Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 176


__ADS_3

     Firdaus baru saja selesai memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang sudah di sediakan oleh teman papanya yaitu om Anggara.


     Kini ia dan Miftah sedang berjalan di atas jembatan kecil yang akan membawa mereka kesebuah saung yang isi di dalamnya cukup mewah dan luas.


     Mereka meletakkan koper mereka di dalam lalu melangkah keluar untuk duduk di pinggiran jembatan kayu sambil memandangi lautan yang sudah tampak redup.


     Di situ cahaya matahari tampak sudah semakin lama semakin meredup karena bentuknya yang terlihat setengah lingkaran dan hampir termakan oleh lautan menurut dari segi penglihatan.


     "Istriku, bagaimana menurutmu? apakah ini indah?" tanyanya sambil menatap ke arah Miftah dengan bibir yang tak berhenti memancarkan senyuman.


     "Hmmm... Ini bahkan terlalu indah meskipun hanya sekedar di ungkapkan menjadi sebuah kata - kata mas," jawabnya sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Firdaus.


     Hal itu sukses membuat ia merasa senang akibat kegugupan Miftah yang semakin kesini sudah tampak lebih enjoy saat bersamanya.


     Tidak ada lagi gerak - gerik dari tubuhnya yang mengisyaratkan bahwa dia itu tegang, yang terlihat hanyalah pancaran penuh kebahagiaan dan cinta yang begitu menyejukkan.


     "Mif... Sekali lagi aku katakan-" ucapannya terjeda.


     "Apa mas?" tanya Miftah sambil menatap ke arahnya.


     "Emmm... Bagaimana ya aku harus berbicara?" responnya malah balik bertanya.


     "Hahaha mas ini ada - ada saja sih, kan katanya mas mau bilang sesuatu sama Miftah." herannya sambil terkekeh pelan.


     "Iya sih... Tapi mas udah terlanjur deg degan duluan gimana dong? mana deg degannya parah banget lagi sampai gak mau berhenti," keluhnya sambil memegang dadanya.


     "Yaudah mas tinggal tenangin diri mas aja dulu, kalau Miftah yang kayak gitu pasti Miftah udah mas tegur supaya gak perlu merasa tegang sama mas." ucapnya yang sontak saja membuat Firdaus terdiam, karna apa yang Miftah katakan memang benar apa adanya.


     "Baik - baik, kalau gitu mas tenangin diri mas dulu dengan mengatur napas." responnya setuju.


     Setelah menarik dan membuang napasnya berulang kali barulah Firdaus merasa cukup tenang.


     "Mif, aku kan pernah bilang sama kamu kalau misalkan nanti ada sesuatu masalah diantara kita aku hanya ingin kamu memahaminya dengan perasaanmu sendiri ya... Bukan dari perkataan orang lain yang belum tentu semuanya itu benar," peringatnya.


     "Ah mas, kita kan baru menikah. Mana mungkin langsung ada masalah di antara kita, lagian kita kan memang sudah saling mencintai juga berusaha menjaga hati antara satu dan yang lainnya bukan? jadi untuk apa membahas sesuatu yang hanya akan membuat kita pusing?" herannya menenangkan.


     "Iya aku tau Mif, tapi kan semua itu pasti membutuhkan waktu." elaknya.

__ADS_1


     "Etttss... Sudah! aku tidak ingin mendengarkan apa pun yang hanya merusak momen romantis kita mas, sekarang tugas kita hanya menikmati kebersamaan kita saat tidak ada lagi hal yang mampu membuat kita berpisah." ucap Miftah sambil meletakkan satu telunjuknya di bibir Firdaus.


     "Sekarang coba mas liat laut itu," untuknya ke hadapan.


     Firdaus hanya menurut dan melihat ke arah mana jari Miftah berhenti.


     "Mas, coba mas liat laut itu." ulangnya.


     "Air laut itu terlihat tenang kan mas? bahkan indah." sambungnya hingga membuat suaminya mengangguk.


     "Tapi di balik keindahan laut ternyata di dalamnya terdapat bermacam - macam hal yang sungguh tak terduga, bahkan tak jarang menimbulkan berjuta pertanyaan saat kita sudah menyelusurinya." jelasnya yang masih membuat Firdaus bingung.


     "Seperti hubungan kita, mungkin sekarang kita masih mencemaskan apa yang nanti akan terjadi di dalamnya. Apakah indah atau pun malah buruk nantinya, padahal kalau kita lihat dari sesi luar tenang - tenang aja." sambungnya.


     "Lautan akan indah jika kita pintar menjaganya, hingga membuat seisi yang tinggal di dalamnya senang akibat semua ekosistemnya terjaga. Begitu pun dengan rumah tangga kita,"


     "Semuanya akan indah bahkan terus merasakan kedamaian jika kita saling menjaga hati kita antara satu sama yang lainnya, sampai tak ada satu pun yang merasa paling terluka hingga Allah mengizinkan kita untuk mendapatkan momongan."


     "Tadi kenapa aku masih saja cemas, karna aku masih belum berpikir untuk ke depannya. Dulu aku masih memikirkan bagaimana cara aku bertahan tanpa adanya mama dan papa di sisiku, bukan berarti mereka sudah tidak menapak di dunia ini tapi karna mereka berpisah dan itu membuatku tertekan."


