Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 118


__ADS_3

Waktu telah menjelang malam, beruntung saat berangkat bekerja ia telah minta kembali nomor papanya pada Virgo.


     Entah kenapa kakinya terasa sangat sakit.


     "Au! sakit banget..." rintihnya sambil memegang pergelangan kakinya.


     "Tok! tok! tok!" suara ketukan pintu mulai terdengar dari luar kamar dan Miftah hanya menyuruh orang yang mengetuk untuk masuk karna sudah tak terlalu fokus lagi.


     Tanpa ia sadari air matanya jadi jatuh dan membuat bekasan air surut dipipinya.


     "Ratuku! kamu kenapa?" tanya Firdaus.


     Miftah tidak bisa berbicara lagi, rasa nyeri di kakinya membuatnya hanya mampu menunjukkannya dengan air mata.


     "Ratuku jawab aku," pintanya.


     "Ka... Kakiku sakit..." keluhnya tak berhenti memegang pergelangan kakinya.


     "Ya sudah kita ke rumah sakit ya sekarang," ucapnya sambil membopong tubuh Miftah dan Miftah tanpa sadar jadi melingkarkan kedua tangannya dileher Firdaus.


     "Tapi apakah Kaka punya uang?" tanyanya lemah dengan wajah yang sudah pucat.


     "Kamu masih saja bertanya masalah itu Ratuku, Rajamu ini tidak akan punya masalah dalam keuangan! kamu tenang saja, yang penting kamu sembuh." ucapnya lalu keluar dari kamar Miftah.


     Dengan langkah cepat Firdaus menuruni anak tangga dan terlihatlah bi Ati yang baru saja lewat dihadapan mereka.


     "Ya ampun den... Non Miftahnya kenapa?" tanyanya panik.


     "Aku juga gak tau kenapa, tiba - tiba kakinya menjadi sakit." jawabnya lalu tanpa menunggu responannya bi Ati ia langsung pergi keluar dan menyuruh bodyguardnya untuk mengambil mobilnya.


     "Rangga cepat kamu kemudikan mobilnya," perintahnya lalu masuk setelah pintu mobil di buka oleh Sekar.


     "Terima kasih Sekar," ucapnya dan Sekar jadi tertegun saat tuannya mengatakan hal itu.


     Tuannya jadi banyak berubah terutama masalah sikap setelah bertemu dengan Miftah dan itu membuatnya jadi sangat terharu.


     Sesampainya dirumah sakit ia tak sengaja bertemu dengan seorang dokter yang dulu sempat menangani kandungan mamanya.


     "Ya ampun dek... Kamu kenapa bisa pucat begini?" tanya dokter Viska panik.


     "Kaka..." ucapnya lemah.


     "Ayo tuan! silahkan bawa masuk saja Miftahnya," pintanya khawatir.


     "Baik," jawabnya bingung.


     Sebenarnya ia sangat penasaran dari mana dokter itu mengenal Miftah hingga setelah Miftah selesai ditangani usai dibius ia pun bertanya pada sang dokter.


     "Maaf bagaimana anda mengenali gadis itu?" tunjuknya kearah Miftah.


     "Oh... Dia adalah kenalan dekatku sejak di Mangatoon dan sering main ke Chatroomku juga ketika mempunyai waktu senggang dan terakhir ia bermain lagi disana saat Chatroomku di sewa oleh seseorang dengan harga tinggi dan ternyata itu untuk menembak adik kenalanku sendiri," jelasnya.


     "Jadi kamu host pemilik Chatroom dubbing itu ya?" tanyanya seakan tak percaya.


     "Iya tuan benar sekali," jawabnya.


     "Ingat akun Raja terong gak?" tanyanya.


     "Hah? jangan - jangan itu kamu ya? kamu ternyata yang bakal jadi calon suami adikku itu," ucapnya tak percaya lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


     "Iya dok," responnya balas tersenyum.


     "Oh iya! kamu beruntung banget milikin gadis ini," ucapnya.


     "Beruntung gimana maksudnya?" tanyanya bingung.


