
Keesokan harinya Miftah sudah bersiap - siap untuk pergi mencari sang papa, dengan sedikit ingatan masa lalunya ia mulai memberanikan diri untuk menuju ketempat tujuan.
Ia menggunakan pakaian serba biru muda untuk pergi keluar, usai sholat subuh ia baru saja teringat kalau papanya dulu pernah mengajaknya kesalah satu kebun jeruknya yang paling luas dikota ini.
Mungkin dari situ ia dapat bertemu dengan papanya, dibandingkan dengan mama sifat papa lebih lembut bahkan papalah yang lebih banyak mengalah dari pada mama saat mereka bertengkar.
Meskipun papa adalah seorang pengusaha yang sudah memiliki lahan yang cukup luas dan terkenal tetap saja ia tidak pernah lupa jika ia harus mengisi beberapa majlis untuk mengajarkan kitab karna papanya Miftah dulunya adalah seorang ustad disebuah pesantren yang ia tempati.
Sebelum berangkat Miftah menyempatkan diri untuk meminta izin pada sang mama dan papa yang kebetulan sedang makan diruang makan bersama dengan Firdaus.
Sebenarnya Miftah ingin langsung pergi cuman karna bi Ati sudah memasakkan makanan untuknya ia memilih makan terlebih dahulu barang sedikit.
"Lho! sayangnya mama kok tumben pagi - pagi udah rapi aja," ucap sang mama sambil menatap Miftah lekat.
Miftah yang ditatap hanya tersenyum.
"Enggak ma... Miftah niatnya ingin minta izin keluar sama papa dan mama karna Miftah punya urusan sebentar..." jawabnya.
"Memangnya kamu ada urusan apa sayang?" tanya sang mama penasaran.
"Biasalah ma... Miftah cuma mau ketemu sama teman lama Miftah... Semalam dia ngajak Miftah buat main bareng hari ini," jelasnya sedikit cengengesan saking gugupnya.
"Ya sudah kalau begitu... Kamu emangnya gak mau aja mamamu ini?" sedihnya sedikit memanyunkan bibir seperti anak kecil.
"Bukan gitu ma..." respon Miftah yang kini sudah semakin merasa gugup, ia sangat takut jika ketahuan berbohong.
"Ma... Apa mama sudah lupa? mama kan kemarin ngajak papa untuk pergi ke pantai yang papa sama Firdaus pergi kemarin setelah makan! apa mama lupa?" peringat sang papa yang hanya mampu membuat istrinya menyengir kuda hingga terlihatlah deretan giginya yang putih bersih.
"Oh iya! mama lupa pa! untung aja papa udah ingetin mama," tawanya sambil memukul pelan bahu suaminya.
"Mama... Mama..." respon sang papa sambil memegang dahinya sendiri dan istrinya lagi - lagi hanya tersenyum sambil tertawa.
"Kamu izin cuma sama papa dan mamaku saja? dengan calon suamimu enggak perlu ya? oh iya! mungkin kalau aku gak penting bagi kamu maknanya kamu cuma minta izin dengan mereka," ucap Firdaus mulai membuka suara lalu menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.
"Enggak kok ka... Ya sudah... Miftah minta izin untuk pergi ya Kaka..." ucapnya kikuk.
"Telat," responnya acuh tak acuh.
"Ya... Sikaka malah ngambek! kalau gitu Miftah ikutan ngambek aja deh!" dengusnya lalu mulai menyantap makanannya usai membaca doa.
Firdaus hanya tersenyum saat melihat Miftah yang ikut - ikutan merajuk karnanya. Namun, sekarang ia lebih memilih diam karna ia tak ingin Miftah harus makan dalam keadaan berbicara, selain tidak baik ia hanya tak ingin jika gadisnya tersedak nanti.
__ADS_1
Usai makan Miftah langsung mengelap bibirnya yang sedikit berminyak menggunakan tisu lalu ia meminta izin kembali untuk pergi sambil menyalami tangan keduanya.
Sesampai diluar rumah Miftah mulai memberhentikan langkahnya karna ia merasa seperti ada yang mengikuti dan benar saja orang yang mengikuti nya tak lain dan tak bukan adalah Firdaus.
"Kaka! kenapa Kaka malah mengikutiku?" tanya Miftah sedikit kesal.
"Siapa yang mengikutimu?" ucap Firdaus malah bertanya balik sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Kaka! Kaka jangan mengelak ya! jelas - jelas sejak tadi itu Kaka emang ngikutin aku terus, aku geser kekiri Kaka ikut geser juga! aku geser kekanan Kaka malah geser kekanan juga! kalau orang yang gak niat ngikutin pasti gak kayak gitu kali," resahnya.
"Iya! Kaka emang ikutin kamu! emangnya kenapa? gak boleh?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya enggaklah!" dengusnya merasa geram.
"Kan aku calon suamimu! masak ia gak boleh ikutin kamu," protesnya tak terima.
Miftah tak habis pikir dengan Firdaus.
"Kan baru calon Kaka... Belum jadi suami beneran kan? Kaka ini! jadi biarkan aku bebas!" pintanya.
"Enggak!" tolaknya.
"Kaka ini! benar - benar!" geramnya sambil menghentakkan sebelah kakinya diatas lantai, lalu mulai melangkah menjauh dari hadapan Firdaus.
Tapi langkahnya terhenti karna Firdaus menahan tangannya.
