Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
part 69


__ADS_3

     Kini semuanya sudah berkumpul diatas sofa setelah menyelesaikan urusan mereka masing - masing usai azan ashar berkumandang.


     Mereka sudah disuguhkan minuman dingin dan aneka kue kering diatas meja yang tepatnya didepan sofa ruang tamu.


      Papa Firdaus yang baru saja keluar kamar ketika melihat keramaian berupa suara yang lumayan berisik dari ruang tamu mulai melangkahkan kakinya kearah sana.


     Dia sangat terkejut saat melihat ada tiga orang anak muda yang sedang berbincang dengan istri dan putranya juga calon mantunya, matanya tertuju pada seorang pria yang sangat ia kenali, siapa lagi kalau bukan Zamrud.


     Pak Alterio memang sering melihatnya saat ia berkunjung ke perkebunan papanya yang memang pembisnis burung itu. Namun, kedatangannya tak disadari oleh Zamrud karna ia memang benar - benar sibuk memperhatikan burung yang lain secara teliti.


     Yang ia tau Zamrud adalah anak tunggal pak Zerdio yang sangat pekerja keras. Berkat bantuan anaknya, kebun burung pak Zerdio jadi semakin terawat dan mampu menghasilkan ratusan anak burung perharinya.


     Oleh sebab itu pak Zerdio membutuhkan banyak tanah untuk memindahkan sebagian burung yang memang sudah sangat penuh dikebunnya.


     Karna harga tanah pada saat itu sangat mahal dan lokasinya banyak yang tidak sesuai untuk kehidupan siburung pak Zerdio mulai berusaha mencari tanah yang ada disekitar hutan yang dekat dengan kebunnya hingga akhirnya ia menemukannya.


     Sayangnya harga tanah ditempat itu sangat mahal, lokasinya yang bagus dengan udara sejuk membuat harga tanah semakin menggila perhektarnya.


     Tapi demi usahanya berhasil ia memberanikan diri mencari sang pemilik tanah untuk menawar harga karna uang yang ia miliki selama bekerja masih belum cukup untuk membeli tanah dengan harga fantastis itu.


     Bagaimana tidak? ia setiap bulannya mampu mengeluarkan uang ratusan juta untuk makanan, perawatan dan menggaji beberapa pekerja yang membersihkan kebun dan kandang tersebut setiap bulannya.


     Saat sampai didepan perusahan yang paling terkenal itu awalnya pak Zerdio ragu, apakah pak Alterio akan menerima kerjasama yang ingin ia tawarkan selama beberapa tahun.


     Tapi keraguan itu hilang dalam sekejap karna pak Alterio menyambut kedatangannya dengan sangat ramah saat ia dipanggil keruangannya, beruntung pada saat itu pak Alterio memang sedang berkunjung ke perusahaannya yang sudah dipimpin oleh Firdaus.


     Akhirnya setelah berbincang - bincang beberapa hal, pak Alterio mulai mempertimbangkannya hingga ia mengangguk setuju karna kerjasama itu mungkin akan benar - benar menguntungkan mereka berdua.


     Ia sangat percaya pada kemampuan pak Zerdio, selama ini ia mampu membangun puluhan kebun burung dibeberapa tempat, bahkan hasilnya ada yang sudah dioper keluar negri, ada saja pesanan setiap harinya.


     Seperti burung merak, burung unta, cendrawasih dan sebagainya. Namun, yang paling banyak mendapatkan pesanan ialah burung merak karna ditempatnya ada banyak jenis burung merak dengan varian warna bulu burung yang sangat indah dan mampu memukau mata orang yang melihatnya.


     Perusahaan pak Alterio memiliki banyak tanah kosong yang sangat jarang digunakan, jadi dengan adanya kerjasama yang ditawarkan oleh pak Zerdio membuat tanah tersebut jadi lebih bermanfaat lagi.


     Setelah duduk di sofa ia langsung saja bertanya pada Zamrud.

__ADS_1


     "Hei kamu! siapa namamu? nama ayahmu pasti pak Zerdio kan?" tanyanya sambil menatap Zamrud dalam.


      "Papa ini kebiasaan! datang - datang langsung aja di introgasi tamunya," cibir Firdaus sambil menatap malas kearah sang papa.


     "Jeh! suka - suka papalah! orang papa cuma ingin tau aja kok," responnya acuh.


     "Sipapa di bilangin masih aja gitu! harusnya kan ada basa basi nya ke! sedikit! ini gak! langsung tembakin meriam pertanyaan aja! kan orang yang ditanya jadi syok nantinya," jelasnya.


     "Buktinya sekarang dia gak syok kan?" tanya sang papa sambil mengarahkan sebelah tangannya dihadapan Zamrud.


     "Aulah! terserah papa! lagian Firdaus mau ngomong apa pun papa gak bakal mendengarkannya.


     "Nah... Itu kamu tau!" ucap sang papa sedikit terkekeh tapi tidak bagi Firdaus, dia malah sudah sedikit terpancing. Cuma ia berusaha manahannya.


     "Sudahlah pa... Kamu masih aja bersikap bergitu dengan anakmu! padahal kan kalian tadi abis pergi bareng! benarkan putraku?" ucap sang mama.


     "Entah! sepertinya aku sekarang lagi kena amnesia mendadak," responnya sambil melipat kedua tangannya kebawah dada dengan pandangan lurus kedepan.


