Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 72


__ADS_3

     Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna hitam pun keluar, Rangga memberhentikan mobilnya didepan gerbang, ia membuka pintu perlahan lalu meminta izin untuk pamit dan Firdaus hanya mengangguk.


     Miftah hanya mematung ditempat. Ia sangat gugup. Bagaimana tidak? ini pertama kalinya ia menaiki mobil dengan Firdaus dan itu cuma berdua.


     "Hey! ngapain kamu bengong aja! katanya tadi mau buru - buru," ucap Firdaus sambil melambaikan sebelah tangannya dihadapan Miftah.


     Miftah yang terkejut hanya dapat menatap Firdaus dengan gugup.


     "Kaka... Kaka kan baik... Ganteng... Perhatian..." pujinya mencari akal supaya ia dapat duduk dibelakang, karna pastinya Firdaus tidak akan mengizinkan itu.


     "Iya... Terus?" tanya Firdaus sambil menyenderkan punggungnya dipintu mobil dengan kedua tangan yang di lipat dibawah dada, tatapannya tak henti melihat kearah Miftah yang semakin tampak gugup.


     "Hahaha! Miftah boleh gak duduk di kursi belakang? kan lebih luas..." izinnya sambil mencari alasan ia membuat kedua jari tangannya membentuk pistol lalu menyatukan telunjuknya dan mengetuknya beberapa kali dengan ekpresi muka memelas.


     "Pantas aja kamu muji... Ku kira kenapa... Gak kayak biasanya kamu memujiku! ternyata oh ternyata cuma karna ada maunya doang!" cibir Firdaus sedikit kecewa.


     Miftah jadi sedikit dongkol saat mendengarkan ucapan Firdaus.


     "Kaka! kan aku udah mau diantarin sama Kaka... Jadi suka - suka aku dong mau duduk dimana! didepan kek! belakang kek! diatas kek! disamping kek!" geramnya lalu mulai melangkahkan kakinya kearah pintu belakang.


     Namun Firdaus menahan keinginan Miftah, ia hanya menatap Miftah tajam dan Miftah juga balas menatapnya tak kalah tajam.


     "Kaka... Aku sebenarnya tidak ingin bertengkar dengan Kaka... Jadi tolong Kaka ngertiin aku... Aku hanya ingin duduk bebas dibelakang... Aku sangat canggung jika harus duduk bersebelahan dengan Kaka..." jujurnya.


    "Oh... Jadi karna hal itu... Baiklah aku akan membantumu," responnya senang.


     Miftah yang berpikir bahwa arti kata membantu dari Firdaus mengarah mengizinkan merasa sangat senang.


     Sampai - sampai ia berkali - kali mengayunkan satu kepalan tangannya kedepan dan kebelakang dan Firdaus jadi merasa heran ketika melihat Miftah merasa senang.


     "Tumben dia senang saat niatku berkata lain," pikirnya sambil mengerutkan dahinya.


     "Makasih Kaka baik... Ples ganteng..." pujinya lagi hendak membuka pintu belakang mobil dan lagi - lagi gerakan tangannya dicegah oleh Firdaus.


     "Eh! mau ngapain?" tanyanya.


     "Ya mau masuk lah! emangnya mau kemana lagi kak? masak ia dari tadi Miftah berdiri terus? kan kaki Miftah pegel," keluhnya.


     "Kamu pasti salah mengartikan maksud perkataan Kaka tadi," ucapnya.


     "Salah paham apa? orang Kaka yang bilang sendiri bahwa Kaka akan membantuku... Otomatis aku boleh duduk dibelakang karna Kaka bilang begitu supaya aku gak gugup... Benar kan?" responnya sambil menjelaskan kesimpulannya.

__ADS_1


     "Hahaha... Kamu ada - ada aja Ratuku... Bukan begitu maksud kata membantu yang di ucapkan Rajamu ini..." beritahunya.


     "Lah! terus apa dong?" tanyanya tak percaya sekaligus bercampur rasa heran.


     "Maksudnya Kaka akan membantumu agar gak gugup lagi kalau duduk bersebelahan dengan Kaka... Ya dengan cara membiasakan dirimu," jawabnya.


     "What!!!" pekik Miftah merasa terkejut hingga Firdaus jadi ikut - ikutan terkejut dibuatnya.


     "Kamu ini! bikin jantung aku copot aja! what - what! what - what!" protes Firdaus sambil merasakan dengupan jantungnya dalam diam.


     Tanpa pikir panjang Firdaus mulai menarik tangan Miftah dan menyeretnya ke pintu mobil depan sebelah kemudian membuka pintunya.


     "Masuk!" serunya sambil menunjuk kearah kursi kosong tersebut.


     "Gak mau!" tolaknya.


     "Masuk gak? atau kamu benar - benar ingin telat ya? apa sebenarnya kamu hanya berbohong?" tanya Firdaus yang langsung membuat Miftah terdiam sesaat.


     Mau tidak mau akhirnya Miftah pun menuruti keinginan Firdaus, tidak biasanya anak itu sangat peduli kepadanya.


     Setelah Miftah masuk baru Firdaus menutup pintu mobilnya pelan kemudian mulai berjalan ke pintu semula dibagian mengemudi.


     Usai masuk Firdaus hanya menatap Miftah yang masih mematung menatap jalan yang ada dihadapannya.


