Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 61


__ADS_3

    "Syuttt... Kak Wahyu..." bisik Zaldira sedikit pelan supaya Zamrud tidak curiga kepadanya. Sedangkan Wahyu yang baru menyadari bisikan dari Zaldira, mulai berpaling untuk mengahadap kearahnya.


     "Ada apa?"


     "Kaka merasa ada hal yang aneh gak sih?"


     "Hal aneh tentang apa?"


Zaldira hanya berdecak kesal.


     "Itu kak Zamrud kayak orang lagi tahan amarah gitu... Sebenarnya ada apa sih dengannya?"


     Wahyu yang sudah paham tentang apa yang Zaldira ucapkan lansung melihat kearah Zamrud untuk memastikan kebenarannya.


     "Iya, kamu benar! sepertinya dia memang sedang sangat kesal,"


     Zaldira yang mendengar apa yang Wahyu sampaikan mulai berpikir sejenak sebelum menyambung pembicaraan.


     "Kira - kira karna apa ya? perasaan dari tadi kita gak cari gara - gara deh!"


     Heran Zaldira, Karna biasanya Zamrud mulai terlihat begitu ketika sedang bertengkar dengan mereka.


     "Ya Kaka juga gak tau sih! coba aja kamu tanya sana,"


     "Kok aku sih?"


     "Kan kamu yang mau tau bukan aku,"


     "Je... Segitunya sikaka."


     Wahyu hanya tersenyum tipis saat melihat ekpresi Zaldira, sedangkan Zaldira sendiri sudah merajuk setelah sejak tadi mereka sibuk berkomunikasi dibelakang kursi Firdaus.


     "Apanya yang sedang kalian bicarakan sejak tadi hah? kalian pikir telinga ku ini abis kesumbat apa?"


     Bagaikan disambar petir, Zaldira dan Wahyu jadi beku sesaat. Mereka hanya saling tatap, kemudian memilih diam.


     "Woy! kalian dengar gak sih apa yang aku tanyakan?"


     Zamrud yang merasa diacuhkan hanya mampu mendengus kesal, tanpa sadar dengusannya terdengar oleh yang lainnya selain Zaldira dan Wahyu.


     "Kaka kenapa sih?" tanya Miftah dengan satu alis yang sudah terangkat.


     "Iya... Tante lihat kamu seperti orang yang tidak tenang dari tadi,"


     "Bener banget ma... Sepertinya ada suatu hal yang aneh sedang berputar dipikirannya."


     Zamrud sangat terkejut dengan tebakan Miftah yang tepat sasaran, tanpa pikir panjang ia mulai mencari cara agar terlihat biasa saja.


     "Kalian tenang saja ya... Aku tadi agak sedikit cemas karna katanya adikku sedang sakit. Aku sempat berpikir kalau sakitnya itu disebabkan oleh manjat pohon... Dia emang gitu! demam manjat! ngeyel lagi waktu dibilangin! hahaha! biasa anak aktif,"


     Wahyu yang mendengar alasan Zamrud merasa sangat terkejut.


    "Adik? apa pala dia udah konslet ya? hingga lupa ingatan kayak gitu," batin Wahyu sambil mengerutkan dahinya, saking tak habis pikir dengan ucapan yang tak masuk akal itu.


     Disisi lain Zaldira juga sedang berpikir keras, bagaimana tidak? sepengetahuannya Zamrud adalah anak tunggal dikeluarganya yang akan memegang seluruh ahli waris.


     Saat Wahyu ingin angkat suara untuk mengintrogasi apa yang temannya katakan tadi, mulutnya langsung dibekap oleh Zamrud.


     "Up! sorry ya... Tadi kayaknya ada nyamuk yang lewat eh... Malah mulutmu ya kena geplak,"


     Wahyu hanya menepis kasar tangannya, raut wajahnya mulai tampak sedikit kesal. Namun, ia berusaha mengontrol emosinya dengan sekuat tenaga dan memilih menghubunginya lewat ketikan ponsel.


     - Wahyu -

__ADS_1


Zamrud!!! kamu apa - apaan sih? masak ia mulutku kamu bekap kuat kayak gitu 😡


      Zamrud yang mendengar suara notifikasi pesan langsung saja membuka hpnya, ia hanya terkekeh pelan, merasa puas telah memancing emosi temannya.


     - Zamrud -


Itu balasan yang setimpal sama orang yang udah berani ngomongin aye... 😛 Berani - beraninya lagi ngomonginnya langsung dibelakang punggung aye, 😒 lu kira aye budek apa? Sorry ye... 😏


     - Wahyu -


Bukan aku duluan pun 😔


     - Zamrud -


Terus siapa hah? orang suara yang paling banyak kudengar itu dari mulutmu 😒


     - Wahyu -


Tadi kamu bilang kalau kupingmu itu gak budak kan? jadi harusnya kamu itu dengar siapa orang yang pertama kali membicarakan mu! Aku atau Zaldira 😥


     - Zamrud -


Aku gak peduli!!! intinya aku hanya tak ingin tau siapa yang memulai pembicaraan, yang penting kamu juga ikut dalam bisikan tersebut 😑


     - Wahyu -


Giliran Zaldira aja dibelain 😪


     - Zamrud -


Suka - suka ayelah 🙃 orang dianya udah perhatian sama aye ya... Aye hargain deh! mana tau dia udah suka sama babang tampan ini 😎


     - Wahyu -


Huh 😤 aku benar - benar gak dianggap peduli gitu sama kamu? hadeh... Punya teman akhlaknya gak dipake banget!!! selalu aku yang dipojokin, sedangkan gadisnya dinaikin daun terus 😧