"Ikut," hanya itu yang Firdaus ucapkan.
"Hahaha! Kaka ini becanda ya? itu tempat perkumpulan para wanita Kaka... Masak iya Kaka pria nyempil sendiri seorang! ya gak mungkin lah... Jangan ngaco ya Kaka..." ucapnya merasa terkejut.
"Apakah raut wajahku terlihat berdusta?" ucapnya malah balik bertanya.
"Itu terserah Kaka! aku gak peduli! mau Kaka serius kek! enggak kek! yang penting izinkan aku untuk pergi sekarang!" pintanya sedikit memaksa karna sudah tak sabar.
"Lah! kan tadi kamu yang tanya," herannya.
"Emang iya tah?" pikirnya berpura - pura lupa sambil menaruh jari telunjuknya didagu.
"Kamu ingin membuat kaka marah ya?" tanyanya yang ikut merasa geram.
"Kaka... Kaka... Yang marah itu seharusnya aku! bukan Kaka! karna Kaka yang udah hentikan langkahku," protesnya.
"Lagian Kaka kan hari ini masuk kantor! masak ia mau ikut," herannya mencari alasan yang benar.
__ADS_1
"Lagi males! pengen main lagi," jawabnya.
"Mana boleh kerja malas - malasan! yang ada Kaka nanti mah dimarahin pak bos lho..." peringat Miftah.
"Aku kan CEOnya, mana berani mereka memarahiku hanya karna aku tak masuk sehari, yang ada... Mereka yang bakal aku pecat detik itu juga," ucapnya bangga.
"Sombong banget sikaka!" respon Miftah sambil menatap malas kearahnya.
Tiba - tiba ponsel Miftah berdering dan terdengarkah suara seorang pria dibalik telpon yang sudah diangkat oleh Miftah.
"Halo Haris!" ucap Miftah.
"Iya Miftah! Kamu lagi dimana? jadi gak pesan ojolnya?" tanyanya.
"Jadi dong! masak iya enggak! nanti tolong kamu jemput aku dialamat yang aku kirim ya..." beritahu Miftah.
"Oke... Sip..." balas suara disebrang telpon.
"Apa? dia pasti tukang ojol yang dulu mengantarkan Miftah pulang usai makan di restoran bersamaku! benar - benar gak bisa dibiarin gadisku ini! aku berinisiatif untuk ikut agar dapat mengantarkan mu malah kamu tolak! masak sekarang dia perginya dengan ojol! teman prianya lagi!" batin Firdaus yang sudah mulai berapi - api.
"Miftah! aku gak bakalan izinin kamu pergi dengannya!" batinnya lagi.
"Ya sudah kalau begitu! aku tu-" belum sempat Miftah menghabiskan kalimatnya Firdaus sudah lebih dulu merampas ponselnya.
"Halo! Miftah gak jadi order denganmu! karna dia akan berangkat denganku! jadi kamu sudah bisa mencari pelanggan lainnya," ucap Firdaus penuh penekanan lalu mematikan ponselnya.
"Lho! Kaka! aku kan sudah order ojolnya dia dari subuh," protes Miftah tak terima namun nyalinya kini sedikit menciut saat melihat tatapan penuh kobaran api kemarahan dari Firdaus.
"Ratuku! kamu rela menolak tawaranku demi pergi dengan dia? kamu benar - benar tidak menghargai niat baikku itu sama sekali, sekarang keputusan kamu cuma satu! pergi denganku! atau tidak sama sekali! tenang! aku hanya mengantarkanmu sampai ketempat tujuan dan tidak masuk kedalam," jelasnya.
Miftah berusaha menelan salivanya dengan susah payah, ia benar - benar tak mampu berkata apa - apa, baru kali ini ia melihat Firdaus begitu mengerikan.
"Jadi Ratuku! apa keputusan mu?" tanyanya tak sabar sambil mendekatkan wajahnya beberapa senti dari wajah Miftah hingga membuat korban jadi sulit untuk bernafas.
Dengan gesit Miftah langsung mendorong dada Firdaus sedikit kuat, wajahnya sudah memerah.
"Oke - oke! aku mau diantar oleh kaka tapi kaka jangan ikut aku masuk ketempat yang aku tuju," terimanya hingga membuat Firdaus tersenyum senang.
"Nah! itu baru Ratuku!" ucapnya sambil memetikkan jarinya dengan satu tangan dihadapan Miftah hingga membuat Miftah sedikit terkejut sambil mengangkat bahu.
Sekar dan Rangga sejak tadi hanya menatap kearah lain, meraka tak melihat kearah mereka berdua, yang ada mereka malah dituduh menguping dan suka melihat adegan mereka saat berdebat.
Sekar dan Rangga sangat terkejut saat Firdaus dengan lantang memanggil nama mereka untuk mengeluarkan mobil hitam kesayangannya.
__ADS_1
Mereka mengangguk lalu langsung berpencar membagi tugas agar cepat selesai, kali ini Sekar mengambil kunci didalam sedangkan Rangga menunggu Sekar didepan garasi.
"Ayo kita tunggu didepan gerbang sana," ajak Firdaus sambil menarik tangan Miftah untuk mengikuti langkahnya dan Miftah hanya pasrah. Toh! jika ia menghindar pun tidak akan ada gunanya, yang ada ia malah mendapatkan hadiah puluhan petir dari tatapan Firdaus.