
Kini Miftah sudah berada di kamarnya, ia pun memutuskan untuk pergi berwudhu. Ia sangat cemas karna jantungnya masih tak berhenti berdebar dengan kencang sejak tadi dan ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk menutupi rasa gugupnya.
"Apakah aku coba wa Kaka aja ya? ya ampun... Mana berani aku tanyakan hal itu kekaka... Apa lagi kalau nanti emang bukan Kaka yang kirim bunga itu... Aku harus bagaimana ini..." resah Miftah yang sudah terduduk di atas ranjangnya.
Akhirnya ia memilih berwudhu terlebih dahulu untuk menenangkan diri sekalian melaksanakan ibadah Sholat Dhuha seperti biasa.
Usai berwudhu Miftah bergegas menggunakan mukenanya dan saat ia ingin melaksanakan sholat tiba - tiba Zaldira manggilnya dari luar.
"Kak Miftah... Kaka... Zaldira izin pamit dulu yah kaka..." ucapnya setelah mengetuk pintu tiga kali.
"Baiklah dek... Hati - hati dijalan ya..." respon Miftah sedikit berteriak.
"Oke Kaka," jawabnya dan akhirnya terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin lenyap dari pendengaran.
Miftah pun melanjutkan kembali niatnya yang sempat tertunda, ia berusaha untuk fokus meskipun sekarang pikirannya sedang berkecamuk.
Usai sholat Miftah memutuskan keluar dari kamar dan di lihatnya Zamrud dan Wahyu yang kini sedang sibuk membereskan meja makan dan mencuci piring kotor yang ada dirumahnya.
"Lha! Kaka gak usah repot - repot... Biar aku saja... Kenapa harus kak Zamrud dan kak Wahyu yang turun tangan?" tanya Miftah merasa tidak enak.
"Udah... Gak usah sungkan - sungkan... Kamu kan udah anggap kami kayak keluargamu, jadi anggap aja aku dan Wahyu itu adalah abangmu sedangkan Zaldira adikmu." jelas Zamrud sambil merangkul Wahyu.
"Bener banget," responnya yang senang akibat temannya sudah tenang.
Miftah sangat terharu mendengar penuturan dari Zamrud karna sudah lama semenjak kematian nenek dan kakeknya ia merasa seperti hidup sendiri didalam hutan tanpa ada keceriaan, tapi sekarang Allah telah merubah hidupnya sehingga ia jadi semakin giat untuk berubah sebagai tanda rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan untuknya.
"Makasih ya Kaka," ucap Miftah yang mulai berlinang air mata.
"Lho! kok kamu malah nangis?" tanya Wahyu khawatir.
"Tidak kaka... Aku hanya merasa bahagia saja..." jawabnya.
"Ya ampun... Kalau begitu hapus aja yah air matanya... Jangan nangis lagi oke... Kami kan jadi sedih kalau kamu menangis," hibur Wahyu.
"Benar itu apa yang dikatakan Wahyu," balas Zamrud.
Dengan senang Miftah pun berusaha menghapus air matanya sambil memberikan senyuman kepada mereka tak lupa kata terima kasih.
"Sudah... Tidak perlu banyak mengucapkan terima kasih," ucap Wahyu.
"Baiklah kalau begitu... Sekarang Kaka udah pada siap kan? jadi kaka pulang aja... Yang lainnya biar Miftah aja yang lanjutin," pintanya.
"Enggaklah... Nanggung ini bilas dikit lagi... Lagian cuma bekas kami makan aja kok sama punya mu memasak tadi pagi... Gak salah kan kaka bantu..." ucap Zamrud.
"Baiklah kalau begitu," respon Miftah hingga akhirnya setelah semuanya siap mereka pun pamit kepadanya untuk kembali kerumah mereka masing - masing karna mereka masih ada tugas lagi dikebun burung.
Miftah hanya mampu menatap punggung mereka yang semakin lama semakin lenyap dari pandangan matanya lalu ia memilih masuk kembali kedalam kamar untuk beristirahat dan tiba - tiba saja satu pesan masuk melalui wanya.
Saat Miftah membukanya ia sangat terkejut dengan apa yang tertulis dari pesan tersebut oleh Firdaus.
