
Mobil polisi itu kini sudah memasuki pekarangan rumah sakit dan berhenti di pinggiran gedung yang begitu menjulang tinggi.
"Mari mbak," ajak pak polisi itu setelah mematikan mobil dan hendak membuka pintu mobil.
"Iya pak, baik." respon Miftah sambil mengangguk.
Pikiran Fajar mulai ikut kemana - mana karna mobil ini malah membawanya dan ibunya ke sebuah rumah sakit yang cukup ternama.
Memang pulau ini terpencil, tapi fasilitas di dalamnya sudah seperti kota. Pemandangan yang begitu indah dari lautan ini membuat banyak turis penasaran ingin merasakan langsung dari tempat ini.
Miftah kini sudah membiarkan Fajar berdiri di sampingnya, ia juga mulai menggenggam tangan mungilnya lalu menyeretnya pelan untuk mengikuti dua polisi itu.
Miftah sebenarnya masih tak percaya dengan kejadian yang menimpanya saat ini.
"Ummi," ucap Fajar memberanikan diri.
"Iya sayang," jawabnya serak karna sejak tadi ia masih tak berhenti mengeluarkan air mata kesedihannya.
"Apakah kita datang ke sini untuk menjenguk Abi?" tanyanya yang tentu saja membuat Miftah sangat terkejut karna tebakannya tidak melenceng sedikit pun.
Miftah sebenarnya masih ragu untuk menjawab, namun kalau di sembunyikan juga itu sudah tidak mungkin. Cepat atau lambat nanti Fajar juga akan mengetahuinya.
"Ummi," Fajar kembali memanggilnya.
"Eh! iya sayang, kita akan menjenguk Abi. Abi mengalami musibah sayang, jadi bantu doakan Abi ya. Semoga Abi baik - baik saja." pintanya.
"Iya mi, pasti Fajar akan doakan Abi. Tapi Ummi jangan nangis lagi yah... Kasian Abi malah ikutan sedih dan tambah sakit waktu liat wajah Ummi," pintanya yang hanya di angguki oleh Miftah lalu kembali menyeretnya setelah menghapus linangan air matanya.
Langkah Miftah sudah masuk ke dalam lantai putih rumah sakit, bau obat - obatan jelas tercium di indra penciumannya.
"Ini bau apa ya mi?" tanya Fajar bingung.
Fajar selama ini tidak pernah masuk bahkan pergi ke rumah sakit, kehidupan mereka sehat - sehat aja beberapa tahun ini. Jadi wajar saja jika Fajar masih merasa asing, jika hanya demam biasa Miftah palingan hanya ke apotik untuk membeli obat.
"Mbak, ruangan suami mbak sudah kami sediakan di ruangan VIP yang terletak di lantai atas." beritahu polisi itu.
Miftah hanya menggangguk sambil berkata "iya pak."
Jujur! Miftah sebenarnya merasa bingung dengan dua polisi ini, kenapa mereka memperlakukan Firdaus dengan begitu spesial? apakah ini ada hubungannya dengan Status Firdaus atau orang tua Firdaus.
Karna tak ingin berpikir panjang Miftah memilih membuang saja jutaan pertanyaan yang terus mengalir di benaknya sejak tadi.
Terlihat seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Maaf sus, bagaimana kondisi pasien sekarang?" tanya salah satu polisi tersebut.
"Oh! kondisi pasien sudah mulai membaik pak, hanya saja masih sedikit lemas. Tapi pasien sudah sadar kok pak," beritahunya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah... Syukurlah kalau begitu sus," respon polisi itu.
"Baik pak, apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanyanya yang masih tak melepaskan senyumannya.
__ADS_1
"Tidak sus, kalau begitu terima kasih ya sus." jawabnya balas tersenyum kearahnya.
"Sama - sama pak, mari." responnya lalu sedikit membungkukkan badan dan menurunkan satu tangannya sebelum pergi.
Miftah yang sejak tadi hanya mendengar percakapan mereka jadi dapat mengembuskan napas lega, ia bahkan sudah tidak sabar untuk menemui suaminya.
