Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 198


__ADS_3

     Kini mereka sudah duduk di meja makan, mata Fajar dan Firdaus sama - sama berbinar saat menatap aneka lauk pauk yang Miftah masak di atas meja.


     "Ummi, ini banyak banget. Gak biasanya Ummi masak sebanyak ini, kebanyakan kesukaan Fajar lagi mi." girangnya sambil menjilat bibir atas dan bawahnya secara bergantian.


     "Iya kan dulu kita makannya cuma berdua aja sayang, kan sekarang udah ada Abi." jelasnya Miftah yang langsung di angguki oleh Fajar.


     "Yaudah kalau gitu boleh gak mi Fajar yang mimpin aja baca doa makannya?" tanyanya.


     "Eh! emangnya anak Abi bisa?" tanya Firdaus sambil memegang sebelah pundaknya.


     "Bisa dong Abi... Kan Ummi ajarin, doa masuk WC aja Fajar bisa sama doa tidur. Masak doa mau makan aja gak bisa sih Bi," bangganya.


     "Wah... Anak Abi memang pintar ya ternyata, yaudah kamu baca ya. Biar Abi sama Ummi yang Aminin aja," suruh Firdaus.


     "Siap kapten," gurau Fajar sambil hormat ke arah Firdaus hingga membuat kedua orang tuanya jadi tertawa secara bersamaan.


     "Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa adzaa bannar. Artinya : Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka." ucapnya baru mengusap tangannya ke wajah.


     "Amiiin," sambung Firdaus dan Miftah.


     "Nah! Fajar udah baca doa nih Ummi, sekarang Fajar udah boleh makan kan?" tanyanya.


     "Atu boleh dong sayang," jawab Miftah.


     "Oh iya, Fajar mau makan apa? ini ada cumi goreng, kuah sayur asem dan ikan teri Medan sambel." tanyanya.


     "Semua aja mi, tapi jangan banyak - banyak." jawabnya.


     "Oke," respon Miftah sambil membuat tangan berbentuk oke dengan satu mata yang menyipit.


     Firdaus yang heran ketika mendengar apa yang Fajar inginkan langsung menghalangi keinginan Miftah yang hendak menaruh teri sambal itu.


     "Eh, Ummi. Kok Fajar di kasih makan pedas sih Ummi? kan gak baik untuk lambungnya," protes Firdaus.


     "Gak papalah mas kalau dikit, orang Fajar udah biasa kok makan ini. Kalau gak ada sambal malah Fajar gak mau makan mas, ikutin Umminya. Hehe," respon Miftah sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


     "Tapi Fajar masih berumur lima tahun Ummi... Masih TK, Ummi nih ada - ada aja deh! pokonya Abi gak mau tau, mulai detik ini Fajar gak boleh lagi makan pedas - pedas." aturnya.


     "Lho, kok Abi gitu sama Fajar? Fajar benar - benar gak bisa makan tanpa sambal Abi, lagian Ummi buat sambalnya gak terlalu pedas pun Abi. Jadi aman buat perut Fajar," elaknya hingga Firdaus hanya mampu memijit batang hidungnya.


     "Ya ampun putraku ini, ada saja jawabannya. Bagaimana ini?" batinnya merasa bingung.


     "Abi gak percaya kalau Ummi masak sambal itu gak pedas, biasa sama Abi masaknya selalu pedas - pedas." ucapnya sambil menatap tajam ke arah Miftah yang mulai merasa risih dengan Firdaus.


     "Ih... Kalau Abi gak percaya coba deh Abi rasa sendiri," perintah Fajar sambil menunjuk ke arah sambal yang berwarna merah menyala itu.


     Firdaus pun menurut karna ia juga penasaran dengan rasa sambal yang Miftah buat itu.


     Ia lebih dulu mengambil sepiring nasi hangat yang sudah di taruh oleh Miftah, tangannya mulai mengarah pada sepiring sambel dan mengambil langsung satu sendok untuk di taruh di atas nasi hangatnya.


     Firdaus paling malas jika makan menggunakan sendok, ia seperti tidak puas. Itu sebabnya ia sering menggunakan tangan, untung tangannya sudah bersih.


