
✨🎇 Di restoran 🎇✨
Kini Miftah sudah berada didepan sebuah restoran mewah yang sangat terkenal dikotanya, ia sangat ingat terakhir kali ia makan disini saat ia masih SD dan sekarang ini adalah kali pertama ia menginjakkan kakinya kembali dibangunan mewah ini.
Tempat yang penuh dengan kenangan yang hampir membuat air matanya jatuh tanpa paksaan, tempat yang penuh dengan warna warni keceriaan dan kasih sayang kini hanya tersimpan dalam sebuah bayangan.
Bayangan yang membuat hatinya sedikit sakit tapi ia berusaha keras untuk melawannya karna ia tidak ingin mengecewakan Firdaus yang sudah menghabiskan uang untuk mengajaknya makan ditempat yang sudah ia pesan.
"Permisi," sapa seorang pelayan restoran.
"Iya ada apa mbak?" tanya Miftah.
"Maaf apakah nama anda Miftah Jannah?" tanyanya.
"Benar sekali! ada apa ya?" ucap Miftah balik bertanya.
"Selamat datang calon nona muda! mari saya akan mengantarkan anda ketempat tuan muda," tawarnya sopan.
"Apa? calon nona? memangnya Firdaus itu siapa sih?" batin Miftah.
"Nona," ucapnya lagi.
"Iya - iya baik," terkejut Miftah usai merenung lalu mulai mengikuti langkah kaki sang pelayan dan alangkah terkejutnya ia karna tempatnya bukan ditempat biasa dan ia sangat bingung ingin diajak kemana karna harus menaiki lift.
"Maaf! mbak sedang tidak menipuku kan? meja makannya kan ada dibawah! kenapa aku malah diantar ke gedung atas?" selidiknya curiga.
"Maaf nona, saya tidak berbohong... Tuan muda yang telah menyewa bagian gedung yang paling atas untuk pertemuannya dengan nona," jelasnya.
"Oh... Jadi begitu tapi aku boleh minta tolong gak sama mbak?" tanyanya.
"Maaf! minta tolong apa ya nona?" tanyanya cemas.
__ADS_1
"Gak usah panik... Aku hanya minta mbak panggil aku dengan nama aja... Lagian kan mbak lebih tua dari pada saya..." jelasnya sambil tersenyum.
"Maaf nona tapi saya tidak berani karna tuan mudah sudah menyuruh seluruh pelayan yang ada di restoran ini untuk memanggil anda nona," jelasnya dan Miftah yang mendengar penjelasan dari pelayan hanya mampu menghembuskan nafas pasrah.
Sesampainya mereka digedung atas atau biasa disebut rooftop Miftah dibuat terperangah dengan apa yang dilihatnya, lampu kelap kelip mulai menyala mengelilingi sisi gedung dan balkon.
Bunga - bunga didalam pot berjejer dengan rapi dengan warna - warna yang mampu membuat suasana jadi semakin romantis.
"Baiklah nona... Saya hanya dapat mengantarkan anda sampai disini... Kalau begitu saya izin pamit," ucapnya sedikit membungkuk.
"Ya sudah... Terima kasih ya sudah memanduku tadi," responnya dan sang pelayan hanya merespon dengan sebuah senyuman.
Kini mata Miftah sudah tertuju pada seorang pria yang memakai pakaian yang warnanya juga sama persis dengan warna pakaian yang ia gunakan itu.
"Kamu sudah datang ya ratuku?" tanyanya tanpa berniat membalikkan badannya yang masih sibuk menghadap kearah lain dengan tangan yang masih memegang balkon.
Miftah hanya mampu menatap penuh rasa penasaran pada pria yang ukuran tubuhnya lebih tinggi darinya.
"Iya saya sudah datang," jawabnya.
"Untuk apa aku harus berjanji?" tanya Miftah yang masih dilanda rasa bingung.
"Ya aku hanya ingin memastikan bahwa calon istriku memang serius dan tidak ragu sama sekali pada calon suaminya... Apakah itu salah ratuku?" tanyanya.
"Ya sudah... Memangnya apa janjinya?" ucap Miftah menyetujui dan Firdaus hanya mampu tersenyum miring tanpa sepengetahuan Miftah.
"Aku ingin kamu berjanji dihadapanku sekarang," ucapnya.
"Iya tapi apa janjinya?" tanya Miftah semakin merasa bingung.
