
Zamrud yang sedang berbicara dengan Miftah merasa terkejut saat sebuah telapak tangan mendarat diatas pundaknya.
Miftah yang mengetahui siapa sosok dibalik Zamrud jadi ikut terkejut ketika melihat kedatangan Firdaus yang mendadak.
"Oh! aku gak ada dirumah kamu malah sibuk jalan - jalan dengan pria lain? apakah kamu lupa? aku ini calon suamimu!" ucapnya sedikit berapi sambil menatap tajam Miftah.
Miftah semakin terkejut saat mendengar nada bicara Firdaus, selama ini ia sudah tidak pernah lagi melihat sikapnya yang seperti itu semenjak ia dekat dengannya.
"Maaf! Kaka kenapa ya?" tanya Zamrud yang menebak jika usianya seperti lebih tua darinya.
"Gak usah banyak tanya! aku gak ada urusan denganmu!" respon Firdaus garang.
"Kaka... Kaka jangan salah paham... Ini tidak seperti yang Kaka pikirkan..." jelas Miftah mencoba menenangkan Firdaus yang masih tersulut emosi.
Sebenarnya Firdaus sendiri masih tidak terlalu memahami atas kelakuannya ini, ia harusnya kan bersikap biasa saja karna niatnya menikah hanya untuk menembus hukuman, tapi kenapa hatinya malah tak rela bahkan bisa dibilang cemburu saat Miftah malah akrab dengan pria muda lain selain dirinya.
Dengan gesit Firdaus langsung menarik lengan Miftah agar dapat berdiri disampingnya.
"Kaka... Dengerin dulu penjelasan Miftah... Kaka ini kenapa sih?" sambungnya lagi tak habis pikir.
"Kaka gak butuh penjelasan mu! orang jelas - jelas kamu terlihat begitu mesra saat berbicara dekat dengannya!" ungkap Firdaus yang masih tak dapat mengontrol emosinya.
"Ya ampun Kaka... Bagian mana coba yang mau dibilang mesra..? orang aku cuma berbicara aja dengan kakaku..." ungkap Miftah.
"Apa? Kaka? kamu emangnya punya Kaka? kamu jangan mencoba menipuku ya!" respon Firdaus yang masih kekeh dengan pendiriannya.
Zamrud hanya diam, ia betul - betul bingung sekarang dengan seorang pria yang datang - datang langsung menaruh emosi tanpa bertanya terlebih dulu kepadanya dan Miftah.
Mama yang mendengar sedikit suara kegaduhan mulai berjalan keluar dari tanah yang ada disamping rumah, di ikuti oleh Wahyu dan Zaldira.
"Aduh... Ada apa sih ini? kok saya kayak mendengar suara gaduh tadi?" tanya sang mama sambil berjalan kearah kegaduhan itu dan di lihatnya seseorang yang sedang berada disamping Miftah tanpa berniat melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Miftah.
"Ya ampun... Anak mama udah pulang rupanya! papamu mana? emangnya tadi kalian kemana sih? kok papamu gak Wa mama..." tanya sang mama merasa sedih.
Zamrud sangat terkejut saat mengetahui jika pria yang sedang berdiri disamping Miftah itu adalah anak dari nyonya tersebut dan berarti apa yang dikatakan oleh pria itu benar, jika ia adalah calon suami Miftah.
"Oh... Jadi ini anaknya tante ya? yang akan menikahi Miftah?" tanya Zamrud pada sang mama.
"Bener banget... Perkenalkan semuanya ini putra pertama saya... Namanya Firdaus Alfajar." beritahunya.
"Salam kenal!" sapa mereka sedangkan Firdaus hanya acuh seperti anak kecil.
"Kok gak direspon putraku? kamu kenapa sih?" tanya sang mama merasa tak senang dengan sikap putranya yang sangat berbeda dari biasanya.
"Enggak kok ma..." responnya malas.
"Enggak gimana? orang wajahmu udah kusam gitu!" protes sang mama merasa tak percaya.
__ADS_1
"Ma! Firdaus agak kesal sama mama... Mama kenapa gak larang Miftah main dengan pria - pria ini sih ma? kan gak bagus jika perempuan bermain sedekat itu dengan pria... Apa lagi dia mau menikah! harusnya kan dia menjaga dirinya agar tak menyinggung perasaan calon suaminya," resah Firdaus.
Zamrud yang sudah paham tentang apa yang dibicarakan oleh Firdaus hanya mampu tertawa ringan.
