
"Bo-bos Firdaus," ucapnya terbata - bata.
"Oh! ternyata kamu masih mengenaliku juga ya Gordeos," responnya sambil tersenyum miring.
Kini Firdaus mulai berjalan semakin dekat dengannya.
"Bhukkk!"
Sebuah pukulan berhasil ia layangkan ke arahnya yang sempat melangkah mundur dengan tubuh bergetar.
Ia sampai jatuh terduduk sambil memegang pipinya.
"Gordeos!!!" gertaknya lalu menarik kerah baju pria kekar itu hingga bangkit dalam keadaan lemas.
"Beginikah balasanmu padaku hah? beginikah perlakuanmu pada keluargaku hah? sampai mama dan papaku lembab bagian tubuhnya gara - gara para bodyguard yang ada di bawah kuasamu?" ucapnya dengan tatapan tajam.
"Kamu benar - benar seorang pria yang tak tau caranya berterima kasih! setelah aku membantu menyelamatkanmu," geramnya lalu menghempaskannya begitu saja.
"Bos! aku minta maaf, aku benar - benar tidak tau jika ini rumah keluarga bos." ucapnya menyesal.
"Memangnya aku peduli hah? harusnya kamu itu lebih teliti dalam hal ini," responnya acuh sambil membelakanginya.
"Dan satu hal lagi! aku ini bukan bosmu! aku benar - benar geli jika memiliki bodyguard sepertimu yang lupa akan tuannya sendiri," tunjuknya tepat di hadapan sang bodyguard usai berbalik menghadapnya kembali.
"Ada apa ini? kenapa kamu malah bertengkar dengan pria ini hah? cepat bawa Permata kembali," perintah Werdan yang sudah berjalan mendekat.
Firdaus mulai melihat kearah orang yang memerintah pria itu.
"Cih! ternyata ini bosmu? sangat lemah," hinanya.
Werdan yang mendengar penghinaan dari Firdaus terhadapnya jadi terbakar emosi.
"Kurang ajar! berani sekali kau menghinaku," geramnya.
"Bukannya kau memang pantas mendapatkan hinaan seperti itu? hanya karna masalah cintamu sendiri kau malah menyuruh orang lain ikut campur tangan dalam urusan pribadimu? sama saja kau menunjukkan bahwa kau itu lemah," ucapnya santai sampai menaikkan bahu dan tertawa ringan.
Werdan jadi membisu sesaat.
"Diam kan kamu?" tanyanya sambil terkekeh pelan.
"Bukan urusanmu," lalu ia langsung berlari ke arah Permata berdiri dan menarik tangannya dengan gesit.
Miftah yang melihat hal itu, sontak ikut menarik tangan Permata agar tak dapat di bawa oleh Werdan.
Hingga terjadilah aksi tarik menarik yang membuat kepala Permata jadi sedikit pusing.
"Lepasin tangan kak Permata gak?" geram Miftah.
"Diam kamu! jangan ikut campur," responnya dengan tatapan tajam.
"Dia kakaku! tentu saja aku harus membelanya," ucapnya.
"Dia hanya Kaka angkatmu saja! kau pikir aku bodoh apa?" geramnya masih berusaha menarik.
Karna sudah merasa sedikit lelah ia pun memilih mengeluarkan sebuah pisau dari dalam saku bajunya.
Firdaus yang sejak tadi sudah berjalan mendekat mulai mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Saat pisau itu hendak ia layangkan ke arah Miftah, gerakannya berhasil di cegah oleh Firdaus dengan mencengkram tangannya.
"Berani melukai wanitaku, berarti kau sedang cari mati denganku." ucapnya berapi - api lalu langsung menendang satu kakinya.
"Arrgg..." erang Werdan.
"Tulangku seperti patah," rintihnya lalu jatuh terduduk.
Firdaus yang masih belum puas langsung mencengkram kerahnya lalu meninjunya berulang kali tanpa ampun.
"Rasakan ini!" serunya.
Werdan tak sempat mengelak karna masih menahan rasa sakit di kakinya.
Miftah merasa ngeri sendiri melihat hidung dan bibir Werdan yang sudah mengeluarkan darah.
"Kak cukup kak!" cegah Miftah.
"Tidak Ratuku! orang seperti ini memang harus di beri pelajaran," geramnya.
"Kak aku mohon..." tangisnya merasa iba.
Firdaus yang sudah di kuasai api amarah menjadi tuli dengan apa yang Miftah katakan.
Bodyguard lain tak ada yang berani mendekat, mereka hanya dapat menyaksikan bos mereka yang sedang di hajar oleh Firdaus tanpa ampun.
