Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 196


__ADS_3

     Matahari sudah hampir tenggelam, Fajar kecil sejak tadi tak pernah bosan berada di dekat Abinya. Bahkan ia sudah ikut terlelap di samping sang ayah.


     Miftah juga baru saja terbangun, ia dapat melihat satu tangan Firdaus yang masih menggenggam erat tangannya. Sedangkan tangan satunya sedang memeluk punggung putranya.


     "Krek,"


     Suara pintu ruangan itu pun terbuka, memperlihatkan seorang dokter laki - laki yang sedang tersenyum kearahnya.


     "Maaf jika telah mengganggu," ucapnya.


     "Iya dokter gak papa kok, kalau dokter mau periksa silahkan aja dok." responnya tanpa perlu di tanya terlebih dahulu.


     "Baik, terima kasih." ucap sang dokter.


     Dokter itu kini memandang penuh rasa sayang pada Fajar, ia terlihat begitu setia saat ayahnya sakit. Sejak tadi saja ia tidak pernah rewel sama sekali, bahkan asyik berputar di sekitar lorong rumah sakit sendirian.


     Miftah hanya mengingatkan untuk tidak bermain terlalu jauh dari ruangan dan Fajar langsung mengangguk patuh.


     "Mbak sangat beruntung ya mempunyai anak yang sangat baik ini, ia bahkan tidak rewel sedikit pun." puji sang dokter yang mulai mengelus rambut Fajar yang masih tertidur.


     Fajar yang merasakan hal itu jadi terbangun sambil mengucek matanya.


     "Ummi," kalimat itu yang pertama kali ia keluarkan dari bibir kecilnya.


     "Iya sayang, Ummi di sini kok." respon Miftah yang mulai berjalan ke arahnya lalu menggendongnya.


     "Benar - benar anak yang lucu ya," ucap dokter lagi.


     "Iya pak Dokter, Alhamdulillah putra pertama saya memang tidak rewel anaknya. Harap maklum tadi mungkin agak mengganggu aktivitas pak dokter sebab ia gak mau lepas sama Abinya, karna sudah lama tidak bertemu juga." responnya tanpa sadar malah mengatakan hal itu.


     "Wah... Saya jadi ikut senang mendengarnya, pasti Abinya kerjanya merantau ya?" tanya dokter itu.


     Tanpa pikir panjang Miftah langsung menjawab iya.


     "Saya juga merantau, hingga saya jadi jarang ketemu dengan istri dan anak saya. Pas lihat anak mbak saja jadi rindu dengan anak saya sendiri," curhatnya.


     "Oh... Semoga bapak bisa cepat bertemu lagi sama anak bapak ya, mereka di rumah pasti udah lama juga merindukan bapak." doa Miftah.


     "Amiiin," ucap pak dokter lalu mulai memeriksa kondisi Firdaus.


     Firdaus yang merasakan rasa dingin dari alat bulat berbahan besi yaitu Stetoskop di dadanya jadi terbangun dari tidur nyenyaknya.

__ADS_1


     "Alhamdulillah kondisi pasien sudah sangat baik, namun tetap saja pasien masih harus banyak beristirahat. Jika memang ingin pulang sudah bisa saya lepaskan impusannya," beritahunya hingga membuat Firdaus begitu senang.


     "Benarkah dok? kalau begitu saya ingin pulang saja dok," putus Firdaus.


     "Mas, tapi wajah mas masih tampak pucat." khawatir Miftah.


     "Nanti lama - lama hilang juga kok pucatnya sayang, lagian kalau lama - lama di rumah sakit mas malah merasa tambah sakit." jelasnya.


     "Hmm... Baiklah kalau begitu mas, tapi nanti sampai rumah jangan banyak gerak dulu ya. Kalau mas sampai ngeyel dan masih banyak gerak akan Miftah antar ke rumah sakit lagi biar di impus lama," ancamnya sambil menunjuk Firdaus dengan satu jari telunjuknya.


     "Hehe, enggak akan sayang..." responnya berusaha meyakinkan.


     Dokter jadi terkekeh saat melihat pasangan yang ternyata sangat romantis ini.


     "Kalian ini ya... Benar - benar pasangan muda yang masih di mabuk asmara," goda sang dokter sambil menggelengkan kepalanya.


