
Jannah kini baru saja sampai di rumah, ia sempat melihat sang mama yang masih sibuk berada di kebun terong sambil merenung.
Jannah pun berinisiatif untuk menghampiri sang mama yang tampak baru saja menyirami tanaman terong tersebut.
"Assalamualaikum ma," ucap Jannah sambil tersenyum, tak lupa ia menyalami tangan sang mama.
"Eh! wa'alaikum salam sayang..." ucap sang mama yang tampak tersenyum lebar.
Jannah sempat terkejut karna tak biasanya sang mama memanggil sayang kepadanya.
"Emm... Iya ma," responnya menjadi canggung.
"Oh ternyata kamu ya Jannah, maaf ya mama kira tadi orang lain." ucap sang mama merasa tidak enak.
Disitulah Jannah baru tau dan memang tak mungkin juga panggilan sayang seperti itu mengarah hanya untuknya seorang.
"Iya ma gak papa kok, Jannah tau kalau panggilan itu pasti hanya untuk Miftah seorang. Mantu kesayangan mama yang pertama, kalau begitu Jannah izin masuk duluan ke dalam rumah ya." pamitnya sambil tersenyum tipis.
Dalam hati ia sedikit merasa iri pada Miftah, namun sekuat tenaga ia buang rasa itu jauh - jauh karna ia selalu mengingat nasihat orang tua bahkan gurunya untuk tidak boleh menyimpan rasa itu terhadap orang lain.
Karna Allah SWT telah menggariskan kebahagiaan kepada hamba-Nya masih - masing.
Di dalam rumah Jannah tak sengaja berpapasan dengan sang papa yang hendak keluar rumah untuk mengajak istrinya masuk.
"Assalamualaikum pa," ucap Jannah yang kini menyalami tangan sang papa.
"Wa'alaikum salam Jannah... Bagaimana niatmu itu? apakah berjalan dengan lancar?" tanya sang papa.
"Alhamdulillah berjalan sesuai harapan pa, tinggal menghitung hari saja Insya Allah mas Firdaus dan Miftah akan kembali bersatu lagi." ucapnya sambil menelan rasa pahit.
Setelah mengatakan kalimat itu Jannah langsung menuju ke kamarnya, sejak tadi ia sudah berusaha keras menahan linangan kristal yang sebentar lagi juga akan tumpah mengalir di kedua pipinya.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur sambil memandang langit - langit kamar, tak jarang matanya mengarah ke arah sebuah poto yang memperlihatkan dua orang pasangan pengantin yang tampak tersenyum lebar.
__ADS_1
Ia begitu ingat momen - momen indah saat Firdaus sudah selesai membacakan ijab kabul dan pada saat itulah ia mengecup dahinya dengan begitu lembut.
Cincin yang di pasang dengan begitu hati - hati, juga menikmati malam pernikahan tanpa menyentuh lebih di sebuah pasar malam membuat senyuman Jannah kembali merekah.
Sempat Firdaus belajar untuk membuat gulai sesuai permintaan Jannah usai di izinkan oleh sang pemilik malah membuat tangan Firdaus ikut berputar bukannya menahan, alhasil bentuknya jadi tak beraturan.
Itu sontak saja membuat Jannah jadi tertawa lepas begitu pun dengan sang penjual yang mulai mengambil alih gagang gulali dari Firdaus.
Tapi sayang itu semua nanti hanya akan tinggal menjadi kenangan, ia bangkit dari pembaringannya untuk mengambil potonya dan Firdaus.
Ia pandangi sekali lagi wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu, kedua tangannya yang dulu sempat memeluk mesra pinggang ramping wanita lain bisa juga untuk ia rasakan saat itu.
Namun, Jannah sekarang seperti insan yang hanya bisa memiliki raga seseorang tapi tidak bisa membuat hati yang menjadi raja untuk ikut jatuh kedalam pesonanya.
"Mas, kalau boleh jujur. Sebenarnya aku udah cinta banget tau mas sama kamu. Tapi aku lebih sedih karna belum bisa menghapus sosok yang lebih dulu menjadi istri pertamamu dan sekarang status kalian masih sama. Hanya jarak yang membuat orang lain berpikir jika kita hanya berdua saja."