     "Gimana Abi? apakah Abi bisa merasakan rasa cabai yang begitu membakar lidah?" tanya Miftah sambil menompangkan dagunya pada sebelah tangannya yang di taruh di atas meja.


     Firdaus yang baru saja mengunyah sesuap sambal merah itu hampir saja tersedak saat melihat wajah penuh tatapan sinis dari Miftah.


     "Air," ucapnya serak.


     "Abi makannya pelan - pelan, terus pikirannya jangan kemana - mana. Kata Ummi itu gak bagus, nanti tenggorokan kita jadi sakit lho Abi." nasehat Fajar.


     "Ampun deh! sekarang malah aku yang terlihat seperti anak kecil," batinnya merasa kesal.


     "Jawab dong Abi... Apa Abi masih tetap kekeh dengan keputusan yang Abi buat tadi?" pancing Miftah sambil menabrakkan alisnya berulang kali.


     "Enggak," jawabnya singkat.


     "Tuh kan! mana ada Ummi mau mencelakai perut putra kesayangan Ummi yang genteng banget, sayangnya mirip banget sih sama Abinya. Harusnya mirip Ummi aja biar cantik," ucap Miftah sambil mencubit pipi putranya pelan.


     "Iya mi, Fajar percaya kok sama Ummi." responnya sambil tersenyum.


     "Iya dong... Harus percaya... Jangan kayak Abi tuh," cibir Miftah.

__ADS_1


     "Duh... Udah dong, kok dari tadi Ummi sama Fajar sudutin Abi terus sih... Nanti Abi sedih terus gak mau pulang lagi deh," ancamnya.


     "Eh! jangan dong Abi," sedih Fajar sambil memeluk pinggangnya.


     "Bagus kalau gitu, ngapain juga tadi-" ucapan Miftah jadi terpotong.


     "Esst... Abi padahal cuma becanda aja Ummi, gak jadi deh - gak jadi. Udah kita lanjut makan aja, perut abi udah lapar," resah Firdaus sambil memasukkan ikan teri sambal yang lebih dominan ke rasa manis itu.


     "Dan... Abi mau sedikit protes juga ucapan Ummi tentang kenapa Fajar gak mirip Ummi aja, Fajar kan cowok. Jadi lebih baik mirip Abi aja kan ganteng. Kalau nanti Fajar ada adik lagi semoga aja perempuan dan mirip Ummi ya..." goda Firdaus mencari kesempatan.


     "Heh! jangan harap ya Abi," kesal Miftah sedikit berbisik dan menutup mulutnya dengan satu tangan.


     "Suka - suka Abi dong mau minta berapa," responnya sambil terkekeh.


     "Abi!!!" pekik Miftah yang pipinya sudah bersemu merah.


     "Iya - iya deh iya gak jadi," tawanya lalu mengambil alih piring Fajar yang tadinya hendak di taruh lauk pauk oleh Miftah untuk di taruh saja olehnya.


     Fajar yang memang sudah lapar tak menghiraukan perang dingin antar tatapan orang tuanya.


     Ia memilih sibuk menyantap makanannya saja yang telah membuat selera makannya menjadi lebih bertambah.


     "Udah - udah... Tuh liat Fajar aja udah sibuk sama nasinya, masak kita enggak. Lagian mau sampai kapan saling tatap kayak gini Ummi?" halang Firdaus.


     "Terserah," responnya lalu mulai menaruh nasi untuk dirinya sendiri tak lupa lauk pauknya sekalian.


     Suasana meja makan menjadi sunyi dalam sekejap, memperlihatkan keharmonisan mereka tanpa pertengkaran jika hanya diam dan menikmati saja.


     Fajar tak berhenti meminta tambahan karna masakan Miftah yang memang tak pernah berubah dari biasanya dan selalu bisa membuat lidahnya tak ingin berhenti memakannya.


     Miftah jadi tersenyum kembali saat melihat tingkah ayah dan anak yang sama - sama lahap saat menyantap makanan. Mereka seakan sedang berlomba - lomba untuk siapa yang lebih banyak menghabiskan semuanya lebih dulu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2