"Katakanlah 'aku berjanji ketika melihat wajahmu aku tidak akan pergi dan aku berjanji apa pun yang terjadi aku akan tetap bersedia menjadi calon istrimu' nah! jadi aku ingin kamu mengulang kalimat perjanjian yang telah aku buat itu," pintanya.
"Maaf Kaka! apakah pikiran kaka sudah sedikit miring? Kaka bahkan tampak seperti orang yang sangat frustasi jika nanti aku memang benar - benar mencintai Kaka karena sesuatu bukan ketulusan hingga Kaka sangat mencemaskan itu terjadi apa lagi kalau sampai aku memutuskan untuk meninggalkan Kaka ketika semuanya terbongkar," herannya.
__ADS_1
"Dasar bodoh! aku memang sudah lama frustasi gara - gara kamu sialan! tapi untuk sekarang aku akan berusaha mengontrol emosiku supaya rencana ini dapat berjalan dengan lancar," batinnya merasa geram.
"Memang aku sangat Frustasi Miftah... Karena aku menganggapmu ibarat langit sedangkan aku ibarat satu bintang diantara ribuan lainnya! kau tau kenapa?" tanyanya dan Miftah menjawab "aku tidak tau."
"Aku ibarat bintang yang keindahannya sangat tergantung dengan keberadaan langit! jika sang langit tidak mau menerima ku aku takut ia akan melepaskan ku karna ia lebih memilih memeluk yang lain dibandingkan diriku yang jatuh seperti meteor! dilempar! diabaikan terbakar! lalu jatuh menimpa apa saja hingga membuatku jadi semakin hancur berkeping - keping," rangkainya hingga membuat Miftah jadi begitu tersentuh.
"Kaka... Sudahlah... Aku akan berusaha menerimamu apa adanya Kaka... Kaka tidak usah sampai merangkai kata - kata yang sangat menyakitkan itu," pintanya.
"Lalu jika kamu memang seperti apa yang kamu katakan itu bisakah kamu berjanji untukku? biarlah langit malam yang telah dihiasi oleh bintang dan bulan menjadi saksi atas kata - kata kepercayaan mu untukku pada malam hari ini," pintanya untuk yang kedua kalinya.
Miftah sangat gugup sekarang, matanya sudah berkaca - kaca tubuhnya saja sudah bergetar hebat sejak mendengar kata - kata dari Firdaus yang begitu menyayat hatinya secara tidak langsung.
"Baiklah! aku akan berjanji untukmu dan merelakan langit yang telah dihiasi oleh bintang dan bulan menjadi saksi ucapan yang mengandung unsur kepercayaan ku yang sudah bulat kepadamu," ucapnya mantap.
"Jika kamu memang sudah yakin dengan apa yang kamu katakan tadi maka lakukanlah," pinta Firdaus yang sudah merasa puas dan yakin dengan kelanjutan ini.
"Aku berjanji ketika aku melihat wajahmu aku tidak akan pergi dan aku berjanji apa pun yang terjadi aku akan tetap bersedia menjadi calon istrimu," ucapnya yakin tanpa ada kata yang meleset sedikit pun.
"Aku sangat bahagia Ratuku... Akhirnya kamu mau berjanji untuk Rajamu ini jadi aku tidak akan segan lagi untuk memperlihatkan wajahku yang tampan ini padamu dan aku yakin kamu pasti tidak akan kecewa," sombongnya.
Miftah sebenarnya merasa agak aneh dengan sifat Firdaus yang agak menyombongkan dirinya, biasanya didalam dunia cetan ia selalu bersikap menunduk tapi Miftah berusaha untuk berpikir positif mungkin Firdaus hanya merasa sangat senang saking Miftah percaya padanya jadinya ia agak percaya diri hingga ia jadi mengatakan godaan yang sedikit mengarah pada hal yang berbau kesombongan tanpa ia sadari.
"Baiklah! bisakah kamu membantuku untuk yang terakhir kalinya Ratuku?" tanyanya.
"Maaf bantu apa ya kaka?" ucap Miftah malah balik bertanya.
"Aku kan ingin membalikkan tubuhku agar kamu dapat melihat wajahku jadi, aku minta kamu untuk menghitung dari satu sampai tiga lalu aku akan langsung berbalik tanpa kamu pinta." jawabnya dan Miftah dengan ragu - ragu mulai menuruti permintaan Firdaus yang terakhir itu.
"SATU,"
"DUA,"
__ADS_1
"TIGA,"
Nah! menurut kalian bagaimana kah ekspresi Miftah saat mengetahui sosok Firdaus ? 😏