
Kini Firdaus dan Miftah sudah menaiki kapal Patroli menuju ke tengah - tengah laut, tapi belum sampai mereka di bagian tengah laut mereka sudah lebih dulu di kejutkan dengan gemericik air yang begitu dahsyat lalu menyembur ke atas.
"Aaaa... Mas, apa itu?" teriak Miftah yang kaget dan sontak saja tangannya melingkar di pinggang Firdaus.
"Ya ampun sayang... Itu cuma gemericik air dari si hiu paus nya... Belum juga nyelam kamu," heran Firdaus balas memeluk Miftah.
"Oh... Jadi ceritanya mas sombong nih? mentang - mentang mas udah berani gitu? aku itu hanya terkejut aja mas, malah di ledek." ambek Miftah sambil melipat kedua tangannya.
"Eh! enggak sayang... Mas cuma-" ucapannya terpotong.
"Cuma apa hah?" sewot Miftah sambil memberikannya tatapan tajam.
Firdaus yang hendak menyambung ucapan Miftah jadi terjeda karna ucapan Om Anggara.
"Aduh kalian ini gimana sih? katanya pasangan bucin, lah ini buktinya kok ribut mulu." ucap Om Anggara sambil menggeleng heran melihat sikap mereka.
"Hehe, sebenarnya enggak kok Om. Tadi cuma kecelakaan aja," responnya asal.
"Kecelakaan apa? ada - ada aja kamu Firdaus, sudah cepat pakai perlengkapan lengkap Scuba diving kamu. Ajarkan istrimu juga jangan sibuk sendiri aja," peringat Om Anggara.
"Iya Om... Siap, masak iya aku tinggalin istri aku yang cantik dan sholehah di atas kapal ini, nanti Om malah kelepek - kelepek lagi." guraunya.
"Sembarang kamu ya," respon Om Anggara sambil melayangkan sebuah pukulan ringan di sebelah bahu Firdaus.
"Canda Om," ucapnya sambil terkekeh pelan dan mengelus bahunya itu.
"Ya ampun kamu Firdaus, Om padahal cuma pukul dikit. Lagian mana berani Om macam - macam sama wanita lain, orang istri Om galak banget. Lebih serem lagi dari pada macan," beritahunya yang tanpa sadar ternyata sejak tadi istrinya juga ikut di atas kapal.
"Oh... Jadi papi udah berani ya jelekin mami di atas kapal sama orang lain? papi mau telinga papi semerah apa? atau gak usah dapat jatah makan nanti malam," ancam istrinya yang mulai memutar telinga suaminya.
"Tuh kan Om bilang juga apa, kamu sih Firdaus gak ingatin om kalau ada mami di sini dari tadi. Om kan lupa," resahnya sedikit merintih dan hanya mampu mengelus daun telinganya yang sedikit memerah.
Firdaus dan Miftah malah tertawa saat menyaksikan kejadian itu.
"Oh iya Tante, Tante mau Scuba diving juga ya?" tanya Miftah.
"Iya dong... Tante pasti mau ikutan juga, karna udah lama gak nyelam sama raksasa paus yang imut ini... Tumben nih hari ini si Om izinin Tante, biasanya gak boleh." jawabnya sambil menatap malas ke arah suaminya.
"Lah! memangnya kenapa tante?" heran Firdaus.
"Itu lho... Kan kemarin itu Tante lagi hamil tua, tapi Tante masih ngidam nyemplung ke laut." beritahunya.
"Apa? pantas aja gak bolehlah tante... Kan bahaya," kaget Miftah saat mendengar alasannya.
"Emang, harap maklum ngidamnya suka yang aneh - aneh banget." beritahu Om Anggara sambil menghembuskan napas panjang.
"Kalau begitu sama kayak mama saya Om, masak iya mau makan ayam warna warni. Mau cari di mana coba? kecuali harus Firdaus cat dulu. Alhasil Firdaus bawa pulang aja ayam potong pelangi," responnya tak habis pikir.
"Hahaha berarti gak cuma istri Om aja yang begitu ya, pasti capek banget papa kamu nyariin setiap idaman mamamu." tawanya.
"Papa mana capek Om, alasannya palingan jaga mama, sedangkan yang nyari makanan anehnya pasti Firdaus lagi dan lagi. Hadeh..." resahnya.
"Hehe gak papa pahala buat kamu," ucap Om Anggara sambil menepuk sebelah pundak Firdaus pelan.
__ADS_1
"Tapi capek Om," keluhnya lagi.
"Tapi sekarang kan enggak lagi," responnya.
