
Polisi yang baru tersadar jika mereka sudah bertemu selama lewat dari sepuluh menit memilih untuk menghampiri tempat tersebut.
"Maaf! waktu kalian untuk berkunjung dengan Werdan sudah habis! jadi saya minta kepada keluarga sekalian untuk meninggalkan tempat ini," ucapnya sambil mengulurkan tangannya kehadapan pintu keluar.
"Karlina! ku mohon tolong aku! aku harus bertemu dengan wanita pertamaku yang sangat ku cintai," harapnya sambil menahan tangannya.
"Maaf Werdan! kasusmu sungguh besar! aku gak bakal mampu untuk membantumu," tolaknya.
"Tapi Kalina... aku benar - benar memohon padamu... Tolong aku..." rintihnya beberapa kali tapi Karlina tetap mengacuhkannya.
Permata yang melihat bahkan mendengar apa yang Werdan katakan jadi merasa kasian terhadapnya.
"Hmmm... Andaikan aku punya cukup uang untuk menyelesaikan masalahnya, pasti aku akan membantunya yang tampak benar - benar ingin berubah dan sangat menyesali perbuatannya." gumamnya sedih.
"Kamu benar - benar ingin menolongnya Permata? setelah apa yang ia lakukan padamu, kamu masih memiliki hati untuknya?" tanyanya tak habis pikir.
"Setiap orang punya khilafannya masih - masing bang... Kita sendiri kadang suka tidak sadar ketika kita melakukan kesalahan," jawabnya.
Fahman sangat tertegun saat mendengar penurunan Permata, sungguh ia kini dia buat begitu cinta dengan kebaikan hatinya itu.
"Permata! jika membantunya adalah suatu kebahagiaan bagimu, maka aku akan mengabulkannya untukmu." ucapnya ambil menatap dalam mata Permata.
"Maksudmu?" tanyanya bingung.
"Ya aku akan gantikan kamu untuk membantu pria tersebut, hingga ia bisa terbebas dari masalah dan dapat bertemu dengan wanita yang sangat di cintanya kembali. Semoga saja ia benar - benar niat berubah!" jawabnya sambil tersenyum.
Permata sangat terkejut sekaligus senang saat mendengarnya.
"Ya Allah... Makasih banyak ya Abang..." girangnya yang tanpa sadar sudah memeluknya erat.
"Senang banget ya kamu kayaknya, sampai gak nyadar kalau bakal meluk Abang." ucapnya sambil terkekeh pelan.
Blusssh
Pipi Permata jadi bersemu merah saking merasa malunya akibat hal tersebut. Ia hanya merutuki kebohongannya didalam hati.
Dengan sigap Fahman menghampiri polisi tersebut.
"Maaf pak! apakah ada cara lain yang dapat membuat pak Werdan tak lagi mendekam di penjara?" tanyanya sambil tersenyum tipis.
"Ada sih pak! yaitu dengan mengembalikan semua uang korban yang pernah di tipu olehnya." jawabnya.
"Baiklah! jika begitu saya akan melunaskan uang itu sekarang, jadi saja minta tolong agar bapak berkenan mengeluarkan Werdan." pintanya.
"Akan kami lakukan jika dana sudah terkirim secara sempurna," responnya lalu meraih kartu ATM milih Fahman yang sedang ia serahkan.
"Harap bapak menunggu sebentar," ucapnya yang hanya di angguki olehnya.
"Fahman! kamus serius mau bayar utang Werdan?" tanya Rosalia tak percaya.
"Serius ambu! lagian ini juga keinginan Permata, apa pun yang membuatnya bahagia maka aku akan melakukannya." jelasnya.
Werdan yang mengira jika itu memang inisiatif Fahman jadi membisu ketika mengetahui siapa yang sebenarnya menginginkan hal itu.
"Permata! aku sangat berterima kasih padamu! aku gak nyangka, ternyata kamu masih peduli padaku meskipun niatku awalnya buruk kepadamu." ucapnya sedih.
Permata hanya tersenyum saat mendengar apa yang ia katakan lalu membalas "sama - sama kak Werdan! permata harap kak Werdan benar - benar niat berubah setelah ini," responnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tentu! aku pasti akan berubah dan membuktikan apa yang aku katakan ini setelah benar - benar keluar dari sini." yakinnya balas senyum.
Tak berapa lama kemudian polisi itu pun kembali dan memberikan kartu ATM Fahman padanya.
"Terima kasih! telah mau membantu masalah ini," ucap polisi tersebut sedikit menundukkan kepalanya.
"Sama - sama pak," respon Fahman.
Fahman yang sudah bebas merasa bersyukur! sampai - sampai ia bersujud di atas lantai penjara yang sedikit berdebu.
"Alhamdulillah..." ucapnya.
"Baiklah Werdan! selamat kembali menggapai kebebasan, kami berharap selama beberapa jam anda berada didalam sel ini membuat anda sadar dan tak akan pernah lagi mengulang kesalahan lain." ucap polisi tersebut.
"Baiklah pak! terima kasih," responnya sambil menjabat tangan polisi itu dan menaikkannya ke atas dan ke bawah.
"Sama - sama Werdan," ucap polisi itu sambil tersenyum dengan kumis tebalnya, umurnya bisa di bilang lebih tua beberapa tahun dari Werdan.
Tanpa pikir panjang Werdan langsung berlari entah kemana, menerobos semua orang yang ada disitu.
Ia tidak memperdulikan kakinya yang berjalan tanpa alas, pikirannya hanya tertuju pada rumah istri pertamanya yang cukup jauh dari sini.
Ia tak sempat memikirkan untuk menaiki kendaraan, ia hanya terus berlari dan berlari.
