Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 116


__ADS_3

     Usai berbicara dengan sang bibi Rosalia memutuskan untuk kembali menghampiri permata.


     "Permata," panggilnya hingga membuat sang pemilik nama jadi melihat kearahnya.


     "Iya ambu," responnya lalu langsung menghampiri Rosalia setelah berpamitan dengan anak kecil yang sangat imut.


     "Permata... Lebih baik kamu pulang saja ya kerumah kamu lagi," pinta Rosalia.


     "Memangnya kenapa ambu?" tanyanya merasa terkejut dengan permintaan Rosalia.


     "Ambu sangat minta maaf padamu sayang... Karna ambu harus menyelesaikan permasalah ambu dulu..." alasannya.


     "Ambu ada masalah apa? bilang aja sama Permata, mungkin Permata bisa bantu ambu." ucapnya serius.


     "Permata... Kamu masih terlalu kecil untuk hal ini nak..." ucap Rosalia.


     "Ya ampun... Ambu becanda ya? Permata udah besar ambu... Bahkan udah masuk kuliah juga... Satu tahun lagi Permata juga bakalan lulus," elaknya.


     "Iya ambu tau Permata... ambu paham banget niat baikmu ini... Tapi hal yang harus ambu selesaikan sama sekali tidak baik jika kamu ikut terlibat," jelasnya sambil memegang sebelah pipi Permata lalu mengelusnya pelan.


     "Tapi ambu," ucapnya yang seperti tak rela.


     "Permata... Ambu janji! ambu bakal jaga diri ambu baik - baik dan menjemputmu," ucapnya dan Permata hanya mengangguk lalu pamit untuk pulang kerumahnya sendiri.


     Saat Rosalia merasa jika Permata sudah benar - benar jauh, dengan langkah lebar ia langsung berlari kearah rumahnya tadi.


     "Bagaimana ini? aku masih punya satu harapan, tak apa rumah ini sekarang tak menjadi milikku tapi kartu ATM ku harus tetap jatuh ketanganku," batinnya.


     "Aku yakin banget kalau Werdan masih tidak mengetahui dimana aku menyimpannya," ucapnya sambil tersenyum miring penuh keyakinan.


     "Tapi bagaimana caranya agar aku bisa masuk kerumah ini ya?" pikirnya.


      Dari kejauhan ia tak sengaja melihat ada sebuah tangga panjang yang sudah terbaring dipinggir tembok rumahnya.


     "Aha! kayaknya ada tangga tuh! syukurlah nasibku sangat baik hari ini," senangnya lalu mulai mengangkat tangga dan menyenderkannya dengan benar ditembok.



     Setelah membaca bismillah ia pun mencoba untuk naik dan sampailah ia diatas tembok yang cukup tinggi.


    "Ya ampun... Mana lumayan tinggi nih tembok! kan aku bukan ninja yang bisa melompat dengan mudah, salah - salah kakiku bakal celaka nanti." resahnya.


     Akhirnya setelah mengumpulkan semua keberanian ia pun memberanikan diri untuk terjun juga dan sesuai dugaannya ia turun dengan telapak kaki yang terasa begitu sakit.

__ADS_1


     "Aduh... Sakit dikit gak papalah! tulang ku juga ngerti ini kalau aku lagi butuh duit," ucapnya acuh dan dengan sedikit tertatih berjalan untuk masuk kedalam.


     Saat hendak membuka pintu ternyata pintunya masih terkunci dan itu membuat kesabarannya semakin teruji.


     Tiba - tiba otak cantiknya mengingat sesuatu yang mampu membuat senyumannya jadi mengembang.


     "Oh iya! aku kan punya kunci cadangan darurat dan kunci itu hanya aku yang tau dimana letaknya." ucapnya senang.


     Tapi kesenangan Rosalia jadi luntur saat melihat pot bunga yang biasa ditaruh disamping pintu menghilang.


     "Ya ampun... Pasti itu pot udah dipindahkan kebelakang semua, mana dibelakang pohon bunga dengan warna pot yang sama juga berada disitu." resahnya.


     "Hadeh... Bakal makin susah buat temuinnya lagi," sedihnya tapi mau bagaimana mana lagi, ia tetap harus berusaha.


     "Perlu bantuan ambu?" tanya sebuah suara yang sangat ia kenal.


     Saat menoleh keasal suara Rosalia sangat terkejut ketika melihat sosok Permata.


