Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 161


__ADS_3

     Miftah jadi merasa kasian saat melihat kondisi Firdaus yang tampak begitu rapuh untuk saat ini. Ia jadi balas memeluknya dan mengelus pundaknya dengan niat hanya untuk menenangkan dirinya saja.


     "Kaka... Sudah tenangkan diri Kaka dulu... Kalau Kaka masih gak sanggup untuk mengungkapkannya, Miftah bisa menunggu Kaka kok dan gak akan memaksa Kaka untuk saat ini." ucapnya sedikit berbisik di telinga Firdaus.


     "Gak papa Mif... Kaka udah tenang kok," responnya terpaksa berbohong.


     "Mana ada Kaka tenang? justru Kaka terlihat begitu down sekarang," resah Miftah.


     "Mif..." ucapnya yang sontak membuat Miftah melihat kepadanya.


     "Iya Kaka, ada apa?" tanyanya yang masih saja mengelus punggung Firdaus.


     "Kaka cuma mau minta maaf sama kamu... Karna gara - gara Kaka kaki kamu jadi sakit..." jawabnya.


     "Ya ampun Kaka... Bukannya tadi Miftah sudah bilang sama Kaka kalau sakit kaki yang Miftah rasakan tadi bukan salah Kaka... Karna sudah dari kemarin memang sering sakit," responnya tak habis pikir.


     "Iya Kaka tau... Seandainya Kaka gak lupa kasih obat dari Kaka dokter kenalan kamu itu pasti kaki kamu udah lebih baikan," ungkapnya.


     Miftah jadi bingung saat mendengar pengakuan dari Firdaus dan sempat berpikir jika Firdaus mungkin lupa memberikan obat itu padanya sampai hari ini.


     "Tapi Kaka malah lupa Ratuku... Kaka malah gak kasih obat itu ke kamu... Obatnya masih Kaka simpan di dalam laci meja kamar Kaka..." sambungnya sambil menghembuskan napas panjang.


     Saat mendengar kelanjutan dari apa yang Firdaus katakan Miftah jadi semakin tak percaya di buatnya, ia heran. Kenapa hanya gara - gara lupa memberi obat ia sampai begitu takut? bukankah nanti ia hanya akan di tegur ringan oleh orang tuanya.


     "Mif... Kamu kok diem aja," ucapnya yang kini sudah merasa tenang dan melepaskan pelukannya terhadap Miftah.


     Matanya yang sudah merah berair jadi bertemu kembali dengan Miftah.


     "Kaka... Jika hanya karna masalah lupa obat mama dan papa tidak mungkin sampai marah berlebihan sama Kaka... Kaka kan putra mereka... Lagian Kaka juga gak sengaja," responnya sambil menaruh satu tangannya di pundak Firdaus.


     "Mif... Kamu gak tau kalau ortuku itu gimana di belakang kamu... Kamu gak tau waktu dulu sikap mereka sering sekali menekanku... Dan kamu gak tau bahwa gara - gara keputusan mereka aku-" ucapannya terhenti.


     "Jadi mencintai dua orang wanita yang tak bisa aku sakiti salah satunya hingga sulit untuk memilih... Nama kalian juga sama - sama memiliki kata Jannah," batinnya tak habis pikir.


     Bayangan masa lalunya yang teringat kembali ancaman sang papa mulai berputar di kepala jika ia sampai menyakiti Miftah lagi, dan perusahaan yang dulunya sudah di paksa ia bangun dengan mudahnya akan di ambil alih jika sampai tidak dapat mengikuti kemauan mereka.

__ADS_1


     Sekarang Firdaus bisa apa? ia hanya bisa merintih. Ia tertekan sekarang, tapi untuk saat ia masih merasa bersyukur karna Jannah tidak merasa heran dengan dirinya sedikit pun.


     Biasanya ia tidak pernah absen Status Wanya meski hanya sekedar foto ketika ia sedang berada di perusahaannya.


     Namun sekarang ia benar - benar sudah memprivikasikan itu semua dari Jannah, ia juga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya jika Jannah sudah tau semuanya.


     Jujur! Firdaus tak sanggup melihat Jannah ikut terluka, di tambah janji masa lalu yang sangat ia sesali telah terucap dan saling memutuskan.


     "Ya Allah... Aku bingung..." batinnya merintih sambil memegang kepalanya.


