
Miftah yang mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya langsung bergegas membukanya setelah lebih dulu menyambar kerudung kurungnya agar rambutnya tidak terlihat, lagi pun ia sedang menggunakan baju piyama.
"Sebenarnya siapa sih yang mengetuk pintu jam segini? ini kan udah larut! apakah mungkin itu mama? kalau kak Firdaus kan gak mungkin karna sudah lebih dulu pergi tanpa menjawab pertanyaanku dan mana mungkin dia langsung kembali kemari," batinnya merasa tidak tenang.
"Kaka," ucap Miftah terkejut lalu sedikit melangkah mundur saat Firdaus semakin melangkah kedepan.
"Eh! Kaka kenapa? Kaka jangan macam - macam ya! kalau Kaka berani malakukan hal yang tidak - tidak Miftah bakal teriak!" ancamnya was - was bahkan tubuhnya saja sampai bergetar hebat.
"Miftah kamu kan sudah berjanji tidak akan pernah ingin membatalkan pernikahan kita pada saat itu! lalu kenapa sekarang kamu malah dengan mudah ingin membatalkannya? apakah sikapku itu terlalu berlebihan hingga membuatmu berpikir bahwa aku memang sudah tidak mencintai mu?" tanya Firdaus lemah.
Miftah yang mendengar pertanyaan Firdaus jadi merasa bersalah, seharusnya ia tidak mengucapkan kata - kata itu sebelumnya supaya Firdaus tidak terlihat kepikiran tapi sayang karna waktu sudah tidak dapat diulang lagi.
"Jawab aku Miftah! aku sengaja tidak membaca pesanmu karna aku takut kamu benar - benar ingin membatalkan pernikahan kita yang tinggal seminggu lagi ini! apakah hanya karna perubahan sikapku kamu jadi begini? kamu harus tau Miftah aku seperti itu karna aku mempunyai alasan," sesaknya yang entah kenapa ia seperti merasa murni ketika mengungkapkan kata - kata tersebut karna tanpa ada paksaan sama sekali.
"Sebuah alasan yang memang sulit untuk dijelaskan secara singkat! tapi yang aku pinta padamu saat ini adalah keyakinan! kalau memang kamu yakin sama aku! kalau memang kamu benar - benar membalas juga perasaanku harusnya kamu tidak perlu berpikir hal yang buruk karna yang harus kamu tau bahwa hati dan perasaan ku saat ini hanya untukmu! jadi tidak ada yang perlu kamu takuti Miftah! tidak ada!" resahnya.
"Kaka... Aku tau aku mungkin salah dalam mengartikan ekpresi perubahan Kaka itu... Karna itu tidak mungkin terjadi pada Kaka yang biasanya perhatian menjadi acuh! oleh sebab itu aku tadi mengirim pesan berupa permintaan maaf pada Kaka dan itu sama sekali tidak mengandung unsur yang mana mengarah kepada pembatalan," jelasnya.
"Benarkah?" tanya Firdaus tak pecaya.
"Iya kaka... Miftah gak mungkin bohong! kalau Kaka gak percaya coba Kaka baca aja dihadapan Miftah sekarang," perintahnya dan Firdaus hanya menurut.
Setelah membacanya Firdaus jadi merasa salting seketika, ia juga merasa tidak enak pada Miftah, namun apa boleh buat ia sudah terlanjur bertindak hingga ia hanya mampu mengubur dalam - dalam rasa malunya.
"Sudahlah Kaka... Miftah paham kok! kalau bagitu lebih baik Kaka istirahat aja ya... Masalah ini kita anggap tak pernah terjadi aja biar tenang," ucapnya sambil tersenyum manis.
"Makasih ya Miftah udah mau ngertiin Kaka," ucapnya.
"Sama - sama Kaka," balasnya lalu Miftah langsung menghindar saat Firdaus tanpa sadar ingin memeluknya untuk menyalurkan rasa senangnya.
"Eh Kaka! kita kan belum halal! Kaka pasti lupa lagi," resahnya dan Firdaus hanya berkata maaf sambil terkekeh pelan lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal hingga membuat Miftah jadi tertawa saat melihat ekperesinya.
"Kenapa kamu ketawa?" selidik Firdaus.
