
Malam yang di tunggu - tunggu pun telah tiba, Jannah masih terlihat was - was saat menunggu di dalam kamarnya dan Firdaus.
"Duh... Bagaimana caranya aku menolaknya nantinya? kenapa aku jadi begitu gugup begini?" resahnya sambil menaruh satu tangannya di dada.
Ia mulai merasakan dengupan jantungnya yang tak bisa di tahan dan terus menonjoknya dari dalam.
"Ya Allah... Hamba mohon kuatkan hamba untuk mengatakan hal ini, hamba benar - benar tak ingin terlalu terlilit cinta yang tak sebenarnya tulus kepada hamba." batinnya menguatkan dirinya.
"Krek,"
Terdengar suara gagang pintu terbuka, dan benar saja jika pelaku yang membuka ialah suaminya yang tengah tersenyum manis ke arahnya.
Senyumannya yang begitu manis sungguh dapat meluluhkan beberapa kali hati kaum hawa apa lagi Jannah sendiri, tapi ia tetap harus menyadarkan dirinya berulang kali agar tak terlalu terpikat.
Jantungnya semakin membuatnya menunduk dalam, karna langkah kaki Firdaus sudah hampir dekat dengannya lalu duduk di sampingnya.
Bisa ia rasakan satu tangan kekar Firdaus mengelus puncak kepalanya yang sedang tak memakai hijab, darahnya mendesir begitu saja.
"Sayang, kamu tampak cantik malam ini." pujinya sambil mengecup umbun - umbun kepala Miftah.
Firdaus tanpa meminta izin terlebih dulu mulai membalikkan tubuh Jannah agar duduk miring menghadap ke arahnya.
"Maafkan aku sayang, aku dulu selalu mengabaikanmu. Aku bahkan tak peduli betapa dirimu terluka dengan perubahan sikapku yang semakin hari semakin dingin."
"Aku minta maaf ya sayang, mulai sekarang Insya Allah aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Bahkan untuk anak - anak kita nanti yang lahir dari rahimmu," ucapnya sambil mengelus pelan perut Jannah yang masih rata.
Jannah jadi terpaku sesaat, kata - kata Firdaus Kembali membuat pintu hatinya terbuka lebar tanpa ada halangan.
Jujur! ada rasa bahagia yang terus bergemuruh di dalam dirinya, melihat tatapan mata Firdaus yang penuh kesungguhan.
"Jadi aku mohon, berikanlah hakku malam ini." pintanya sambil mendekatkan wajahnya ke arahnya Jannah.
Jannah sampai menahan napas saking merasa sesak.
Bibir Firdaus hendak menyapa bibir Jannah yang begitu ranum, tapi belum sempat ia menikmatinya tiba - tiba saja Jannah menahan Firdaus dengan satu tangannya hingga menempel dengan wajah Firdaus, hampir saja.
__ADS_1
Sebelumnya saat Firdaus hendak menciumnya, tiba - tiba saja pandangan Jannah yang tertuju pada manik mata Firdaus jadi memantulkan sosok Miftah yang sedang menangis di dalam sana.
"Tidak, tidak bisa." ucapnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Firdaus sangat terkejut saat mendengar apa yang Jannah ucapkan, ia merasa jika Jannah telah menolak untuk di sentuh lebih olehnya.
"Sayang, kenapa kamu malah menahanku? apakah aku sekarang sudah menjadi salah satu orang yang di benci olehmu?" tanyanya murung meminta penjelasan.
Jannah kini bingung untuk menjawab apa.
"Ya Allah... Kenapa hamba begitu lemah? hanya untuk melihatnya murung saja hamba merasa tak mampu Rab," pekiknya dalam hati.
Tangannya kini bergerak untuk meremas daster tidurnya.
"Mas," ucapnya akhirnya setelah terdiam beberapa detik.
"Iya Jannah, tolong kamu jawab aku ya." pintanya sambil meraih dua tangan Jannah dan menggenggamnya erat menaruh di atas pangkuannya.
Jannah hanya menatap sakit ke arah tangan yang kini telah di sentuh oleh Firdaus.
Matanya sudah berkaca - kaca sejak tadi dan kini satu tetesan air berhasil lolos memberikan bekas seperti garis kecil di pipi indahnya.
