
Tak terasa waktu sudah berjalan sampai seminggu, kedekatan Miftah dan Firdaus pun semakin terlihat karna tak jarang ia ketahuan senyaman senyum sendiri didepan ponsel saat Zaldira berkunjung kerumahnya.
Usai sholat subuh dan mengaji Miftah pun lantas menuju ke halaman belakang, raut bahagia jelas terlihat dari sorot wajahnya.
Bagaimana tidak? kebunnya kini telah dipenuhi oleh pohon terong yang siap di panen, buahnya sangat lebat dari pada biasanya yang hanya beberapa saja tapi sekarang saking lebatnya daun terong sampai hampir tak terlihat.
"Makasih ya Ilahi... Setelah engkau beri aku ujian ini, akhirnya engkau telah memberikanku kejutan yang lebih baik dari sebelumnya." batinnya sambil tersenyum senang.
Sebelum memetik buah terongnya untuk dibawa kepasar, Miftah lebih dulu membuat rekaman untuk ia umbar di sosmed tetang hasil kerja kerasnya itu yang berbuah manis.
Puas berbicara didepan layar, Miftah pun kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu memetik buah terong. Tak berselang lama Zaldira datang dengan motor Vario pink kesayangannya.
"Assalamualaikum Kaka," ucap Zaldira setelah memarkirkan motornya didalam gerbang kebun.
"Wa'alaikum salam Zaldira... Pagi - pagi udah datang aja kesini, apa udah makan?" respon Miftah terkejut.
"Belum lapar Kaka... Lagian kan ini musim panen kaka yang pertama setalah terjadi tragedi yang menyedihkan itu... Jadi Zaldira sebagai murid Kaka yang paling tersayang akan membantu Kaka memanen terong dan pastinya orang yang lebih dulu sampai kesini," semangatnya sambil tersenyum manis.
"Alah... Sok datang paling cepat... Duluan aku kali..." balas seseorang yang baru saja tiba dengan sepeda motor Vario hitam sambil membonceng seseorang dibelakangnya.
Raut wajah Zaldira yang awalnya ceria tiba - tiba jadi buram dan tanpa ba bi bu langsung melangkah ke Vario pinknya.
"Oh iya kak Miftah! Zaldira pamit dulu yah sebentar, karna Zaldira tadi melupakan suatu hal." izinnya.
"Lho! kok mendadak banget dek? padahal adek baru aja datang! biasanya adek jarang melupakan sesuatu yang adek anggap penting," ucap Miftah heran.
Zamrud pun mulai menggas motornya secara tiba - tiba sehingga membuat Wahyu yang duduk dibelakangnya hampir terpental kebelakang.
"Woy Zam! kamu mau bunuh teman kamu yang tampan ini yah? tar kalau emakku merana gimana?" komennya sambil memegang dadanya yang jantungnya sudah berdetak tak beraturan.
"Gak bakalan! yang ana emak lu itu bakal bilang Alhamdulillah," respon Zamrud acuh tak acuh.
"Kamu benar - benar gak ada kepala ya?" geram Wahyu yang tangannya sudah mengepal kuat bersiap untuk meninjunya walau ujungnya ia urungkan keinginan jahat itu.
"Gak ada kepala? sorry ya! kalau aye gak ada kepala pasti semua orang pada lari waktu ketemu aye... Tapi kenyataannya aye ini diperebutkan lho..." sombong Zamrud sambil membenarkan kerah bajunya.
__ADS_1
"Terserah kamu lah! aku mau turun aja," dengus Wahyu.
"Kalau mau turun ya tinggal turun apa susahnya sih? lagian kita pun udah nyampe kali bukannya masih dijalan nungguin tukang odong - odong lewat," respon Zamrud yang mulai ikutan turun lalu memarkirkan motornya disamping Zaldira yang sudah duduk kembali di atas motornya.
"Kagak jelas banget sih kamu! lagi serius juga malah dibuat lawak! lagian odong - odong apa lucunya coba," resah Wahyu sambil berlalu dari hadapan temannya yang sangat menjengkelkan itu untuk bertemu Miftah yang sedang asyik memetik buah terong.
"Odong - odong itu bukannya lucu tapi bikin bahagia... Sayangnya aye udah gak bisa naik lagi," balasnya sambil tersenyum miring dan merasa puas telah berhasil memancing emosi temannya yang menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Bodo amat! emangnya aku pikirin! tumben ngomongnya udah sering aye - aye disini, biasanya kalau didepan ekhemnya langsung ganti bahasa pangeran yang lemah lembut." cibir Wahyu.
"Iri aja lo jadi temen," geram Zamrud.
"Emang kita pernah temenan yah? aku rasa tidak," respon Wahyu yang sudah merasa muak.
"Alah... Bilang aja kalau kamu itu udah suka sama yang lain kan? semenjak tau ekhemnya udah ada yang deketin kamu jadi nyerah kan?" ledek Wahyu balik memanasi Zamrud.
"Jangan asal ngomong lo ya!" ucap Zamrud murka dan bersiap untuk memberikan hukuman pada temannya itu.
