
"Kaka," ucap Miftah tak percaya.
"Ternyata kamu masih mengenaliku ya," respon Zamrud sambil tersenyum senang.
"Bagaimana mana bisa aku melupakan Kaka! Kaka kan dulu adalah orang yang selalu mengejar ku! tapi kenapa Kaka masih mau menolong ku setelah aku menolak mu beberapa kali? apakah Kaka tidak sakit hati hah?" tanya Miftah.
Zamrud pun mendudukkan tubuhnya menghadap kearah Miftah.
"Untuk apa aku harus sakit hati? aku paham kok! kamu pasti memiliki sebuah alasan untuk melakukannya! benarkan?" responnya sambil tersenyum manis.
Miftah sangat terharu ketika mendengar kata - kata dari Zamrud. Sejak dulu ia masih dihantui rasa bersalah karena ia selalu menolaknya, padahal Zamrud setiap pagi selalu berusaha datang awal walau hanya sekedar menaruh bunga dibawah lacinya beserta surat cinta hingga beberapa gadis memandang iri padanya.
Bagaimana tidak? Zamrud adalah anak basket terhebat yang sangat dikagumi oleh para siswi.
Zamrud kini seakan beku sesaat ketika Miftah melingkarkan tangannya dileher Zamrud dengan erat.
"Makasih ya Kaka! makasih banyak! aku senang Kaka akhirnya tak lagi membenciku! maafkan aku..." ucapnya merasa terharu lalu Miftah pun jatuh pingsan kembali.
Zamrud yang masih terpaku ketika merasa kaitan tangan Miftah pada lehernya merenggang ia pun langsung menangkap tubuh Miftah kembali dan membopongnya untuk menaruh tubuhnya keatas kasur.
Beruntung orang tuanya sedang berada dikebun burungnya, jadi mereka tidak melihat hal tadi. Nanti pasti mereka akan memikirkan hal yang tidak - tidak padanya.
"Kurasa kesadaran Miftah belum terkumpul semua, jadinya ia berani melakukan hal itu kepadamu. Ia sepertinya terlihat sedang sangat frustasi, kira - kira dia memiliki masalah apa ya?" tanya Wahyu jadi merasa kasihan pada gadis itu.
"Kamu benar! bagaimana kalau kita menyelidiki masalahnya?" tawar Zamrud.
"Apakah kamu serius atau hanya bergurau? nyari burung lepas aja kamu tidak becus," cibir Wahyu.
"Aduh!" rintih Wahyu sambil mengusap dahinya akibat mendapatkan sebuah hadiah berupa jitakan dari Zamrud.
"Kamu ini jadi temen bukannya bantuin! jangankan bantuin, nyemangatin aja gak ada! burung itu emang susah ditangkap, karena ia terbang kesana kemari tapi kalau kasus bisa di cari dengan sedikit mudah." jelas Zamrud cemberut.
"Ya udah, tapi itu muka jangan ditekuk mulu napa! males aku liatnya," ucap Wahyu.
__ADS_1
"Yaudah gak usah liat! pake topeng aja kalau mau ngomong sama aye," dengusnya.
"Jeh... Sama aja bolong dibagian matanya kan jadi nampak wajahmu juga," komen Wahyu.
"Lu minta aye geplak dari tadi ya?" ucap Zamrud sambil menatap nanar kearah Wahyu yang keberaniannya mulai menciut saat melihat wajah sangar teman dekatnya itu.
"Iye deh iya! lagian kalau sama cewek itu aja ngomongnya lembut terus pake bahasa aku kamu. Giliran sama aku ngomongnya udah kayak mangsa yang harus dibunuh dengan segera," ucap Wahyu sedih.
"Yaudah deh! terserah lu aja! yang penting kalau sama lu aye lebih enak ngomong pake bahasa kayak gini! biar lebih santai," respon Zamrud sambil menepuk punggung temannya itu pelan, lalu berlalu dari hadapannya menuju kedepan rumah.
"Santai apaan? kagak ada sosweed - sosweednya," resahnya.
"Eh coksar! lu cewek apa cowok?" tanya Zamrud sengit.
"Ya aku cowok lah masak cewek," jawabnya.
"Nah! itu lu tau... Napa harus tanya lagi hah?" protes Zamrud semakin geram.
"Cowok nyasar," jawabnya acuh tak acuh.
"Aku ganteng - ganteng ples imut ini malah dibilang cowok nyasar! matamu itu gimana sih!" dengusnya.
"Perasaan mataku ini gak kayak gimana - gimana! malah mataku ini malah menjadi idola kaum hawa! lu lupa yah, dulu para ciwi kalau gak sengaja ketemu pandang sama aye sampek gak mau mutusin pandangannya saking mempesonanya mata aye yang aduhai... Indahnya ini," sombongnya.
Wahyu yang mendengar perkataan Zamrud jadi merasa mual sendiri.
"Napa lu? abis naik mobil ya? mabok," selidik Zamrud.
__ADS_1
"Kamu emang benar - benar nyebelin ya! udah ma sombongnya tinggal kebo ijo! tapi sayangnya cintamu itu selalu menghindar! dapat karma tuh kamu gara - gara terlalu membanggakan diri," ceplos Wahyu.
"Aduh! mampus aku kalau gunung merapi ini meledak! berabe aku," batinnya saat ia baru saja tersadar bahwa ia telah menyinggung hati temannya itu.
"Oh! jadi udah berani mengungkit masa lalu temanmu ini?" tanya Zamrud sambil mendekatkan wajahnya hingga tinggal beberapa inci lagi dengan wajah Wahyu.
"Hahahaha! becanda kawan! kamu kayaknya terlalu agresif kalau bahas soal hati," ucapnya cengengesan.
"Terserah! sebagai hukumannya lu harus bantuin aye mencari sumber masalah ini sampai ketemu," ucapnya yang benar - benar tak ingin dibantah.
Wahyu pun hanya mampu menelan salivanya dengan susah payah.
"Dan jangan lupa! tanpa imbalan! biasanya jika kamu membantuku, pasti kantongmu itu terisi jika masalah sudah selesai. Tapi sekarang jangan harap! apa kau mengerti? anggap saja ini hukuman untukmu," ucap Zamrud penuh penekanan sedangkan Wahyu hanya mampu mengangguk cekikukan.
_____________________________________
Hai kaka semuanya... 🤗
Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇
"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"
Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote, favorit bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊
Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄
Dimana bulan disitu bintang 😀
Dimana gelap disitu terang 🤣
Terima kasih bila tlah datang 😆
Star beri ucapan salam sayang 😘
Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...
__ADS_1
Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...
🍃🍃🍃🍃🍃 🙏🙏🙏 🍃🍃🍃🍃🍃