     "Kaka! Kaka kenapa? Kaka," panik Miftah berusaha menurunkan dua tangan Firdaus yang memegang kepalanya.


     "Jangan! aku gak mau kau pergi! jangan! jangan!" racaunya yang kini sudah benar - benar frustasi dengan bayangan masa lalunya.


     Miftah tak dapat menahan air mata yang tertahan di pipi indahnya, ia jadi ikut terluka saat melihat kondisi Firdaus yang seperti itu.


     "Kaka... Kaka kenapa?" tanyanya sedikit cemas.


     "Jangan! jangan..!!!" pekiknya yang kini sudah berbaring sambil terus memegang kepalanya.


     Ia bersyukur karna kakinya tak lagi merasakan rasa sakit hingga ia dapat dengan mudah berjalan kembali tanpa perlu di papah.


     Miftah yang sudah bingung ingin berbuat apa hanya tertunduk sambil menangis deras dan ajaibnya itu sukses membuat Firdaus tersadar saat melihat ke asal suara.


     "Eh! Ratuku," ucapnya langsung bangkit dari tempat berbaringnya.


     "Kamu kenapa Ratuku?" tanyanya lagi dan Miftah masih membisu.


     "Kaka! harusnya aku yang tanya sama Kaka kalau Kaka ini sebenarnya kenapa? bukan Kaka yang tanya sama Miftah," resahnya yang kini sudah menatap matanya.


     "Kaka! kalau ada masalah udah cerita aja sama Miftah, Miftah janji gak akan bilang siapa - siapa dari pada Kaka jadi kayak gini. Miftah sayang sama Kaka! kalau Kaka kayak gitu Miftah jadi ikutan sedih Kaka..." ungkapnya tanpa sadar sambil menghapus aliran air matanya beberapa kali.


     "Memangnya Miftah gak bisa Kaka percaya ya? sampai Kaka lebih suka memendam masalah yang memberatkan Kaka? aku mau jadi istri Kaka lho!" geramnya.


     Firdaus tak dapat berkata apa - apa lagi, ia tau jika kata - kata yang keluar dari mulut Miftah itu benar - benar tulus dari dalam hatinya.

__ADS_1


     Dengan sigap ia mendekat kearah Miftah yang malah menggeser tubuhnya untuk menjauh.


     "Miftah kemarilah! aku hanya ingin memelukmu Ratuku," resahnya.


     "Katakan dulu padaku jika Kaka ini sebenarnya kenapa? tak mungkin jika gara - gara lupa memberi obat Kaka sampai sefrustasi itu," desaknya.


     Firdaus kembali menunduk, ia menarik napas dalam lalu membuangnya.


     "Ratuku! aku minta maaf sama kamu, untuk sekarang lisanku kasih kelu untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan sekarang. Tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk memberitahukannya padamu jika kondisiku sudah benar - benar tenang," ucapnya kembali mendekat dan Miftah akhirnya tak lagi menggeser tubuhnya untuk mundur kebelakang.


     Tangan Firdaus sudah ia rentangkan selebar - lebarnya, berharap gadisnya mau masuk ke dalam dekapannya untuk yang kesekian kalinya.


     Kini Miftah tak dapat menolak, ia tau jika ia tidak ada hak untuk memaksa Firdaus percaya terhadapnya.


     Dengan ragu ia mulai menggeser tubuhnya ke depan dan memberikan Firdaus pelukan kembali.


     "Maaf kak, karna sudah memaksamu untuk menceritakan masalah terberatmu," ucapnya yang mulai mengarahkan wajahnya dalam dekapan Firdaus.


     "Sssttt... Sudahlah... Harusnya aku yang minta maaf sama kamu karna tidak tidak dapat mengendalikan diriku," responnya sambil menaruh satu telunjuknya di bibir Miftah.


     "Iya Kaka... Aku maafkan! tapi nanti beneran ya kalau udah tenang Kaka cerita," harapnya berusaha tersenyum.


     "Iya Ratuku... Kaka pasti akan cerita ke kamu kok jika Kaka sudah tenang," responnya sambil menghapus aliran matanya dengan satu ibu jarinya.


     "Jadi jangan nangis lagi yah! kasian mata Ratuku jadi makin bengkak nanti, udah biar mata Rajamu aja yang merah dan bengkak ya..." sambungnya hingga membuat Miftah mengangguk mengiyakan.


     "Baiklah Kaka..." responnya lalu mereka kembali berpelukan erat.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2