Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 138


__ADS_3

 Fahman kini sudah berada di hadapan Werdan, tatapannya tampak begitu tajam dengan dua tangan yang sudah ia kepalkan.


     "Aku akan berkelahi denganmu, tapi mari kita berkelahi tanpa adanya senjata." putusnya.


     "Huh! siapa takut," responnya.


     "Sekarang kita bisa langsung bertarung, lagian senjataku hanya ada sebuah pisau." jelasnya.


     "Bagus! kalau begitu mari kita mulai pertarungan ini," ucapnya.


     "Tunggu!" cegah Firdaus.


     "Fahman! apakah kau yakin? dia itu adalah pria yang licik! ilmu bela dirinya tentu masih di bawahku, tapi jika di bandingkan denganmu yang tak pernah mempelajarinya akankah kamu sanggup?" sambungnya.


     Fahman hanya diam sedangkan Werdan sudah tersenyum penuh kesombongan di hadapannya.


     "Ternyata benar dugaanku! bocah ini tidak ada apa - apanya selain memiliki kemampuan yang cukup pintar untuk membangun sebuah bisnis," batinnya.


     "Diam! Kaka tidak perlu selalu mencemaskanku! dulu aku memang lemah, saat ada yang menjahatiku di depan matamu kau selalu menolongku karna sikap pengecutku." peringatnya sambil menunduk.


     "Tapi sekarang! izinkan aku membuktikan padamu jika aku sudah mampu melindungi diriku sendiri tanpa bantuan mu lagi," tekatnya yakin.


     "Tapi-" ucapan Firdaus terpotong.


     "Tidak ada penolakan kak! lebih baik aku kalah dan mati dalam pertarungan, dari pada terus bersikap lemah hingga dapat dengan mudah di injak - injak oleh orang yang sok kuat." geramnya.


     Werdan yang tak terima dengan apa yang Fahman katakan sontak saja melayangkan tinjuannya.


     Tapi tinjuan yang ia layangkan berhasil di tahan oleh Fahman.


     "Dasar! sungguh tidak dapat menahan sedikit kesabaranmu untuk bertarung denganku hanya gara - gara ucapanku," ucapnya dengan tatapan tajam.


     "Siapa suruh kau menghinaku tanpa membuktikannya terlebih dahulu!" geramnya.


     Dengan tangan yang saling mendorong satu sama lain Fahman mencoba untuk membalas apa yang ia katakan.


     "Ternyata pria bodoh sepertimu tau juga merasakan sakit! kau sangat pintar menilai orang lain tapi kurang pintar menilai dirimu sendiri," remehnya.


     "Apa maksudmu hah?" tanyanya lalu memberikan tendangan tapi berhasil di hindari oleh lawan.


     "Kau pasti tau alasan aku menantangmu? karna aku merasa sakit hati di katai pengecut tanpa bukti olehmu! dan kini saat kau mendapatkan hal yang sama kau juga tidak bisa menerimanya kan?" jelasnya.


     Perkelahian mereka tampak semakin sengit, mereka terus saja berdebat dalam keadaan seluruh anggota tubuh yang tak bisa diam.


     Pukulan dan tendangan yang lebih banyak di lakukan oleh mereka.


     "Aku bukan tidak menerimanya," alasannya setelah beberapa menit terdiam.

__ADS_1


     "Lalu?" tanyanya.


     "Aku rasa memang akulah yang lebih kuat dibandingkan kamu yang sangat lemah dan hanya bisa menjadi sampah keluarga karna taunya hanya bisa melapor saja," remehnya.


     "Tutup mulut tanpa buktinya itu!!!" gertaknya lalu menyerang membabi buta hingga Werdan jadi terkejut di buatnya.


     "Gawat! kenapa dia jadi begitu kuat? bukannya dia adalah pria yang lemah?" batinnya merasa heran.


     Werdan kini mulai melangkah mundur.


     "Kenapa kau malah mundur hah? masih mau mengaku lebih hebat dariku? huh! teruslah bermimpi," ucapnya sambil menghembuskan napas kasar.


     Werdan yang merasa jika kekalahan tak lama lagi datang menghampirinya langsung saja menggunakan cara curang.


     Ia berlari ke arah pisau yang tadi sempat di lempar ke sembarangan arah oleh bodyguardnya.


     Firdaus yang melihat hal itu tak sempat menahan keinginan Werdan.


     "Aaaaa!!!" sebuah teriakan terdengar begitu jelas di pendengaran siapa saja yang ada di halaman tersebut.


     "Gondrasya!" seru Firdaus saat melihat punggung mantan bodyguardnya yang sudah tertancap sebuah pisau.


