
Saat Rosalia hendak berdiri kakinya masih merasa lemas karna sudah beberapa hari tidak berjalan.
"Sudah tidak apa - apa Fahman... Biarkan saya terbiasa saja," tolaknya saat Fahman ingin memberikan kursi roda kepadanya.
Dengan sedikit bergetar ia mulai berjalan sambil di tuntun oleh Fahman.
"Ibu yakin akan memaksakan diri ibu berjalan seperti ini?" tanyanya cemas.
"Saya yakin kok Fahman... Nanti pasti kaki saya akan terbiasa kembali," jawabnya mencoba meyakinkan.
"Lagian tadi pagi Permata yang sedikit memaksa saya untuk menaiki kursi roda, padahal saya sempat menolaknya." beritahunya.
"Saya sangat bersyukur bertemu dengan gadis seperti Permata, meskipun baru mengenal ia sudah menganggap bahkan memperlakukan saya seperti ibu kandungnya sendiri." ucapnya berkaca - kaca.
"Itu terjadi karna dia memang sudah merasakan yang namanya kehilangan," jelasnya.
"Iya Fahman! kamu benar, sekarang coba kamu lepaskan saya saja karna saya sepertinya sudah bisa berjalan sendiri." pintanya.
Dengan hati - hati Fahman menuruti keinginan Rosalia dan Alhamdulillah Rosalia memang benar - benar sudah bisa berjalan kembali meskipun agak tertatih - tatih.
"Oh iya bu, bagaimana sebelum kita ke pesta kita ke toko baju dulu." usulnya.
"Oh iya! untungnya saya masih mempunyai kartu ATM saya, saya bisa membelinya sendiri." ucapnya sambil memperlihatkan kartu ATMnya yang ia taruh didalam kantung baju pasien.
"Ibu tidak perlu menggunakan uang ibu sendiri... Biarkan saya saja yang membayarnya ya..." tawarnya sambil tersenyum lalu menyuruh Rosalia menyimpannya.
"Kalau tidak supaya aman bagaimana jika saya bantu simpan untuk sementara kartu ibu di dalam dompet saya," usulnya.
"Boleh banget Fahman, makasih banyak ya..." senangnya lalu segera memberikan kartunya padanya.
"Saya ambil ya Bu," ucapnya sebelum meraih kartu tersebut.
"Kamu memang benar - benar anak yang sopan! ambil saja," pujinya sambil tersenyum.
"Seandainya Permata menikah denganmu pasti hidupnya akan lebih bahagia," ucapan itu tiba - tiba saja lolos dari mulutnya.
Rosalia yang tersadar akan ucapannya barusan langsung membungkam mulutnya dengan satu tangannya.
"Ya ampun! maaf! saya tidak bermaksud menghasutmu," ucapnya merasa bersalah.
Fahman hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak masalah!" responnya.
Sebenarnya saat pertama tatapannya bertemu dengan Permata ia merasakan detak jantung yang belum pernah ia rasakan.
Bagaimana tidak? Fahman adalah tipikel pria yang sangat acuh dengan wanita, ia tidak pernah mau berpacaran dengan wanita mana pun meskipun mereka sudah berulang kali menembaknya.
Bahkan ada yang tak segan - segan mengungkapkannya di depan semua orang saat upacara bendera selesai dan itu berujung dengan rasa malu yang harus di telan dalam - dalam karna di tolak mentah - mentah oleh Fahman.
Fahman tak hanya di kagumi karna wajah tampannya tapi ia juga sangat mahir dalam setiap mata pelajaran terutama bahasa Inggris.
Sudah beberapa kali ia memenangkan juara pidato berbahasa Inggris diluar sekolah dan ia tak pernah turun dibawah juara satu.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkuliah di luar negri sekaligus berkerja disana karna kemahirannya yang mudah bersosialisasi dengan siapa pun.
Kini sampailah mereka di sebuah mobil mewah berwarna biru dongker yang begitu berkilat.
__ADS_1
"Mari kita masuk," ajaknya sambil mengulurkan tangannya kehadapan.
"Baik," jawabnya.
"Apa ini mobilmu?" tanyanya.
"Bukan," jawabnya.
"Lalu?" tanyanya lagi merasa bingung.
"Ini mobil papaku," jawabnya sambil tersenyum.
"Oh..." Rosalia mengangguk.
Tak berapa lama kemudian mobil itu melaju untuk membelah jalanan.
Kini sampailah mereka di sebuah Mall yang cukup besar.
"Ayo bu kita turun," ajaknya.
"Baik," ucapnya sambil mengangguk.
Saat masuk ada banyak sorot mata yang memandang heran pada Rosalia yang memakai baju rumah sakit.
Sebelumnya Rosalia sempat memakai daster cuma karna ia sudah masuk kembali kedalam rumah sakit ia harus memakai baju pasien lagi.
Kini mereka sudah masuk kedalam salah satu toko baju yang lumayan mewah.