"Kenyataan kok," balas Wahyu sedangkan Zaldira yang memang sejak awal sudah tak nyaman dengan kehadiran Zamrud mulai melajukan motornya perlahan tapi tertahan dan saat ia melihat apa yang membuat motornya jadi terhenti ia sangat terkejut karna yang menahannya adalah Zamrud.
"Mau kemana?" bukannya menjawab zamrud malah balik bertanya.
"Suka - suka aku dong mau kemana," jawab Zaldira acuh.
"Kamu gak boleh pergi," ucap Zamrud.
"Lha! suka - suka aku dong! diri - diri aku kok malah Kaka yang sewot!" geram Zaldira.
"Kalau kamu gak mau dengar, aku terpaksa ikut kamu ya... Di boncengin nih," respon Zamrud sambil tersenyum miring.
"Gak boleh! aku lagi ada urusan Kaka... Gak ngerti kalimat ada urusan apa," resah Zaldira.
"Urusan apaan sih?" selidik Zamrud.
__ADS_1
"Aku harus antarin ibuku sebentar kepasar," alasannya terpaksa berbohong.
"Benarkah? kamu gak boong kan? kamu mau main - main ya sama aku... Kita kan udah lama baikan... Tapi semenjak itu kenapa kamu malah selalu menghindar! apakah ucapanku benar - benar seperti racun yang tidak ada obat penawarnya? setega itukah kamu? " tanya Zamrud bertubi - tubi.
Sedangkan Zaldira sudah merasakan rasa sesak di dadanya saat mendengar pertanyaan Zamrud, entah kenapa ia jadi ikut merasa sedih akan hal itu.
"Bodoh! kenapa mataku malah berair," batin Zaldira sedangkan Zamrud masih bersedih dibelakangnya.
"Aku tau... Kamu sebenarnya berbohong kan? aku sama Wahyu tadi tak sengaja bertemu ibumu saat ingin pergi kepasar bersama ayahmu," jelasnya dan Zaldira terkejut bukan main karna ia ketahuan menipu Zamrud.
Zaldira dengan rasa malas mulai memutar haluan dan kembali memarkirkan motornya disamping motor Zamrud.
"Nah... Gitu dong... Kamu boleh benci sama aku tapi jangan diemin aku gitu lah..." ucap Zamrud masih tak menyerah untuk membujuk Zaldira agar mau bersikap seperti biasa terhadapnya.
"Kaka! kalau Kaka masih tidak mau berhenti berbicara, aku pasti akan sumpal mulut Kaka dengan buah terong ini mau?" tanya Zaldira yang sudah tersulut emosi sedangkan Zamrud memanfaatkan kemarahan Zaldira untuk mengerjainya.
"Coba aja, emangnya sampai?" tantang Zamrud.
"Oh... Kaka mengujiku yah? baiklah." geram Zaldira hingga akhirnya terjadilah aksi kejar - kejaran dikebun Miftah dan tanpa sengaja kaki Zaldira tersandung.
Dengan sigap Zamrud pun menangkap tubuh Zaldira agar tak jatuh mencium tanah.
"Untung aja sempat aku tangkap kamu! Kalau enggak mungkin bajumu udah pada kotor kayak anak TK main tanah," cibir Zamrud.
"Nah... Aku berhasil! ye ye ye aku memang pinter! ye ye ye aku memang hebat! ye ye ye Kaka kalah! huuu Kaka kalah... Huuu Kaka kalah," sorak Zaldira saat akting jatuhnya berhasil memancing Zamrud untuk menolongnya.
Tubuh Zamrud yang sedikit menunduk memudahkan Zaldira untuk menjalankan aksinya yang sejak tadi memang sudah menggenggam sebuah terong ungu berukuran sedang.
"Dasar kau anak kecil! sini kamu biar aku kasih pelajaran," murka Zamrud hendak mengejarnya sedangkan Zaldira yang merasa dirinya akan terancam mulai bersembunyi dibelakang Miftah.
"Kaka... Tolongin aku dong... Aku takut banget... Ada monster kak..." rengek Zaldira seperti anak kecil padahal usianya kan sudah delapan belas tahun dan hampir lulus SMA.
Miftah yang sudah resah dan tak habis pikir dengan mereka memilih diam dan mengacuhkan saja, tapi saat melihat tatapan mata Zaldira yang terus memohon mau tidak mau ia pun turun tangan, hal itu juga dirasakan oleh Wahyu yang sudah berhenti memetik buah terong untuk mencegah kemarahan Zamrud yang sangat menyeramkan.
"Sudah Zam... Sabar aja yah..." ucap Wahyu sambil mengusap punggung temannya itu agar tak tersulut emosi dan mau tidak mau untuk kali ini akhirnya Zamrud memilih mengalah agar pekerjaan Miftah tidak tertunda.
__ADS_1
Walau pun begitu kepalanya masih saja berpikir dan menyusun kerangka untuk memulai serangan susulan nanti, karna ia masih belum puas akibat tidak bisa membalas perbuatan gadis kecil itu.