
Jam telah menunjukkan waktu shalat Dzuhur untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, Miftah dan Wahyu yang hampir menyelesaikan tugas mereka mulai sedikit mempercepat gerakan mereka.
"Akhirnya selesai juga," ucap Miftah setelah menanam benih terakhir.
"Kaka... Apakah Kaka sudah selesai?" tanya Miftah pada Wahyu yang langsung menoleh kearahnya.
"Oh! sudah Mif... Ini baru saja selesai aku menanam bibit terakhir," responnya berteriak pelan.
"Baiklah kalau begitu... Karna ini sudah azan, ayo kita masuk untuk beristirahat." ajak Miftah sedangkan Wahyu hanya mengangguk sambil berkata "iya," lalu mulai mengikutinya dari belakang.
Sesampai didalam, mereka mulai masuk ke kamar yang kemarin sempat dibagi. Saat masuk ternyata Zaldira dan Zamrud sedang melakukan sholat walau beda ruangan.
Tanpa membuang waktu Miftah langsung mengambil anduk dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat karna tubuhnya telah penuh dengan tanah.
Wahyu pun melakukan hal yang sama seperti Miftah, hingga akhirnya setelah semuanya selesai mereka kembali duduk di sofa.
"Oh iya Miftah! apakah kamu mempunyai dua kompor?" tanya Zamrud.
"Memangnya kenapa? apakah kalian tidak dapat menggunakan kompor gas mata dua itu bersama?" bukannya menjawab Miftah malah bertanya balik.
"Aku? dengan dia? yang ada malah perang dunia kedua," ucap Zamrud patah - patah.
"Oh... Jeweran kemarin belum cukup ya Kaka?" tanya Zaldira dengan muka yang sudah merah ditambah tatapan tajam, hingga saat Zamrud melihat kearahnya ia seperti tersengat aliran listrik.
"Hahaha... Cukup kok cukup... Aku cuma becanda aja... Jangan bawa masuk ke emosi ya..." respon Zamrud cekikukan sedangkan Zaldira dengan sekuat tenaga mulai mengontrol emosinya kembali.
"Terserah!" respon Zaldira ketus sambil melipat kedua tangan dibawah dada.
"Tumben kamu ngalah," ledek Wahyu sambil menyenggol Zamrud dengan sikunya.
"Aku? ngalah? sorry ya... Aku hanya tidak ingin berdebat dengan asam amino," elaknya angkuh, padahal sebenarnya ia sudah sedikit jera dengan jeweran maut Zaldira.
Zaldira tanpa pikir panjang langsung menghampiri Zamrud dengan tangan yang ingin melayang kearah sasaran, sedangkan Zamrud yang belum sempat mengelak mulai cemas seketika.
"Dengar ya kaka... Aku yakin kak Miftah mempunyai satu kompor lagi, tapi hanya bermata satu. Jadi kaka silahkan pakai yang mata dua didapur, sedangkan aku memasak diruangan ini." ucapnya sambil meletakkan tangannya dikepala sofa samping Zamrud.
"Untung... Untung... Kukira kupingku nanti akan dipatahkan," batinnya resah.
"Baiklah, terserah kamu aja." responnya setuju.
"Bagaimana kak Miftah? apakah Kaka mau menerima usulan ku?" tanyanya serius.
"Tentu saja Kaka mau Zaldira... Ya sudah, sekarang kalian silahkan memulai waktu memasak kalian setelah menaruh kompor gas mata satu kesini." ucap Miftah sedangkan yang lain hanya mengangguk lalu bangkit untuk melakukan tugas mereka masing - masing.
Zaldira meminta tolong kak Wahyu untuk mengambil kompor itu untuknya yang kini sedang sibuk mencuci buah terong tersebut sampai bersih.
"Apa! kamu masak terong juga ya?" tanya Zamrud terkejut.
"Memangnya kenapa?" tanyanya acuh.
"Aku juga mau masak terong," jawabnya yang sontak saja membuat Zaldira ikut terkejut.
"Apa Kaka bilang? apa jangan - jangan Kaka mengikuti ku ya?" selidiknya.
"Enak aja! kamu aja kali," elaknya.
"Terserah!" respon Zaldira sambil berlalu pergi setelah mencuci bersih buah terongnya.
"Sudah... Kenapa malah bertengkar? meskipun bahan kalian sama, tapi kan belum tentu pengolahan terong kalian juga sama." ucap Miftah yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka lalu memutuskan untuk menenangkan.
Setelah selesai menggoreng terong, Zaldira mulai mempersiapkan bumbu lado seperti cabe, bawang merah, tomat dan bawang putih yang sudah dicuci bersih dan di iris - iris untuk dimasukkan kedalam belender.
Saat ia sedang menggunakan belender, Zamrud pun datang dengan membawa bahan yang sama seperti apa yang Zaldira masukkan tadi.