     Ia kini mulai mengambil kapas yang sudah di taruh alkohol, jadi ketika terkena kulit akan terasa seperti es. Darah Firdaus jadi beku dalam sekejap, baru jarum impus itu di tarik tanpa terasa rasa sakit sedikit pun.


     "Alhamdulillah... Akhirnya jarum itu tidak tertanam lagi di dalam kulitku," syukurnya.


     "Iya Alhamdulillah. Kalau begitu saya izin pamit ya mas, mbak." respon Dokter tersebut lalu berjalan keluar ruangan.


     "Asyik... Malam ini Fajar bisa tidur bareng Abi sama Ummi, Fajar seneng... Banget." girangnya yang tak berhenti melompat sambil mengepalkan kedua tangannya.


     Lalu ia memapahnya ke arah sebuah kursi roda agar Firdaus dapat duduk di atasnya.


     Saat hendak menuruni tangga Miftah meminta tolong salah seorang satpam yang berjaga di lantai atas untuk menurunkan Firdaus yang masih menggunakan kursi roda.


     Hingga kini tibalah mereka di depan rumah sakit, kebetulan ada sebuah taxi yang baru menurunkan penumpang hingga Miftah bisa langsung menaikinya.


     "Permisi pak, apakah mobil taxi bapak bisa mengarah ke alamat ini." ucap Miftah sambil menyebutkan nama perkampungannya.


     "Oh, tentu saja mbak. Ayo naik," angguknya hingga membuat Miftah tersenyum lega.


     "Baik pak," responnya lalu memapah Firdaus dari kursi roda dan mendudukkannya di kursi depan dekat sang sopir.


     "Mas, naikin sedikit kakinya mas. Takutnya nanti ke jepit," pinta Miftah sebelum menutup pintu mobil.


     Dengan sekuat tenaga Firdaus menurut lalu berkata sudah kepada Miftah.


     Setelah semuanya telah lengkap menaiki mobil barulah mobil itu melaju ke sebuah perkampungan yang bernama Naria.

__ADS_1


     Di sepanjang perjalanan, mata Firdaus tak berhenti menyapu jalanan yang sedang di laluinya saat ini.


     Tak perlu menunggu waktu lama mereka pun sampai dan Miftah membayar ongkos taxi tersebut.


     Miftah sebenarnya sangat jarang naik taxi, ia lebih sering naik angkutan biasa. Selain untuk menghemat biaya ia merasa seru saja dapat bertemu dengan ibu - ibu lainnya, hingga saling berbincang untuk menghilangkan rasa suntuk di dalam mobil.


     Pak sopir kini jadi ikutan turun untuk membantu memapah Firdaus, sedangkan Miftah sudah menggendong Fajar yang kembali tertidur saat berada di dalam mobil.


     Firdaus di bawa hingga duduk di teras rumah, Miftah sempat berterima kasih terlebih dahulu sebelum sopir muda itu pergi kembali berangkat.


     "Mas, mas tunggu di sini sebenar ya. Miftah mau baringin Fajar dulu di kasur," ucapnya sambil membuka pintu rumah dengan satu tangannya.


     "Iya sayang, gak papa kok." responnya sambil tersenyum.


     "Baik mas," responnya lalu masuk ke dalam rumah.


    


     Selesai membaringkan Fajar barulah Miftah memapah Firdaus kembali untuk ikut masuk ke dalam kamarnya.


     "Mif, aku sepertinya sangat ingin mandi. Tubuhku sangat gerah," pinta Firdaus.


     "Tapi mas masih kurang sehat, lagian air kolam di sekitar sini sangat dingin." cemas Miftah.


  


     "Tapi kan bisa air hangat kan sayang?" ucapnya sedikit memohon.


     "Huh... Oke deh mas kalau gitu Miftah pamit ke dapur untuk masak air hangat buat mas mandi ya?" responnya yang di angguki oleh Firdaus.


     Sambil menunggu air hangat siap Firdaus memilih kembali berbaring di samping putranya yang masih tertidur lelap.


     Tangannya juga tak tinggal diam, ia mengelus puncak kepalanya dengan penuh rasa sayang.


     Gerakan tangannya jadi berhenti saat air hangat sudah berada di kamar mandi, Miftah kembali menghampiri Firdaus dan membantunya membersihkan tubuhnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2