     Miftah tak merespon, ia masih saja terus tetap pada keadaan awal.


     "Kalau kamu masih bengong juga! maka jangan salahkan aku jika nanti aku akan menciummu," ancam Firdaus.


     Miftah yang mendengar ancaman Firdaus merasa sangat terkejut, ia menatap ngeri kearah orang yang berbicara.


     "Kaka jangan macam - macam ya... Kita itu belum muhrim... Awas saja! kalau Kaka bermain melakukannya aku akan mengadukannya pada mama," peringat Miftah ikutan mangancam  lalu  kembali sibuk membalas tatapan Firdaus dengan serius.


     Firdaus sedang berusaha menahan rasa geli dihatinya, padahal ia hanya bercanda tapi Miftah yang sejak tadi sudah tersulut emosi jadi sangat mudah untuk terpancing.


     "Hahaha... Iya - iya... Kaka gak bakal berani kok... Tenang aja... Kaka gak bakalan melakukan hal itu," ucapnya sedikit terkekeh.


     "Bener ya? jika Kaka sampai berani maka bom tinjuku akan duluan menghantam wajah Kaka," geramnya.


     "Oke - oke! lebih baik kita jalan terus ya? tapi sebelum itu pakai dulu sabuk pengamannya," peringat Firdaus dan Miftah hanya menurut.


     "Sudah siap untuk berangkat?!," semangat Firdaus.

__ADS_1


     "Kok diam aja?" tanya Firdaus merasa di acuhkan.


     "Siap kakaku..." jawabnya lalu kembali memalingkan wajahnya kearah lain saking malasnya.


     Firdaus yang tak ingin membuat Miftah semakin merajuk memilih untuk mengemudikan saja mobilnya.


     Semanjang jalan Miftah hanya diam, matanya tak berhenti berpaling melihat pemandangan dari dalam kaca mobil, ia sangat berharap dapat bertemu dengan papanya disana.


     Namun, hanya doa yang saat ini mampu ia ucapkan, karna terakhir kali ia menginjakkan kakinya dikebun itu pada saat usianya masih menginjak sembilan tahun.


     Ia berharap semoga papanya berada disatu tempat yang paling ia ingat lokasinya sejak dulu dan tempat itulah yang sangat sering papanya kunjungi, selain kawasannya sejuk ada banyak para wisatawan yang datang tak hanya sekedar membeli buah jeruk hasil petikan sendiri, tapi juga untuk berfoto walau hanya sekedar mengisi status diponselnya yang masih kosong.


     "Kamu serius mau kesana?" tanya Firdaus setelah Miftah memberi tau tujuannya.


     "Ya serius lah kak... Masak ia Miftah becanda," responnya tanpa berniat mengarahkan wajahnya kearah Firdaus.


     "Aku lagi ngomong lho... Masak ia matamu dari tadi mengarah kejalan terus," dengus Firdaus sedikit mengeraskan genggamannya pada setir mobil.


     Miftah yang sudah merasa tidak enak karena mengacuhkan Firdaus sejak tadi memutuskan untuk menghadapkan wajah ke arahnya dan itu sukses membuat Firdaus menyunggingkan senyumannya kembali.


     "Nah... Gitu dong!" senangnya dan Miftah hanya diam.


     "Kalau tujuan mu cuma ingin makan buah jeruk kenapa belinya harus jauh - jauh? kan dipasar dekat sini ada..." tanya Firdaus merasa apa yang dilakukan Miftah hanya membuang - buang waktu saja.


     "Kaka... Miftah kan kesana juga bukan hanya sekedar makan buah jeruk segar yang baru saja dipetik dari pohonnya tapi sekalian bermain bersama teman lama Miftah... Lagian udara disana sangat sejuk dan cocok banget untuk merilekskan diri," ucapnya terpaksa berbohong meskipun ada benarnya.


     "Oh... Baiklah jika itu keinginan mu," responnya sambil mengangguk - anggukkan kepalanya.


     Tak lama kemudian mereka pun sampai, setelah memarkirkan mobilnya ditempat parkiran baru Miftah dapat keluar dari mobil dengan perasaan lega karna bisa bebas dari kukungan Firdaus.


     "Nah! Kita kan sudah sampai! kalau begitu aku pamit dulu yah Kaka... Dan ingat! Kaka jangan coba - coba mengikutiku... Biarkan aku tenang bermain bersama teman - temanku," peringatnya dan Firdaus hanya mengangguk sambil tersenyum.


     "Iya - iya bawel..." ucapnya.


     "Baiklah aku akan genggam kata iya Kaka... Kaka kalau mau pergi main ketempat lain silahkan ya..." tawarnya.


     "Kalau urusan itu bereslah... Tapi nanti kalau udah siap kamu jangan lupa telpon Kaka ya... Biar Kaka yang antar kamu pulang lagi," beritahunya.


     "Ta - " belum sempat Miftah menyelesaikan ucapannya Firdaus langsung memotongnya.


     "Aku tak menerima penolakan,"

__ADS_1


      Miftah yang merasa sangat marah karna diatur - atur oleh Firdaus memilih untuk langsung pergi dari hadapannya, yang ada darahnya bakal naik jika terus berhadapan dengannya yang kini terlalu posesif.


__ADS_2