
Sesampai di dalam Permata hanya berjalan tapi bersembunyi di belakang tubuh Fahman.
"Kamu kenapa? kok malah ngumpet sih? tenang... Gak ada yang bakal gigit kamu kok," ucapnya berusaha menenangkan.
Permata akhirnya memberanikan diri untuk berjalan di samping Fahman dengan tubuh yang masih bergetar.
"Hmm... Udah sepi aja," gumamnya sambil melihat ke kiri dan kanan.
"Emangnya mama sama papa abang kemana?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
Secara tak sengaja Fahman melihat ke arah jam tangannya dan ia jadi terkejut dibuatnya.
"Abang kenapa? kok kayak panik gitu?" tanyanya khawatir.
"Udah waktu ashar dek... Pantas aja pada sepi, orang lagi sholat kok." jawabnya.
"Udah ma abang Dzuhur belum sholat juga lagi," sambungnya sambil memegang dahinya dengan satu tangannya.
"Oh... Kirain Permata kenapa," ucapnya sambil menghembuskan napas pelan.
"Hehe maaf ya udah buat adek tersayang khawatir," candanya.
"Is abang mulai lagi yah," responnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Jangan kayak gitu napa, jelek." komennya.
"Biarin aja! siapa suruh suka sama aku," ucapnya acuh.
"Siapa suruh kamu menarik," Fahman malah menyalahkan Permata.
Saat mereka masih sibuk berdebat kecil. Miftah yang tak sengaja lewat di hadapan mereka jadi berhenti sejenak.
"Eh kak Fahman! udah pulang ternyata," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya nih Mif! Kaka baru pulang sambil bawa kotak hadiah yang Kaka temu di pinggir jalan," candanya.
Fahman yang baru saja melontarkan kalimat itu jadi merasa merinding sendiri, entah mengapa seperti ada hawa yang siap melahapnya sekarang juga tapi di tahan.
"Wah... Bener banget kak! Permata harap isi dari kotak itu pisau, jadi kan lebih mudah buat kasih hadiah yang bertanda tangan tinta merah kental." ucapnya sedikit menekan pada kata pisau dan merah.
"Eh! Mif! Kaka becanda, Kaka cuma nemu bidadari yang hampir ketabrak eh! maksudnya-" ucapannya jadi terjeda karna habis kata - kata.
"Udah ah Mif lupakan aja ya... Yang penting kamu harus kenalan dulu sama si manis yang satu ini," pujinya.
Permata hanya bisa tersenyum kikuk di hadapan Miftah, mencoba bersabar dari ucapan Fahman yang tiada remnya.
"Perkenalkan namanya Permata! umurnya 21 tahun," beritahunya sambil mengulurkan satu tangannya ke hadapan sang pemilik nama.
"Wah... Jadi kaka dong," responnya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Salam kenal kak... Nama saya sendiri adalah Miftahul Jannah, umur saja 20 tahun." sambungnya sambil mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh lawannya sebelum di lepaskan kembali.
"Kalau kamu jadi adek dong," ucapnya balas tersenyum tak kalah lebar.
"Iya Kaka..." responnya.
"Kaka pasti seorang gadis yang sangat cantik dan pastinya sholehah," puji Miftah.
"Ah! tidak kok," elaknya merasa malu.
"Oh iya Mif! Kaka boleh nitip adeknya Kaka gak? soalnya Kaka mau sholat dulu," ucapnya.
"Maaf kak, siapa yang Kaka sebut adek itu?" tanya Miftah bingung sambil mengernyitkan dahinya.
"Ini lho... Permata... Dia adek terimut Kaka... Jaga calsi Kaka ya..." ucapnya sambil menyipitkan satu matanya.
Miftah yang sudah paham kemana arah tujuan dari Fahman langsung mengangguk mengerti.
"Dia juga belum sholat, jadi tolong antarkan saja di ke kamarmu dan pinjamkan mukena." pintanya sambil berjalan menjauh.
"Siap Kaka, tak masalah." responnya sambil menatap punggung Fahman yang sudah berjalan semakin jauh.
"Mari kak ke kamarku," ajaknya.
"Oh! baiklah, terima kasih ya." ucapnya sambil tersenyum.