"Werdia! ku harap kau masih mau menerimaku Werdia! aku minta maaf padamu Werdia! aku mencintaimu," racaunya.
Orang - orang yang tak sengaja lewat di sekitarnya hanya memandang heran pria yang masih saja menggunakan baju narapidana itu.
Beberapa ada yang berpikir jika ia mungkin kabur dari penjara. Namun, mereka memilih acuh saja karna tak ingin mencari masalah.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia akhirnya sampai di sebuah rumah yang sangat mewah berwana oren.
Wajahnya sudah tampak memerah karna lelah. Namun, ia masih berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Permisi pak! saya minta izin untuk masuk kedalam, saya harus bertemu dengan Werdia!" pintanya memohon.
"Maaf! sebenarnya anda siapa dan ada urusan apa anda kemari?" tanyanya curiga.
"Saya tidak bisa mengatakannya pada bapak! intinya tolong panggil Werdia untuk saya," pintanya lagi.
"Maaf! jika anda tidak mau menjelaskan secara detail apa tujuan anda, saya tidak akan bisa melaksanakan apa yang anda pinta." tegasnya.
"Aku mohon... Tolong aku," rintihnya dengan mata yang sudah sayu.
Tiba - tiba seorang gadis berpakaian berwarna oren bunga - bunga berjalan mendekat.
"Ada pak Jugen? kenapa saya dengar dari tadi ribut sekali? sekalian bukakan pintu ya! karna saya mau keluar sebentar," pintanya.
Pak Jugen yang tak sempat menjawab memilih membuka gerbang terlebih dahulu.
"Jadi pria ini yang tadi sempat meminta saya untuk memanggil nona, ketika saya meminta penjelasan ia tidak mau menjawabnya hingga kami jadi sedikit berdebat tadi." jelasnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Werdan.
Werdan yang masih menundukkan kepala saat gerbang telah di buka, baru ia mencoba mengangkat kepalanya kembali.
__ADS_1
Tatapan mereka jadi saling bertemu saat Werdia sudah mendengarkan penjelasan pak Jugen.
"Kamu!" unjuknya terkejut.
"Werdia! akhirnya kau datang juga, aku masih di berikan kesempatan untuk bertemu denganmu." girangnya berniat mendekat.
"Tunggu! jangan menyentuhku," cegahnya garang.
Hal itu sontak saja membuat langkah Wedan terhenti dalam sekejap.
"Aku mohon Werdan! bukannya kau sudah mempunyai calon istri baru? kenapa kau masih ingin kembali denganku lagi hah?" tanyanya sesak, entah kenapa hatinya jadi begitu sakit.
"Werdia! aku mohon ikut aku sebentar saja," ajaknya sambil menarik tangan wanita itu.
Sebelum pergi Werdia sempat memberi ancaman pada pak Jugen agar tidak mengumbar apa yang ia dengar dari mereka tadi.
Kini sampailah mereka di samping rumah Werdia yang sedikit di terangi oleh lampu jalan.
"Werdia! aku mau jujur sama kamu, aku sebenarnya masih sayang sama kamu." ungkapnya.
"Halah! aku tau kalau kau itu hanya penggombal tingkat tinggi yang sukanya memanfaatkan harta wanita cantik saja," acuhnya mulai kebal dengan kata - kata romantis Werdan.
"Aku serius Werdia! apakah kau tidak lihat kalau aku sekarang sedang menggunakan baju narapidana? aku baru saja masuk penjara Werdia! aku hancur! benar - benar hancur dan baru sekarang aku sadar, bahwa perbuatanku selama ini adalah perbuatan yang sungguh tak memiliki hati sama sekali." ungkapnya.
"Aku sangat menyesal Werdia! aku sangat menyesal! di antara tiga wanita yang sudah pernah menjadi kekasihku, hanya kamu sekarang yang paling memenuhi pikiranku. Aku juga berniat untuk kembali kepadamu dan memperbaiki semuanya sebelum terlambat." sambungnya serius.
"Tapi kau tidak bercanda kan Werdan?" tanyanya tak percaya.
"Aku benar - benar serius Werdia! tapi jika kamu benar - benar tak bisa menerimaku lagi, aku juga tak bisa memaksamu. Kalau begitu aku pergi!" sedihnya mulai memunggungi Werdia.
"Haruskah kau menyerah begitu cepat Werdan? mana jiwa kepedeanmu yang sering kau tunjukkan padaku sejak dulu? mana?" peringatnya.
"Lalu aku harus apa Werdia? kau kan tidak mungkin mau menerima aku lagi," resahnya.
"Siapa bilang hah? mana mungkin aku membiarkan anakku lahir tanpa hadirnya seorang ayah," jawabnya cepat sambil tersenyum.
"Jadi! kau benar - benar mau memaafkan ku?" tanyanya tak percaya dan Werdia hanya mengangguk mengiyakan.
"Ya Allah... Makasih banyak..." syukurnya lalu berlari memeluk Werdia yang balas memeluknya.
Dan kini hanya hanya ada air mata yang terus mengalir untuk menjadi obat sebagai pelepas rasa rindu, dinginnya angin malam juga tak menjadi masalah bagi mereka yang saling menghangatkan antara satu dan yang lainnya.
Dalam hati Werdan bertekat untuk tak menyia - nyiakan lagi wanita yang sedang ada dalam pelukannya ini, ia akan mencoba menjadi suami yang terbaik sekaligus ayah bagi keluarga kecilnya nanti.
Ia juga bersyukur kepada Allah dengan segala kebaikan-Nya, karna terlah memberikannya kesempatan untuk berubah menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi.
"I love you Werdia," ucap Werdan semakin mengeratkan pelukannya.
"I love you to Werdan," responnya juga balas memeluknya tak kalah erat.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1