Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 199


__ADS_3

     Usai makan Firdaus tampak sibuk bermain robot - robotan dengan Fajar di sofa ruang tamu.


     "Abi mau Ummi bikinin kopi gak?" tanya Miftah yang baru saja tiba lalu duduk di sofa yang berada di depan Firdaus dan Fajar.


     "Gak usah mi, lain kali aja. Abi lagi asyik main sama putra Abi yang ganteng ini... Siapa ayo putra Abi," jawab Firdaus sambil melihat ke arah Fajar.


     "Fajar dong..." girang putranya itu.


     Miftah hanya menggeleng melihat tingkah mereka berdua, ia memilih menonton tivi. Sesekali senyumannya ikut merekah tat kala melihat kelucuan mereka berdua yang tiada habisnya.


     "Oh iya Abi, di dekat pantai ada es krim yang enak banget tau bi... Abi mau coba enggak?" tanyanya.


     "Boleh, kenapa enggak." responnya sambil mengangkat tubuh Fajar dan membawanya ke panggungkuannya.


     "Berarti besok Fajar boleh ke pantai kan sama Abi dan Ummi? kita beli es krim dan makan bareng - bareng," pintanya.


     "Enggak ah," gurau Firdaus.


     "Yah Abi..." ucap Fajar kecewa sambil memasang wajah sedih.


     "Hehe Abi cuma becanda Fajar... Kan Abi udah pernah bilang, apa pun yang Fajar mau asalkan baik akan Abi turuti." peringatnya.


     "Asyik... Makasih banyak ya Abi," girangnya sambil memeluk pinggang Firdaus erat.


     "Sama - sama anak Abi... Ini udah malam lho... Emangnya Fajar gak ngantuk?" tanya Firdaus saat melihat mata putranya yang sudah berair tapi masih enggan berhenti bermain.


     "Fajar ngantuk sih Bi... Tapi kalau sama Abi Fajar akan kuat - kuatin kok," jawabnya sambil tersenyum dengan mulut menguap.


     Tangan mungil Fajar juga mulai mengucek matanya perlahan - lahan.


     "Eh gak boleh di kuat - kuatin ya... Nanti Fajar sakit lho kalau bergadang, terus besoknya jadi gak bisa main lagi sama Abi." nasehatnya.


     "Yaudah kalau gitu Fajar mau tidur aja ya bi, tapi Abi temanin boleh ya bi. Plisss..." mohonnya sambil bertingkah imut.


     "Ya ampun anak ini seperti aku dulu," ucap Firdaus sambil terkekeh pelan dan melihat ke arah istrinya yang menatap malas ke arahnya.


     "Fajar kadang memang sering ketularan Virus kamu mas, dia pintar banget memuji bahkan menggombal." respon Miftah menatapnya sesaat lalu kembali melihat ke arah tivinya.

__ADS_1


     "Mana ada Virus coba, kan bagus itu." protes Firdaus.


     "Terserah Abi aja, Ummi gak mau ambil pusing." acuhnya.


     Firdaus kini tak lagi mau menjawab apa yang Miftah katakan, ia lebih memilih menggendong Fajar dan membawanya ke kamar mandi.


     Ia mengurus Fajar dengan sangat hati - hati, mulai dari menemaninya membuang air kecil sebelum tidur, menggosok gigi, mengganti baju. Bahkan mengingatkannya membaca doa sebelum tidur baru menyelimutinya.


     Saat tidur Fajar masih saja tak ingin lepas memeluk Abinya. Jujur, Fajar sebenarnya masih belum puas bermain dengan abinya, tapi mata dan kondisi tubuhnya yang masih kecil sungguh tidak mendukung jika harus bergadang.


     Bagi orang dewasa saja tidak bagus, apa lagi bagi anak - anak seusianya yang memang harus tidur cukup supaya bisa fokus saat belajar di sekolah esok hari.


     Tak perlu menunggu waktu lama Fajar pun tertidur, dengan perlahan ia melepaskan pelukan tangan mungil putranya pada pinggangnya itu.


     Firdaus sengaja tidak terlalu memberatkan dirinya agar tangan putranya tidak terjepit.


     Setelah berhasil baru ia melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan melihat istrinya yang masih saja asyik menatap layar tivi.


     "Romansa melulu filmnya," ledek Firdaus.


     "Je... Suka - suka aku lah mas, kok mas yang sewot." responnya karna merasa terganggu.


     "Eh! mas, jangan di peluk napa mas." pinta Miftah yang merasa tak nyaman di tambah kondisi jantungnya yang tidak memungkinkan.


