
Usai dengan urusan poto copy, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang, kawasan jalan mulai sepi. Bagaimana tidak? ini saja sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tak terasa mereka sudah banyak menghabiskan waktu karna sibuk berdebat sejak tadi.
Udara malam bahkan sudah semakin masuk menembus pakaian Miftah yang tak terlalu tebal dan menembus pori - pori kulitnya.
"Oh iya Ratuku! sebenarnya untuk apa sih semua itu? kamu udah kayak orang yang mau lamar kerjaan aja," ucap Firdaus membuka topik pembicaraan usai menyebrang jalan.
"Ya kan emang aku besok niatnya mau ngelamar kerja," jawabnya santai.
"Apa?" ucap Firdaus merasa terkejut dan mengerutkan dahinya.
"Biasa aja kali Kaka... Udah kayak gak pernah liat orang yang ngelamar kerjaan aja," respon Miftah sedikit risih dengan sikap Firdaus.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku?" tanyanya merasa sedikit kesal usai merasa senang sejak tadi.
"Kaka... Masak ia semuanya aku harus bilang sama Kaka! sudah berapa kali aku bilang kalau aku ini sudah besar Kaka... Jadi Kaka gak perlu terlalu kepo tentang masalahku," responnya sambil menatap Firdaus dalam.
"Jadi ini tujuanmu untuk membebaskan mata - mata wanita itu? iya? apa kamu masih tidak takut jika nanti bekerja di sana? wanita itu pasti sangat membencimu... Seandainya kamu diterima dengan mudah! dia pasti ada niat jahat padamu," ucap Firdaus hingga membuat Miftah sedikit terkejut karna tebakannya sama sekali tidak meleset.
"Iya Kaka benar... Tapi aku kan gak sebodoh yang Kaka kira... Dan aku pasti akan menyamar terlebih dahulu," jelasnya.
"Menyamar?" tanya Firdaus.
"Iya Kaka..." responnya sambil tersenyum.
"Aku tau kamu sebenarnya ingin mencari informasi agar dapat mengungkapkan sifat buruk istri kedua papamu itu, agar papa mu bisa kembali kepadamu dan mamamu! tapi apakah itu tidak terlalu berbahaya?" tanya Firdaus sedikit ragu.
"Apa pun resikonya! itu biar menjadi urusanku," ucap Miftah mencoba membuat Firdaus percaya padanya.
"Kenapa kamu gak minta bantuan padaku saja? kan aku punya banyak mata - mata yang sangat handal dalam mencari informasi untuk di jadikan barang bukti agar papa mu percaya," tawarnya sambil menaruh satu tangannya di atas pundak Miftah.
"Maaf Kaka... Aku tak ingin mengandalkan orang lain dalam masalahku ini... Aku ingin berjuang sendiri untuk mencari barang bukti tersebut... Lagian informasi yang kita dengar tidak sememuaskan dari hasil yang kita dapatkan sendiri," jelasnya sambil menunduk dalam.
Firdaus jadi tertegun dengan kegigihan Miftah yang benar - benar mempunyai tekat yang kuat untuk mencapai sesuatu yang ia harapkan.
__ADS_1
"Baiklah! kalau itu keputusanmu Kaka akan memakluminya! tapi kalau ada sesuatu yang mengancammu disana, kamu jangan segan - segan menghubungiku ya." peringat Firdaus.
Miftah jadi merasa sangat senang karna Firdaus mengizinkannya untuk melamar pekerjaan besok.
"Ngomong - ngomong kamu ngelamar menjadi apa disana?" tanya Firdaus penasaran.
"Mandor," jawab Miftah singkat.
"What! apa aku gak salah dengar?" ucap Firdaus merasa terkejut.
"Biasa aja kali Kaka... Kenapa emang kalau jadi mandor hah? gak boleh?" heran Miftah yang masih tak habis pikir dengan sikap Firdaus.
"Bukan gitu... Kamu memang tau mandor itu gimana?" tanya Firdaus yang masih merasa tak terima dengan pilihan Miftah.
"Ya taulah... Kan mau daftar! masak iya gak tau," herannya.
"Kalau tau apa coba? Rajamu ini ingin mendengarkan langsung dari bibirmu," tantangnya sambil menyipitkan sedikit matanya.
"Oh... Kaka menantang ku ya? oke! aku bakal terima tantangannya tapi jika aku menang! mulai besok Kaka gak boleh atur - atur aku lagi," ucap Miftah membuat kesepakatan.
