
Pagi ini adalah pagi yang begitu mendebarkan bagi Zaldira, ia sudah tampak cantik dengan baju toga dan topi toga yang di kenakannya.
Jantungnya bergitu berdetak kencang saat guru membacakan setiap nama murid untuk maju ke atas panggung wisuda.
"Ya Allah... Semoga saja usahaku kali ini berhasil... Selama ini aku tidak pernah bisa mendapatkan juara satu, aku selalu saja ada di juara kedua." batinnya berharap.
Selain mencemaskan hal itu iya juga memikirkan kedatangan Miftah dan yang paling penting adalah Zamrud yang sudah ia beritahukan sebelumnya.
"Aku harap kak Miftah dan kak Zamrud juga datang sih... Aku sangat ingin melihat kehadiran mereka selain ibu dan ayah saja," harapnya.
Dan kini tanpa sadar namanya sudah di panggil untuk naik ke atas panggung. Guru yang berdiri di dekat tangga hanya tersenyum dan memberikan semangat untuknya yang berusaha membalas senyuman meskipun sulit.
Entah mengapa bibirnya seperti beku untuk tersenyum akibat begitu gugup saat menerima laporannya yang entah mendapatkan predikat apa.
Ternyata ia mendapat predikat istimewa yang hampir membuat air matanya jatuh di tempat saking tidak percayanya.
Sejak dulu Zaldira memang terkenal sebagai siswi yang patuh dan jarang berbuat onar. Meskipun ia pernah menendang bahkan memukul pria di saat ada yang mengganggunya, itu tidak pernah terdengar sampai ke telinga dewan guru.
Ia juga wanita yang tak segan - segan mengancam jika sudah marah besar dan itu sukses membekap mulut siapa pun yang berani bermain curang di belakangnya.
Bukan tanpa alasan Zaldira bersikap seperti itu, terkadang ada pria yang ketika cintanya di tolak ia hendak melakukan niat jahat kepada lawan yang menolaknya dan itu sungguh membuat Zaldira muak karna sempat teman dekatnya yang menjadi korban.
Semenjak Zaldira ikut campur dalam urusan mereka, dan membasmi geng yang sok berkuasa di sekolah tersebut akhirnya hal itu tidak pernah terjadi lagi.
Itu sebabnya jalanan terasa sunyi saat di lewati olehnya. Hanya ada para siswi yang sibuk melempar senyuman kepadanya karena berkat Zaldiralah mereka jadi merasa tenang.
Zaldira memecahkan geng mereka juga tidak mudah, berkali - kali Zaldira di jebak hingga hampir saja celaka. Tapi bukan Zaldira namanya jika ia tidak berusaha dan mencari trik untuk keluar dari masalah tersebut.
Geng tersebut jadi berpencar saat Zaldira sudah mengalahkan seorang pria yang merupakan kepala pemimpin mereka.
Dialah yang menghasut banyak siswa untuk masuk ke gengnya dan membuat onar di mana - mana.
Zaldira memang tidak pernah belajar yang namanya bela diri, tapi entah kenapa ia dapat dengan mudah menumbangkan lawannya yang jumlahnya lebih dari satu orang dalam beberapa menit saja.
Ketika Zaldira sedang mengambil rapornya ia di kejutkan dengan ucapan speaker yang membuatnya begitu tak percaya.
__ADS_1
"Selamat untuk kak Zaldira atas kelulusannya, kami mewakilkan seluruh pihak sekolah untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya. Karna dengan keberanian kak Zaldira sekolah kita dapat kembali tentram tanpa adanya hal yang mengganggu aktivitas di dalamnya akibat terbentuknya sebuah geng yang tak patut untuk di tiru," ucap seorang siswi yang memegang mik.
Umurnya beda setahun dengan Zaldira karna yang membacakan hal itu adalah angkatan sebelumnya.
Kini Zaldira merasa seperti mimpi, ia tak sanggup lagi untuk berkata - kata banyak hal. Apa lagi saat mengetahui jika yang menduduki juara satu adalah dirinya, tubuhnya hampir ambruk di tempat.
Suara tepuk tangan yang tak tertahankan mulai bergemuruh di kursi para tamu dan teman - teman seangkatan tak lupa adek kelasnya.