Miftah juga sangat mengucapakan rasa syukur kepada Allah SWT, karena berkat Allahlah Firdaus masih bisa bertahan dan sekarang dapat bertemu dengannya nantinya.
"Yok mbak kita masuk," ajak polisi itu.
"Emm... Pak, sebelum masuk bolehkah saya bertanya terlebih dahulu dengan bapak?" tanya Miftah hingga membuat tangan salah seorang polisi yang hendak membuka gagang pintu jadi tertunda.
"Iya mbak boleh," jawabnya lalu membalikkan badan kearah Miftah.
"Silahkan mbak, kami akan menjawab semampu kami." sambung polisi yang baru ia kenali saat di dalam mobil.
Tanpa membuang - buang waktu Miftah mulai menanyakan apa yang sejak tadi ia pikirkan, dari pada hanya mendiami dan malah membuatnya makin tidak tenang akibat rasa penasaran.
"Maaf pak kalau saya lancang, sebenarnya ada hubungan apa ya bapak dengan suami saya? sampai - sampai bapak rela menyediakan fasilitas yang sangat baik ini kepada suami saya." ungkapnya.
Polisi itu awalnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan tangan yang memegang dahi, sedangkan yang satunya hanya tersenyum lebar.
"Sebelumnya perkenalkan, nama saya adalah Akbar sedangkan ini Abdul. Kami dulunya teman satu sekolah dan sampai sekarang pun ternyata kerjaan kami sama."
"Dan kalau masalah pertanyaan mbak tadi sebenarnya kami tidak ada hubungan apa - apa dengan suami mbak, tapi kami mempunyai hubungan baik dengan ayah dari suami mbak."
"Dulu ayah dari suami mbak, biasa kami lebih sering memanggilnya Alterio. Ia pernah berkunjung ke pulau ini untuk menikmati keindahan pantai, dan mbak pasti tau kan kalau pak Alterio ini adalah seorang free diving yang sangat handal bahkan sudah punya sertifikatnya."
"Jadi singkat cerita, Abdul teman saja ini sedang mengontrol di jembatan yang selalu tampak ramai. Ia tak sengaja tersenggol oleh seorang pria hingga jatuh ke bawah jembatan. Yang lebih parahnya lagi ia tidak bisa berenang, benar - benar tak bisa sama sekali."
"Iya adalah pak Alterio, dengan perlahan ia membawa teman saja menuju ke pinggir pantai. Saya sangat berterima kasih atas keberaniannya, hingga teman saya ini yang tadi menyelamatkan suami mbak mulai bertekat membuang rasa pobianya saat berenang."
"Dan sekarang ia satu - satunya polisi di tempat ini yang sangat ahli dalam hal free diving juga berhasil mendapatkan sertifikat resmi, ada banyak nyawa juga yang tertolong berkat keberaniannya karna mengikuti sifat pak Alterio."
"Semenjak hari itu kami jadi akrab dan sering berkomunikasi melalui Wa, di status pak Alterio kami juga tak sengaja melihat anaknya yang wajahnya begitu mirip dengan suami mbak."
"Ternyata benar kalau Firdaus ini adalah anak dari pak Alterio yang sudah berjasa itu, kami jadi tak segan - segan membalas kebaikan beliau selagi bisa dan pastinya semampu kami."
Miftah yang mendengarnya ikut merasa bangga dengan papa mertuanya itu, beliau ternyata tak hanya ramah dan lemah lembut. Tapi mungkin sudah menjadi Hiro penyelamat untuk banyak orang.
"Oh... Jadi begitu, iya pak saya paham. Terima kasih ya pak karna telah menjawab pertanyaan saya," ucapnya.
"Iya sama - sama mbak," responnya lalu kembali melanjutkan aktivitas yang tadinya sempat tertunda.
Saat pintu telah terbuka mata Miftah kembali di suguhkan pemandangan yang cukup menyayat perasaannya.
Melihat pria yang ia cintai tergeletak di atas kasur rumah sakit dengan mata yang masih menatap kosong ke arah langit - langit, sebelah tangannya sedang di alirkan air impusan putih yang terus menetes tiada henti.