"Baiklah tuan," jawab salah satu karyawan disitu.
"Fahman... Ibu sudah tidak terlalu muda, jadi berikan ibu baju gaun hitam biasa aja ya... Jangan nanti yang dikira pengantin malah ibu." peringatannya sedikit bergurau.
"Tak masalah bu, lagian saya hanya memesankan yang polos kok! nanti tinggal ibu pilih aja ya..." pintanya.
"Baiklah Fahman," responnya.
Tak berapa lama kemudian pelayan tadi telah membawa tiga baju hitam polos yang akan di pilih oleh Rosalia nantinya.
Dan akhirnya pilihan Rosalia jatuh pada gaun hitam dengan panjang semata kaki yang pas dengan tubuhnya.
"Baiklah bu, anda bisa menggantinya sekarang juga," tawarnya.
"Makasih ya Fahman," ucapnya.
"Sama - sama bu," responnya lalu Rosalia langsung masuk ketempat mengganti pakaian.
Dan keluarlah Rosalia dengan baju gaun pilihannya dan ia terlihat bergitu elegan.
"Anda memang lebih pantas dipanggil seorang Kaka bu," puji Fahman sambil tersenyum.
Rosalia hanya menyembunyikan pipinya yang sedikit merona.
__ADS_1
Tak hanya Fahman yang berpikir begitu, para pelayan lainnya juga mengatakan hal yang sama. Bahkan beberapa dari mereka masih tak ingin melepaskan pandangan mata mereka dari Rosalia.
"Oh iya bu, disekitar sini pasti ada salon, mari kita kesana juga untuk membenarkan rambut ibu," ajaknya.
"Eh! tidak perlu sampai segitunya Fahman, ini aja udah terlihat ada perubahan." tolaknya secara halus.
"Sudahlah bu... Ayo," ajaknya sambil menarik tangan Rosalia.
Meskipun Fahman terbilang cuek dengan wanita tapi tidak untuk ibunya sendiri, setiap rambut ibunya terlalu panjang bahkan jadi sedikit berantakan ia sendiri yang turun tangan untuk membawa ibunya merapihkan rambutnya di salon.
Itu memang sama seperti arti namanya, lelaki yang pengertian.
Usai dengan kegiatan merapihkan rambut, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Orang - orang yang awalnya menatap heran kearahnya berubah menjadi tatapan penuh kekaguman.
Tak sedikit dari mereka yang mencuri gambar Rosalia dari jauh.
🍃 Dirumah 🍃
"Pa! ayo kita keluar pa," ajak sang mama sambil menarik tangan suaminya.
Sang papa yang sedang enak - enakan bersantai di sofa dengan kopi hitamnya jadi terganggu karna ulah sang mama.
"Is... Papa mau mama marah lagi yah kayak tadi?" dengusnya sambil melipat kedua tangan dibawah dada.
"Ada apa sih ma..?" tanya sang papa yang merelakan kopinya di atas meja.
"Anak kita pa udah mau sampai... Fahman Abadan... Apa papa lupa?" tanyanya yang sontak membuat papanya terkejut.
"Iya pa... Mama serius... Dia pasti belum tau kalau hari ini pernikahan putra pertama kita sudah ditunda pa..." jelasnya.
"Sedangkan putra kita yang lain akan pulang esok hari... Hanya dia belum kita berikan informasi baru karna sudah terlanjur melakukan penerbangan dari Inggris ke Indonesia," beritahunya.
"Baiklah! kalau begitu mari kita sambut Fahman, jangan lupa mama ajak Firdaus dan Miftah agar pergi ikut juga ya ma." beritahu sang papa.
"Baiklah pa," ucapnya sambil mengangguk lalu kembali berjalan ke arah dapur.
Terlihat Miftah yang sedang mencuci piring bekas ia memasak bakwan tadi sedangkan Firdaus masih setia menunggu Miftah sambil memainkan ponselnya.
"Firdaus... Sayang... Mari ikut mama," ajaknya.
"Kemana ma?" tanya Miftah yang baru saja selesai mencuci piring kotor.
"Lho! sayang... Kenapa malah kamu yang cuci piring hmm..? kan ada bibi," tanyanya sambil mengelus puncak kepala Miftah yang di tutupi hijab.
"Gak papa mama... Sekali - kali ini pun... Lagian Miftah juga baru kali ini nyuci piring sendiri," jawabnya sambil tersenyum.
"Au tuh ma! dibilanginnya ngeyel," geramnya.
"Udah ah Firdaus! mantu mama kan emang rajin," pujinya.
"Iya deh..." responnya.
"Yaudah ayo kita kedepan buat sambut kakamu," ajaknya lagi.
"Baik ma," jawab Firdaus.
Kini mereka mulai berjalan beriringan kedepan untuk menyusul sang papa yang sudah lebih dulu keluar dari rumah.
__ADS_1