
Mobil hitam nyonya kini sudah berhenti didepan sebuah kantor polisi.
Sebelum masuk ia memarkirkan dulu mobilnya di tempat parkiran yang ada disamping gerbang.
Ia masuk dengan langkah santai.
"Selamat siang Bu, apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Satpam yang menjaga gerbang.
"Tolong tunjukkan di mana kantor polisi berada," pintanya.
Karlina terpaksa harus bertanya, karna tempat tersebut sangatlah luas hingga ia jadi bingung untuk melangkah kemana.
"Mari ikut kami Bu," ajaknya sambil berjalan mendahuluinya didepan.
Karlina hanya mengangguk patuh sambil berkata "baiklah!"
Kini sampailah ia di hadapan seorang polisi yang menjaga kantor hari ini.
Ia meminta izin untuk bertemu dengan Werdan dan mengakuinya sebagai saudaranya.
"Baiklah! tapi atas dasar apa?" tanya polisi tersebut.
"Saya hanya ingin menyampaikan surat dari ayahnya pak! karna besok papanya akan pergi merantau ke negeri lain," jawabnya yang tentu saja berbohong sambil menampakkan sebuah amplop.
"Huh! untung saja aku belum membaca surat dari temanku ini, jadi bisalah aku jadikan barang bukti! lagian polisi tak mungkinkan segitu keponya di balik isi yang ada di dalamnya." batinnya sambil tersenyum.
"Baiklah! tapi kami hanya akan memberikanmu waktu sepuluh menit untuk berbicara dengannya, lewat dari waktu tersebut anda harus berpisah lagi dengannya." tegasnya.
"Syukurlah... Terima kasih pak! karna ini memang sangat penting, jadi saya terpaksa malam - malam harus kesini juga sebab besok saya harus kembali berkerja." responnya kembali berbohong.
Polisi itu hanya mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya, ia berniat untuk mengantar Karlina ke sel yang hanya menampung Wedan seorang.
Werdan ternyata sejak tadi tidak dapat berbuat apa - apa. Ia hanya duduk di pojok sel sambil meremas rambutnya beberapa kali, bahkan ia tak segan - segan mengantuk kan kepalanya ke dinding.
"Dasar bodoh kamu! sekarang apa yang kamu dapatkan hah? cinta pertamamu dan kedua yang telah membawa kabar gembira berupa buah hatimu yang tak lama lagi akan datang malah kamu abaikan,"
"Wanita yang selama ini selalu ada untuk kamu dalam suka dan duka malah kamu tinggalkan demi mengejar harta yang tak selamanya kekal."
"Dan yang terakhir! aku juga telah menyakiti wanita yang hanya ku manfaatkan dirinya untuk pemuas saja, juga merampas hartanya lalu membuangnya bagai sampah yang tiada harga!"
__ADS_1
"Suami macam apa ini? pria macam apa aku ini? aku benci diriku sendiri!!! seandainya bisa mengulang waktu, aku ingin berubah menjadi pria yang lebih baik lagi! aku ingin bahagiakan wanita yang pertama kali hadir dalam kehidupanku."
Karlina hanya diam ketika melihat nasib Werdan yang seperti itu, ia tak tau harus berkata apa lagi. Yang jelas! Werdan kini benar - benar frustasi dengan apa yang menimpanya untuk saat ini.
"Werdan! aku datang," ucapnya sambil menatap ke arahnya.
Werdan yang mendengar suara Karlina jadi terkejut lalu beralih menatapnya.
"Karlina! akhirnya kamu datang juga," senangnya.
Saat sel telah di buka Karlina pun masuk kedalam, sedangkan polisi itu kembali ke tempatnya karna tak berniat untuk menguping apa yang mereka bicarakan.
"Ada apa kamu menelponku jam segini? dan bagaimana bisa kamu masuk kedalam penjara? kesalahan apa lagi yang telah kamu lakukan hah?" tanyanya tak habis pikir.
"Karlina! aku sudah melakukan kesalahan besar! aku sekarang tidak takut dengan hukuman apa pun, karna yang paling aku takuti ialah kehilangan orang yang sangat kusayangi." jelasnya.
"Aku dulu telah buta Karlina! aku buta Karlina! karna harta aku buta, hingga aku rela mempermainkan banyak perasaan wanita dan yang paling parah aku mainkan adalah perasaan Rosalia." ungkapnya yang sejak tadi sudah menangis hingga matanya memerah.
"Aku tau aku salah! karena aku telah menipumu juga. Ketika kita menjalankan rencana ini, perjanjian kita adalah membahagiakan pasangan yang telah kita rebut itu dengan cara kita masing - masing."
"Aku tau jika kamu adalah orang yang amanah Karlina! aku tau kamu sudah berusaha membahagiakan Askari sebisamu, tapi kamu masih saja seperti orang yang memiliki raga tanpa jiwa hingga perasaanmu itu hanya kau tahan rasa sakitnya seorang."
"Ma-mas! bagaimana mas bisa ada di sini?" tanyanya sedikit terbata - bata.
"Sekarang aku tau, jika ini semua akibat ulah dan rencana kalian berdua. Gara - gara kalian! aku sampai harus ribut dengan istriku di hari ulang tahun putri tunggalku, hingga dalam sekejap saja hubungan kami jadi di ujung tanduk dan berpisah usai menyiksa putri kami sendiri akibat api kemarahan." geram Askari.
