Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 74


__ADS_3

     Disisi lain saat Miftah hendak melangkahkan kakinya menjauh, ada rasa ragu yang terus bersemayam dihatinya.


     "Kok aneh ya! nyonya itu bersikap kejam banget sama aku! sorot matanya saja menampakkan kebencian," pikirnya.


     "Ini tidak seperti biasanya! pasti ada yang gak beres! segalak - galaknya pemilik pasti tetap ada rasa simpatinya kepada pengunjung meskipun sedikit, bukannya main ceplas - ceplos saja sesuka hati." gumamnya sambil memijat dagunya sendiri.


     "Aku cari tau aja deh!" ucapnya lalu berbalik badan hendak menyelidiki sang nyonya.


     Miftah terus saja mengendap - endap di samping dinding ruangan yang tadi sempat ia datangi.


     Jantungnya mulai berdengup kencang saat sang nyonya hendak melangkah didekat tempatnya berdiri.


     "Dreeet... Dreeet... Dreeet..." suara dering ponsel mulai terdengar dari saku rok sang nyonya. Ia pun bergegas untuk mengambilnya.


     "Halo bos! ada apa tadi bos menelpon saya?" tanya suara seorang pria dibalik telpon.


     "Kamu pakek acara tanya segala lagi!!!" bentaknya.


     "Ya maklum bos... Kan saya gak tau..." jawabnya.


     "Kamu gimana sih!!! jadi mata - mata kebun ini aja gak becus!!! ditelpon aja tadi gak langsung diangkat! keburu gadis itu datang kemari dan membuat emosiku meluap tinggi," omelnya.


     "Maaf bos! gadis yang mana ya?" tanyanya bingung.


     "Bukankah kamu sudah pernah memantaunya dulu sampai ia tinggal disebuah rumah yang hanya ditepati oleh dua orang suami istri yang sudah tua renta," jelasnya.


     "Terus masalahnya sekarang apa bos?" tanyanya merasa bingung.


     "Hei botak! kamu sudah lama bekerja denganku masih saja tidak paham dengan tugasmu! kalau begini terus bisa - bisa aku akan memecat mu," ancamnya.


     "Eh! jangan gitu lah bos... Santai aja... Namanya juga manusia bos... Tak luput dari lupa dan salah... Lagian aku juga udah lama gak bos suruh mata - matain dia lagi," ucapnya.


     "Ya sudah kalau begitu," responnya.


     "Dan sekarang saya ingin kamu cari dimana gadis itu sekarang! kalau kamu sudah menemukannya, kamu langsung usir dia dari kebun jeruk ini sebelum suamiku kemari," pintanya.


     "Baiklah bos," responnya.


     "Oke! Ingat! nama gadis itu adalah Miftahul Jannah! anak tunggal dari suamiku," jelasnya.


     "Baik bos!" responnya.

__ADS_1


     "Awas aja kalau kamu sampai lupa namanya! aku benar - benar akan memecat mu menjadi seorang mata - mata! untung saja aku tadi sempat mengenali wajahnya! jika tidak aku pasti sudah terlanjur mengizinkannya untuk bertemu dengan suamiku yang akan datang sebentar lagi," jelasnya.


     "Baik bos!" respon suara dibalik telpon lalu nyonya pun menutupnya Kembali.


     "Huh! bisa gawat kalau sampai gadis itu bertemu dengan suamiku! dan aku pasti tidak akan membiarkan itu terjadi! bisa - bisa suamiku bakal kembali dengan istri pertamanya setelah susah payah aku mendapatkannya," ucapnya.


     Miftah merasa sangat terkejut saat mendengar apa yang nyonya itu katakan. Dengan langkah perlahan ia hendak pergi dari tepat tersebut, tapi nasibnya sungguh sial karna kakinya tak sengaja menginjak botol plastik.


     "Aduh! bisa is dead aku kalau disini terus," batin Miftah.


     "Tunggu dulu! perasaan aku seperti mendengar sesuatu," ucap nyonya sambil melihat kesekeliling.


     Dan benar saja matanya menangkap sosok gadis yang hanya menyengir kuda dihadapannya.


     "Hehe! hai nyonya cantik... Jangan marah ya... Aku tadi cuma cari angin saja kesini... Terus aku kesasar deh! biasa nyonya... Kebun milik nyonya luas banget sih... Sampai pegel kakiku waktu nyelisurinya," ucapnya berusaha tenang.


     "Kamu! kamu jangan bohong ya! aku yakin banget kamu pasti udah dengar semua yang aku katakan kan?" tanyanya.


     "Kayaknya enggak tuh!" ucapnya terpaksa berbohong, kalau tidak pasti ia sudah di amuk olehnya sekarang juga.


     "Ya Allah... Aku minta minta maaf ya Rab..." batinnya sambil memejamkan mata.


     "Kamu kenapa? matamu udah kayak abis kemasukan?" tanya sang nyonya yang membuat Miftah membuka matanya.


     "Eh nyonya! dibelakang ada oppa! ya ampun... Ganteng banget..." ucapnya sambil terus menunjuk kebelakang sang nyonya.