Miftah hanya mampu mengembuskan nafas pasrah, berharap ada pintu Doraemon yang mampu membuatnya sampai dengan cepat kerumah.
"Ya jelasin dong! mandor itu apa... Kan diem! pasti kamu gak tau yah," remehnya.
"Is! geram banget aku dengan Kaka! maunya aku benyek - benyek itu mulut biar gak bisa ngomong lagi! huh! menyebalkan!" batinnya dengan tatapan yang penuh kekesalan tapi ia terus berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Kamu sedang mengumpat Rajamu ya ratuku?" tanyanya yang langsung membuat Miftah terkejut dibuatnya.
"Enggak kok," responnya gelagapan.
"Masak iya!" ucap Firdaus curiga dengan tangan yang masih sibuk memijit dagunya.
"Oh iya! Kaka tadi minta penjelasan kan? oke! kalau begitu aku akan menjelaskannya," ucapnya cepat - cepat. Ia berniat untuk mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Hmmm..." responnya.
Sebenarnya Firdaus tau jika Miftah hanya ingin membalikkan topik, tapi melihat raut wajahnya yang sedikit pucat ia jadi tak tega.
Saat mendengar deheman Firdaus, Miftah langsung menyimpulkan bahwa ia sudah diberi izin untuk menjelaskan.
"Jadi kakaku yang baik... Karna aku ingin melamar menjadi mandor panen jadi aku akan menjelaskan apa yang berhubungan dengannya saja oke! contohnya tugas - tugasnya," jelasnya.
"Mandor panen adalah pengawas lapangan yang langsung bersentuhan dengan pemanen dan proses panen yang terjadi. Kualitas panen sangat ditentukan oleh mutu pengawas yang dilakukan oleh mandor pemanen. Pemahamannya akan tugas - tugas akan seorang mandor panen akan menentukan kualitas panen yang diawasi," jelasnya.
"Nah! sudah kan? jadi! apakah Kaka masih meragukan pengetahuan ku terhadap pekerjaan yang akan aku lamar itu?" tanyanya.
"Kamu nyontek yah?" tuduh Firdaus sambil menunjuk ke arah Miftah dengan jari telunjuknya tepat didepan wajahnya.
"Heh! Kaka becanda ya! mana ada aku nyontek! apa mata Kaka tadi kelilipan hingga Kaka bisa berpikir seperti itu karna tak dapat lagi melihatku dengan jelas? sudah jelas - jelas aku tadi menjelaskannya sangat lancar tanpa ada a... Nge... A... Nge..." geramnya yang kini sudah mengepal kan tangannya kuat.
"Ya mungkin saja kamu nyontek karna baca di atas angin," ucapnya yang benar - benar tak masuk akal logika.
"Kaka sedang mencoba menipuku ya? masak iya aku baca diatas angin, emangnya aku punya ilmu apa gitu supaya bisa ubah angin menjadi selebar kertas yang dapat digores dengan setitik tinta." protesnya tak terima.
"Mungkin saja kan kamu bisa... Mana Kaka tau..." responnya yang membuat kulit wajah Miftah menjadi berubah warna semerah tomat.
Ia terus saja menarik lalu menghembuskan kembali nafasnya, itu terus saja terjadi berulang - ulang hingga ia merasa sedikit tenang.
Setelah merasa cukup, Miftah langsung saja melangkahkan kakinya mendahului Firdaus tanpa mengajaknya. Firdaus pun hanya mampu mempercepat langkahnya untuk menyusul Miftah.
Berulang kali ia mencoba memanggil Miftah tapi Miftah tetap saja acuh dan tak menghiraukan panggilannya sama sekali.
Saat langkah kaki mereka telah sejajar baru Firdaus berhasil menarik tangannya untuk memberhentikan langkahnya.
"Miftah! mungkin candaan Kaka tadi terlalu berlebihan! jadi Kaka minta maaf ya," ucapnya.
Awalnya Miftah hanya diam cuman karna melihat raut wajah Firdaus yang sedikit menyedihkan akhirnya ia pun memilih untuk meresponnya.
__ADS_1
"Sudah santai aja... Aku pun tidak mau mengingat kejadian tadi lagi! yang ada darahku makin naik lagi," responnya sambil menatap malas kearah Firdaus dan Firdaus jadi dapat menghembuskan nafas lega saat mendengarnya.