"Abis raut wajah Kaka gak bisa terkontrol sih jadinya kan tampak lucu banget," jawabnya masih terus tertawa.
"Hebat ya kamu kalau urusan buat orang lain panik! benar - benar minta dikasih pelajaran ini," ucap Firdaus dan dengan jail tanpa sepengetahuan Miftah ia langsung menarik hidungnya hingga terlihat bekas merah.
"Au! is Kaka benar - benar deh! Kaka pikir gak sakit apa? itu tangan minta dipotong aja yah," dengus Miftah sambil mengelus batang hidungnya yang sedikit berdenyut akibat perlakuannya.
"Hahaha! justru Kaka udah baik lho sama kamu... Karna Kaka udah mau bantu kamu buat mancungin hidungnya," ucap Firdaus yang masih tak berhenti tertawa.
Tiba - tiba suasana yang awalnya terasa riuh menjadi hening seketika saat Firdaus melihat mata Miftah yang sedikit memerah dan bengkak.
"Kamu abis nangis ya?" tebaknya.
__ADS_1
"Siapa yang abis nangis? enggak kok! orang Miftah cuma kelilipan doang tadi," elaknya.
"Masak ia didalam kamar yang super dzuper bersih ini ada debu hingga membuat matamu jadi kelilipan! mustahil banget," ucapnya tak percaya.
Miftah yang mendengarkan ucapan Firdaus mulai mencari akal agar Firdaus tidak dapat mengetahui bahwa ia menangis karna sangat kepikiran dengan perubahan sifatnya.
"Kaka gak percayaan amat sih jadi orang! ya maklum lah mata Miftah merah kelilipan karna debu yang dibawa angin," alasannya terpaksa berbohong.
"Alah! aku gak percaya," kerasnya.
"Bodo amat! mau Kaka percaya kek! enggak kek! itu bukan urusannya Miftah karna buktinya pun sudah ada diatas kursi depan," jelasnya.
"Emangnya apa yang ada di kursi depan?" tanya Firdaus penasaran.
"Kaka liat aja sendiri," responnya acuh lalu mulai duduk diatas kasur sedangkan Firdaus mulai berjalan kearah balkon kamar Miftah.
Berapa menit kemudian Firdaus pun kembali sambil membawa sebuah ponsel dan headset yang dibiarkan tergeletak diatas kursi empuk tersebut.
"Mana buktinya? yang ada kok cuma ponsel sama headset," tanya Firdaus meminta penjelasan.
"Nah! itu kan buktinya," respon Miftah.
"Tadi kan Kaka bilang mata Miftah kenapa bisa merah dan Kaka gak percaya kalau mata Miftah kena debu kan waktu diluar tadi?" ucapnya mengingatkan dan Firdaus hanya mengangguk.
"Nah! mata Miftah kena debu karna Miftah lagi keluar buat duduk sambil dengerin dubbing dari novel yang ada diMangatoon," jelasnya dan Firdaus langsung berkata " o... Jadi begitu ya," tanda pengerti.
"Lagian Kaka gak percaya banget sih!" dengusnya sambil menatap malas kearah Firdaus.
"Iya - iya Kaka salah... Udah gak percaya sama kamu... Kaka minta maaf ya," ucapnya tulus.
"Iya," jawabnya singkat tanpa mau melihat kearah Firdaus.
"Ya ampun!" ucap Firdaus yang langsung mengagetkan Miftah karna ia seperti orang yang baru saja teringat akan sesuatu.
"Berarti sejak tadi kamu duduk - duduk diluar dengan piyama aja yah?" tanyanya dan Miftah hanya mengangguk membenarkan apa yang Firdaus tanyakan.
"Kamu ini udah bandel ya," ucap Firdaus yang lagi - lagi menarik hidung Miftah hingga sang korban hanya mampu menepis kasar tangan si pelaku.
"Kaka ini kenapa sih?" kesalnya yang sudah muak melihat tingkah Firdaus terhadapnya yang kadang suka berubah - ubah.
__ADS_1
"Kamu ini cewek! larut malam masih aja nongkrong diluar! walau pun hanya dibalkon tapi kan gak bagus juga! ada angin malam lagi! nanti kalau kamu sakit karna masuk angin gimana hah? kan kamu juga yang repot," omel Firdaus.