"Mas, aku juga bukan wanita yang mampu bersabar begitu lama. Aku juga ingin di perlakukan dengan spesial tanpa ada paksaan, jadi aku terpaksa memilih keputusan ini."
"Nanti malam aku yakin kamu pasti akan meminta hakmu seperti apa yang papa sampaikan padaku, tapi aku sudah tidak ada niatan lagi untuk memberikannya untukmu mas. Aku minta maaf, lebih baik kita tidak berhubungan begitu jauh lagi sampai melahirkan anak - anak dari darah daging kita sendiri."
Sejak tadi Jannah hanya meracau seorang diri sambil terus mengelus wajah suaminya di balik bingkai foto itu, hingga tanpa sadar rasa kantuk mulai menyerangnya hingga ia jadi tertidur pulas.
Azan dzuhur mulai berkumandang, Jannah masih saja berada dalam mimpi indahnya. Ia sampai tak menyadari kehadiran Firdaus yang masuk ke dalam kamar dan mengukir senyuman di bibirnya.
"Ya ampun istriku sudah tidur ternyata," ucapnya berjalan ke arah Jannah setelah menaruh tas kerjanya di atas meja kamar.
Firdaus duduk di pinggir ranjang, ia mulai membuka sepatu dan kaos kakinya. Matanya sejak tadi tak pernah berpaling dari wajah Jannah yang tampak begitu letih di balik tidurnya.
"Kasian istriku, maaf! selama ini aku telah lama mengabaikanmu sampai dua tahun kebelakang. Aku belum bisa menjadikanmu istriku seutuhnya, sayang aku minta maaf." ucapnya sambil mengelus puncak kepala istrinya yang tak memakai hijab jika di dalam kamar.
Karna Firdaus berpikir jika Jannah sudah melaksanakan sholat Dzuhur, akhirnya ia memutuskan untuk sholat sendiri tanpa berniat membangunkan tidurnya.
Usai sholat ia mulai berbaring di samping istrinya karna tubuhnya juga masih merasa sangat kelelahan.
__ADS_1
Ia kini masih mengelus puncak kepala Jannah, dan mencium umbun - umbun kepalanya.
"Sayang, kenapa sih kamu memilih menutupi semua masalahmu dariku? kenapa kamu tidak pernah cerita jika sekertarisku sering mengancammu?" tanyanya yang tentu saja tidak mengadapatkan responan akibat orang yang menjadi lawan bicaranya masih tertidur nyenyak.
"Kamu memang istri yang baik sayang, mulai sekarang aku akan berusaha menjadi suami yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan nanti malam insya Allah aku akan meminta hakku pada mu dan membangun rumah tangga yang indah di antara kita." sambungnya mulai membawa Jannah ke dalam dekapannya.
Ia juga menompangkan dagunya di atas kepala istrinya.
Tanpa menunggu waktu lama akhirnya Firdaus ikut terbawa ke dalam mimpi indahnya.
Mereka tidur begitu nyenyak hingga melewatkan makan siang, sampai - sampai terdengar suara ketukan pintu diluar kamar.
Jannah pun terbangun tapi tidak dengan Firdaus, ia mulai membuka matanya perlahan - lahan dan sangat terkejut dengan posisinya sekarang.
Saat ia mengadahkan wajahnya ia dapat dengan jelas merasakan tarikan napas Firdaus yang mengenai kulit wajahnya.
Hampir saja ia berteriak namun dengan cepat ia membekap mulutnya dengan satu tangannya.
Ia mulai turun dari kasur setelah berhasil keluar dari dekapan Firdaus untuk membuka pintu kamar.
Ternyata yang mengetuk adalah Bi Ati, ia menyuruh Jannah dan Firdaus turun akibat perintah dari nyonya yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
Tanpa membuang - buang waktu Jannah mengangguk sambil berkata "baik bi."
Ia bergegas untuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu karna sudah lewat, baru ia membangunkan suaminya untuk ikut turun ke meja makan bersama.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1