     "Iya... Iya... Sudahlah Firdaus... Kamu tidak perlu merajuk gitu dengan papamu ini! besok - besok papa gak bakal ajak kamu lagi jika sikapmu begitu," ucap sang papa yang sontak membuat Firdaus langsung membalikkan badan mengandap kearahnya yang duduk disamping mama.


     "Harusnya sikap yang disalahkan itu sikap papa bukan sikapku," protesnya merasa geram.


     "Ya sudah kalau begitu! papa ngaku salah dah!" respon sang papa sambil mengangkat kedua tangannya layaknya seorang pencuri yang baru saja kepergok mengambil barang.


     Firdaus hanya mampu tersenyum saat melihat tingkah papa yang kini sudah sedikit berubah dan tak seserius dulu.


     Lalu ia kembali fokus pada Zamrud yang memang sudah mempersiapkan jawaban karna saking gugupnya ia jika harus berbicara dengan teman bisnis papanya. Ia sangat khawatir, jika ia nanti salah berbicara hingga membuat kerja sama selama bertahun - tahun itu kandas ditengah puncak kejayaan.


     "Iya benar benget tuan," responnya.


     "Ya ampun... Untuk apa kamu panggil aku tuan... Kamu panggil aja aku Om!" pintanya dan Zamrud dengan penuh keraguan mulai menurutinya.


     "Iya om!" ucapnya sedikit bergetar.


     "Kamu tidak perlu cemas begitu... Om gak bakal gigit kamu kok! ya kali om jadi zombie menjelang malam," candanya.

__ADS_1


     "Hehe! iya om," responnya lagi.


     "Kamu dari tadi itu lho... Banyak sekali iya om! iya om! padahal kan om sudah bilang kamu gak perlu merasa cemas saat berbicara denganku karena aku gak bakal putusin kerja samaku dengan papamu hanya karna salah berbicara kok," peringatnya yang benar - benar membuat Zamrud sedikit terkejut karna apa yang dibicarakan oleh papa Firdaus sangatlah benar.


      "Baiklah om... Saya tidak akan merasa cemas lagi," responnya sambil memberikan senyuman tipis.


     "Nah... Gitu dong!" ucap sang papa membalas senyumannya.


     Hingga akhirnya, mereka pun mulai berbincang - bincang banyak hal. Diawali dengan bagaimana caranya sampai perusahaan perkantorannya bisa berkerja sama dengan perusahan burung milik papanya Zamrud.


     Lalu diakhir cerita mereka mulai membahas tentang keseruan sang papa dan Firdaus saat di lautan tadi dan itu membuat sang mama sedikit terkejut dan merasa cemburu karna tak di ajak oleh suaminya.


     "Papa ini! bener - bener deh! masak ia mama gak diajak! mama kan juga ingin berenang dengan hiu paus..." protesnya sambil memeluk erat pinggang suaminya dan bersikap manja layaknya seorang anak kecil yang sedang merayu papanya untuk dibelikan permen coklat.


     "Ya udah... Papa minta maaf ya ma... Lain kali mungkin kita akan pergi kesana... Sekali - kali papa kan harus ajak Firdaus main juga barengan sama papa," ucapnya berusaha menghibur sang istri sambil mengelus puncak kepalanya yang ditutupi hijab.


     "Is pa... Masak ia lain kali sih... Besok boleh ya... Plis..." rengek nya dan apa boleh buat, papa Firdaus sangat sulit menahan keinginan istrinya, lagian selama hamil istrinya juga sangat jarang keluar rumah jadi mungkin ini kesempatannya bermain sekalian merilekskan pikirannya.


     "Oke! besok kita pergi," respon sang papa hingga membuat sang istri merasa sangat senang bahkan tanpa sadar ia sudah mengecup sebelah pipi suaminya sambil berkata "makasih banyak ya pa..." ucap sang mama.


     Firdaus hanya mampu menatap sinis pada kedua pasangan tersebut, bisa - bisanya mereka bermesraan didepan mereka tanpa rasa malu.


     "Pa! Ma! ini masih ada tamu lho... Bukan ruangan kosong yang penuh dengan kuburan!" peringatnya sambil menghembuskan nafas kasar.


     "Haha! maaf ya... Biasalah lah jika orang lagi bucin kan dunia serasa cuma milik mereka," ucap sang papa.


     "Bener tuh... Lagian kamu nanti juga bakal gitu dengan calon mantu mama yang imut itu..." bela sang mama lalu kembali menatap sayang kearah suaminya.


     Zamrud dan yang lainnya hanya diam, mereka sebenarnya juga sudah terbiasa karna kelakuan orang tua mereka tak jauh beda dengan kelakuannya mama dan papa Firdaus yang terus saja saling bermanja - manja satu sama lain tanpa mengenal usia.


     "Huh! terserah mama sama papa aja deh!" ucapnya mengalah hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menutup pembicaraan karena hari sudah mulai gelap.


     Mereka lalu meminta izin untuk pamit, papa dan mama Firdaus mulai mengantarkan mereka sampai kedepan gerbang untuk menunggu motor mereka keluar.


     Setelah cipika - cipiki dengan Miftah dan mama baru Zaldira menaiki motornya dan melajukannya hingga keluar gerbang, sedangkan Zamrud dan Wahyu sebelum menaiki motor sudah lebih dulu berjabat tangan dan saling berpelukan singkat dengan Firdaus dan papanya.

__ADS_1


      Akhirnya dua motor tersebut melaju ketempat mereka masing - masing, setelah dirasa cukup jauh baru mereka masuk kedalam rumah.


__ADS_2