"Kenapa kamu malah ketawa hah? kamu merasa jauh lebih hebat dariku ya? ku akui kamu memang tampan tapi sayang ya... Miftah hanya tertarik denganku." peringatan Firdaus sambil menatap nanar kearahnya.
"Hahaha! Kaka pasti salah paham! nampak jelas kalau kaka sekarang sedang dalam keadaan cemburu, makanya kelakukan Kaka seperti itu..." ungkap Zamrud tak berhenti memancarkan senyuman manisnya.
Firdaus yang mendengar apa yang di ucapkan oleh Zamrud merasa terkejut, ia baru sadar jika kelakuannya tadi sedikit berlebihan dan terlalu emosional tanpa mau mendengar alasan.
"Ya ampun... Anak mama ternyata sedang cemburu ya... Mama saja sampai tidak menyadari..." ledek sang mama sambil ikut tersenyum.
Sedangkan Miftah yang ada disisi Firdaus hanya menyimak, dalam hati ia sempat berpikir.
"Apakah mungkin kak Firdaus sudah benar - benar sayang ples cinta denganku? setelah semua yang pernah kita lalui bersama!"
"Kaka! Kaka lagi dicemburin noh... Sama babangnya Kaka... Apa Kaka merasa senang karna sudah diperhatikan sedalam itu?" goda Zaldira lalu terkekeh pelan.
Kulit wajah Miftah yang putih bersih kini sudah berubah menjadi semerah tomat, bisa dipastikan jika ia sedang tidak menggunakan jilbab pasti daun telinganya jadi ikut - ikutan memerah.
"Miftah! muka kamu kok merah banget gitu?" tanya Wahyu ikut - ikutan menggoda.
"Is kak Wahyu! mana ada..." elak Miftah lalu langsung memalingkan wajahnya kearah lain.
"Dih... Gak percaya sih kamu mah! sini Kaka bantu fotoin! biar kamu percaya!" tawar Wahyu sedangkan wajah Miftah sudah semakin memerah dibuatnya.
Mama tak berhenti tersenyum saat melihat kejadian ini, dirinya tak menyangka bahwa Firdaus dengan cepat bisa melupakan masa lalunya jika bersama dengan Miftah.
Mama tidak mungkin lupa jika Firdaus dulu pernah meminta izin untuk menikah muda dengan seorang gadis yang ada di pesantren nya. Namun, keinginannya jadi tertunda karna sang papa tak mengizinkannya sebelum ia berhasil menyelesaikan impiannya.
Akhirnya mau tidak mau Firdaus hanya menurut, dan sekarang mama sangat berharap jika hanya Miftah lah yang akan menjadi satu - satunya wanita bagi Firdaus dalam suka mau pun duka sekaligus membangun perusahaan yang kini dipimpin Firdaus bersama.
Karna mama tau jika Miftah seperti nya benar - benar gadis yang cerdas dan dapat mengatur urusan perkantoran meskipun ia hanya lulusan SMA biasa.
"Sudah... Biar gak ada keributan lebih baik kalian saling berkenalan aja," usul sang mama sambil menatap bergantian pada Firdaus dan Zamrud.
Mau tidak mau Firdaus pun mengangguk menyetujui nya, lagi pula ia juga sangat penasaran dengan sosok pria yang tampak sangat akrab dengan Miftah.
Zamrud pun turut merasakan hal yang sama, walau pun sekarang ia sudah lebih menyukai Zaldira tetap saja, ia masih penasaran dengan sosok calon suami Miftah yang tampak begitu bengis saat marah karna salah paham terhadapnya.
Zamrud hanya ingin memastikan jika pria yang sedang berdiri disamping Miftah memang serius dengan keputusannya ini dan tak akan pernah main - main untuk kedepannya, Zamrud pun tak akan tinggal diam jika pria ini berani melukai Miftah karna ia sudah menganggab Miftah seperti adik kandungnya sendiri.
"Perkenalkan! namaku Zamrud, aku anak tunggal dari pak Zerdio dan umurku 23 tahun ." ucap Zamrud sambil mengulurkan tangannya.
Firdaus yang mendengar nama yang tak asing itu langsung bertanya kepada Zamrud usai ia memperkenalkan dirinya juga sambil membalas uluran tangannya.
"Perkenalkan! namaku Firdaus Alfajar! umurku 25 tahun, aku anak pertama dari empat bersaudara dan nama papaku Alterio," jelasnya lalu mereka melepaskan kembali jabat tangan tersebut.
__ADS_1
"Maaf aku ingin bertanya padamu! apakah kamu adalah anak pengusaha kebun burung yang sudah sangat luas itu?" tanya Firdaus serius.
