
Kini sampailah mereka di sebuah rumah yang tak lain dan tak bukan di miliki oleh orang tua Fahman.
"Maaf, ini di mana ya?" tanyanya bingung.
"Ini rumah orang tuaku," jawabnya sambil tersenyum.
"Apa? rumah orang tuamu?" tanyanya terkejut.
"Iya, memangnya kenapa?" jawabnya lalu bertanya balik.
"Hmm... Aku merasa gak enak aja... Lagian kita kan baru kenal, masak iya kamu langsung bawa aku ke rumahmu, aku perempuan lagi. Apakah orang tuamu tidak mempermasalahkannya?" tanyanya cemas.
"Gak papa Permata... Tolong percaya padaku ya," ucapnya sambil tersenyum dengan satu tangan yang ia taruh di tengah dadanya.
Senyuman Fahman begitu manis dimata Permata, bahkan ia sampai mematung sesaat.
"Permata," ucapnya menyadarkannya.
"Eh iya! maaf senyummu manis banget sih," ceplosnya dan itu sontak saja membuat Fahman menunduk tersipu.
"Astagfirullah! maaf, mulutku kadang suka lancang ya." sambungnya sambil memukul pelan bibirnya.
"Hahaha! tak apa kok... Kamu juga manis," puji Fahman dan kini malah Permata yang jadi tersipu.
"Oh iya! ini udah di didepan rumah, ayo turun." ajaknya.
"Tunggu dulu," cegah permata.
"Ada apa? apa ada hal yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanyanya sambil mengangkat satu alisnya.
"Tentu! kamu benar," angguknya.
"Tentang apa?" tanya Fahman.
"Mmm... Bisakah aku tau siapa namamu dan berapa umurmu?" tanya gugup.
"Ya ampun... Aku kira apa coba," ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Is... Kamu ini... Aku serius tau..." responnya sambil memanyunkan sedikit bibirnya.
"Iya deh iya..." ucapnya yang masih terkekeh.
"Tawa aja terus," cibirnya.
"Emangnya gak boleh ya?" tanya Fahman.
"Au ah," ambeknya.
"Lah! kok malah ngambek sih," ucapnya.
"Gak ngambek kok," responnya.
"Lah itu," unjuknya.
"Cuma kesel dong," ucapnya.
"Sama aja Permata," responnya.
"Yaudah kamu diem dulu sekarang," memerintah.
"Baik aku diem nih," menurut.
"Itu pun kalau kamu bisa," tak percaya.
__ADS_1
"Ternyata kamu kepo juga denganku ya... dan tak hanya aku seorang," ucapnya sedikit menggoda.
"Is kamu! kalau gak mau jawab ya udah bilang aja kamu gak perlu tau! bukannya malah menggodaku, sebel deh!" responnya merajuk sambil melipat kedua tangan di bawah dada.
"Udah - udah... Ternyata darahmu cepat juga mendidih ya selain untuk ambumu," ucapnya.
"Biarin aja! emang kadang cowok sukanya nyebelin ya! jagonya bikin geregetan aja," respon sambil mendengus kasar.
"Nyebelin tapi ngepoin kan?" godanya lagi.
"Is! udah ah! moodku untuk mengenalimu telah hancur," acuhnya.
"Hmm... Udah jangan jadi air mendidih melulu," cegahnya.
"Biarin aja," responnya tak peduli.
"Di bilangin nya," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Bodo amat," responnya dengan tatapan tajam.
Tanpa ba bi bu karna merasa hawa semakin panas akhirnya Fahman memutuskan untuk langsung memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan! namaku adalah Fahman Abadan, umurku 24 tahun." beritahunya sambil tersenyum.
"A-apa? u-usiamu 24 tahun?" tanyanya merasa sangat terkejut.
"Maaf! aku malah memanggilmu kamu, sungguh tidak sopan." merasa tak enak sambil berusaha untuk bersikap tenang.
"Sudahlah... Biasa saja denganku... Tapi kalau boleh tau umurmu sendiri sebenarnya berapa tahun?" tanyanya sambil menatap dalam Permata.
"Umurku 21 tahun," jawabnya sambil tersenyum.
"Wah... Pantas saja kamu sangat cantik, ternyata masih muda toh!" terkekeh.
Tangannya yang awalnya masih bersikap seperti biasa kini telah mengepal kuat.
"Duh... Aku gak nyangka emosionalmu bisa setinggi ini," mengernyitkan dahinya.
"Makanya Abang jangan coba - coba membuatku muak," geramnya.
