
Tak terasa sudah seharian Miftah mengabiskan waktu dikebun papanya, tapi hari ini ia tak kunjung melihat kemunculan sang nyonya yang sangat ia harapkan.
Hari sudah mulai sore. Tempat ini tak lama lagi juga akan ditutup. Usai berpamitan dengan pak Abraham dan Virgo baru Miftah dapat melangkahkan kakinya dengan santai menuju keluar gerbang.
Dari jauh ia dapat melihat sebuah sepeda motor dengan orang pria yang menggunakan baju khusus ojol, siapa lagi kalau bukan Haris.
"Hei! mana helmnya," ucap Miftah sambil menepuk pundak Haris pelan.
Haris yang belum menyadarinya kehadiran Miftah jadi terkejut seketika.
"Is! kamu bisanya membuat aku terkejut saja," resahnya sambil memegang dagu dengan satu tangannya.
"Je... Siapa yang bikin kamu terkejut hah? aku tu cuma mau minta helm doang tau..." responnya tak terima.
"Hmmm... Ya udah deh kalau gitu! ini ambil," ucap Haris sambil memberikan satu helm yang biasa penumpang lainnya pakai sebelum Miftah.
"Oh iya! sebelum kamu naik aku punya satu pertanyaan yang sejak awal terus berkecamuk dikepalamu," ungkapnya.
"Maaf! tentang apa ya?" tanya Miftah merasa bingung.
"Itu lho... Kenapa sih kamu merubah penampilanmu menjadi lebih buruk dari sebelumnya? bukannya sudah bagus kalau kamu tampil cantik? itu kan memudahkanmu juga agar cepat diterima," ucapnya sambil menatap ke arah Miftah.
Miftah yang ditatap hanya mampu menghembuskan nafas pelan lalu langsung duduk saja dibelakang Haris.
"Lho! bukannya dijawab dulu malah langsung duduk," ambeknya tanpa mau menyalakan motor.
Miftah yang melihat wajah Haris yang tak bersahabat dari kaca spion hanya mampu terkekeh pelan.
"Tawa aja terus," ucap Haris acuh tak acuh.
"Iya... Ini kan udah ketawa," respon Miftah yang bukannya langsung menjawab tapi malah semakin memanasi temannya.
"Ah! au ah! capek aku ngomong sama kamu lah," geramnya lalu langsung menyalakan gas motor.
Miftah yang berhasil membuat Haris semakin memanas mulai tertawa sedikit terbahak - bahak dengan satu tangan menutup mulutnya.
"Hahaha... Segitunya ya kamu kalau ngambek! jangan marah ya... Aku cuma butuh hiburan aja abis pulang kerja... Capek tau..." keluhnya sambil memanyunkan bibirnya.
Haris hanya diam. Ia memilih mengabaikan apa yang Miftah katakan dan menganggabnya seperti angin yang sedang berlalu saja.
"Lah! malah diem! oke jalan aja deh! aku itu niatnya mau jelasin sambil jalan nanti... Disini mana fokus! lagian kamu juga parkirin motormu ditempat panas lagi! padahal tempat yang teduh kan banyak," jelas Miftah yang membuat Haris merasa paham dan bersalah.
"Iya deh... Aku minta maaf," ucapnya.
"Sudah... Kamu gak salah pun! ngapain juga perlu minta maaf! ayo lah kita berangkat..." seru Miftah sambil tersenyum lebar disamping pundak Haris.
__ADS_1
Haris yang melihat senyuman Miftah seperti itu hanya mampu menutupi kegugupannya yang juga merasa terpesona dengan senyuman manisnya.
"Kamu kenapa malah kayak orang gugup gitu hah?" tanya Miftah sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Eh! enggak kok! aku hanya... hanya..." ucapnya putus - putus.
"Hanya apa sih?" tanya Miftah sedikit penasaran.
"Ah! lagian itu gak penting tau... Lebih baik kita langsung jalan supaya gak jadi ikan panggang dibawah sinar matahari ini," elaknya lalu langsung melajukan motornya sedangkan Miftah memilih mengacuhkannya saja.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Miftah baru membuka suara untuk bercerita saat mereka sedang melewati tempat yang sepi.
Haris yang mendengar cerita Miftah jadi mengangguk tanda mengerti.
"Oh... Jadi begitu... Jadi! apakah hari ini kamu bertemu dengan nyonya jahat itu?" tanya Haris sambil melihat ke arah kaca spion untuk mengetahui ekpresi Miftah.