     "Memangnya kenapa sayang? aku kan suamimu, wajar dong aku memelukmu. Lagian kita sudah lama tidak bertemu dan asal kamu tau kalau aku itu sangat merindukan kamu sayang," responnya sambil mencium sebelah pipi Miftah dari belakang.


     Miftah jadi semakin gugup sekarang, sudah lama memang Firdaus tak menyentuhnya. Dan yang terakhir kali pada malam itu, malam yang ingin ia harapkan tak terjadi sama sekali.


     "Oh iya sayang, besok pagi tolong kamu siapkan semua barang - barang ya." pinta Firdaus.


     "Lho untuk apa mas?" heran Miftah.


     "Kita akan langsung pulang ke rumah papa dan mama sayang... Kasian mereka sudah lama merindukanmu, dan itu mungkin gak jauh beda dengan mama dan papamu juga." jelasnya.


     "Tapi... Apakah itu tidak terlalu cepat mas? padahal mas kan juga baru sampai," tanyanya.


     "Enggak sayang... Kemarin aja pas mas terkena musibah, mama dan papa sangat khawatir setelah di hubungi oleh pak Abdul. Sayangnya keberangkatan semua kapal pada hari itu di tunda akibat adanya insiden tersebut, hingga akhirnya mereka terpaksa kembali pulang dengan perasaan kecewa."

__ADS_1


     "Barang yang mas bawa di tas ransel saja sudah terlepas dan tenggelam ke dalam laut, hanya ponsel mas yang ada di dalam saku yang masih bisa selamat meskipun agak kemasukan air. Tapi gak papa nanti mas ganti yang baru asalkan kartunya masih aman," beritahunya.


     "Emm... Kalau begitu baiklah mas, besok kita akan langsung pulang temui mereka ya. Lagian Fajar pasti juga mau ketemu dengan nenek dan kakeknya." setuju Miftah.


     "Alhamdulillah kalau kamu setuju sayang, mas jadi senang. Kamu memang istri yang sangat patuh, makasih banyak ya sayang." ucap Firdaus yang kembali melayangkan kecupan di pipi lainnya.


     "Sama - sama mas... Kan sudah menjadi kewajibanku untuh patuh pada kata - katamu mas..." responnya yang mulai memiringkan sedikit tubuhnya.


     Ia dapat melihat manik mata Firdaus yang terlihat jelas dari jarak sedekat ini.


     Firdaus tanpa segan juga mulai mengecup bibir ranum istrinya yang menjadi candu baginya, kapan ia sering melakukannya biarlah menjadi rahasia mereka berdua.


     Firdaus kini tak sengaja menguap hingga Miftah langsung menyarankannya untuk tidur duluan, sedangkan ia masih ingin melanjutkan filmnya yang begitu seru malam ini.


     "Aku gak mau tidur kalau kamu gak ikut tidur bareng aku sayang," tolak Firdaus.


     "Eh! mas gak boleh gitu... Miftah nanti bakalan tidur kok mas, janji deh kalau gak sampai larut malam banget. Soalnya nanggung ini filmnya mau abis mas," beritahunya meyakinkan.


     "Ah yang benar?" tanya Firdaus tak percaya.


     "Iya mas bener... Mana mungkin sih Miftah itu bohong sama mas," jawabnya serius.


     "Yaudah kalau gitu mas mau tunggu kamu aja pokonya, titik. No komen," aturnya yang kini sudah membaringkan tubuhnya di sofa panjang, kepalanya sudah ia taruh di pangkuan Miftah sebagai bantal.


     "Ya ampun kamu mas... Masih aja kayak anak kecil," heran Miftah sambil menggelengkan kepalanya pelan.


     "Kan aku memang anak kecil juga bagi kamu Mif, buktinya aku masih harus kamu urus." ucapnya sambil terkekeh pelan.


     "Hadeh... Yaudah mas tidur aja, dua puluh menit lagi film ini selesai kok mas." responnya sambil mengelus puncak kepala Firdaus agar lebih cepat terlelap.


     Tak terasa film itu selesai dengan happy ending, membuat Miftah ikut tersenyum bahagia karnanya.


     Dengan perlahan Miftah membangunkan Firdaus lalu mengajaknya untuk tidur di kamar, sebelum itu Miftah lebih dulu menyuruh Firdaus agar tidak lupa menyikat gigi sebelum tidur agar tak di serang oleh kuman - kuman jahat.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2