"Kamu mau buat terong lado juga?" tanya Zamrud yang tak habis pikir lagi.
__ADS_1
"Lha! emang Kaka juga mau buat terong lado?" ucap Zaldira malah bertanya balik.
"Kamu, aku tanya sama kamu duluan. Jadi yang harusnya jawab itu kamu, kok malah harus aku." sengitnya.
"Iya, puas?" dengusnya.
"Gak!" geramnya yang setelah Zaldira selesai dan menumpahkan bumbu dalam mangkok langsung mengambil alih dengan wajah yang tak mau sedikit pun untuk menghilangkan lekukan.
"Ada apa Zaldira? kok kalian ribut lagi sih?" tanya Miftah yang kini sudah masuk kedalam rumah setelah sejak tadi hanya duduk dikursi panjang belakang bersama Wahyu.
"Orang yang suka ngikut kayak cecurut gitu ditanya," kesal Zamrud saat melihat Miftah.
"Hello... Permisi ya kak asam sulfat, aku gak pernah sama sekali niru apa yang Kaka buat oke! aku hanya melakukan apa yang aku pikirkan dari kemarin malam," jelasnya.
"Alah! pasti itu ngeles doang," cibir Zamrud.
"Bodo amat! mau Kaka percaya kek apa enggak kek, aku gak peduli." respon Zaldira tapi masih tetap fokus pada masakannya sedangkan Zamrud yang sejak tadi sudah selesai dengan urusan belender kini sedang sibuk menumis terong yang sudah ditaruh bumbu lado.
"Hem... Enak banget nih! pasti si asam amino itu bakal kalah," sombongnya.
"Tapi kayaknya aku belum manaruh sedikit gula deh," batinnya.
Tapi saat ia mencari gula ia tidak menemukannya, hingga akhirnya saat ia melihat kesatu plok atom warna putih ia pun langsung mengambilnya.
"Mungkin itu gulanya," tebaknya.
"Hai! waktu nya sedikit lagi yah," ucap Wahyu.
"Oke... Aku udah siap kok," balas Zaldira.
"Zamrud yang panik karna masakannya masih belum matang tanpa sadar bukannya menaruh sesendok gula malah tertaruh garam.
Memang ia menaruh plok yang berisi gula disampingnya, tapi walau pun ia menggunakan sendok yang ada dalam plok gula tetap saja ia gagal fokus hingga menyebabkan tangannya malah masuk kedalam plok yang berisi garam yang letaknya disamping plok gula yang kebetulan mirip.
"Akhirnya aku selesai juga," batinnya senang.
"Liat aja Zaldira! kamu pasti akan kalah denganku untuk saat ini," ucapnya angkuh sambil melipat kedua tangan dibawah dada ala - ala chef tak lupa menganggukkan kepala berulang kali saking percaya dirinya.
Kini mereka semua sudah duduk dimeja makan setelah menaruh nasi kepiring masing - masing yang sudah Miftah masak dikosmos.
"Nah! sekarang waktunya penilaian," ucap Miftah semangat.
"Semoga aja si Zaldira menang ya Allah," batin Wahyu gelisah.
"Kamu kenapa Wahyu? kamu sedang tidak menyumpahi ku agar kalah kan?" selidik Zamrud, sedangkan Wahyu yang kini sedang meneguk segelas air karna haus jadi tersedak.
"Khuk huk huk," batuknya saking terkejut.
"Tuh kan! kuwalat lo kan? aye yakin banget, pasti lo tadi berpikir hal buruk untuk aye." geramnya sambil mengepalkan tangan.
"Sudah... Jangan berantem terus... Kapan makannya kalau begitu," resah Miftah.
"Kamu udah laper ya?" tanya Zamrud cemas.
"Gak laper... Cuma cacing di perut udah pada demo," saut Wahyu yang langsung kaku saat mendapatkan tatapan sinis dari Zamrud.
"Liat tuh Zaldira! dari tadi diem aja gak ribut kayak kalian," ucap Miftah yang bukannya menjawab malah mengalihkan pembicaraan.
"Tumben asam amino diem," cibirnya.
"Aduh!" rintih Zamrud saat kakinya di injak oleh Zaldira, tak lupa tatapan mautnya dengan tangan yang sudah mengepal kuat.
__ADS_1
"Benar - benar gak ada hati kamu yah," komennya.
"Itu mulut apa kabar?" respon Zaldira acuh tak acuh.
"Ye... Gitu aja marah," ucap Zamrud sedangkan Zaldira hanya mengangkat kedua bahunya sambil membentuk bibirnya jadi huruf " u " kebalik.
"Zaldira, Kaka minta kamu duluan yang rasa punya kak Zamrud begitu pun sebaliknya." perintahnya sedangkan Zaldira dengan ragu - ragu mulai mengambil terong balado milik Zamrud.
