Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 79


__ADS_3

     Malam sudah semakin larut, tak lama lagi mereka akan sampai ditempat tujuan, yaitu rumah yang teduh dan penuh kehangatan.


     Tubuh Miftah sejak tadi sudah tampak menggigil. Namun, ia berusaha menutupinya dari Firdaus karna ia tidak ingin merepotkannya sama sekali.


     "Kamu kedinginan ya?" tanya Firdaus sedikit cemas.


     "Enggak kok kak!" responnya yang tentu saja berbohong.


     "Kamu jangan coba - coba membohongiku ya Ratuku," ancamnya dengan tatapan tajam.


     "Biasalah Kaka... Kan kalau malam maka suhunya dingin... Masak ia malam - malam suhunya panas! kan cahaya bulan gak membakar seperti cahaya matahari..." ucapnya mencoba meyakinkan.


     "Iya... Makanya itu... Lagian kamu keluar malam malah menggunakan baju yang bahannya tidak terlalu tebal! boleh saja sih... Tapi besok - besok meskipun kamu memiliki urusan yang sangat penting kamu harus usahakan membawa jaket atau jas agar tubuhmu merasa hangat," nasehatnya dan Miftah hanya mengangguk itik saja.


     "Jangan hanya mengangguk saja! besok - besok jika kamu tidak melakukan apa yang aku sarankan tadi, kamu gak bakalan aku izinin keluar malam lagi." ancamnya lagi.


     "Ya ampun... Belum nikah aja undang - undang ciptaannya aja sudah sepanjang ini! apa lagi udah nikah! entah bagaimana nasibku nanti! jiwa narsisku akan meronta - ronta meminta kebebasan," batinnya merasa resah.


     Tanpa berpikir panjang Firdaus langsung melepaskan jaket hitamnya dan menyuruh Miftah untuk memakainya.


     "Nih! pakai jaketku," perintah Firdaus lembut.


     "Gak usah Kaka... Lagian tak lama lagi kita sampai kok," tolaknya.


     "Pakai sendiri atau aku yang akan pakaikan," ancamnya dengan tatapan tajam.


     "Memaksa banget sih jadi Kaka! aku masih bisa menahan suhu dingin ini pun," resahnya yang benar - benar merasa tidak enak dengan Firdaus.


     "Terus Kaka sendiri bagaimana?" tanyanya sebelum meraih jaket yang telah disodorkan Firdaus.


     "Kamu tidak lihat apa kalau aku sekarang sudah keluar memakai baju kaos panjang yang berbahan tebal? jadi apa lagi yang harus kamu khawatirkan? harusnya kamu itu menghawatirkan diri kamu sendiri..." jelasnya sambil memberikan tatapan penuh keyakinan.



     Dengan penuh keraguan Miftah akhirnya mencoba mengambil jaket tersebut. Tapi ia masih sangat kaku, karna baru kali ini ia menerima barang yang akan langsung ia kenakan dari pria.


     "Kamu kelamaan! sini aku bantu pakaikan," ucap Firdaus merasa gemas dengan tingkah Miftah yang sangat pemalu jika berurusan dengan hal seperti ini.

__ADS_1


     "Dengan perlahan Miftah mulai memasukkan tangannya kedalam lengan jaket satu persatu saat Firdaus telah membawa jaket itu kebelakang punggungnya.


     Usai mengenakan jaket Firdaus yang sangat kebesaran ditubuhnya membuat Miftah jadi tampak semakin menggemaskan dimata Firdaus.


     "Kamu terlalu kecil sih," komennya.


     "Apa Kaka bilang?" kesalnya tak terima.


     "Sudah... Jangan marah - marah ya... Nanti keimutanmu bisa hilang lho..." peringatnya.


     "Mulai dah - mulai dah!" resah Miftah.


     Dan Firdaus hanya tertawa.


     Tanpa pikir panjang Firdaus langsung menarik tangan Miftah yang terasa begitu dingin tapi berbanding terbalik dengan Miftah yang merasakan kehangatan dibalik genggaman erat Firdaus pada tangannya.


     "Kaka... Lebih baik kita gak usah gandengan aja deh! lagian kita kan be-" belum sempat Miftah menyelesaikan kalimatnya Firdaus pun langsung memotongnya.


      "Takut hilang! sudah nurut saja! kamu gak takut apa? disekitar sini ada banyak om - om tau... Entar sedikit aja kamu meleng dan diculik gitu aja gimana?" ucap Firdaus menakut - nakuti Miftah.


     Miftah malah semakin bergetar dibuatnya, ia jadi ikut menguatkan genggaman tangannya pada tangan Firdaus. Bahkan satu lengannya yang sejak tadi hanya menganggur kini sudah ikut melingkar disiku tangan Firdaus yang sedang digenggamnya.


     Firdaus hanya mampu tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Miftah masih terus dihantui rasa takut. Buktinya! wajahnya saja kini sudah semakin memucat dengan kepala yang terus menunduk menatap jalan setapak yang sedang dilaluinya dengan Firdaus.