     "Ia adalah seorang gadis yang sangat baik, dia bahkan dulu sempat rela mentranfusikan darahnya pada seorang ibu yang hampir kehabisan darah akibat jatuh dari tangga," beritahunya.


     Firdaus sangat terkejut saat mendengar ucapan dokter tersebut, ternyata yang selama ini mentranfusikan darahnya untuk mamanya adalah wanita yang hendak ia campakkan meskipun sekarang benih cinta sudah tumbuh dalam hatinya.


     "Kenapa? kenapa harus kamu Miftah? aku gak sanggup mengatakan terima kasih kepadamu jika nantinya aku akan membuatmu menjauh jika semuanya telah terbongkar," sedihnya.


     "Dok! sekarang bagaimana kondisi calon istri saya?" tanyanya.


     "Sepertinya Miftah dulu sempat mengalami keretakan tulang dibagian pegelangan kakinya, mungkin karna dia terlalu banyak beraktivitas retakan yang belum sepenuhnya sembuh malah kembali merenggang." jelasnya.


     "Dan dari situlah akan terasa nyeri bahkan mati rasa yang sangat luar biasa," sambungnya hingga membuat Firdaus terdiam.


     Kini mereka bergegas menghampiri Miftah saat sang pemilik nama sudah membuka matanya.


     "Aku ada dimana ini?" tanyanya usai melihat ke sekeliling ruangan.


     "Kamu ada dirumah sakit Ratuku," beritahu Firdaus.


     "Lho! kok kakiku diperban sih?" herannya.


     "Kamu beneran sampai gak ingat apa - apa?" tanya Firdaus kembali cemas.


     "Memangnya aku tadi kenapa?" lagi - lagi Miftah hanya bertanya.


     "Sudah lebih baik kamu tidak pernah mengingat hal tadi lagi, kita pulang ya sekarang." ucapnya lembut sambil menyentuh puncak kepala Miftah yang ditutupi jilbab.


     "Ini obat sementara jika Miftah masih merasakan nyeri ya... Itu terjadi karena ia juga jarang mengecek kondisi kakinya usai berobat pertama kali," jelasnya.


     "Baiklah dokter! kalau begitu kami izin pamit ya," izinnya lalu menaruh Miftah ke kursi roda.



     Saat mereka sedang melewati beberapa kamar, Miftah merasa sangat ingin untuk masuk ke salah satu kamar tersebut.


     Entah apa yang menggerakkan hatinya untuk melihat kedalam. Yang jelas itu adalah suatu hal yang sangat ingin ia lakukan.


     "Kaka... Tolong antarkan Miftah kekamar itu dong..." pintanya sambil menunjuk kesalah satu pintu.


     "Kamu gak mau langsung pulang? kaki mu kan masih sakit," ucap Firdaus hendak menolak keinginan Miftah.


     "Kaka aku mohon... Entah kenapa aku ingin melihat kedalam kamar itu," mohonnya sambil memelas.


     Karna merasa tak tega Firdaus pun menyetujuinya.


     "Krek," suara gagang pintu mulai terbuka dan Miftah sangat terkejut saat melihat wajah seorang wanita paruh baya yang sedang tertidur di atas kasur rumah sakit dengan wajah yang menghadap lurus ke arah pintu.


     "Kak! tolong lepaskan aku, aku bisa menggerakkan kursi ini sendiri." Pintanya.


     "Untuk apa Ratuku? memangnya siapa wanita itu?" tanyanya merasa asing.


     "Sudah Kaka lepaskan saja aku dan tunggu diluar," bukannya menjawab Miftah hanya memerintah.


     Saat kursi rodanya sudah sampai dihadapan wanita itu Miftah jadi benar - benar yakin jika itu adalah mamanya.

__ADS_1


     "Ma... Ternyata ini benar mama... Mama kemana saja..? kenapa mama sangat sulit untuk Miftah temukan dan saat bertemu kenapa harus dalam keadaan seperti ini..." sedihnya sambil menangis sesegukan.


     Tiba - tiba jari tangan mamanya bergerak, ia mulai membuka matanya sedikit demi sedikit dan ia sangat terkejut saat melihat seseorang sedang menangis disampingnya.


     "Kamu," ucapnya terkejut dengan mata yang sudah melebar.


