Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 120


__ADS_3

              🍃 Didalam Rumah 🍃


     Firdaus masih berjalan santai sambil membopong tubuh Miftah, saat melewati ruang tamu langkahnya jadi terhenti saat mamanya berbicara kepadanya.


     "Ya ampun... Mantu mama yang cantik, imut dan sholehah ini kenapa..?" hebohnya sambil memegang pipi Miftah yang wajahnya sudah ia hadapkan pada mama.


     "Miftah gak papa kok ma... Cuma sakit biasa... Nanti juga sembuh," ucapnya berusaha memancarkan senyuman dari bibir pucatnya yang tampak pecah - pecah.


     "Kamu boong nih sama mama... Buktinya waktu mama pegang pipi kamu kok masih hangat," ucapnya beberapakali menyentuh pipi Miftah untuk memastikan.


     Papa Firdaus juga ikut - ikutan menghampiri mereka saat mendengar kehebohan dari sang mama.


     "Astagfirullah... Miftah ternyata yang sakit! kakinya ya?" tanya sang papa saat melihat ada kain perban yang masih terbalut rapi dipergelangan kaki Miftah.


     "Papa udah tau kakinya yang sakit masih aja ditanya," ucap Firdaus bukannya menjawab malah mencibir.


     "Kamu ini ditanya bukannya dijawab," kesal sang papa.


     "Lagian papa sih pertanyaannya yang sudah diketahui," responnya.


     "Ya suka - suka papalah! kan papa cuma pastiin doang! siapa tau kan bukan hanya kaki aja," ucapnya sambil menatap malas kearah putranya.


     "Iya deh iya! terserah papa," responnya pasrah.


     "Firdaus emangnya kaki Miftah kenapa?" tanya sang mama.


     "Firdaus juga gak tau ma, kalau gitu Firdaus izin pamit duluan aja yah ma? karna kasian Miftahnya pasti mau rebahan," pamitnya dan mama hanya mengangguk tanda setuju.


Sebenarnya Firdaus sudah mengetahui jika kaki Miftah retak, cuma ia belum tau aja sebab retaknya itu kenapa.



Alhasil ia memilih menjawab tidak tau terlebih dahulu dari pada tak tau menjelaskan nantinya ketika orang tuanya memberi pertanyaan.


     "Hati - hati tu naik tangga," peringat papanya.


     "Iya Firdaus hati - hati ya..." sambung mamanya.


     "Iya ma... Pa..." responnya sambil menaiki anak tangga.


     Sesampainya dikamar Miftah Firdaus langsung membaringkannya.


     "Masih sakit gak kakinya Ratuku?" tanya Firdaus sambil memegang pergelangan kaki Miftah yang dibungkus perban.

__ADS_1


     "Au!" rintih Miftah sambil memejamkan kedua matanya saking sakitnya.


     "Kaki kamu kok bisa retak begini sih?" tanya Firdaus lalu duduk dipinggir ranjang Miftah.


     "Gak papa Kaka... Miftah gak mau ingat lagi," ucapnya sambil tersenyum.


     "Kak Firdaus apa beneran lupa? jelas - jelas dulu ini kan ulah anak buah suruhan kak Firdaus sampai tak diberikan upah sedikit pun," batin Miftah.


     "Miftah... Coba katakan pada Kaka kakimu ini kenapa?" tanyanya sedikit memaksa.


     Miftah hanya mampu mengembuskan nafas kasar saat melihat ekpresi Firdaus yang memohon sangat dalam kepadanya.


     "Kaka... Apakah Kaka masih ingat kejadian di Hutan beberapa minggu yang lalu?" tanya Miftah dan Firdaus hanya menggeleng.


     "Kaka serius gak ingat? apa kaka pura - pura lupa," tebaknya merasa tak percaya.


     "Kaka serius Miftah... Kaka gak tau..." responnya mencoba meyakinkan.


     "Ya sudah menurut Miftah lebih baik Kaka lupakan aja pertanyaan Kaka tadi oke," pintanya.


     "Gak! Kaka gak mau! Kaka bakal kekeh untuk mengetahui siapa yang udah buat kaki Ratuku jadi retak seperti ini," geramnya.


     "Kalau sampai ketemu! Kaka tidak hanya membuat tulang kakinya retak sepertimu! tapi Kaka akan menghancurkannya sekalian! Kaka baik kan?" sambungnya.


     "Tapi seandainya! ini seandainya ya... Yang melakukan hal itu adalah diri Kaka sendiri, terus apa Kaka bakalan melakukan apa yang Kaka katakan ketika Kaka sudah mengetahuinya?" ucap Miftah meminta pendapat.


     "Kaka... Miftah serius tau..." ucapnya sambil menatap Firdaus dalam.


     "Kenapa kamu sangat ingin aku menjawabnya Ratuku? apa kamu juga berharap jika aku orang yang melakukannya hingga ketika aku sudah cinta padamu aku harus ikut meretakkan tulang kakiku terlebih dahulu agar kamu menerima cintaku?" tanyanya merasa sedikit kesal.