"Deg!"
"Deg!"
"Deg!"
"Sial! kenapa jantungku jadi begini?" memegang dadanya yang sudah berdenyut tak normal.
"Apa tadi dia memanggilku Abang?" batinnya bertanya - tanya.
"Tapi kenapa panggilan itu begitu menyentuh jika di ucapkan olehnya?" pikirnya merasa bingung.
"Maaf! apakah kamu tadi memanggilku dengan sebutan Abang?" tanyanya pada Permata.
Raut kekesalan yang ada di wajah Permata jadi menghilang dan kini telah di ganti dengan rasa malu yang tiada obatnya, pipinya saja sampai bersemu merah.
"I-iya, aku minta maaf bang! eh! maksudku kak," ucapnya salah tingkah.
"Sudah... Tak apa - apa Permata... Aku justru lebih senang jika kamu memanggilku Abang! itu sudah seperti panggilan sepasang suami istri yang telah menikah, dan aku akan lebih pas lagi jika memanggil kamu Adek." ucapnya sambil mengedipan kedua matanya.
"Blus!"
Pipi Permata sontak saja menjadi merah padam. Ia sampai tak berani lagi mantap kearah Fahman, kini ia memilih untuk terus menunduk.
__ADS_1
"Oh iya! kita ini udah sampai lho sejak tadi... Ayo dek turun bareng Abang," ajaknya yang langsung membuat Permata makin membisu sekaligus membeku di tempat.
Fahman kini sudah lebih dulu keluar, sejak tadi Rangga dan Sekar hanya menunggu tuannya didepan rumah dan akan menghampiri jika sudah mendapatkan perintah.
Kini Fahman sudah berjalan ke arah pintu mobil Permata, ia mengetuknya perlahan.
Permata yang mendengar suara ketukan jadi menoleh sesaat lalu kembali menunduk.
Karna merasa jika tindakannya tadi tidak akan di respon dengan apa pun akhirnya Fahman berinisiatif untuk langsung membuka pintu dan menarik tangan Permata.
"Ayo keluar," ajaknya.
Permata hanya diam.
"Kok diem aja sih dek... Ayo keluar gak? atau mau Abang gendong?" entah keberanian dari mana Fahman mengatakan hal itu.
Dulu ia tidak pernah berani sama sekali mengatakan kata - kata seperti itu kepada gadis mana pun dan baru kali ini kalimat itu dapat dengan mudah meluncur dari bibirnya.
"Ya ampun... Apa yang aku bicarakan barusan ya?" ucapnya tersadar sambil menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.
Dan saat ia termenunglah Permata menurut lalu berdiri di sampingnya.
"Akhirnya kamu keluar juga," ucapnya saat Permata lewat didepan matanya.
"Iya," jawabnya singkat.
"Kenapa hanya satu kata?" tanyanya heran.
"Males," jawabnya.
"Kenapa bisa males?" tanyanya lagi.
Kesabaran permata memang sudah benar - benar habis dan tanpa ba bi bu permata langsung mengangkat kepalanya dengan susah payah karna menahan rasa malunya.
"Bang! sudah cukup! aku capek tau kalau Abang terus menggodaku seperti tadi, jantungku sampai berhenti berdetak dan apa iya aku ini jadi mencintaimu pada pandangan pertama usai kejadian yang hampir melayangkan nyawaku itu." resahnya.
"Kalau tidak kenapa jantungku berdebar begitu kencang?" tanyanya lemah.
"Jadi gak hanya aku dong yang sejak tadi merasakan dengupan jantung yang sangat kencang, tapi kamu juga?" tanyanya memastikan dan Permata mengangguk.
"Permata! jujur ini mungkin sedikit gila sih," ucapnya sambil menunduk dan sedikit merasa panas dingin.
"Hal apa?" tanyanya Permata.
"Aku menyukaimu, mungkin juga sudah mencintamu akibat cerita yang kamu sebutkan tadi." ungkapnya.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
"Tentu saja Permata," jawabnya sambil tersenyum.
"Ya sudah nanti saja kita bahas itu kalau tidak, lebih baik kita masuk rumah dulu oke." ucapnya sambil menyipitkan satu matanya.
"Baik," responnya sambil mengangguk dan Fahman hanya tersenyum begitu pun sebaliknya.
Akhirnya mereka mulai melangkahkan kaki untuk masuk kedalam rumah setelah menyuruh pada bodyguard agar menyimpan mobil yang di kendarainya tersebut.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, favorit hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1