
Setelah sampai didalam mereka pun mulai duduk di sofa yang ada diruang tamu.
"Ma... Mama duduk disini aja dulu yah sama mereka, soalnya Miftah mau ambil bibitnya dulu di dapur," pintanya.
"Baiklah! tapi jangan lama - lama ya sayang..." ucap sang mama sambil menatap mata Miftah lekat.
"Siap ma! gak lama kok," responnya lalu mulai melanjutkan kembali langkah kakinya untuk menuju kearah dapur.
"Kalian temannya Miftah ya?" tanya sang mama membuka topik pembicaraan.
"Iya tante Dahra... Kami temannya kak Miftah dan udah dianggap kayak keluarga sendiri... Kak Miftah adalah seorang guru ngaji di Musalla kampung ini," jawab Zaldira yang membuat sang mama jadi terkejut tak menyangka.
"Masya Allah! jadi selama ini kerjaan Miftah bukan hanya menanam terong saja ya?" tanyanya lagi.
"Iya tante Dahra... Dan saya salah satu murid yang diajarkan oleh kak Miftah disitu," jelasnya dan sang mama hanya mengangguk mengerti.
"Oh iya! kamu dan yang lainnya gak usah panggil tente pakai nama ya... Cukup tante aja boleh kok! kalau pakai nama nanti jadi terlalu formal," tawarnya dan mereka hanya tersenyum sambil berkata "baik."
Tak berapa lama kemudian Miftah pun sudah kembali sambil membawa sekantong plastik hitam yang berisi bibit.
"Wah... Banyak juga yah bibitnya," ucap mama sambil memegang plastik yang ada digenggaman Miftah.
"Alhamdulillah ma... Soalnya tahun ini kebun terong Miftah berbuahnya lebat banget... Jadinya Miftah punya bibit banyak deh," responnya lalu mulai duduk di samping mama.
"Memangnya kamu mau bawa kemana bibit itu?" tanya Zamrud penasaran.
"Oh! bibit ini mau aku bawa kerumah mama... Katanya mama sangat menyukai buah terong tanamanku, jadi beliau mengusulkanku agar bersedia menanamnya disamping rumah mama yang tanah kosongnya sangat luas." jawabnya sambil tersenyum.
"Jadi Kaka gak tanam terong disini lagi yah?" ucap Zaldira ikut bertanya.
"Untuk sekarang enggak dulu dek... Karna tak lama lagi Kaka akan melaksanakan pernikahan..." jawabnya yang membuat Zaldira sedikit meninggikan suara saking terkejutnya " apa?!"
"Biasa aja kali... Itu aja sampai terkejut begitu," ledek Zamrud.
"Bukan urusan kaka," dengusnya lalu kembali melanjutkan ucapannya yang belum habis ia lontarkan.
"Kenapa Kaka gak pernah bilang sama Zaldira? pantas saja kemarin itu rumah kak Miftah sepi banget..." ucapnya.
"Iya... Maaf ya dek... Kaka juga gak tau... waktu itu Kaka aja terkejut ketika di jemput oleh calon Kaka! pagi lagi," jelasnya merasa tidak enak pada Zaldira.
__ADS_1
"Oh... Ku kira Kaka sengaja lupain Zaldira," responnya memaklumi.
"Enggak lah dek..." ucap Miftah sambil terkekeh pelan merasa lucu saat Zaldira memasang mimik sedih yang menurutnya menggemaskan.
"Kenapa Kaka ketawa? aku kan lagi kesel kaka..." resahnya yang kini sudah menggembungkan pipinya sambil melipat kedua tangannya dibawah dada sedangkan mereka yang ada di ruangan itu hanya ikut terkekeh saat melihat tingkahnya.
"Kamu lucu banget ya," ucap sang mama sambil terus tersenyum di balik kekehannya sedangkan Zamrud malah sibuk mencari cara untuk semakin memanasi Zaldira.
"Makanya salahkan pipimu tuh yang kalau merajuk gembungnya kebangetan! udah kayak ikan buntal aja," ledeknya yang langsung memancing kemarahan Zaldira, wajahnya saja sudah merah padam.
Kini Zaldira mulai bangkit dari posisinya lalu langsung melangkahkan kakinya kearah Zamrud yang nyalinya sudah sedikit menciut saat melihat kobaran api dari tatapan mata Zaldira yang mematikan.
"Kaka... Bisakah Kaka sehari saja tidak mencari masalah denganku?" tanyanya berusaha berbicara lembut sedangkan yang menonton hanya berpura - pura tidak tau agar tidak ikut - ikutan kena amukan Zaldira.
"Aduh apes banget aku! gak nyangka kalau dia bakal semarah ini sama aku," batinnya.
"Yu... Tolongin aye Yu... Di depan aye udah dateng nenek kebayan Yu," pintanya sedikit merengek.
"Au! aku gak ada urusan sama kamu! lagian kamu itu yah kalau dibilangin ngeyel banget! sekarang mamam tu akibatnya," responnya acuh.
"Tega bener lu sama aye," resah Zamrud.
"Gitu yah lu sama aye... Gitu ya... Oke! lu aye end," kesalnya.
