lagian ini pun tidak berat, masak iya laki - laki cepat lelah Bu." tolaknya halus.
"Kamu memang sangat penyabar ya Zamrud... Pantas saja putriku sangat menyukaimu," ucap pak Zakri hingga membuat Zamrud tersenyum saat mendengarnya.
Di balik itu ada perasaan sedih yang menyelimutinya, ia tak sanggup untuk berkata banyak hal lagi karna Zaldira sebentar lagi juga akan meninggalkannya.
Lebih tepat ialah seorang gadis yang penuh dengan keunikan dan gaya ketomboyannya tapi tak menghilangkan ke anggunannya sebagai seorang wanita di beberapa waktu.
Ia memang terlihat tegas dan mematikan saat menatap lawannya yang sangat suka mencari gara - gara, tapi beda halnya jika di depan orang yang di sayanginya. Wajah Zaldira langsung berganti dengan seekor kucing manis yang tidak pernah mencuri ikan di wajan.
Setelah melepaskan pelukannya dengan Miftah, terlihat dari jauh datang seorang pria yang baru saja mereka bicarakan tadinya.
"Hah... Hah... Hah..." ucapnya ngos - ngosan.
"Heh! kamu kenapa lari - lari Qomarun?" tanya Miftah merasa heran.
"Tadi di tengah jalan aku gak sengaja injak ekor kucing, mana ekornya panjang lagi, hingga ku injak setengah dari ekornya." ceritanya.
"Pas gak sengaja ku injak, karna kaget waktu tadi aku malah tambah tekan deh! hingga akhirnya kucing itu lompat dan berakhir ngejar aku tapi gak dapat karna terantuk tembok." sambungnya.
"Ya ampun Qomarun... Lagian pas udah injak ekor kucing bukannya langsung di lepas malah makin di tekan," heran Miftah menggelengkan kepalanya.
"Ya namanya juga syok Miftah," responnya sambil memegang dahinya.
"Hadeh... Yaudah sana balik lagi ke emengnya," suruh Miftah
__ADS_1
"Emeng?" pikir Qomarun merasa bingung.
"Hahaha emeng itu kucing tau Qomarun..." beritahu Miftah yang kini sudah terkekeh pelan saat melihat ekpresi Qomarun yang begitu lucu menurutnya.
"Hadeh... Ada - ada aja kamu ini Miftah! malah buat aku makin bingung tau enggak sih?" dengusnya.
"Sabar dong Qomarun... Tumben banget hari ini darahmu cepat banget naiknya, abis makan apa sih kamu?" heran Miftah.
"Ya makan nasilah! masak makan batu oles tanah liat," geramnya yang sontak saja membuat Miftah jadi tertawa sedikit keras hingga harus membekap mulutnya.
"Ya ampun... Ada - ada aja kamu ini... Lucu banget deh," jujurnya.
Firdaus yang sudah geram melihat tingkah Miftah memilih membisikkan sesuatu di telinganya.
"Ratuku... Apa kau sudah lupa jika Rajamu sejak tadi sudah berdiri di sampingmu? menahan semua kata pujian mu kepada pria lain yang hampir membuatku ingin sekali menarikmu untuk pulang sekarang juga," peringatnya penuh penekanan.
"Hehe! kan kaka harus paham kalau Qomarun itu adalah temanku, kami sebaya dan kami juga tidak ada hubungan apa - apa." jelasnya.
"Untuk sekarang pasti gitu ngomongnya, tapi belum tentu nanti kan? ayo ngaku." paksanya.
"Isss... Enggak Kaka... Aku mohon untuk tidak membuat pertengkaran di sini hanya karna diri Kaka yang terlalu posesif terhadapku," pintanya.
"Baik! tapi setelah ini aku tidak ingin terlalu banyak mendengar kata - kata pujian yang keluar dari bibirmu selain untukku," aturnya.
"Tapi-" ucapan Miftah terpotong.
Miftah kini memilih untuk mengalah dari pada menghacuhkan hari kunjungannya dengan Zaldira untuk kelulusannya.
