Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 122


__ADS_3

Di kamar Rosalia langsung memuntahkan obat yang ada didalam mulutnya.


     "Aku gak bakal mau lagi meminum obat apa pun, biarlah sakitku semakin bertambah hingga aku mati sendiri dari pada di bunuh ditangannya." ucapnya pelan.


     "Kenapa hidupku jadi seperti ini?" keluhnya.


     "Kenapa kamu selingkuh mas... Kenapa..? Jujur aku masih mencintaimu mas... Tapi kamu pasti gak mau terima aku lagi," sedihnya.


     "Krek,"


     Suara gagang pintu pun terbuka, tampaklah seorang gadis yang sedang membawa satu kantong plastik yang berisi dua botol air Aqua.



     "Lho Ambu! kenapa kasur ambu basah? apa Ambu tadi tak sanggup bangun ketika ingin membuang air kecil?" tanya Permata.


     Rosalia hanya menggeleng.


     "Lalu kenapa ambu..?" tanyanya serius.


     "Tadi seorang dokter datang, ia membawakan ambu sebotol Aqua dan sebuah pil agar ambu mudah meminumnya," jelasnya.


     "Lalu? apa yang terjadi ambu?" tanyanya.


     "Tiba - tiba saja tenggorokan ambu terasa sakit hingga tidak mampu untuk menelan pil tersebut! alhasil pil itu pun keluar dari mulut ambu beserta air minumnya," jelasnya lagi.


     Rosalia menjelaskannya seperti berbisik.


     "Ya ampun... Sekarang masih sakit gak tenggorokannya ambu?" tanyanya cemas.


     Rosalia hanya menggeleng.


     "Syukurlah kalau begitu! maafkan Permata ya ambu... Harusnya tadi Permata gak lupa buat beliin ambu air... Pasti tenggorokan ambu tidak akan kering bahkan sakit," sedihnya.


     Rosalia jadi terharu ketika mendengar ucapan maaf yang begitu tulus keluar dari bibir Permata.


     Kini kesadarannya benar - benar sudah terkumpul.


     Dan ia merasa sangat sedih saat mengingat sikapnya pada Permata sejak tadi.


     "Nak... Harusnya ambu yang minta maaf sama kamu! gara - gara ambu kamu jadi kena getah dari permasalah ambu dan tadi ambu malah mengacuhkanmu saja," ucapnya sambil mengelus puncak kepala Permata pelan.


     "Ambu sudah benar - benar sadar?" tanyanya senang.


     "Iya sayang! ambu sudah sadar kok," responnya sambil tersenyum.


     Permata yang sangat senang langsung duduk disamping ranjang ambu yang sedikit basah lalu memberikannya pelukan.


     Rosalia juga balas memeluknya.

__ADS_1


__________________________________


     Kini Werdan sudah diseret oleh para perawat lainnya untuk masuk kedalam ruangan operasi.


     "Ayolah dokter ganteng... Pasien ini harus di selamatkan," pinta mereka.


     "Tapi tunggu dulu! saya mau ambil perlengkapan operasinya," alasannya.


     "Ya ampun... Dokter gimana sih? kan semua perlengkapan ada didalam... Dokter tugasnya tinggal belah doang..." ucap perawat satu.


     "Bener banget dok... Kan kayak belah daging doang... Gampang kan?" sambung perawat dua.


     "Itulah! tumben banget dokternya banyak alasan kali ini! biasanya langsung masuk terus cas ces! cas ces! udah siap," ucap perawat tiga tak mau kalah.


     "Bukan begitu nona - nona yang cantik," ucapnya yang sontak saja membuat hati para suster itu menjerit.


     "Ah... Sosweet banget sih dokter..." respon mereka sambil memegang pipi mereka masing - masing dalam keadaan mata terpejam.


     Dan itu membuatnya memiliki kesempatan untuk kabur dari hadapan mereka.


     Para perawat kini mulai melihat ke kiri kanan untuk mencari sosok yang tadi baru saja memuji mereka.


     "Yah... Malah kabur lagi! harus cari dokter lain lagi ini," batin perawat satu.


     "Iya! mana capek banget lagi," keluh perawat dua.


     "Ho'oh! kalau bukan karna duit mana mau aku," sambung perawat tiga.


     Werdan yang sudah berhasil keluar dari area rumah sakit langsung saja masuk ke kamar mandi pria yang ada di bagian luar.


     "Akhirnya aku sudah memakai baju biasa lagi," ucapnya sambil menggenggam baju dokternya.


     Ia mulai merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya dan jari jempolnya dengan lihai mencari nama kontak yang nantinya akan menjadi arah tujuannya.    


     "Halo tuan!" ucap suara di sebrang.


     "Saya sudah selesai dengan urusan saya! sekarang saya ingin kamu segera menjemput saya didepan rumah sakit," pintanya.


     "Baik tuan," responnya.


     Tak berapa lama sosok yang ditunggu - tunggu akhirnya datang setelah sejak tadi hanya sibuk menjadi mata - mata Permata.


     "Lama banget sih!" resahnya.


     "Hehe! maaf tuan! tadi saya masih sibuk memperhatikan Permata," alasannya.


     "Terus apakah kamu memiliki sebuah informasi yang bagus?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya.


     "Ada tuan," jawabnya.

__ADS_1


     "Tadi saya juga mengikuti non Permata ketika keluar dari ruangan usai menyuapi wanita itu," ceritanya.


     "Lalu?" tanyanya.


     "Kalau saya tidak salah dengar saat tuan baru masuk keruangan itu, Permata yang berdiri tak jauh beberapa meter dari tempat tersebut mulai berkata seperti ini "aku harus rela menikahi pria itu demi ambu."


     Werdan yang mendengar berita tersebut merasa sangat senang.


     "Baiklah! kalau begitu aku akan secepat mungkin menggelar pesta pernikahan untukku dan dia," senangnya.


     "Semoga saja berhasil ya tuan," harapnya.


     "Iya semoga saja," respon Werdan sambil tersenyum tipis.


     Tiba - tiba suara telepon Werdan berdering.


     Dengan gesit Werdan pun langsung mengangkatnya.


     "Halo! Assalamualaikum," ucap suara di sebrang telpon.


     Kini keyakinan Werdan semakin mantap jika yang sedang berbicara dengannya saat ini pastilah Permata.


     "Wa'alaikum salam, ada apa?" tanyanya usai menjawab salam.


     "Maaf! saya Permata, apakah benar ini nomor pria yang sudah memberikan kartu nama padaku?" tanyanya.


     "Iya kamu benar! ini memang aku, panggil saja aku kak Werdan." ucapnya membenarkan.


     "Baik kak Werdan! Alhamdulillah ambu sekarang sudah sadar," beritahunya.


     "Benarkah? syukurlah kalau begitu," responnya pura - pura tak tau.


     "Iya Kaka... Dan aku Insya Allah sudah bersedia menjadi istri Kaka," ucapnya  ragu tapi ia masih saja  berusaha yakin.


     "Bagus! keputusan yang tepat," ucapnya sambil tersenyum miring.


     "Kalau begitu aku pamit dulu yah Kaka... Ambu udah panggil tadi dikamar," jelasnya.


     "Baik," responannya lalu mematikan ponselnya.


     "Ayo kita pulang," ajak Werdan pada mata - matanya lalu mereka pun sudah tidak ada lagi dihadapan rumah sakit tersebut.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


    


    


__ADS_2