"Apa pun yang membuatmu bahagia Jannah, aku pasti akan menurutinya demi kamu." responnya semakin menggenggam kuat tangan Jannah.
"Aku ingin kita bercerai mas dan aku mohon sama kamu untuk talak aku sekarang juga, karna aku benar - benar sudah tidak bisa lagi memberikan hakku padamu mas." ucapnya.
Firdaus sangat terkejut saat mendengar apa yang di minta oleh Jannah, kepalanya terus saja menggeleng ke sana ke kemari.
"Tidak, tidak. Kamu ngomong apa sih sayang? aku yakin kalau kamu pasti sedang bercanda ya kan?" tebaknya sambil menghapus aliran air mata Jannah yang kembali tumpah.
"Aku gak lagi becanda mas, aku benar - benar serius untuk bercerai darimu." jawabnya.
"Gak, gak mungkin. Pasti ada hal lain ini denganmu, apa cuma gara - cara sikapku yang begitu dingin kemarin itu kau jadi ikutan dingin terhadapku?" pikirnya sambil memijat dagunya.
"Tidak mas, sama sekali tidak." responnya cepat karna ia sudah kembali tenang.
__ADS_1
"Lalu jika tidak kenapa Jannah? cepat jelaskan, apakah salah jika seorang suami yang sudah lama mendiami istrinya meminta haknya ketika sudah kembali sadar?" resahnya.
"Gak salah kok mas, itu kan kewajibanku sebagai istrimu. Namun sekarang aku sudah sadar mas, kenapa sejak kemarin itu kamu masih tak ingin menyentuhku. Apa karna bayangan beberapa tahun silam saat kita baru bertemu di pantai mengganggu pikiranmu mas?" tanyanya.
Firdaus terdiam, ia sama sekali tidak berpikir karna hal tersebut.
"Memang apa yang kamu katakan ada benarnya Jannah, tapi tak semuanya mengarah pada saat malam itu." elaknya.
"Aku tidak percaya, sudah jelas kamu pasti masih merasa tidak enak menyentuhku karna kamu takut nantinya ikut menyakitiku kan mas? di hati kamu itu sudah masuk dua orang wanita yang sulit untuk kamu lepaskan."
"Jika aku mungkin kamu tak tega melepaskan karna kamu kasihan dan tak ingin membuat aku terluka, sedangkan Miftah memang cinta mu yang sekarang."
"Kamu harus sadar mas, kalau hati kamu itu saat ini sedang mengarah pada siapa. Jangan bodohi perasaanmu sendiri, masalah aku kamu tidak perlu memikirkannya yang penting kamu sudah menepati janjimu."
"Sebelum kamu datang memang ada seorang Kaka yang sudah lama cukup dekat denganku juga saat kamu sudah hilang kontak denganku, ternyata ia juga menyukaiku tapi aku berusaha menutupi perasaanku demi kamu."
"Jadi aku tau rasanya berpura - pura bodoh atas arahan hati setiap kali berdekatan dengan orang yang kita cintai pasti akan berdengup kencang, jika jauh pasti akan menimbulkan rindu yang cukup besar."
"Aku minta kita bercerai karna aku yakin kalau kamu itu lebih bahagia jika hanya ada Miftah seorang yang menjadi istrimu, dari pada seperti sekarang. Meskipun Status Miftah itu masih istrimu, tapi tetap saja bak orang asing yang belum pernah mengenal akibat menjauh."
"Tapi semua sudah terlambat Jannah, Miftah tidak mungkin mau kembali bersama pria kejam sepertiku." murungnya yang kembali mematung sambil menggigit bibir bawahnya.
"Insya Allah jika Allah sudah berkehendak tidak akan ada kata terlambat mas, sebuah hubungan yang tampak sudah hancur berkeping - Keling juga bisa kembali utuh dengan seizi-Nya." ucap Jannah menguatkan.
"Makasih Jannah, kamu memang istriku baik dan tidak egois. Sifat dan nama kalian saja hampir sama, jadi wajar saja kalau agak mirip banget ya." pujinya.
"Hahaha kamu bisa aja mas," tawa Jannah sambil menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.
Mereka kembali berbincang serius sebentar lalu memutuskan untuk tidur karna jam sudah hampir larut malam dan Firdaus juga tidak ingin bergadang karna ada meeting pagi dengan beberapa rekannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