"Terserah! mau end kek! mau bersambung kek! bodo amat," responnya sedangkan Zamrud sedang memberanikan diri mengadahkan wajahnya dihadapan Zaldira.
"Sudah - sudah... Jangan pada ribut ya... Kan gak enak jadinya..." cegah sang mama sedikit was - was.
"Bener banget tan! Zaldira! kamu dengarkan tadi tante bilang apa? jadi lebih baik kita damai kembali aja ya..." ajak Zamrud sambil mengulurkan satu tangannya dihadapan Zaldira.
Lalu Zaldira pun menyambutnya dengan hangat dan siapa sangka, beberapa menit kemudian Zamrud kembali merintih saat Zaldira tanpa belah kasian meremasnya sekuat tenaga seperti menumpahkan rasa kesalnya pada Zamrud melalui tangannya.
"Au! tega banget kamu sama Kaka! masak iya tangan Kaka kamu remas kayak lagi peras santan," komennya dan Zaldira hanya menjawab dengan enteng "itu baru pelajaran kecik ya," responnya sambil memandangi kuku jarinya acuh setelah duduk kembali di sofa.
"Pelajaran kecil gimana maksudmu?" tanya Zamrud yang masih sibuk mengipas - ngipas tangannya.
"Oh! apa pelajaran tadi belum cukup membungkam mulut Kaka ya?" tanyanya sinis dan itu sontak saja membuat Zamrud seperti merasakan aliran listrik ditubuhnya.
"Eh! enggak kok! enggak! cukup - cukup," ucapnya gelagapan sedangkan yang lain hanya mampu diam sambil menonton acara yang sedikit mencengkeram itu.
__ADS_1
"Kruk... Kruk..." tiba - tiba suasana mencengkeram itu hilang saat mendengar suara perut yang tak lain dari Miftah yang kini sudah tertunduk malu.
"Suara perut siapa itu?" tanya Wahyu sedangkan Zaldira yang sudah tau dari mana asal suara langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Kaka belum makan ya?" tanyanya.
"Hahaha! belum dek tapi gak papa kok! nanti juga Kaka bakal makan," jawabnya gugup.
"Ya ampun... Tadi pagi mama begitu bersemangat sampai lupa untuk mengajakmu sarapan terlebih dahulu... Maafin mama yah sayang..." ucap sang mama sedih.
"Sudah lah ma... Gak papa kok," respon Miftah merasa tidak enak jika mamanya malah merasa bersalah.
"Gak gak usah merasa gak enak ya sama mama... Jelas - jelas ini memang kesalahan mama kok," ucap sang mama seperti mengetahui apa yang di rasakan oleh Miftah.
"Kalau enggak sekarang kita pergi ke restoran aja yah," usul mama.
Seketika Miftah jadi teringat tentang bayaran Firdaus yang harus mengeluarkan puluhan juta cuman untuk menyewa tempat dan membayar makanan hanya dalam semalam saja.
"Ma... Miftah cuma agak berangin aja kok tadi... Miftah gak lapar banget sama sekali ma... Lebih baik kita cepat pulang aja kerumah mama... Lagian bi Ati pasti udah masakin sarapan buat kita," jelas Miftah.
"Tapi kan nasinya pasti udah dingin sayang..." ucap mama merasa berat hati.
"Pokoknya mama gak mau tau! kamu harus ikut mama makan di restoran! toh bukan kamu aja yang sekarang merasa lapar! mama juga sayang..." ucapnya tak mau dibantah.
"Tapi ma - " ucapan Miftah langsung terpotong saat sang mama berkata "udahlah... Lagian restoran itu restoran kenalan mama ini..." sambungnya.
Mau tidak mau Miftah yang melihat raut wajah yang tak ingin dibantah dari sang mama hanya mampu mengangguk pasrah, meskipun ia kadang sering telat sarapan tapi setidaknya perutnya sudah lebih dulu diganjal dengan beberapa potong roti.
"Oh iya! kalian udah pada sarapan juga belum?" tanya sang mama.
"Tante gak usah repot - repot! kami sudah pada makan kok," respon Wahyu sambil tersenyum.
"Iya tante! benar apa yang dikatakan kak Wahyu," sambung Zaldira sedangkan Zamrud hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala membenarkan apa yang di ucapkan oleh mereka.
"Gak papa walau pun sudah... Lebih baik kalian ikut aja yah! dan tante paling gak suka ditolak! ini kan pertemuan pertama kita jadi mari kita rayakan dengan acara makan bersama," ucapnya yang mau tidak mau juga disetujui oleh mereka.
"Nah! gitu dong! kan makin banyak orang makin seru makannya," senang sang mama lalu mulai bangkit berdiri sambil menarik tangan Miftah agar ikut bersamanya sedangkan yang lain hanya mengikuti langkah mereka dari belakang.
Setelah mengunci pintu rumahnya Miftah pun langsung berjalan ke motor sang mama lalu menaikinya perlahan setelah mama menyuruhnya naik.
__ADS_1
Setelah semuanya siap mereka pun mulai berangkat bersamaan, motor mama berada dipaling depan untuk memimpin perjalanan sedangkan barisan kedua ada motor Zamrud dan Zaldira yang melaju secara beriringan.