   


 


     Suara semak - semak belukar yang ada disekitar mereka malah membuat suasana semakin mencengkram.


     Jika dikampungnya sendiri sudah tentu Miftah bakal biasa saja, karna ia sudah sangat terbiasa dengan keadaan sekitarnya. Namun, karna tempat ini masih sangat terasa asing baginya ditambah Firdaus yang telah menakutinya membuat nyalinya yang awalnya besar menjadi menciut begitu saja.


     "Kamu penakut juga yah ternyata!" ledek Firdaus.


     "Mana ada! aku hanya belum terbiasa saja dengan keadaan disini," elaknya tak terima.


     "Masak iya..." godanya.

__ADS_1


     "Iya! beneran Kaka... Miftah gak bohong..." resahnya dengan kepala yang masih saja menatap jalan setapak.


     "Buktinya genggaman tanganmu semakin kesini kayaknya makin kuat aja! terus kepalamu dari tadi gak pernah kamu angkat," ucap Firdaus semakin membuat Miftah jadi salah tingkah dibuatnya, pipinya saja sudah mulai memerah.


      "Enggak kok! perasaan Kaka aja kali yang mengambil kesimpulan kalau aku ini penakut," ucapnya yang masih kekeh dengan keyakinannya.


     "Masih aja keras! tapi gak papa sih! genggam aja terus! erat banget pun gak papa," tawarnya sambil tersenyum.


     "Kayaknya ada yang aneh nih! pasti sejak tadi Kaka hanya menipuku dengan alasan ada om - om segala! bilang aja lagi modus biar bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan," batinnya merasa kesal.


     Tanpa pikir panjang Miftah langsung melepaskan genggaman tangannya dari Firdaus. Hingga membuat sang pemilik tangan yang merasa ada yang hilang dari tangannya melihat ketangannya yang kini sedang bergantung sendiri.


     "Kok dilepasin?" tanyanya heran sekaligus tak menerima.


     "Suka - suka! dasar Kaka! bisa - bisanya Kaka memanfaatkan rasa takutku! sorry ya... Aku bukan tipikel cewek yang bisa lama - lama dibodohi," geramnya sambil menatap tajam ke arah Firdaus dan orang yang ditatap kini hanya terkekeh pelan.


     "Kenapa cengar - cengir gak jelas kayak gitu hah? gak percaya? oke fine! biar aku yang memimpin perjalanan," ucapnya percaya diri.


     "Hahaha... Beneran nih? gak takut apa didepan nanti ketemu sama om - om? Kaka gak bakal mau bantuin lho... Kalau kamu gak mau dengarin Kaka," ancamnya.


     "Huh! om - om? yang ada aku tuh bukan diganggu sama om - om yang disana! karna om - om yang sebenarnya ada dihadapanku! sejak tadi aja udah ambil kesempatan dalam kesempitan! bisanya cuma ngancam doang," dengusnya sambil melipat kedua tangan dibawah dada.


     Firdaus yang tak terima jika dirinya disamakan dengan om - om mulai membela diri.


     "Enak aja aku disamain sama om - om! meskipun usiaku lebih tua darimu tapi tampangku sangat jauh dari apa yang kamu katakan itu," sombongnya.


     "Terserah! aku juga gak peduli! intinya yang tanpak seperti om - om sekarang itu Kaka! benar - benar menyebalkan! berani - beraninya kaka membodohiku tadi," kesalnya masih tak menerima kelakuan Firdaus.


     "Apa kamu bilang?" geram Firdaus sambil menatap tajam ke arahnya.


     "Apa? lagian benar kan apa yang aku katakan?" ucap Miftah yang semakin memancing api kemarahan Firdaus sambil melihat ke arah kuku tangannya.


     Akhirnya, terjadilah aksi kejar - kejaran ditempat yang kini sedikit gelap, Miftah terus saja berlari agar terhindar dari tangkapan Firdaus yang pasti akan menghukumnya akibat ucapannya meskipun hukumannya tidak berat, tetap saja itu sudah cukup membuat Miftah menjadi sangat muak karna sasaran empuknya pasti hidungnya.


     Tak terasa Miftah akhirnya sampai lebih dulu digerbang rumah, buru - buru ia menyuruh sang satpam untuk membukakan pintu. Lalu tanpa ba bi bu ia langsung berlari masuk kedalam rumah untuk menuju kekamarnya lalu menguncinya.


     Nafasnya saja kini sudah tak beraturan, keringat juga telah membasahi tubuhnya, begitu pun yang dialami oleh Firdaus saat baru sampai gerbang.

__ADS_1


     Ia menompang berat tubuhnya sebentar dengan satu tangan yang menahan pagar, nafasnya terus saja naik turun tak karuan.


     Pak satpam sebenarnya sangat ingin bertanya tentang apa yang dialami oleh Firdaus. Namun, saat melihat sorot api kemarahan dibalik mata Firdaus ia lebih memilih untuk diam karna dia masih menyayangi dirinya sendiri.


__ADS_2