"Benar sekali! bagaimana Kaka tau?" tanya Zamrud merasa terkejut dan rasa penasarannya sejak pertama bertemu dengan nyonya Dara jadi terngiang kembali walau sebelumnya sempat dirusak oleh Zaldira.
"Tunggu! sepertinya perusahan kita sedang berkerja sama kan? dan kerja sama itu baru saja terjalin selama tiga tahun," tebak Zamrud.
Firdaus yang mendengar ucapan Zamrud merasa sangat yakin dengan apa yang sempat ia pikirkan.
"Tepat sekali! aku tidak menyangka dapat bertemu dengan putranya yang terkenal sangat mahir dalam memajukan usaha kebun burung tersebut disana." bangganya lalu tersenyum tipis.
"Aku juga bangga dapat bertemu dengan anak pak Alterio! pemilik perusahaan terkenal dikota ini," respon Zamrud ikut tersenyum tipis.
"Lalu! apa hubungan mu dengan calon istriku?" tanya Firdaus yang masih menyimpan rasa curiga kepadanya.
"Ah... Aku dan Miftah hanya berteman dekat bahkan kita juga sudah menganggab Kaka adik satu sama lain begitu pun dengan mereka." jawab Zamrud sambil menunjuk kerah Zaldira dan Wahyu yang hanya tersenyum canggung kearah Firdaus yang tatapannya kini sudah tertuju kearah mereka.
"Nah... Sekarang sudah jelas kan? lebih baik kita lanjutin aja buat kebun terongnya, itu para tanah - tanah tidak mungkin kan menyangkul diri mereka sendiri," peringat sang mama.
"Oh iya! benar banget ma! kalau begitu Miftah mau lanjut nyangkul ya ma!" serunya setelah menyuruh Firdaus melepaskan genggaman tangannya dari pergelangannya.
"Eis... Kamu gak perlu nyangkul Miftah... Menyangkul itu tugasnya pria... Biar Kaka aja sama kak Wahyu yang melakukannya oke! kamu disini aja yah... Kamu tunggu bagian taruh bibit saja dengan mama dan Zaldira," tawar Zamrud sambil menaruh seblah tangannya dari pundak Miftah dan menatapnya penuh perhatian.
"Tapi sejak tadi kan cuma Kaka juga yang melakukannya dengan kak Wahyu! sampai kita berselisih bersama... Masak sekarang gitu lagi sih kak... Kan Miftah udah biasa kalau bagian itu..." tolaknya.
"Sudah... Untuk kali ini gak boleh ada bantahan ya!" respon Zamrud dan Miftah terpaksa mengangguk.
Firdaus yang merasa tak suka Miftah disentuh oleh pria lain langsung berjalan mendekat kearah mereka.
Zamrud sampai terkejut saat tangannya ditepis secara kasar oleh Firdaus.
"Kalau mau berbaik hati untuk berkerja ya kerjain aja! gak usah main pegang - pegang segala! ingat! Miftah sudah hampir menjadi istri orang lain!" peringat Firdaus.
Dengan perasaan malas Zamrud pun hanya mengiyakan ucapan Firdaus, karna ia paham tentang kondisinya sekarang.
"Oh iya Miftah! Kaka bakal bantu kamu nyangkulin tanah juga yah!" tawar Firdaus sambil tersenyum, ia benar - benar tak ingin jika Zamrud mengambil perhatian Miftah padahal itu kan tidak mungkin karna Miftah tidak punya perasaan sama sekali pada Zamrud, cuman jika sudah berbicara faktor perasaan siapa juga yang bisa mengelak.
"Frrttt! kalau cemburu bilang aja kali..." ledek Zamrud tanpa merasa takut sedikitpun.
"Diam!" respon Firdaus garang sambil mengambil alih cangkul yang awalnya dalam genggaman Wahyu dan tugas Wahyu sekarang hanya ikut seperti perempuan untuk menanam bibit.
Sedangkan Zamrud juga mengambil kembali cangkulnya lalu mulai berkerja, saat bekerja mereka tak berhenti saling tatap, seakan - akan mereka sedang berlomba siapa yang paling cepat dalam menyangkul tanah.
Yang menonton hanya mampu terheran - heran dengan sikap mereka, sedangkan Miftah hanya berusaha menenangkan diri.
"Semoga saja itu cangkul gak kena kaki mereka," harapnya.
Hal itu terus berlanjut hingga mereka sampai dibagain ujung dan hasilnya sama, dengan nafas terengah - engah ditambah keringat yang tak berhenti mengalir dari wajah mereka, menandakan betapa lelahnya mereka bersaing sejak tadi.
__ADS_1