"Iya sih Om, yaudah ini udah sampai belum Om? Firdaus pengen langsung nyebur soalnya," tanyanya berniat membalikkan pembicaraan agar Om Anggara tak bertanya lebih jauh lagi, hingga sampai pada titik Firdaus harus berkata suatu hal yang pahit yaitu mamanya keguguran.
"Udah kok," jawab Om Anggara sambil melihat ke arah lautan yang ada di sekitarnya.
Firdaus tak hanya memakaikan Miftah berbagai perlengkapannya saja, tapi ia juga memberitahu istrinya apa nama - namanya dan cara kerjanya seperti apa yang dulu pernah Om Anggara jelaskan beberapa tahun yang lalu.
Om Anggara dan istrinya kini sudah duduk di pinggiran kapal, begitu pun Firdaus dan Miftah.
"Siap untuk bertemu dengan raksasa laut sayang?" tanya Firdaus membuka terlebih dahulu alat pernapasannya.
"Insya siap mas," jawabnya sedikit bergetar saat melihat ke bawah air.
"Kamu harus kuat ya, kalau udah di dalam takutnya pasti akan hilang kok." jelas Firdaus.
"Iya mas, akan aku usahakan. Bismillahirrahmanirrahim, yuk mas kita nyebur sekarang." ajak Miftah.
Mereka kita sudah masuk ke dalam air dan kepermukaan kembali.
"Pakai alat pernapasan itu sayang, taruh ke mulutmu biar kamu bisa napas nantinya di dalam air." peringat Firdaus.
"Iya mas, kamu juga ya." responnya balas mengingatkan hingga Firdaus mengangguk mengiyakan.
Kini secara perlahan Firdaus membenamkan dirinya ke dalam air yang di ikuti oleh Miftah.
Jantung Miftah tak berhenti berdebar kencang saat mereka sudah semakin dalam masuk ke dalam sana.
Firdaus memberikan bahasa isyarat kepada Miftah dengan satu tangannya yang ia naik turunkan sebatas mulut dan dada. Artinya ialah tenang.
Lalu di akhir ia membentuk tangannya menjadi seperti oke.
Miftah pun mengangguk mengiyakan, kini mata Miftah jadi terfokus pada ikan - ikan kecil yang sedang asyik bermain di terumbu karang.
Hal itu membuat Miftah terpukau dan tanpa sadar ia melepaskan sendiri genggaman tangannya dan berputar di sekitar sana.
Berbagai biota laut seperti ikan kecil warna - warni, kuda laut, bintang laut dan sebagainya membuat Miftah gemas sampai ingin menangkapnya tapi di tahan.
Firdaus sangat senang melihat ketegangan Miftah yang telah menghilangkan.
Tanpa membuang waktu ia mulai mengambil kameranya yang sejak tadi bergantung di lehernya, lalu memotret bahkan memvidiokan istrinya tersebut.
Puas bermain Miftah yang baru saja tersadar karna suara hiu paus, dengan sedikit tergesa - gesa berenang ke arah Firdaus yang lumayan jauh darinya.
Ia terus saja menarik tangan Firdaus agar mau kepermukaan. Firdaus yang paham hanya menurut dan berenang bersamanya.
"Hah... Mas, suara apa tadi itu mas? aku juga merasakan getaran yang cukup dasyat tadi mas, makanya aku khawatir dan langsung berenang kearahmu." beritahunya dengan napas yang tak beraturan.
"Itu adalah suara hiu paus sayang, jadi gak usah takut." responnya.
"Gimana aku gak takut mas? suaranya sangat seram mas," resahnya.
__ADS_1
"Sudah... Sekarang kamu dengarkan aku dulu ya," pinta Firdaus yang mau tidak mau di turuti oleh Miftah.
"Tatap mata aku dan tenangkan dirimu, bayangkan jika air laut itu adalah rumahmu. Yang membuatmu nyaman untuk masuk ke dalam rumahmu sendiri, sedangkan makhluk di dalam sana adalah tamumu."
"Jadi sebesar apa pun mereka, semenyeramkan apa pun mereka. Mereka, tak akan pernah menyakitimu. Jadi cukup kamu bermain saja dan nikmati rasanya saat sudah berada di dekat mereka,"
"Intinya bayangkan saja ini rumahmu dan penghuni terbaik bagimu," jelasnya akhirnya.
"Iya mas, aku siap." tekatnya merasa yakin.
"Jangan takut ya sayang, ingat! kalau kamu itu punya aku yang akan selalu menjaga kamu di mana pun dan kapan pun itu, dan akan aku usahkan jika aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Kamu adalah setengah belahan jiwa aku, kalau kamu gak ada. Kehidupan ku bagaikan kapal yang terombang ambing di dasar samudera," jelasnya lagi.