"Sayangnya enggak! entah kemana dia! intinya aku tidak akan melepaskannya, dan aku yakin banget pasti perpisahan ibu dan ayah juga terjadi karna ulahnya." yakinnya.
"Iya... Aku juga merasakan hal yang sama seperti mu," responnya.
"Syukurlah kalau kamu paham Haris... Aku benar - benar tak bisa tinggal diam jika begini ceritanya. Sebisa mungkin aku akan berusaha melepaskan papa dari kukungan jahatnya itu," tekatnya.
"Baik! kamu memang harus semangat ya... Aku mendukungmu kok! setiap pagi aku usahakan untuk mengantarkan mu lebih dulu bahkan jika sempat aku juga yang akan selalu menjemputmu," tawarnya yang membuat Miftah jadi sangat terharu dengan ucapan temannya itu.
"Ya ampun... Kamu baik banget... Makasih ya kawan..." senangnya yang tanpa sadar sudah memeluk erat pinggang Haris hingga membuat sang pemilik jadi beku sesaat.
"Iya ada apa Haris?" tanyanya yang masih belum menyadari kelakuannya sendiri.
"Anu Miftah," ucapnya mencoba memberi tau dengan perasaan malu.
"Anu apa sih?" tanyanya lagi masih merasa heran.
"Tanganmu," jawabnya.
"Lah! emang kenapa dengan tanganku?" tanya Miftah dengan mata yang tertuju pada spion motor tanpa berniat untuk memalingkannya.
"Ya ampun... Liat dulu deh tanganmu sedang ada dimana," resahnya yang kini sudah menunduk dalam.
Miftah yang penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Haris langsung menundukkan sedikit kepalanya dan dari situlah ia sadar lalu langsung melepaskannya setelah ikut beku beberapa saat.
"Astagfirullah... Maaf - maaf! aku gak tau... Beneran deh! saking bahagianya aku sampai gak sadar meluk kamu," ucapnya merasa tidak enak dengan pipi yang sudah bersemu merah.
"Iya gak papa! aku maklumin kok," responnya yang masih berusaha untuk fokus mengendarai motornya.
"Oke deh!" jawab Miftah yang sudah hampir kehabisan kata - kata.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian akhirnya mereka pun sampai ketempat tujuan.
Usai memberi bayaran kepada temannya yang sempat menolak untuk yang kedua kalinya baru Miftah masuk setelah memaksanya untuk menerima.
Awalnya Haris bersikeras tidak ingin menerima ongkos dari Miftah hari ini. Namun, karna mendengar sebuah ancaman yang cukup membuat jiwa pertemanan berguncang ia jadi mengalah dalam sekejap.
"Kalau kamu tidak mau menerimanya maka aku tidak akan pernah mau menyewa ojolmu lagi bahkan aku juga tidak akan pernah mau berbicara bahkan cetan sama kamu."
Kira - kira begitulah ucapan Miftah yang langsung membuat Haris tak punya pilihan dan tunduk seperti kucing penurut.
Haris hanya mampu melihat punggung Miftah yang semakin lama terlihat semakin menjauh, lalu lenyap setelah masuk kedalam pintu pagar. Tapi sebelum ia benar - benar tak terlihat lagi ia sempat melambaikan tangan pada Haris.
"Bye kawan... Sampai ketemu besok ya..." ucapnya.
"Sip..." responnya sambil mengancungkan ibu jarinya kearah Miftah.
Haris hanya tersenyum lalu mulai memutar haluan untuk menjemput pelanggannya yang lain.
Dirumah. Miftah langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia sangat bersyukur karna sosok yang terlalu banyak mengintrogasinya sedang tidak terlihat batang hidungnya sejak awal ia menginjakkan kaki untuk masuk kedalam rumah.
"Huh! untung aja Kaka gak ada," ucapnya pelan.
"Siapa yang kamu maksud gak ada hah?" tanya seseorang yang kini sudah memegang sebelah pundaknya dari belakang dan saat Miftah membalikkan tubuhnya ia sangat terkejut ketika melihat sosok yang sejak tadi ia khawatir kan tiba - tiba sudah ada dihadapannya.
_____________________________________
Hai kaka semuanya... 🤗
Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇
"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"
Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊
Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄
Dimana bulan disitu bintang 😀
Dimana gelap disitu terang 🤣
Terima kasih bila tlah datang 😆
Star beri ucapan salam sayang 😘
Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...
__ADS_1
Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...
🍃🍃🍃🍃🍃 🙏🙏🙏 🍃🍃🍃🍃🍃