     "Astagfirullah! permata! kok kamu ada disini nak? apa jangan - jangan aku terlalu lelah ya! jadi butuh bantuan sampai menghayal ada kamu," celotehnya seorang diri tapi Permata hanya tersenyum menanggapi ucapan Rosalia.


     "Ambu... Ini benar - benar Permata, sejak awal Permata memang sudah curiga dengan gerak - gerik ambu ketika kita baru sampai dipagar depan rumah ini," beritahunya.


     "Dan saat ditaman Permata juga sudah tau kalau ambu sedang menyembunyikan sesuatu yang mungkin masih tak sanggup untuk ambu selesaikan sendiri," sambungnya.


     "Baiklah! Sekarang ambu istirahat aja ya... Biar permata aja yang cari," ucapnya.


     "Gak papa... Lagian ambu masih sanggup kok buat nyari," responnya berusaha untuk bangkit tapi lagi - lagi pegelangan kakinya malah terasa nyeri.


     "Tuh kan! itu pasti akibat ambu lompat dari atas tidak menggunakan trik, jadinya bisa cendera seperti ini." ucapnya.


     "Memangnya kalau lompat dari tembok harus pakai trik juga ya?" tanya Rosalia.


     "Haruslah ambu... Kan kalau salah - salah bisa bahaya... Apa lagi itu menyangkut tulang, kalau retak kan sulit nantinya." jelasnya.


     "Baiklah kalau begitu," ucapnya patuh lalu Permata membantu ambu untuk berjalan ke tempat yang terdapat banyak pot bunga.


     Setelah sampai dibelakang rumah, Rosalia pun duduk di sebuah kursi yang ada dibelakang sambil menahan rasa nyeri yang semakin lama terasa begitu menyiksa.


     Dengan gesit Permata mulai mencari kunci tersebut dari satu pot ke pot yang lain hingga setelah setengah jam mencari kunci itu pun dapat ditemukan.



     "Alhamdulillah ambu..." ucapnya senang sambil memperlihatkan sebuah kunci kepada Rosalia.

__ADS_1


     "Wah... Benar itu kuncinya, kalau begitu mari kita langsung masuk kedalam saja," ajaknya.


     "Baiklah ambu," ucapnya patuh lalu kembali menghampiri Rosalia untuk menuntunnya sampai kedalam rumah.


     Saat pintu telah terbuka Permata tak langsung mengizinkan Rosalia untuk pergi mencari barang dikamarnya.


     "Ambu... Lebih baik ambu duduk disini dulu ya..." pintanya.


     "Kenapa?" tanya Rosalia yang bola matanya sudah berair akibat rasa sakit yang luar biasa.


     "Sudah lebih baik ambu duduk aja dulu," pintanya lagi dan Rosalia hanya menurut lalu duduk disofa rumahnya.


     Permata mengeluarkan sesuatu dari kantong roknya, seperti sebuah minyak untuk di oleskan pada luka.


     "Ambu diam saja ya... Minyak ini gak panas kok... Hanya untuk melicinkan saja agar lebih mudah di urut," beritahunya.


     "Emangnya kamu bisa ngurut nak?" tanyanya memastikan, seakan tau rasa sakit yang nanti akan ia rasakan.


     Setelah mengoleskan minyak dipergelangan kaki Rosalia yang terasa sakit, secara perlahan ia mulai mencoba untuk mengurutnya.


     "Au!" rintihnya.


     "Tahan sebenar ya ambu... Insya Allah rasa sakitnya akan hilang sendiri nanti," pintanya dan Rosalia hanya mengangguk.


     Selesai mengurut kaki Rosalia Permata memilih mencuci tangannya didapur setelah ditunjuk oleh Rosalia.


     "Wah... Kamu hebat juga yah dalam hal ini, baru juga beberapa menit yang lalu kamu urut tapi rasanya benar - benar baik." pujinya.


     "Ah... Ambu tidak perlu terlalu memuji karna itu aku pelajari dari Abah, termasuk cara memanjat dan melompat dari tembok." responnya.


     "Masya Allah... Yaudah kalau gitu kita langsung kekamar ambu aja ya... Setelah ambu mengambil kartu ATM ambu kita langsung pergi dari sini sebelum ketahuan," ajaknya.


     "Baik ambu," responnya.


     Tak perlu menghabiskan waktu lama untuk menemukan kartu kreditnya karna itu memang ia taruh disebuah kotak sepatu.


     Langkah kaki mereka yang ingin keluar dari rumah seketika jadi terhenti saat mengetahui siapa yang tiba - tiba masuk kedalam rumah sambil memandang sinis kearah mereka.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2