- Firdaus -
__ADS_1
Assalamualaikum Ratuku...
Gimana kejutan bunga mawar putih yang sudah kutitip setiap hari?
Apakah kamu suka?
Mereka melakukan tugas mereka dengan baikkan?
Tangan Miftah sampai bergetar dibuatnya, ia benar - benar tak menyangka jika Firdaus lah yang telah mengirimnya bunga mawar putih dengan harga ya... Bisa kita bilang gak kaleng - kaleng
- Miftah -
Wa'alaikum salam Kaka... Kaka beneran gak lagi becanda kan? 😓
- Firdaus -
Iya... Ini beneran... Jangan - jangan kamu dapat nya jarang - jarang ya? harus demo ini 😼
- Miftah -
Eh! enggak sama sekali kok Kaka... Aku malah sangat terkejut... Bahkan hampir gak percaya sama sekali bahwa bunga itu dari Kaka... 😥
- Firdaus -
Masak iya kamu gak percaya? jangan - jangan kamu punya cowok lain ya... 😒
- Miftah -
Lah! emangnya kenapa? kan suka - suka aku...😅
- Firdaus -
- Miftah -
Enggak 🙄
- Firdaus -
Ya karna kamu itu Ratunya Rajalah... Masak itu aja harus dibilangin 😥
- Miftah -
Ingat ya Kaka... Kita ini kan cuma temenan dan gak lebih sama sekali 😧
- Firdaus -
Jadi kamu beneran gak ada rasa sama Kaka? apakah jantung kamu gak pernah bergetar atau pipimu memerah gitu?
- Miftah -
😕😕😕
- Firdaus -
Berarti aku sudah salah selama ini... Aku kira kamu juga cinta sama aku ternyata oh ternyata hanya aku saja seorang... 😰
Miftah bingung ingin menjawab apa lagi, sebenarnya ia sudah menyukai Firdaus juga walau pun mereka masih tak saling mengenal antara satu dan yang lainnya cuman didalam lubuk hati Miftah masih tersimpan sebuah keraguan.
__ADS_1
- Firdaus -
Kok gak dibalas - balas? 😣
- Miftah -
Maaf kaka... Sebenarnya aku juga menyukai Kaka... Tapi hati aku masih ragu... Ditambah lagi kita belum pernah saling kenal...
- Firdaus -
Apakah wajah ku itu penting bagimu 😶
- Miftah -
Eh! enggak kok kaka... Jangan salah paham ya... 😦
- Firdaus -
Jadi... Apakah kamu mau menjadi Istriku? aku serius! jika mau mari kita bertemu dan aku tidak akan menipumu 😎
Bagai disambar petir disiang bolong Miftah benar - benar dibuat terkejut akan hal ini.
"Kenapa ini terjadi begitu cepat?" batinnya.
"Apakah aku harus langsung menerimanya? satu sisi aku sudah yakin, tapi satu sisi lagi aku masih dihantui keraguan." batinnya lagi.
- Miftah -
Kaka... Bisakah kaka memberiku waktu sampai besok? aku harus mencari jawaban terlebih dahulu karna Kaka mengungkapkannya begitu mendadak 😫
- Firdaus -
Baiklah sampai jumpa besok 🖐️aku akan menantikan jawabanmu, harap kamu memikirkannya baik - baik dan jangan asal menentukan keputusan yang ujungnya akan membuatmu menyesal
- Miftah -
Baiklah 😊
- Firdaus -
Karna aku tidak akan memintanya dua kali Miftah... Kamu harus tau itu 😏
- Miftah -
Oke Kaka 🤗
- Firdaus -
Ya sudah aku pamit dulu 🙂
- Miftah -
Iya Kaka ☺️
Miftah pun merasa sedikit lega saat cetannya berhenti, sejak tadi jantungnya sudah mulai berdetak tidak normal akibat ungkapan yang Firdaus sampaikan padanya.
__ADS_1
Kini Miftah memilih tidur agar pikirannya rileks kembali, dalam sekejap setelah ia selesai membaca doa tidur ia pun langsung terlelap masuk kedalam mimpi indahnya.