"Baik," responnya sambil mengangguk.
Sesampai di atas Miftah tak sengaja berpapasan dengan Firdaus.
"Eh Kaka... Bikin kaget aku aja," resah Miftah.
"Lagian kamu jalannya gak liat - liat sih," responnya acuh.
"Terserah! males aku berdebar dengan Kaka," ucapnya lalu menarik tangan Permata agar bisa lebih cepat berjalan beriringan dengannya.
"Katanya tadi mau keluar, lah ini malah masuk kembali ke kamar." peringatnya.
"Itu kan tadi kak... Sekarang gak jadi akunya," responnya lalu menutup pintu kamarnya saat ia dan Permata sudah masuk kedalam.
"Kak Permata bisa ambil wudhu di kamar mandi itu ya," unjuknya dengan ibu jarinya.
"Baiklah Miftah," responnya lalu segera pergi untuk mengambil wudhu.
Untung tadi ia sempat mendengar pembicaraan Fahman dengan Permata, hingga ia jadi mengetahui nama gadis tersebut.
Usai dengan urusannya di kamar mandi Permata pun keluar lalu menggunakan mukena usai menggelar sejadah yang sudah di siapkan oleh Miftah.
Miftah hanya menunggu sambil memainkan ponselnya, tak jarang bibirnya menyunggingkan senyuman tat kala ada hal yang begitu indah atau lucu.
__ADS_1
Permata yang sudah siap dengan kewajibannya langsung melipat kembali mukena dan sajadah yang sudah di pakainya.
Saat melihat Permata yang sudah selesai baru Miftah mematikan ponselnya lalu berjalan ke arahnya.
"Sini kak biar Miftah bantu lipat aja," tawarnya.
"Eh gak apa - apa dek... Kaka bisa sendiri kok... Cuma lipat doang ini... Bekas Kaka pakai lagi," tolaknya halus.
Tapi kalau udah di lipat taruh aja di kaki ranjang ya Kaka..." beritahunya.
"Baiklah dek," responnya sambil tersenyum dan Miftah pun membalas hal yang sama.
"Hmm... Ngomong - ngomong Kaka udah mandi belum?" tanyanya.
"Belum dek," jawabnya.
"Ya sudah Kaka mandi aja dulu, Miftah tunggu kok." tawarnya.
"Tapi Kaka gak punya baju dek... Baju Kaka tertinggal semua di rumah sakit," beritahunya.
"Kalau masalah itu Kaka gak usah khawatir... Miftah punya banyak baju baru kok buat Kaka... Ples jilbabnya," ucapnya meyakinkan.
"Tapi apakah itu tidak masalah bagimu dek? kan baju itu belum kamu pakai sama sekali..." tanyanya merasa ragu.
"Enggak masalah kok kak... Justru lebih baguskan memberikan sesuatu yang belum di gunakan, dibandingkan memberi yang bekas?" tanyanya meminta pendapat.
"Tentu saja dek..." responnya sambil tersenyum.
Miftah pun bangkit setelah mendengar persetujuannya untuk mengambil sebuah anduk baru di lemari pakaiannya.
Sejak awal ia menginjakkan kaki di kamar ini semua perlengkapan untuknya sudah di sediakan hingga ia dapat benar - benar menghemat uangnya meskipun ada rasa tidak enak.
Karna barang - barang yang ia dapatkan ialah barang yang memiliki nilai jual beli yang cukup tinggi dan ia hanya berani menggunakan beberapa baju saja tanpa mencoba semua.
"Ini kak anduk untuk Kaka mandi," ucapnya sambil menyerahkan benda yang sangat lembut itu.
Bagaimana tidak? semua pakaian yang sudah kotor akan di cuci sampai bersih hingga lembut oleh bi Ati tanpa ada noda kecil yang tertinggal sedikit pun.
Miftah kembali memainkan ponselnya saat Permata sudah masuk kedalam, sebelum keluar rumah ia tadi menyempatkan diri untuk membersihkan kamarnya seperti menyapu dan membereskan kasur.
Ia mengusahakan untuk menyapu pada waktu pagi dan sore agar kamar senantiasa nyaman untuk di tepati tanpa harus bergantung tangan selalu pada bi Ati.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1