
Kini Rosalia berhasil keluar dari tempat tersebut dengan aman, beruntung para penjaga gerbang rumah sakit begitu lengah akibat terlalu banyak para pengunjung yang datang dipagi hari ini.
Dengan langkah lemah ia terus menelusuri jalan setapak dipinggir jalan raya, ada banyak orang yang beranggapan bahwa ia adalah orang gila.
Bagaimana tidak? sudah seminggu ia berbaring dan air memang belum menyentuh kulitnya selama itu, rambutnya yang acak - acakan membuat orang menjadi yakin dengan ketidakwarasannya.
"Ada apa ini? kenapa semua orang menghindariku? apakah aku seburuk itu dimata mereka?" batinnya merasa sedih lalu memberhentikan seorang supir taxi untuk mengantarkannya pulang.
"Pak - pak!" ucapnya sambil melambaikan tangan.
Taxi itu berhenti lalu membuka kaca mobilnya, ketika melihat siapa yang memanggilnya ia hendak menutup kembali tapi sempat ditahan oleh Rosalia.
"Pak! kenapa kacanya ditutup? saya ingin naik," tanyanya.
"Heh! orang yang tidak waras seperti mu mau naik taxi mahal ini? apakah kamu punya uang? sendal saja mungkin kamu tidak punya," hinanya hingga membuat Rosalia melihat kearah jari kakinya yang telanjang tanpa alas.
"Pak! saya serius... Saya sebenarnya orang kaya! saya janji! saya pasti akan membayar bapak ketika sudah sampai dirumah saya," ucapnya memohon belah kasihan.
Tapi sang supir yang sangat angkuh itu tidak peduli sedikit pun, tanpa rasa kasian ia langsung menutup paksa kaca mobilnya hingga jari Rosalia terjepit, alhasil kukunya yang berwarna putih jadi sedikit keunguan.
"Au!" rintihnya sambil mengipas - ngipas tangannya.
"Syukurin! sudah kubilang lepaskan tapi kamu tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan! jadi silahkan rasakan akibatnya," ucapnya.
"Dasar gembel! kerjaannya cuma bisa menipu saja," dengusnya dan Rosalia yang dikatakan seperti itu jadi merasa sangat sakit hati.
"Ternyata begitu hidup tanpa harta, kau pasti akan dihina habis - habisan! tapi jika kau memiliki uang yang banyak pasti tak sedikit orang yang ingin mencium lututmu," batinnya merasa resah.
"Aku belum benar - benar miskin tapi bisa saja direndahkan hanya karna penampilan," resahnya sambil menghembuskan nafas kasar.
"Krukk... Krukk... Krukk..." suara perutnya mulai bersuara karna memang dari kemarin ia belum memakan sesuap nasi pun.
Ia sebenarnya sangat ingin disuapi oleh suaminya, tapi karna sang suami tak kunjung datang nafsu makannya jadi sangat menurun.
"Ya Allah... Aku minta maaf... Aku tau aku salah... Aku tau... Sudah berapa minggu semenjak aku dirawat aku tidak pernah bersujud kepadamu." sedihnya dengan mata yang sudah berkaca - kaca.
Tak jauh dari tempatnya berdiri terlihatlah sebuah Musalla berukuran sedang dipinggir jalan.
__ADS_1
"Ah! disana ada Musalla! mungkin aku bisa mandi dan memperbaiki rambutku disana," senangnya lalu bergegas kesana.
Sesampai disana kebetulan waktu sholat Dzuhur kasih lama, jadi ia bisa leluasa masuk untuk mandi dengan tenang tanpa takut ketahuan.
Terlihat seorang gadis sedang menyapu teras Musalla. Ia menggunakan pakaian serba putih, jika dilihat - lihat sepertinya ia adalah seorang ustazah.
Gadis itu tak sengaja melihat ibu Rosalia yang sedang berjalan mengendap - endap agar tidak dapat terlihat olehnya, meskipun gadis itu sudah tau dan hanya tersenyum.
"Bu... Kenapa ibu berjalan seperti itu?" tanyanya hingga membuat langkah kaki ibu tersebut berhenti.
Rosalia yang sudah tertangkap basah hanya membalikkan tubuhnya lalu tersenyum kikuk kepada gadis itu.
"Apa kamu tidak takut padaku? sedangkan orang diluar sana banyak yang mengatakan aku gila," tanyanya sambil menunduk.