Pemimpin mereka saja sedang menahan sakit usai mendapat tinjuan dahsyat dari Firdaus.
Dari kejauhan mata Werdan jadi menajam tat kala melihat sesosok pria yang sangat di bencinya datang menghampiri Permata.
"Kak Werdan ingin menjemputku kak," jawab Permata dengan tubuh bergetar.
"Kamu yang tenang ya... Dia gak mungkin bisa tangkap kamu," ucapnya reflek memeluk tubuh Permata untuk menenangkannya.
Api kemarahan kini terlihat jelas dari mata Werdan.
"Sialan! aku saja tidak pernah memeluknya sedangkan dia," ucapnya tertahan lalu mendorong tubuh Firdaus kuat.
"Fahman! Awas!!!" pekik Firdaus saat melihat Werdan melempar pisau tajam itu ke arahnya.
Fahman yang tersadar langsung melepaskan pelukannya ketika mendengar pekikan Firdaus.
Ia menjatuhkan dirinya dan Permata hingga berguling di tanah usai menariknya dalam pelukannya kembali.
"Kurang ajar!" geramnya sambil mengepalkan tangannya lalu mengambil senjata terakhirnya berupa pistol api untuk menembak Fahman tapi niatnya tertahan.
"Gordeos! apa yang kau lakukan hah?" herannya.
"Maaf! ini benda berbahaya! tidak seharusnya tuan memakai ini," ucapnya lalu melempar pistol itu ke sembarangan arah.
"Apa kau lupa jika aku yang menggajimu dan semua pengikutmu yang tak berguna itu?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Huh! tuan tidak pernah menggaji saya bahkan rekan saya semenjak beberapa tahun ini, baru sekali tuan menggaji kami karna baru bergabung dengan tuan." peringatnya.
"Oh! jadi karna hal itu kau jadi tak patuh lagi denganku? ingat ya! kalian semua sudah aku beli dengan harga yang sangat mahal di sebuah perusahaan bodyguard ternama, jika kalian sampai mengecewakan saya maka saya akan membuat perhitungan pada pemilik asli kalian." ancamnya.
"Kami tidak takut sama sekali," ucapnya dingin.
__ADS_1
Fahman yang melihat perdebatan bodyguard itu mengambil kesempatan untuk bangkit dan membawa Permata ke dalam rumah.
Gerakannya yang tergesa - gesa memancing Werdan melihat kearahnya.
"Dasar pengecut! bisanya cuma kabur saja! jika berani bertarung lah denganku," tantangnya.
Langkah kaki Fahman yang awalnya bergerak cepat kini berhenti seketika.
"Kaka! kenapa berhenti? ayo kita lari," ajak Permata cemas.
"Tidak Permata! masalah ini harus diselesaikan sekarang juga! aku tak terima dengan ucapan pengecutnya itu padaku," geramnya.
"Tapi Kak-" ucapan Permata jadi terpotong.
"Kamu percaya sama abang kan dek?" tanyanya sambil menaruh satu tangannya di pundak Permata.
"Iya bang! adek pasti percaya kok sama abang," jawabnya mengangguk.
"Bagus! sekarang masuklah," pintanya.
Miftah yang sejak tadi hanya diam di tempat memilih untuk menghampiri Permata dan Fahman.
"Dek! ayo kita ke dalam saja," ajak Permata.
Miftah hanya menurut.
Firdaus jadi dapat menghembuskan napas lega saat melihat Miftah sudah ikut masuk kedalam kembali.
"Aku menerima tantanganmu Werdan," unjuknya pada pria yang umurnya lebih tua darinya itu.
"Hebat sekali! aku hargai keberanianmu itu," tersenyum miring.
"Dia ini hanya orang kantoran biasa yang punya sedikit kelebihan, palingan hanya pintar dan pastinya ia tak memiliki sedikit pun ahli bela diri." batin Werdan merasa yakin.
"Tuan! lebih baik tuan tidak bertarung dengan orang itu," peringat Gordeos.
"Berisik! aku gak peduli!" acuhnya lalu mendorong tubuh pria itu.
"Terserah tuan! saya sudah memperingatkan," ucapnya lalu meninggalkannya.
Sedangkan Firdaus sangat cemas dengan keputusan yang diambil oleh adik pertamanya itu.
Setahunya Fahman adalah pria yang sangat penyayang dan tak mungkin bisa membela diri karna tak pernah ia melihat Fahman berlatih tentang hal itu.
Namun, jika niatnya sudah bulat maka ia akan sulit untuk di bujuk agar mencabut kembali ucapannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1