     "Sudah Miftah bilang Miftah tidak ingin membahas ini, lupakan masa lalu dan jalani masa yang sekarang ini sedang kita jalani kak! karna Miftah gak mau luka masa lalu malah membuat hubungan kita jadi renggang kembali karna ditutupi oleh ego," jelasnya.


     "Apa maksudmu sih?" heran Firdaus yang masih belum bisa mencerna apa yang Miftah katakan.


     "Kaka... Aku akan mengingatkan kembali, tapi aku harap setelah aku membuat bayangan itu hadir Kaka tidak perlu terlalu memikirkannya, karna hati Miftah sekarang sudah berada dihati Kaka dan itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun lagi." ucapnya sebelum menjawab pertanyaan Firdaus.


     "Kaka! apakah Kaka ingat kejadian saat di Hutan yang mana pada saat itu Kaka sedang mengadakan pertemuan dengan anak buah suruan Kaka," peringatnya.


     Firdaus hanya diam, otaknya sedang berusaha untuk mencerna apa yang didengarnya sedangkan memori berusaha berjalan untuk memberikan bayangan ingatan yang sudah ia lupakan.


     "Anak buah kaka adalah orang yang sedang membutuhkan uang untuk biaya salah satu keluarganya yang sedang sakit," peringatnya lagi.


     Usai mendengar kalimat terakhir itu Firdaus jadi teringat kembali adegan dimana ia mendorong Miftah tanpa rasa kasian karna emosionalnya, setiap bagian yang terjadi dihutan itu jadi kembali hadir dalam memorinya dan itu sukses membuatnya jadi membisu.

__ADS_1


     "Kaka! Kaka kenapa diam? Kaka! Kaka jangan bengong lah Kaka..." ucap Miftah hingga membuat Firdaus tersadar dari lamunannya.


     "Kan sudah Miftah bilang jangan tapi Kaka masih aja ngeyel! jadinya Kaka malah dihantui rasa bersalah dalam jangka panjang," resah Miftah sambil menghembuskan nafas berat.


     "Ya ampun... Aku gak nyangka, ternyata perbuatanku sampai beresiko seperti ini terhadapnya, aku kira ia hanya terkena kecelakaan biasa tapi ternyata itu begitu menyakitkan." batinnya merasa sedih.


     "Dulu aku memang menginginkan kamu terluka bahkan mati! tapi untuk sekarang, sehari saja aku tidak melihat senyuman yang terbit dari bibir indahmu membuatku jadi tidak bisa merasakan ketenangan." batinnya lagi.


     Miftah sangat terkejut saat Firdaus tiba - tiba saja memeluknya erat.


     "Kaka... Kaka kenapa?" tanya Miftah saat mendengar suara tangisan Firdaus.


     "Kaka... Kaka jangan sedih apa lagi sampai mengeluarkan air mata... Miftah sudah tidak mempermasalahkan masa lalu lagi kok Kaka..." ucapnya berusaha meyakinkan.


     "Kaka minta maaf Miftah! Kaka tau Kaka dulu berhati iblis! Kaka tanpa rasa kasih sayang sama sekali malah sangat berniat untuk membuat nyawamu melayang," jawabnya.


     "Dan Kaka merasa sangat beruntung bisa memiliki gadis yang mana gadis itu juga yang telah menolong wanita pertama yang Kaka cintai," responnya.


     "Apa maksud Kaka?" tanya Miftah masih tak mengerti.


     Firdaus pun merenggangkan pelukannya, ia mulai memegang pipi Miftah dengan kedua tangannya.


     "Ratuku! apa kau tau? wanita hamil yang sudah kamu selamatkan dengan cara mentranfusikan darahmu adalah mamaku," jelasnya dan itu sontak saja membuat Miftah membekap guanya yang terbuka lebar dengan telapak tangannya akibat rasa terkejut.


     "Kaka gak becanda kan?" tanyanya memastikan.


     "Kaka gak bakal pernah becanda jika menyangkut soal mama," jawabnya serius.


     "Sekali lagi Kaka sangat berterima kasih kepadamu Miftah," ucapnya lalu kembali memeluk Miftah.


     "Iya Kaka... Sama - sama... Miftah justru merasa sangat bersyukur dapat menolong mama! karna mama adalah wanita yang sangat baik dan selembut mama kandung Miftah dulu," jelasnya sambil tersenyum.


     "Iya Ratuku... Rajamu ini berjanji untuk terus menjaga dan melindungimu bagaimana pun keadaannya, karna Kamulah orang yang telah membuat wanita terbaik Kaka membuka matanya kembali." responnya.


     "Makasih banyak Rajaku..." ucapnya senang.


     "Kamu tidak perlu berterima kasih Ratuku! karna yang telah banyak mengajarkanku hal - hal baik hingga aku jadi bisa melihat dunia dengan benar kembali adalah kamu," pujinya.


     Miftah hanya tersenyum, air mata harunya ikutan terjun kepipinya, membuat kulit keringnya basah kembali.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2