
Kini mereka sudah sudah sampai ketempat tujuan. Dengan hati - hati Miftah turun dari sepeda motor Haris lalu hendak membayarnya, tapi uang yang ia serahkan langsung ditahan dengan satu tangan Haris.
"Gak papa Mif! untuk hari ini anggap aja sebagai hadiah untukmu dihari pertama kamu melamar pekerjaan! semoga saja diterima ya," ucap Haris sambil tersenyum.
"Tapi kamu kan udah capek antarin aku... Emang gak rugi? harusnya kan kamu antarin yang lain aja..." ucap Miftah merasa tidak enak.
"Gak ada yang namanya rugi kalau cuma antarin teman sendiri doang! lagian sekali - kali kok! biasanya aku terima kan?" ucap Haris sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Iya deh iya," responnya pasrah.
"Udah gak usah murung gitu Miftah! sama teman sendiri ini... Bukan sama orang lain," hibur Haris sambil tersenyum.
"Oke deh! kalau gitu aku ingin langsung masuk kesana ya," pamit Miftah membalas senyuman Haris.
"Wokey! aku juga mau jemput pelanggan ku yang lainnya ya," respon Haris.
"Baiklah kalau begitu! kamu semangat ya," ucap Miftah sambil mengangkat kepalan sebelah tangannya.
"Kamu juga ya," responnya Haris lalu melambaikan tangannya sebentar pada Miftah sebelum motornya benar - benar melaju semakin menjauh dari lokasi tersebut.
Miftah masih mematung menatap kepergian Haris yang punggungnya semakin lama semakin menjauh.
Disisi lain Haris yang sedang sibuk mengendarai motornya mulai meracau seorang diri.
"Huh! aneh sekali! Miftah yang biasanya tampil cantik kini malah penuh dengan wajah yang berbintik merah dengan kaca mata yang benar - benar membuatnya seperti seorang gadis yang sangat culun! sebenarnya apa sih yang ia rencanakan? aku jadi penasaran dibuatnya,"
Haris terus saja mengendarai motornya sambil terus berpikir, semalam Miftah sempat berkata bahwa ia akan merubah penampilannya dan Haris sangat tak menyangka jika merubahnya menjadi sangat buruk.
Ia berniat untuk menanyakannya nanti saat menjemput Miftah kembali.
Miftah terus saja berjalan dengan posisi kepala yang tak pernah berpaling menatap tanah yang ia pijak. Para pengunjung yang melihatnya hanya mampu menatap acuh ke arahnya.
Tak jarang ada yang menghina wajahnya, tapi Miftah lebih memilih mengabaikan. Berarti dadanan mama benar - benar berhasil membuat orang lain jadi memandang rendah ke arahnya hingga sang nyonya jadi tak mampu mengenalnya nanti.
Setelah melewati pintu gerbang ia langsung saja melangkahkan kakinya keruangan pemilik kebun yang kemarin sempat ia kunjungi bersama salah satu pekerja.
"Aduh!" rintihnya sambil memegang pergelangan kakinya.
"Kamu gak papa?" tanya seorang pria tampan yang memakai jas kemeja hitam dengan baju putih yang terlihat rapi didalamnya.
"Oh! kamu," jelas Miftah.
"Anda pasti calon istrinya Firdaus kan?" tanya pria tersebut.
"Iya," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Sini aku bantu kamu berdiri," ucapnya sambil mengulurkan sebelah tangannya dan Miftah menyambutnya.
"Terima kasih," ucapnya setelah bangkit dari duduknya.
"Sama - sama," responnya sambil tersenyum.
"Oh iya nona! terima kasih karna kemarin anda sudah berkenan membebaskan saya. Jadi hari ini saya akan ikut serta membantu anda dalam menyelesaikan masalah ini," jelasnya sambil menatap dalam mata Miftah.
"Ya udah gak papa... Oh iya! kamu gak perlu memanggilku nona ya! panggil saja aku Jannah jika sudah berada dikawasan kebun ini," peringatannya.
"Tapi nona! tuan muda pasti a-" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya Miftah langsung memotongnya.
"Sssstt! ini perintah! Jika kamu tidak mau menurutinya maka aku akan mengadu pada Firdaus," ancamnya.
"Eh! jangan atu non," kagetnya sambil mengelus puncak kepalanya yang licin dan gundul itu.