Karlina tidak dapat berbuat apa - apa lagi, tubuhnya juga sudah bergetar hebat. Ingin mengelak? itu sudah tidak mungkin lagi baginya, dan seandainya ia pintar berbohong pun semua bukti pasti sudah ada di tangan lawan bicaranya.
"Aku kecewa sama kamu mas! tega ya mas kamu selama ini sama aku? bahkan pada suami pertamaku! aku memangnya sejak dulu punya salah apa sih mas sama kamu? punya salah apa? hingga kamu dengan teganya memperlakukan hal ini untukku!" tanyanya berkaca - kaca.
Werdan diam seribu bahasa, lidahnya kini terasa kelu untuk menjawab. Hanya tatapan penuh penyesalan yang ia berikan pada Rosalia.
"Aku minta maaf Rosa! aku minta maaf! aku benar - bener telah buta kemarin itu. Dan aku berani jujur sekarang! bahwa aku menikahimu bukan atas dasar cinta, melainkan atas dasar nafsu dan harta." ungkapnya.
"Kurang ajar ya kamu ternyata!" geram Askari hendak melangkah maju untuk memberi pelajaran padanya, tapi ia di cegah oleh Rosalia.
"Kenapa kamu mencegahku sayang? bukannya dia benar - benar sudah kelewatan dan perlu di beri sedikit pelajaran? apakah kau lupa? gara - gara pria berhati busuk ini! rumah tangga kita jadi terombang - ambing di dasar laut, lalu hilang di terkam ombak." herannya.
"Aku tau kita masih belum bisa untuk menerimanya, aku tau ini masih sulit bagi kita mas! luka pasti akan berbekas setelah ini, tapi mas juga harus tau jika membalas dendam juga sudah tidak ada gunanya lagi. Yang ada mas malah menodai tangan mas sendiri, jika sampai melayangkan nyawanya." jelasnya.
__ADS_1
"Sadarlah mas! bersabarlah! mari kita coba maafkan dan berikan mereka kesempatan kedua, Allah saja maha pemaaf mas! masak kita selaku hamba-Nya tidak! mas sendiri padahal yang mengajarkan aku hal itu," peringatnya.
"Kamu benar Rosa! makasih udah ingatin aku ya! mari! kita coba maafkan mereka," ucapnya.
Permata yang baru tiba dengan Fahman hanya menatap bingung pada sosok Askari yang memang sudah marah besar terhadap dua orang yang ada di hadapannya.
Mereka memilih melihat saja terlebih dahulu.
"Dengar ya Werdan, aku akan memberikan kesempatan kedua bagimu termasuk kau juga Karlina. Aku akan maafkan kalian berdua, dan berjanjilah untuk tidak mengulang perbuatan itu jika kalian benar - benar menyesal atas apa yang kalian lakukan." putusnya.
"Makasih banyak mas!" syukur Karlina.
Kini ia berjalan ke hadapan suaminya. Ia tatap mata yang penuh api kemarahan itu. Ia tau, tidak ada cinta di dalam sana sedikit pun untuk dia. Tapi ia tidak tau, kenapa hatinya tak ingin lepas darinya sejak dulu.
"Mas! aku tau setelah ini kamu akan menceraikanku dan kembali bersama wanita yang memang sangat pas menjadi pendampingmu, dan itu tak akan pernah bisa berubah meskipun aku terlihat berusaha keras." ucapnya sambil menahan isak tangis.
"Besok, ajak aku ke pengadilan untuk gugatan cerai. Aku janji setelah itu terjadi, aku tidak akan mengusik kehidupan kalian lagi. Aku memang bodoh! karna jatuh cinta dan tetap bertahan dengan sosok yang bahkan tak pernah mau mencintaiku." sedihnya lalu hendak melangkah pergi tapi di tahan oleh Askari.
Karlina yang tangannya telah di tahan oleh Askari, hanya mampu menatap matanya kembali dengan wajah yang sedikit mengadah kearahnya.
Ia sangat terkejut saat Askari mengecup bibirnya dan menekan tekuknya untuk memperdalam ciumannya itu hingga cukup lama.
"Terima kasih! sudah berusaha menghiburku di kala sedih, meskipun aku tak pernah meresponmu sedikit pun. Aku tau, kau sangat mencintaiku tulus. Tapi maaf! aku benar - benar tak bisa mencintaimu, jadi aku akan memberikan mu ciuman pertamamu sebagai hadiah atas kebaikan hatimu yang tak semuanya buruk." jelasnya.
Isak tangis yang sejak tadi ditahannya, kini telah tumpah dalam sekejap saja.
"Mas! aku gak tau harus ngomong apa lagi sama kamu, tapi aku hanya bisa berkata bahwa ini adalah hadiah perpisahan terbaik darimu seumur hidupku. Terima kasih mas! sudah mau menghargai perasaanku, meskipun di titik terakhir." sedihnya yang langsung di peluk hangat oleh Askari.
"Sama - sama Karlina! kita sudah menikah secara baik - baik, maka kita juga harus berpisah secara baik - baik pula," responnya.
Rosalia hanya memakluminya, meskipun ia merasakan sedikit cemburu cuma ia juga harus mengerti tentang perasaan wanita tersebut.
Ia juga tau, betapa sakitnya kehidupan jika terasa sepertinya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