     "Heh! emangnya aku bakal percaya apa sama gadis ingusan seperti mu?" responnya acuh.


     "Serius nyonya gak ngefas dengan oppa - oppa tampan Korea? oppa... Oppa... I love you," ucapnya berusaha membuat nyonya penasaran hingga ia jadi membalikkan tubuhnya dan saat itulah kesempatan berilian Miftah datang.


"Kurang ajar! berani - beraninya kau menipuku! dasar gadis ingusan!" ucapnya merasa geram karna tak menemukan sosok yang di beritahukan.


     "Hahaha... Sampai jumpa nyonya jahat! mana ada oppa - oppa tampan mau datang kekebunmu... Yang ada mereka pada lari semua saat mengetahui kebengisanmu yang suka banget rebut suami orang!" ledeknya.


     "Gadis ingusan? huh! sorry nyonya! aku ini adalah seorang gadis dewasa yang tak lama lagi akan menjadi istri orang, jadi kata itu sama sekali gak pantas untukku." elaknya sambil terus berlari menjauh.


     "Sialan! berani - beraninya kau menghinaku! awas saja kalau kamu sampai ketangkap! aku tak akan segan - segan menyiksamu hingga kamu memohon ampun dibawah kakiku," geramnya sambil mengepalkan tangannya kuat.


     Miftah terus berlari tak tentu arah, sedikit lagi ia akan menggapai gerbang, tiba - tiba ada yang menarik tangannya dari belakang yang tak lain adalah mata - mata sang nyonya.


     "Akhirnya! aku menemukanmu! nyonya pasti tak akan memecat ku lagi," ucapnya sambil tersenyum miring.

__ADS_1


     "Sial! aku tertangkap ditempat yang lumayan sepi lagi! pasti sulit bagiku untuk meminta tolong," batinnya merasa cemas.


     "Hahaha! mau lari kemana kamu manis? aku dengan senang hati melepaskanmu jika kamu bersedia menjadi pacarku," tawarnya sambil tersenyum ke arah Miftah.


     "Bhukkk,"


     "Bhukkk,"


     "Bhukkk!"


     Suara pukulan keras terdengar begitu keras dari punggung sang mata - mata yang sedang di tinju oleh seorang pria tampan yang tak lain adalah Firdaus, tanpak jelas api kemarahan sedang berkobar dibalik tatapan matanya.


     Pria tersebut terjatuh tepat dihadapan Miftah yang berhasil menghindar, ia hanya mampu merintih sambil memegang punggung nya yang terasa hampir remuk dibuatnya.


     Firdaus menggunakan kedua tangannya untuk meninju bagian punggungnya dengan tiga kali serangan dan yang paling kuat adalah tinjuan terakhir.


     "Berani - beraninya kamu merayu wanitaku! bahkan kamu berniat untuk menjadikannya pacarmu! cih! teruslah bermimpi karna ia akan menjadi calon istriku," ucapnya sambil menarik tangan Miftah agar berdiri disampingnya lalu merangkulnya.


     "Ampun... Ampun... Maafkan aku tuan... Aku hanya bercanda... Tolong lepaskan aku..." rintihnya yang kini sudah terduduk dihadapannya dengan kaki yang diluruskan.


     "Hmmm! setelah menggoda calon istriku dan menahan tangannya dengan kasar. Kau pikir aku bakal dengan mudah memaafkanmu? huh! jangan harap," ucap Firdaus yang kini sudah duduk dengan satu lutut mencium tanah dan tangan yang mencengkram kuat dagu sang mata - mata.


     Miftah dapat melihat dengan jelas sorot mata penuh kemarahan dibalik tatapannya yang belum redup sejak tadi. Hingga membuatnya memilih diam ditempat tanpa berani berkata sepatah kata pun sedangkan sang mata - mata sudah terlihat pucat pasi dengan tubuh yang meremang.


     "Pengawal!" panggilnya.


     "Iya bos!" jawab salah seorang dari mereka yang sedikit berlari mendekat kearahnya.


     "Bawa dia ke kantor polisi sekarang!" perintahnya.


     "Baik bos!" jawab pria yang satunya.


     "Tolong... Jangan bawa saya kekantor polisi... saya hanya suruhan... Ini bukan keinginan saya!" jujurnya.


     "Terserah! intinya kamu harus ikut kami kekantor polisi dan jelaskan semuanya disana, jika kamu memang betul tidak bersalah nanti juga dilepaskan." respon pria dua.


     Mereka berdua langsung membangunkannya lalu membawanya menuju kemobil mereka.


     Firdaus yang melihat kepergian mereka baru menarik tangan Miftah dan menyeretnya untuk ikut kedalam mobilnya tanpa melihat kearah Miftah.


     Sorot kemarahan itu kini sudah menghilang, yang ada hanyalah sorotan kekhawatiran yang masih Miftah ragukan kebenarannya.

__ADS_1


     "Apakah kak Firdaus sudah benar - benar mencintaiku?" batin Miftah sambil terus merasakan dengupan dadanya yang berdenyut kencang.


__ADS_2