Qomarun yang sedikit mendengar apa yang di bicarakan oleh dua calon pasangan itu langsung mengerti dan memilih untuk tidak merespon lagi kalimat terakhir Miftah untuknya.
"Oh iya kak, mana bingkisan yang tadi sempat kita beli di jalan?" pinta Miftah sambil mengulurkan tangannya.
Firdaus pun memberikan bingkisan berwarna merah itu kepada Zaldira yang tampak tak percaya jika Miftah ternyata juga sudah menyiapkan hadiah kelulusan untuknya juga.
"Oh iya! kalau Kaka Qomarun bawa apa?" tanya Zaldira berniat untuk mengganggu Qomarun.
"Hehe! aku tadi buru - buru Zaldira, mana apes hari ini karna keinjak ekor kucing." alasannya.
"Qomarun... Qomarun! itu gak ada hubungannya sama sekali jika kamu sudah mempersiapkannya," ledek Miftah.
"Sudah - sudah kak Miftah... Zaldira hanya bercanda kok! lagian setiap beberapa Minggu sekali kak Qomarun sudah memberikan Zaldira hadiah terbaik kok," belanya.
"Hadiah? kapan? perasaan belum," pikir Qomarun.
"Ilmu kaka... Ilmu cara membaca Al - Qur'an dengan baik... Zaldira sangat senang karna Kaka sudah mau berusaha bagi waktu singkat Kaka hanya untuk mengajarkan kami saat kak Miftah tidak ada," jelasnya.
__ADS_1
"Ya Allah Zaldira... Kamu memang murid Kaka yang terbaik, semoga Allah selalu ada di sisimu ya... Dan semua ilmu yang sudah kau pahami bisa berkah dan berguna bagi orang lain juga." doanya.
"Amiiin ya rabbal a'lamin... Doa yang terbaik juga untuk Kaka ya..." ucapnya sambil tersenyum.
"Iya Zaldira," responnya balas tersenyum.
"Oh iya kak Miftah," ucapnya saat mengingat sesuatu.
"Iya Zaldira ada apa?" tanya Miftah.
"Besok Kaka kan akan menikah, Alhamdulillah Zaldira sempat pergi saat pagi karna Zaldira berangkatnya sore kak." girangnya.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya dan Zaldira langsung mengangguk hingga Qomarun jadi terkejut saat mendengarnya.
"Apa? Miftah kamu akan menikah dengan siapa?" tanya Qomarun.
Sebelum Miftah menjawab, pertanyaan Qomarun sudah lebih dulu di jawab oleh Firdaus.
"Dia akan menikah denganku! apa ada masalah denganmu?" jawabnya hingga membuat lawan bicaranya bersusah payah menelan salivanya.
"Eh! hehe tidak ada masalah kok, hanya kaget aja karena aku baru tau." jujurnya panas dingin.
"Oke," responnya acuh.
"Kaka gak boleh gitu... Qomarun kan gak tau..." tegur Miftah sambil menatap ke arahnya.
"Iya deh iya..." responnya pasrah.
Akhirnya Miftah dan Firdaus juga Qomatun pun memutuskan untuk mengampiri orang tua Zaldira juga Zamrud.
"Kaka Zamrud apa kabar?" tanya Miftah sambil tersenyum.
"Alhamdulillah kabar Kaka baik dek... Kalau kamu?" responnya balik bertanya.
"Syukurlah kalau begitu Kaka... Kabar Miftah juga baik," jawabnya.
"Kaka juga ikut merasa senang kok jika kamu baik - baik saja," responnya tak ingin terlalu berlebihan.
Ia takut jika nanti Firdaus terbakar cemburu jika Miftah telalu banyak bicara apa lagi bercanda dengannya.
Sebelum pulang Miftah sempat mengundang Zamrud juga yang lainnya untuk dapat hadir di hari pernikahannya dengan Firdaus besok.
Sayang sekali hari ini Miftah tidak dapat bertemu dengan Wahyu, karna kata Zamrud Wahyu masih sibuk mengurus kebun burungnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