     - Zamrud -


     - Wahyu -


Bodo amat! apa pun yang aku jelasin kayaknya kamu tetap akan menyumpal telingamu 😦


     - Zamrud -


Emang iya 🤣


     - Wahyu -


Lagian nih ya... Si Zaldira yang imut itu mana mau sama modelan kayak kamu yang gak ada akhlak banget! dia kan maunya cuma sama aku! buktinya kalau sama kamu darahnya cepat banget naiknya 😏


     - Zamrud -


Heh! mulutmu minta dijahit 1000 jarum ya? bisa - bisanya Zamrud yang baik hati dan penuh rasa sayang terhadap sesama kamu nilai dengan orang yang gak ada akhlak? di-ma-na ke-so-pa-nan-mu ☝️


     - Wahyu -


🤢🤢🤢🤢🤢🤢🤢🤢🤢🤢🤢


     - Zamrud -


Emotmu cari mati ya? 🔪🔪🔪


     - Wahyu -

__ADS_1


Eh! eh! itu yang cari mati emotku ya... Bukan penekannya 😅


     - Zamrud -


Kalau aku mau dua - duanya gimana? 😈


     Wahyu yang sudah bergetar dengan wajah pucat pasi memilih keluar dari dunia cetan. Rasanya tak lama lagi nyawanya seperti akan melayang, jika tak berhenti mengetik dengan makhluk yang menurutnya sangat menyeramkan.


     Zamrud yang melihat temannya sudah bergetar hanya mampu tersenyum miring hingga membuat Wahyu yang tak sengaja melihatnya jadi semakin merasa merinding.


     Tak berapa lama kemudian datanglah seorang pelayan kafe sambil membawa beberapa buku menu lalu membagikannya secara rata pada mereka yang sudah mengisi kursi dimeja tersebut.


     "Silahkan memilih menu yang sudah tercantum didalam, apa ada hal lain lagi yang perlu saya lakukan?"


     "Tidak ada! kamu sudah boleh pergi,"


     Pelayan wanita yang mendengar jawaban dari sang mama mulai melangkahkan kakinya untuk menjauh dari meja tersebut, tampak jelas dari raut wajahnya bahwa ia sedang merasa sangat tegang jika harus berhadapan dengan mama yang merupakan nyonya dari sebuah perusahaan terkenal dan merupakan temannya bos pemilik restoran.


     Miftah mulai membuka buku menu berwarna hitam itu dengan tangan yang sedikit bergetar, ia benar - benar tidak sanggup memilih nama makanan yang cukup mahal didalam sana.



     "Nah! sekarang pilih saja makanan kesukaan kalian! tenang... Tante yang bayarin kok,"


     Zamrud dengan santai melihat daftar menu didalam sana begitu pun dengan Wahyu, kecuali Miftah dan Zaldira yang sudah sedikit gugup. Mereka terus saja membolak - balikkan lembaran demi lembaran buku yang berisi daftar menu, tapi tak satu pun makanan yang harganya sesuai dengan keinginan mereka.


     Zamrud yang merasa heran saat melihat Zaldira yang terus menerus membolak balikkan halaman buku merasa penasaran dengan kelakuannya itu.


     "Kenapa buku menunya dibolak - balik terus?"


     "Bukan urusan Kaka!" jawab Zaldira tanpa memalingkan pandangannya dari puluhan daftar menu. Zamrud hanya mampu menghembuskan nafas kasar karna diacuhkan olehnya.


     "Huh! aku menyerah! palaku rasanya pening melihat semua total harga dibuku ini," ucap Zaldira dengan suara kecil tapi masih mampu didengar oleh Zamrud.


     "Oh... Ternyata karna masalah itu tah? pantas saja kamu dari tadi sibuk membolak balikkan daftar menu."


     Zaldira yang mendengar ucapan Zamrud jadi semakin merasa geram, ia sangat takut kalau sampai itu terdengar ketelinga yang lainnya.


     "Kaka bisa diem gak sih? itu mulut butuh disteples ya?"


     "Iya butuh! mana sini steplesnya?"


     Zamrud masih sempat - sempatnya bercanda saat Zaldira sudah hampir tersulut emosi. Zaldira yang sudah sangat geram sejak tadi hanya mampu menumpahkan segala kekesalannya dengan menginjak kaki Zamrud.


     "Au! sepertinya tulangku bakal retak nih!"


     "Amiiiiiiin."


     " Dih! apaan main Aminin Aminin segala! tega banget kamu sama kaka,"


     "Emang tega! baru sadar ya? hahaha."


     Zamrud yang gemas melihat tawa Zaldira jadi ikut memberi pelajaran kepadanya.


     "Adu du duh! dasar Kaka gak ada hati nurani! ini itu pipi bukannya kue cubit,"


     "Gak ada hati nurani katamu? terus perlakuanmu tadi padaku juga termasuk orang yang punya hati nurani? gitu? hebat banget ya!"


     "Terserah aku!!!"


     "Hadeh..."


     Zaldira masih saja meringis menahan perih, sebelah pipinya sudah sedikit merah akibat ulah Zamrud. Zamrud sendiri hanya sibuk menahan rasa geli dihatinya saking ingin tertawa lepas.

__ADS_1


     "Awas saja! sekarang aku akan diam! tapi nanti aku akan membalas perbuatan Kaka tadi! siap - siap mendapat permainan baru nantinya,"


     Zamrud kini sudah bergidik ngeri saat melihat Zaldira mulai mengacuhkannya lalu tersenyum miring, bukannya terlihat manis malahan menurut pandangan Zamrud senyuman itu telah dipenuhi oleh Aura mengerikan yang siap menerkam mangsanya kapan saja.


__ADS_2