Fajar yang melihat kondisi Abinya jadi ikut berkaca - kaca, ia dengan cepat berlari ke arah Firdaus yang merupakan ayah yang selama ini ia nantikan kedatangannya.
"Abi, ini Fajar Abi. Anak Abi, Fajar rindu sama Abi. Akhirnya Fajar bisa ketemu Abi," ucapnya yang menarik satu kursi lalu duduk di samping kasur yang lumayan besar.
__ADS_1
Tanpa segan Fajar mulai memeluk Firdaus yang tampak terkejut lalu memalingkan wajahnya ke sisi lain. Matanya jadi berkaca - kaca tat kala melihat wanita yang ia cintai sudah berada di hadapannya.
"Mi-miftah," ucapnya terbata - bata.
Ia hendak bangkit tapi Miftah langsung menahannya.
"Sudahlah mas, kondisimu sedang tidak bisa di bilang baik - baik saja." cegah Miftah.
Ini mimpi, ini benar - benar seperti mimpi bagi Firdaus yang kembali mendapatkan sikap lembut dari istrinya.
"Ba-bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanyanya dengan suara kecil tapi masih terbata - bata.
"Pak Akbar dan pak Abdul yang telah membawa saya ke sini mas," jawabnya hingga Firdaus mulai melihat kepada dua orang pria yang berseragam polisi di belakang Miftah.
"Te-terima kasih," ucapnya.
"Sama - sama tuan Firdaus," respon mereka sambil tersenyum.
"Kalau begitu kami izin pamit dulu ya mbak, karna masih ada tugas yang harus kami selesaikan." ucap pak Abdul.
"Oh, baikan pak. Sekali lagi makasih banyak ya pak Akbar, pak Abdul. Karna sudah mau mengantarkan saya dan putra saya untuk sampai ke sini," ucap Miftah.
"Sama - sama mbak, sudah sepatutnya juga kita sebagai hamba Allah untuk saling membantu antara satu sama lain. Assalamualaikum," ucapnya di akhir kalimat.
"Wa'alaikum salam..." jawabnya lalu mereka pun pergi keluar untuk kembali berkerja.
Firdaus yang mendengar kata putra dari bibir Miftah mulai melihat ke arah seorang anak kecil yang masih memeluk pinggangnya erat.
"Ja-jadi ini putranya Abi ya?" tanya Firdaus sambil mengelus puncak kepala putranya yang bersandar di dadanya.
Fajar sangat senang saat di elus oleh tangan Abinya yang sangat lembut.
"Iya Abi, ini Fajar. Fajar sangat rindu sama Abi, Fajar bersyukur sama Allah karna masih memberikan Fajar waktu untuk bertemu dengan Abi." jawabnya yang mulai menangis.
"Anak Abi gak boleh nangis ya, anak Abi kan kuat." ucap Firdaus yang tak lagi terbata - bata tapi masih terdengar jelas nada suaranya yang masih lemah.
"Iya Abi," responnya yang semakin merasa senang karna Firdaus menyapu aliran kristal yang sedang mengalir di pipi putih bersihnya.
"Sayang... Sekarang kamu turun dulu ya dari tubuh Abi, Abi masih lemas nak. Nanti kalau Abi udah sembuh baru Fajar main puas - puas sama Abi dan itu gak di rumah sakit," pinta Miftah yang di angguki oleh Fajar.
Ia pun di turunkan oleh Miftah ke atas lantai, dan Miftah menyuruh Firdaus untuk beristirahat saja.
Ia juga mengizinkan Firdaus menggenggam erat tangannya dan membiarkan matanya yang masih lelah terpejam dengan sempurna.
Jujur! sebenarnya Firdaus ingin langsung bangkit dan bermain dengan putranya, namun kondisi tubuhnya yang sedang tidak memungkinkan membuatnya harus menyerah terlebih dahulu.
Hatinya juga sangat bahagia memiliki anak yang Sholeh dan itu terlihat jelas dari kata - kata putranya yang sangat teratur.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