"Dan ingat lagi satu hal! kita itu hamba Allah, dan berkat nikmat dan kebaikan-Nyalah kita dapat merasa keindahan dari alam yang telah Dia cintakan ini." sambungnya.
"Iya mas, makasih udah berusaha menjadi suami yang baik untukku. Aku sangat bahagia dapat kembali lagi bersama kamu mas, terima kasih juga sudah mencariku dan maaf atas segala kekurangan yang aku miliki selama ini." responnya sambil menunduk sedih.
"Sayang... Sudahlah jangan merendah, kamu itu di mata aku gak ada kekurangannya sama sekali. Kita sudah saling melengkapi, hingga kekurangan kita itu jadi tertutupi." ucapnya.
Miftah sampai berkaca - kaca saat mendengarkan apa yang Firdaus katakan, jujur! hatinya begitu tersentuh untuk saat ini.
Kini ia memberanikan diri menaikkan kaca mata renang Firdaus. Lalu melakukan hal yang sama pada kaca matanya. Dan ia benar - benar melakukan hal yang tak pernah di bayangkan oleh Firdaus sebelumnya.
Miftah mengecup bibirnya dan memberikan lumayan kecil di sana. Firdaus yang tersadar jadi membalas perbuatan istrinya tersebut, hingga saat napas mereka sudah hampir habis barulah tautan tersebut terlepas.
"Miftah, kamu-" ucapan Firdaus jadi terpotong karna Miftah telah menaruh satu jari telunjuknya di tengah bibir Firdaus, sebagai isyarat jika ia tidak ingin Firdaus melanjutkan ucapannya.
"Itu hadiah dariku untukmu mas, aku sekarang mencoba untuk tidak segan memulai karna kamu adalah suamiku. Dan aku akan terus berusaha menjadi istri yang baik untukmu mas, sekarang ayo ajak aku berenang kedekat hiu paus sampai aku terbiasa dan bisa menganggap bahwa lautan ini adalah rumahku." pintanya serius.
Firdaus jadi tersenyum. Ia juga sangat bersyukur, karna Om Anggara dan istrinya tidak berada di sekitar ia dan Miftah berenang saat ini.
"Baik, pakai lagi kaca mata renangmu dan genggamlah tanganku, lalu kita bisa masuk kedalam dan merasakan kembali keindahannya." responnya.
Tak perlu menunggu waktu lama, setelah saling memberi isyarat melalui gerakan kepala yang mengangguk tanda setuju barulah mereka menyelam semakin dalam.
Kebetulan ada seekor hiu paus yang kembali lewat di dekat mereka, Miftah yang awalnya kembali tegang mencoba memberanikan dirinya.
Tanpa rasa takut ia melepaskan genggaman tangannya dari Firdaus dan berenang ke atas hiu paus lalu turun ke perutnya.
Firdaus jadi kagum dengan keberanian Miftah dan ia benar - benar tampak gesit sepertinya, meskipun baru pertama kali mencoba hal ini.
Om Anggara yang kebetulan melihat adegan itu memilih mengabadikan momen Firdaus dan Miftah tanpa di pinta dengan kameranya.
Istrinya juga memandang takjub pada dua pasangan suami istri itu yang kini sudah kembali menggenggam tangan satu sama lain di atas punggung hiu paus sambil mengikuti kemana pun hiu itu berenang.
Tak jarang mereka kembali melingkari tubuh hiu paus dari bagian perut sampai begian kepala.
Setelah merasa puas bermain dengan ikan raksasa itu Firdaus mengajak Miftah ke sebuah batu karang yang banyak di kelilingi oleh ikan yang ukurannya cukup besar dan hidup bergerombol.
Ada banyak ikan kecil yang mulai berenang di sekitar mereka yang kini telah di tutupi oleh ikan sedang itu, Firdaus dan Miftah baru sadar jika kegiatan meraka sejak tadi sudah di rekam oleh Om Anggara.
Hingga sebelum mereka naik ke atas, mereka memilih gaya saling berhadapan. Mengulurkan tangan satu sama lain tak lupa menggenggamnya juga.
Setelah pas, baguslah mereka berenang secara bersamaan ke atas menggunakan kaki katak tanpa merubah posisi sedikit pun.
__ADS_1
Ikan - ikan itu semakin Miftah dan Firdaus ke permukaan, mereka juga semakin berenang melingkari mereka kembali tanpa rasa takut sedikitpun.
~ THE END ~