"Lah aku yang repot kok Kaka yang sibuk? lagian kan aku gak nyusahin Kaka ini kalau aku sakit ringan seperti itu," ucapnya acuh tak acuh.
"Pokoknya diatas jam sembilan sepuluh malam gak boleh ada diluar lagi," aturnya sambil menatap tajam kearah Miftah.
Miftah yang sudah merasa sangat dongkol dengan sikap Firdaus langsung bangkit dari duduknya lalu mulai mendorong Firdaus dengan sekuat tenaga.
"Kamu! aku lagi ngomong malah didorong terus keluar! benar - benar kamu ini," dengus Firdaus.
"Kaka Ku yang baik dan tampan... Ini sudah malam jadi Kepala Kaka mungkin butuh istirahat karna seperti nya Kaka sudah agak ya... Begitulah dan terima kasih udah mau ambilkan benda Miftah yang udah tertinggal tadi," ucapnya sambil mengambil headset dan ponsel yang masih digenggam oleh Firdaus.
"Gak mau! Kaka gak bakal pergi sebelum kamu setuju dengan peraturan Kaka," ucapnya dan Miftah hanya mampu menghembuskan nafas kasar lalu menatap malas kearah Firdaus.
Dengan berat hati ia pun berkata "iya kaka... Oke - oke! besok - besok Insya Allah Miftah gak bakalan kayak gitu lagi yah..." responnya yang sedikit lagi hampir berhasil menutup pintu tapi selalu saja ditahan oleh Firdaus.
"Kamu jangan sampai menganggap remeh aturan Kaka ya," ucapnya serius sedangkan Miftah yang sudah tidak sanggup lagi mendengar celotehan Firdaus yang tak berujung mulai mengumpulkan seluruh tenaganya agar pintu berhasil menutup sempurna.
"Enggak kok kaka... Yaudah good night ya calon imamku aku mencintaimu dan aku sebagai calon istrimu pasti akan patuh kepadamu... Dadah sayang... Udah malam oke," ucapnya dan terdengarlah bunyi yang sedikit keras.
"Bruk,"
Seperti suara bantingan pintu ringan dan Firdaus menjadi beku sesaat akibat mendengar ucapan Miftah hingga mematung ditempat.
"Deg,"
"Deg,"
"Deg,"
Firdaus hanya mampu menaruh tangannya didadanya, merasakan denyut jantung yang berjalan begitu cepat setelah sejak lama perasaan itu sudah tidak ia rasakan lagi.
Dulu yang berhasil membuatnya berdebar hanya Jannah seorang tapi sekarang saat mendengar ucapan Miftah kenapa debaran ini terasa begitu dahsyat dan sedikit menyiksa.
Hatinya kini jadi terbagi dua, semenjak mengenal Miftah ia jadi merasa bimbang dan ia seperti menjadi seorang pria yang berdiri ditengah dua orang wanita dan itu membuatnya sulit untuk melangkah kearah mana.
Cinta masa lalu dan sekarang sudah membuatnya semakin bimbang tapi mau bagaimana pun ia harus tetap berusaha meneguhkan hatinya hanya untuk seorang wanita saja dan tak akan ia biarkan lebih.
Firdaus pun langsung masuk kemarnya lalu kembali tidur setelah lebih dulu ke kamar mandi untuk berwudhu agar pikirannya menjadi tenang baru ia membaringkan tubuhnya.
Diposisi lain Miftah yang baru saja teringat apa yang sudah ucapankannya barusan merasa sangat terkejut lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya karna sudah bersemu merah.
"Ya ampun... Apa yang telah aku ucapkan? haduh... Dimana harus kutaruh mukaku besok? malu baget... Aku jadi gak dapat mengontrol kata - kataku! is kesel banget deh," celotehnya seorang diri lalu hendak masuk ke kamar mandi untuk berwudhu agar emosinya tidak terlalu meletup - letup.
"Ini semua gara - gara Kaka! dasar Kaka nyebelin..." gregetnya lalu langsung masuk ke kamar mandi dengan umpatan yang masih saja tak berhenti dari mulutnya.
__ADS_1
Setelah itu ia pun keluar dan membaringkan tubuhnya setelah mengeringkan wajahnya, tak berapa lama kemudian ia akhirnya ikut terlelap setelah membaca doa tidur.