     "Aku tak pernah membayangkan jika keluargaku yang sampul depannya terlihat begitu indah, ternyata juga bisa hancur karena kesalahpahaman akibat banyak pasang mata yang iri dan tak merestui hubungan mereka."


     "Sebelumnya aku tidak ingin berhubungan karna aku memang cukup malas jika harus berdekatan dengan pria tanpa Status jelas namun suka mengatur."


     Firdaus yang mendengar apa yang di utarakan Miftah benar - benar merasa beku, lidahnya sampai kelu untuk mengungkapkan sebuah kejujuran bahwa ia pernah menaruh harapan pada seorang wanita sampai saat ini.


     Meskipun sekarang perasaan itu lebih besar pada Miftah, tapi tetap saja jika janji sudah terikat.


     Janji yang membuatnya tak mampu melangkah pergi meninggalkan semua kepercayaan yang sempat ia berikan menjadi sebuah omong kosong yang tiada harganya.


     "Mif," ucapnya yang kini mencoba untuk kembali mengangkat suara.


     "Ya," jawabnya singkat sambil menatap matanya dalam.


     Firdaus tak lebih dulu melanjutkan apa yang ingin ia katakan selanjutnya, ia mulai meraih satu tangan Miftah dan meletakkannya di dadanya. Membuat sang pemilik tangan merasakan betapa jantungnya begitu berdengup kencang saat ini.


     "Mif," ucapnya lagi hingga membuat pandangan Miftah yang awalnya sempat beralih ke arah tangannya yang mengarah kepada hatinya kembali menatapnya.

__ADS_1


     "Sekarang kau pasti bisa merasakan betapa jantungku tak berhenti berdengup saat sudah berada di dekatmu, betapa dengupan jantung ini begitu mendorongku untuk menyentuhmu dan membuatmu menjadi milikku seutuhnya." sambungnya yang tak dapat lagi untuk di cegah.


     "Aku hanya ingin kau terus mengingat satu hal saja tanpa perlu mengingat banyak hal lain terlebih dahulu," pintanya.


     "Apa itu mas?" tanyanya sedikit bergetar.


     "Aku hanya ingin kau terus mengingat jika gadis yang saat ini kucintai hanyalah kamu, cukup ingat kata bahwa 'suamimu hanya mencintaimu seorang' tak peduli berapa banyak cinta yang dulu pernah hadir di hatinya. Tak peduli berapa banyak di antara mereka yang sudah benar - benar bisa meluluhkan hatinya."


     "Tapi yang perlu kau ingat jika yang berhasil menang itu adalah kamu. Kamu yang benar - benar mampu membuatnya luluh hanya dengan pesonamu. Kamu yang membuat pikirannya terus di racun dengan senyuman manismu tanpa Syarat apa pun. Dan yang paling penting, kamulah yang mampu membuat tujuan awalnya memilikimu untuk hak buruk jadi berubah menjadi suatu ketulusan."


     Miftah sampai tak mengerti dengan hal buruk apa yang Firdaus katakan hingga berubah menjadi suatu ketulusan. Karna sekarang yang ia lihat di balik balasan tatapan Firdaus padanya benar - benar hanya ada tatapan serius yang penuh rasa sayang.


     "Mas, jujur aku masih tidak paham tentang apa yang kamu katakan padaku. Aku yakin di balik semua perkataanmu pasti terselip beberapa makna yang cukup serius, tapi sayang hanya kata 'suamimu hanya mencintaimu seorang' yang mampu ku ingat saat ini." jelasnya.


     "Tak apa sayang, hanya itu yang paling penting. Kau yakinkan terhadap hati kecilmu itu agar tak berpaling untuk ke depannya, tanpa mau mendengarkan alasan sebelumnya." respon Firdaus.


     "Baik, jika begitu keinginanmu mas. Dan-" ucapannya jadi terhenti, terlihat jelas rona merah yang mulai muncul di balik wajahnya yang kini terus tertunduk malu.


     "Dan apa sayang?" tanyanya penasaran.


     "Dan aku hanya ingin bilang kalau kamu ingin memilikiku seutuhnya malam ini aku akan selalu siap mas, karna aku yakin kalau kamu itu adalah pria yang sangat bertanggung jawab." yakinnya hingga membuat Firdaus langsung membawa Miftah dalam dekapannya.


     Berulang kali ia mengecup umbun - umbun kepalanya saking merasa bahagianya.


     "Thanks sayang, thanks..." ucapnya serak lalu bangkit usai melepas pelukannya.


     Ia juga membantu Miftah berdiri, tak lama setelah itu tanpa aba - aba ia membopong Miftah untuk di bawa ke dalam kamar mereka di salah satu saung yang tertutup tapi di dalamnya cukup mewah.


     Mereka mulai menikmati kebersamaan mereka, sebelum itu lebih dulu mereka membersihkan diri dan mulai melaksanakan sholat magrib yang di susul dengan Sholat Isya.


     Tak lupa mereka sempatkan membaca kitab suci Al-Qur'an, baru bersiap - siap melakukan sesuatu yang biasa di lakukan oleh sepasang suami istri usai membaca doanya terlebih dahulu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2