Gadis itu hanya memandang teduh pada Rosalia lalu menaruh sapunya kedinding Musalla sebelum menghampirinya.
"Ibu ini ada - ada saja, mana mungkin saja mengira kalau ibu itu adalah orang gila. Orang hanya rambut ibu saja kok yang berantakan," ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Iya bu," ucapnya serius.
"Oh iya! ibu sebenarnya mau kemana? kok kayak orang ketakutan begitu?" tanyanya.
"Sebenarnya saja hanya ingin mandi disini... Cuma saya takut ketahuan hingga tidak di izinkan nanti," ungkapnya.
"Takut ketahuan sama saya?" tanyanya yang kini sudah terkekeh pelan.
"I - iya" jawabnya terbata - bata.
"Sudahlah bu... Tidak perlu gugup begitu... Aku tidak mungkin melarang ibu..." ucapnya serius.
"Ya sudah! terima kasih, kalau begitu saya pamit mau mandi dulu ya." izinnya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
Belum pernah ia melakukan hal itu, biasanya orang kalangan dibawahnya yang melakukan hal itu padanya tapi kini roda telah berputar begitu cepat, hingga ia jadi merasakan posisi mereka yang lebih banyak menggunakan topeng diwajah mereka.
"Bu... Bagaimana kalau ibu mandinya dirumah saya saja," usulnya sambil menaruh satu tangan didadanya.
__ADS_1
"Apakah itu tidak merepotkan kamu nak? dan orang tuamu juga," tanyanya merasa ragu.
"Ah... Ibu tidak perlu khawatir! aku hanya tinggal sendiri kok," ucapnya yang membuat Rosalia terkejut dan sempat berpikir buruk kepadanya.
"Maaf nak... Apa orang tuamu masih hidup?" tanya Rosalia hingga membuatnya menggeleng lemah lalu dengan cepat menghapus aliran air mata yang mengalir dipipinya.
"Aku sudah tiga tahun hidup sendiri, ayahku meninggal ketika usiaku sudah menginjak 15 tahun sedangkan ibuku lebih dulu meninggal sebelum ayah karna beliau sebelum dinikahi oleh ayah juga sudah mengalami sedikit gangguan jiwa." jelasnya.
"Maaf telah membuatmu harus menceritakan kejadian pahitmu," ucap Rosalia ikut merasakan sedih.
"Tidak apa - apa Bu... Sekarang Insya Allah aku sudah bisa hidup tanpa mereka... Aku akan berjuang untuk kebahagiaanku sendiri karna aku tidak mempunyai saudara kandung satu pun," jelasnya lagi.
"Eh! dari pada ibu lelah berdiri hanya untuk mendengarkan dongeng sedihku lebih baik kita langsung kerumah ku saja ya..." ajaknya lalu menarik tangan Rosalia untuk ikut berjalan mengiringi langkahnya.
Rumahnya ternyata berada dibelakang Musalla, terlihatlah rumah kecil yang terbuat dari bambu tapi masih bisa berdiri kokoh.
"Ayo masuk Bu, maaf rumahku jelek." ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Tak apa - apa... Yang penting kamu kan masih punya rumah untuk berteduh dari teriknya matahari dan derasnya air hujan," ucapnya sambil memegang pipi gadis itu dan memberikan senyuman manis.
Gadis itu hanya mematung sambil memandang wajah Rosalia, senyuman hangat itu membuatnya jadi teringat kembali kepada sosok ibunya sebelum benar - benar gila.
"Ibu! apakah ini engkau? tapi aku tau kalau engkau sudah tiada... Cuma kehangatan mu kenapa bisa aku rasakan dari sosok wanita yang baru kutemui ini," herannya.
"Oh iya! dimana kamar mandinya?" tanya Rosalia dan gadis itu jadi tersadar dari lamunannya.
"Ada didalam bu, mari." ajaknya setelah mengulurkan tangannya kedalam.
Setelah masuk gadis itu lalu meminjamkan baju mendiang ibunya kepada Rosalia agar ia tidak memakai baju rumah sakit lagi.
Usai mandi Rosalia keluar dengan rambut panjangnya yang sedikit basah usai ia peras, dan itu malah membuat gadis itu semakin mematung ditempat.
"Ibu! kenapa wanita ini sangat mirip denganmu?" tanyanya merasa sedih lalu tanpa sadar setetes air mata mulai jatuh keatas tanah rumah yang menjadi tempat ia berpijak sebelum sempat ia tahan.
__ADS_1