     Dan pada saat itulah polisi datang membawa banyaknya rombongan untuk mengangkat Werdan dan seluruh bodyguardnya.


     "Diam! jangan bergerak, atau peluru ini akan tertanam di tubuhmu." ancam seorang polisi yang merupakan pemimpin dari yang lainnya.


     "Karna dia sudah menculik calon istri saya!" sambungnya tak terima.


     "Kami tidak peduli tentang hal itu, kami datang kesini karna anda terduga dalam kasus penipuan bernilai miliaran rupiah." jelas pak polisi.


     "Kasus penipuan apa? bapak jangan asal menuduh saja ya jika tidak memiliki buktinya," elaknya berusaha bersikap tenang.


     "Saya punya buktinya pak!" ucap polisi tersebut.


     "Baik! tunjukkan," tantangnya.


     Tiba - tiba Rosalia datang tepat dihadapan mereka.


     "Saya akan menjadi saksi atas kasus penipuan ini, bahkan saya juga punya ratusan korban yang ikut terlibat untuk menjadi saksi atas perbuatannya kejamnya ini." ucapnya tegas.


     Tatapan mata Rosalia jelas tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun, bahkan tubuhnya saja sudah tidak bergetar seperti dulu lagi.


     "Kau! dasar perempuan tak tau di untung! setelah aku masih berbaik hati mengembalikan rumahmu jika kau menyerahkan Permata," geramnya.


     "Heh! apakah kau masih mempunyai muka wahai mantan suamiku? bukankah rumahku sudah kau rebut secara paksa dari tanganku? dan jangan lupa dengan perlakuanmu kepadaku saat kita sudah berubah tangga," peringatnya.


     "Kau juga telah melakukan KDRT terhadapku." sambungnya sambil tersenyum miring.

__ADS_1


     "Jadi sudah jelas kan pak? mari ikut kami!" seretnya dan Werdan hanya dapat pasrah karna kondisi tubuhnya sudah sangat lemah akibat lelah bertarung.


     "Dasar pria bertopeng tebal! sebenarnya kau sudah terkena tiga kasus. Penipuan, KDRT, dan pembunuhan." ucapnya sedikit meninggikan suaranya karna sosok Werdan sudah agak menjauh.


     "Liat saja nanti kau Rosalia! aku akan membalasmu!!!" pekiknya.


     "Diam!!! jangan banyak bicara!!! cepat jalan!!!" gertaknya.


     Akhirnya sosok Werdan sudah masuk kedalam mobil.


     Rosalia jadi dapat menghembuskan napas lega saat tugasnya sudah selesai. Ia sangat bersyukur karna dapat mengendalikan dirinya.


     Ia tau, jika ia tidak bertindak cepat dan memilih mengalah pada rasa takutnya maka ini tidak akan cepat selesai dengan mudah.


     Meskipun rasa cinta di hatinya telah terbagi dua, tapi cinta yang terbesar tetap kepada suami pertamanya yang ia anggap sudah bahagia dengan wanita barunya.


     Permata yang melihat hal itu sontak saja berjalan mendekati Rosalia dan memberikannya sebuah pelukan terhangatnya.


     Sedangkan Miftah yang baru saja keluar dari rumah hanya terdiam saat melihat sang mama yang begitu akrab dengan Permata.


     "Kenapa mereka kayak akrab banget ya?" batin.


     Fahman yang melihat raut bingung dari wajah Miftah sontak saja berjalan menghampirinya untuk menjelaskan semuanya.


     Saat mendengarkan apa yang Fahman katakan barulah Miftah paham.


     "Oh... Jadi begitu... Pantas saja," angguknya.


     "Iya, jadi aku harap kamu mampu memakluminya dan jangan merasa cemburu." peringatnya dan Miftah jadi tertawa saat mendengar apa yang di lontarkannya barusan.


     "Kenapa kamu malah ketawa? apakah ada hal yang lucu?" tanyanya bingung.


     "Kaka ini ada - ada saja ya! mana mungkin aku cemburu... Aku justru sangat senang kalau punya Kaka angkat, apa lagi kalau tipekel kayak kak Permata! the best deh pokoknya." jawabnya sambil tersenyum lebar tak lupa mengancungkan dua ibu jarinya.


     "Padahal kamu juga baru kenal," herannya.


     "Kaka... Kaka... Keakraban itu tidak mesti di lihat dari seberapa lama kita berteman... Tapi dari seberapa besar kita mampu untuk saling percaya antara satu dengan yang lainnya," jelasnya.


     "Iya! kalau itu sih aku setuju," responnya yang sudah ikutan tersenyum.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2