Guru - guru yang awalnya berdiri di sebelah meja mulai keluar untuk memberikannya sebuah pelukan hangat.
"Terima kasih pak, Bu." ucapnya sambil menghapus air matanya yang tak mampu lagi untuk di bendung olehnya.
"Sama - sama Zaldira, maaf hanya ucapan yang bisa kami berikan. Kami bahkan sangat terkejut saat mengetahui kabar tersebut. Sebenarnya sejak dulu kami saja para dewan guru tidak dapat menghentikan kegiatan mereka," ucap guru pria sambil tersenyum dan Zaldira membalas senyumannya.
Dan kini Zaldira turun dan duduk kembali di kursinya dengan perasaan bangga. Meskipun begitu, ia akan terus mengingat untuk tidak boleh terlalu mengagumkan dirinya sendiri.
Nama Zaldira adalah nama yang terakhir di sebut dan kini mereka kembali ke panggung untuk acara berpoto bersama.
Di perjalanan ke panggung entah itu teman siswa atau siswinya banjir memberikan ucapan selamat kepadanya yang mendapatkan pujian langsung dari pihak dewan guru.
Selesai dengan semua acara itu Zaldira turun dan mencari - cari dua sosok insan yang sangat berharga dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan sosok orang tuanya yang sangat ia sayangi bahkan hormati.
"Ibu! ayah! Alhamdulillah Zaldira berhasil mendapatkan juara satu di akhir kelulusan Zaldira ini," beritahunya meskipun orang tuanya sudah mendengarnya.
Tangannya sejak tadi sudah memeluk kedua orang tuanya yang sedang menyembunyikan sesuatu di balik tubuh mereka.
"Eh! kok ibu sama ayah gak balas peluk Zaldira sih? apa gak sayang lagi lagi yah..." ambeknya sambil memanyunkan bibirnya.
"Hahaha kamu ini ada - ada saja putri ayah..." responnya.
"Benar banget itu ayah..." sambung sang ibu sambil terkekeh, lalu secara bersamaan setelah saling mengedipkan matanya pada satu sama lain mereka mengeluarkan benda yang sejak tadi di sembunyikan.
"Selamat ya sayang atas kelulusan kamu," ucap mereka serentak.
Zaldira kaget bukan main saat sang papa memberikannya sebuket bunga mawar merah yang hidup, sedangkan mamanya sebuah kado berukuran besar dengan pita merah.
__ADS_1
"Ya Allah apa ini? ya ampun... Thanks banget pokonya ya ibu... Ayah..." terharunya yang kembali memeluk mereka yang balas memeluknya.
Tiba - tiba saja pelukan mereka terlepas saat mendengar suara berat dari seorang pria yang tersenyum ke arah mereka.
"Eh! den Zamrud kesini juga?" ucap sang ibu.
"Iya Bu, saya kesini untuk memberikan selamat pada Zaldira atas kelulusannya." responnya sambil memberikan sebuket bunga warna warni kepadanya.
"Bunga ini adalah hadiah utama untukmu, kejutannya nanti nyusul ya..." sambungnya yang membuat Zaldira menggeleng.
"Kaka... Kaka hadir ke acara kelulusan Zaldira saja itu udah hadiah terindah kok buat Zaldira," ucapnya yang lupa jika di sampingnya masing ada orangtuanya.
"Hahaha ayah gak nyangka putri ayah sudah sangat dewasa ya..." ucap ayahnya yang sontak membuat Zaldira menunduk malu.
"Ya ampun ayah... Jangan gitu... Zaldira kan jadi malu," tegurnya.
"Iya deh iya... Putri ayah yang cantik," godanya lagi yang sontak membuat Zaldira tak dapat menahan senyumannya yang begitu manis.
"Ya putri bapak memang sangat cantik, rasanya saya ingin cepat - cepat meminangnya," ucapnya santai dan itu membuat Zaldira terbatuk - batuk di buatnya.
"Kaka! ngomong apa sih? apa Kaka tidak malu," seru Zaldira dengan tatapan tajam.
"Hehe! ngapain marah banget coba? kan kita udah mau berjalan serius hubungannya," jawabnya apa adanya.
"Hadeh... Kaka ini... Memang terlalu jujur ya..." resahnya sambil memegang dahinya dan itu sukses membuat ayah ibu juga Zamrud tertawa di buatnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1