Terlihat raut aneh dari wajah Zaldira, tapi ia seperti sedang berusaha untuk menelannya hingga akhirnya orang yang menatap serius untuk meminta jawaban hanya diberikan tatapan khawatir oleh Zaldira.
"Enak tapi sedikit asin," komentarnya lalu berusaha memasang ekspresi biasa.
"Kamu berniat untuk menjelekkan masakanku ya? orang waktu aku rasa pas kok! aku yakin banget kamu pasti iri sama apa yang udah aku buat ini kan?" dengus Zamrud sedangkan Zaldira yang sudah tidak tahan dengan sikap Zamrud memilih pergi setelah pamit kepada Miftah dan Wahyu.
"Oh iya! kak Miftah kak Wahyu... Zaldira sampai lupa bahwa Zaldira ada kerjaan dirumah sekarang! jadi harus cepat - cepat pulang," ucapnya lalu berlalu pergi.
"Gak makan siang dulu Zaldira?" tanya Miftah cemas.
"Gak usah kaka... Aku udah kenyang makan ucapan," responnya setelah mengambil tas bekas belanjaan.
Tak lama kemudian, dari luar terdengar bunyi motor yang berlalu pergi.
"Kamu kenapa kayak gitu sih? gak berubah sama sekali," cibir Wahyu kesal.
"Apaan? aku gak merasa bersalah kok! lagian aku yakin banget terong lado buatan ku ini udah pas," kekehnya hingga Wahyu yang merasa penasaran langsung mencomot satu potong terong kedalam mulutnya.
Belum sempat ia mengunyahnya, ia langsung pergi keluar untuk memuntahkan apa yang sudah ia masukkan kedalam mulutnya.
"Kamu benar - benar ya Zamrud! Zaldira itu udah baik banget nutupin kesalahanmu! dia bilang bahwa masakanmu itu cuma asin sedikit, padahal asin benget." geramnya.
Miftah yang ikut merasakan masakan Zamrud hampir saja memuntahkan apa yang telah ia masukkan, tapi Zamrud yang masih keras kepala dengan santai mencicipi hasil buatannya dan ia sampai terbatuk - batuk setelah itu.
"Khuk huk lho! kok bisa asin begini ya?" tanyanya heran.
"Jangan - jangan aku salah taruh tadi." pikirnya lalu langsung berjalan kearah dapur dan benar saja diplok garam terdapat dua sendok, yang satu sendok gula dan satu lagi sendok garam.
Ia jadi merasa tidak enak dengan Zaldira. Tapi mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah terlanjut melukai Zaldira dengan lisannya kembali, pasti sulit bagi Zaldira untuk memaafkannya.
Saat mereka merasakan masakan Zaldira, mereka jadi merasa puas karna memang pas.
"Zaldira gak rugi merasa sangat khawatir sampai pucat setelah memasak, karna cemas dengan masakannya." ucap Wahyu.
"Iya! benar - benar enak," respon Miftah.
Zamrud yang kembali kemeja makan, dengan wajah gelisah mulai mencicipi masakan Zaldira dan ia merasa sangat menyesal karena terlalu percaya diri bahkan lebih dulu bersikap sombong sebelum dinilai.
"Nyesal kan kamu? aku tau kamu pasti salah taruh tadi kan?" selidik Wahyu.
"Bagaimana kau tau?" ucap Zamrud malah balik bertanya.
"Orang kamu yang bilang sendiri. Tapi walau pun suaramu tidak terlalu besar, tetap masih mampu untuk kami dengarkan." jawabnya sedangkan Miftah hanya mengangguk sambil menikmati makanannya.
"Ya sudah kaka makan dulu," ucap Miftah.
"Aku merasa gak enak," responnya.
"Sudah... Zaldira orangnya emang gitu, dia malas mencari ribut jadi dia memilih pergi... kaka emang gak hargain masakan Zaldira?" ucap Miftah.
Zamrud yang mulai paham akhirnya ikut makan dengan pikiran yang masih dihantui rasa bersalah, ia tau ia kalah hari ini tapi ia benar - benar menerimanya karna ia merasa tak pantas untuk dihargai setelah lebih dulu mencerca tanpa bukti.
Besok ia akan berniat untuk berubah sedikit demi sedikit agar kejadian seperti ini tak terulang lagi, padahal mamanya sudah berulang kali menasihati tapi ia selalu mengabaikannya hingga kini ia jadi sadar akibat tak mendengarkan nasehat mamanya tersebut.
__ADS_1
"Mama... Zamrud minta maaf! Zamrud janji bakal berusaha untuk berubah menjadi anak yang lebih baik lagi agar mama sama papa bisa senang," batinnya dengan mulut yang masih mengunyah makanan.