"Makanya kalau gak mau kamu nurut aja oke," ucapnya sambil menyipitkan sebelah matanya.
"Iya deh non! eh! Jannah," ucapnya sedikit patah - patah.
"Nah... Itu baru mata - mataku," senang Miftah.
"Jadi sekarang saya mata - mata non? bukannya mata - mata bos Firdaus?" tanyanya terkejut.
"Tuh kan! non lagi! non lagi! sekalian aja nol," dengusnya sambil melipat tangan dibawah dada, tak lupa dua pasang mata yang terus saja menghunus tajam kedalam bola mata sang mata - mata itu.
"Gak usah gugup - guguplah... Lagian Jannah juga gak bakal terkam kamu detik ini juga saat kamu bersalah," herannya.
"Benarkah? ya ampun... Makasih ya non..." senangnya sambil bersedekap didepan dada.
"Kamu mau saya lempar pakai sepatu hak tinggi ini yah?" geram Miftah.
"Eh! eh! eh! enggak kok non! enggak..." resahnya.
"Hadeh... Ya sudah... Lebih baik cepat kamu antarkan aku menuju keruangan sana," pinta Miftah.
"Baik non! eh! maksudnya Jannah," ucapnya kikuk.
Kini, mereka sudah berjalan keruangan yang kemarin sempat mereka datangi. Tapi dari luar ruangan tersebut tampak begitu sepi, tiba - tiba suara berat seseorang mengagetkan mereka berdua yang sejak tadi masih berdiri mematung didepan pintu.
"Astagfirullah!" kejut Miftah sambil memegang dadanya yang kini sudah merasa berdenyut kencang, begitu pun dengan sang mata - mata hingga membuat pria sang pemilik suara berat tadi jadi terkekeh pelan.
"Kalian saya tanya mau ngapain malah terkejut," herannya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Virgo," ucapnya sambil melihat ke arah sang mata - mata, ya bisa dibilang sang pemilik nama.
Ia langsung menoleh kearah pria tersebut yang tentunya orang yang memiliki jabatan yang cukup tinggi dikebun ini, jabatan apa lagi kalau bukan seorang Manajer yang sudah cukup lama dipercaya oleh pak Askari dalam bisnisnya ini.
__ADS_1
"Iya pak," responnya sambil menunduk.
"Hahaha! kamu tidak perlu terlalu hormat begitu... Kayak lagi berhadapan dengan siapa aja! kita kan cukup akrab," tegur sang Manajer yang bernama Abraham.
"Iya pak Abraham," responnya lagi.
"Ya sudah... Kalau gak salah kamu ingin melamar pekerjaan disini ya?" tanyanya pada Miftah dan Miftah yang belum siap di ajak bicara karna sejak tadi merasa sangat gugup jadi sedikit terbata - bata ketika menjawab pertanyaan darinya.
"I-iya pak!," jawabnya dan pak Abraham hanya tersenyum.
"Hahaha! kamu memang gadis lucu yang sangat pemalu ya..." ucapnya yang membuat Miftah semakin menundukkan kepalanya saking merasa malu tapi pikirannya terus bekerja.
"Lucu? pemalu? apa ia sedang menghinaku? aku sudah berdandan cukup jelek tapi kenapa dimatanya aku malah terlihat begitu?" herannya sambil mengerutkan dahinya.
"Sudah... Tidak perlu merasa bingung... Setiap wanita itu memang cantik dengan caranya sendiri... Dan terlihat lucu tidak mesti menunggu diri kita berkilau dulu kan..." ucapnya menghancurkan lamunan yang sejak tadi bersarang dikepalanya.
"Eh! iya ya pak, makasih ya..." respon Miftah sambil tersenyum senang dan pak Abraham juga membalas senyumannya sambil memasukkan kedua lengannya disaku celana lalu berjalan masuk kearah ruangan setelah berkata "kalian ikut aku masuk kedalam."
Tanpa berpikir panjang Miftah dan Virgo mulai mengikuti langkah kaki pak Abraham yang kini sudah hampir dekat dengan kursi duduknya.
_____________________________________
Hai kaka semuanya... 🤗
Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇
"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"
Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊
Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄
Dimana bulan disitu bintang 😀
Dimana gelap disitu terang 🤣
Terima kasih bila tlah datang 😆
Star beri ucapan salam sayang 😘
Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...
Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...
🍃🍃🍃🍃🍃 🙏🙏🙏 🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1