     "Iya ma ini Miftah... Putri mama," ucapnya sambil menyentuh telapak tangan mamanya tapi langsung ditepis oleh sang pemilik tangan.


     "Singkirkan tangan kotormu itu," ucapnya dalam keadaan lemah tapi tatapan penuh kebencian dapat terlihat jelas dari sorotan matanya.


     "Untuk apa kamu kesini hah? berpura - pura menangisi kehancuranku padahal kau menangis karna rasa bahagia mu." geramnya.


     "Ma... Mama ngomong apa sih... Miftah gak ngerti..." sedihnya mencoba memegang kembali telapak tangan mamanya dan alhasil ditepis kembali.


     "Bukannya aku sudah bilang sejak dulu jika kamu jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu! menjijikkan sekali," ucapnya lalu memalingkan wajahnya kearah lain.


     "Ma... Miftah rindu mama... Miftah sejak dulu pengen ketemu mama... Tapi kenapa sikap mama masih seperti ini," sedihnya.


     Karna sudah sangat kesal dan mengira apa yang dikatakan oleh Miftah hanyalah sebuah omong kosong ia langsung bangkit dari pembaringannya sekuat tenaga lalu menarik jilbabnya kebelakang.


     "Lepaskan ma... Sakit..." rintihnya.


     "Dengar ya! mulai detik ini jangan pernah lagi kamu menampakkan wajahku dihadapan ku, sudah cukup aku melihat dirimu yang terus merekam apa saja pendapatan mu untuk menunjukkan bahwa kamu hebat hingga mudah untuk menginjakku." geramnya.


     Miftah sangat terkejut, ternyata Vidionya selama ini sudah di lihat oleh mamanya tapi ia tak menyangka jika mamanya bisa salah menafsirkan apa tujuannya.


    Firdaus yang mendengar suara gaduh langsung masuk kedalam, dan ia sangat terkejut saat melihat gadisnya dijambak oleh seorang wanita yang sama sekali tidak dikenalnya.


     "Ada apa ini? kenapa anda malah menyakiti wanitaku?" tanyanya merasa geram sekaligus tak terima dengan apa yang dilakukannya.


     "Diam kamu! jangan ikut campur urusan kami!!!" gertaknya.


     "Dasar gila! sakit tapi masih saja menyiksa orang," ucap Firdaus lalu melepas secara paksa cengkeramannya pada jilbab Miftah.


     "Ma... Sekarang mama boleh jambak dan pukul aku sepuas mama tapi tolong setelah itu izinkan aku memeluk mama," pintanya dengan tubuh bergetar berusaha bangkit berdiri walau pun masih terlihat sedikit membungkuk.


     "Jangan mimpi kamu," ucapnya lalu mendorong tubuh Miftah yang ada dihadapannya dan berhasil disambut oleh Firdaus.


     "Ratuku! lebih baik kita pergi saja dari sini, untuk apa kamu meladeni wanita yang bengis seperti ini! dia tidak pantas disebut seorang mama jika masih suka menyiksa anaknya," ucapnya yang membuat Rosalia diam sejenak.


     Firdaus pun mengganti posisi yang awalnya Miftah berdiri memunggunginya dengan pelukan dipinggangnya kini jadi dalam bopongannya dengan wajah yang langsung menghadap dada bidangnya.


     "Tapi kak... Aku pengen dipeluk sama mama..." ucapnya dengan mata yang sembab.


     "Dengar! kamu tidak membutuhkan pelukan wanita itu! yang ada dirimu bisa dibunuh olehnya," geramnya yang tak habis pikir dengan Miftah yang terus tunduk pada mamanya meskipun tidak pernah dihargai.


     "Cepat pergi," usir Rosalia sambil menunjuk keluar pintu dan melempar mereka dengan bantal tidurnya.


     "Kami juga akan pergi tanpa harus kau suruh," ucapnya yang sudah benar - benar terbakar api emosi.


     Disaat seperti ini ia benar - benar tidak peduli jika nanti wanita itulah yang akan tetap menjadi mertuanya, meskipun dialah yang telah melahirkan Miftah hingga ia dapat memilikinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2