Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 106


__ADS_3

     Saat ia sudah sampai di ruangannya tiba - tiba Virgo datang dan langsung menanyakan rencananya hari ini.


     "Jannah! bagaimana? apa kamu sudah siap jika memberitahukannya hari ini juga?" tanyanya.


     "Insya Allah aku sudah siap Kaka! tekatnya sudah sangat bulat. Aku yakin papa pasti akan mempercayaiku," jawabnya mantap.


     "Baiklah! mumpung sang nyonya sedang berada dibelakang dan papa berada dalam ruangan kerjanya sendiri, mari. Kita manfaatkan kesempatan ini," ucapnya.


     "Baik! ngomong - ngomong apakah kemarin mereka juga pergi?" tanyanya.


     "Beruntung dihari kamu tidak hadir mereka juga tidak ada dan akulah yang menggantikan pekerjaanmu dan sekarang sepertinya hari keberuntunganmu karna mereka bisa hadir secara bersamaan. Aku yakin itu," ucapnya sambil menatap dalam kearah Miftah.


     "Alhamdulillah... Kalau begitu ayo kita lakukan sekarang! sejak kemarin aku sudah menyusun semua rencana dengan rapi, beberapa bukti sikap nyonya dengan para pekerja sudah aku dapatkan rekaman Videonya tanpa nyonya sadari." beritahunya.


     "Hebat," puji Virgo.


     "Ah! Kaka tidak perlu terlalu memujiku. Lagian... kita juga belum berhasil pun," ucapnya.


     "Baiklah," responnya sambil tersenyum.


     Ia sangat senang dengan Miftah yang paling tidak suka jika dia terlalu puji. Miftah selalu bersikap ramah pada siapa pun hingga membuat orang lain merasa sangat nyaman untuk terus berlama - lama berada didekatnya.


     Sesampai diruangan sang papa Virgo mempersilahkan Miftah untuk masuk sedangkan ia memilih berjaga saja diluar.


     "Assalamualaikum pak," ucap Miftah pada pak Askari.


     "Wa'alaikum salam! ada apa kamu kemari? apakah ada laporan penting yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya dengan pandangan yang masih tertuju kearah laptopnya.


     Miftah hanya tersenyum saat melihat sikap dingin sang papa yang tampak jelas diselimuti kesedihan hingga membuatnya seperti hilang gairah untuk berbicara.


     Untuk hari ini Miftah hanya mengenakan masker, ia sengaja tidak berdadan culun dan memoles bintik - bintik jerawat diwajahnya.


     Hanya sebuah kaca mata bulat yang biasa ia kenakan yang masih menempel di batang hidungnya.


     "Maaf! apakah bapak mengenal seorang gadis yang bernama Miftahul Jannah? dia ditinggalkan oleh orang tuanya karna dianggap buah kasih akibat sebuah kebencian pasangan tersebut?" tanyanya yang sontak saja membuat jari pak Askari yang sibuk menari - nari diatas kearbord terhenti.


     "Tunggu! bagaimana kamu tau soal gadis tersebut?" tanyanya merasa sangat terkejut.


     "Ya... Karna aku adalah-" ia sengaja menjedanya lalu membuka masker dan kaca mata bulatnya.


     "Putrimu pa-pa," sambungnya dengan mata yang telah berkaca - kaca.


     "Putriku! tidak mungkin," ucapnya bergetar lalu bangkit dari kursinya untuk mendekati Miftah.


     Belum ada reaksi apa - apa, sang papa masih menatap tak percaya pada bidadari kecilnya dulu yang kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa.

__ADS_1


      "Apakah ini beneran kamu nak?" tanya sang papa dengan suara serak. Tampak dengan jelas jika matanya sudah merah karna ikut berkaca - kaca.


     "Iya pa! ini beneran aku! putrimu," ucapnya dengan linangan air mata.


     Akhirnya mereka pun berpelukan dan menangis sesegukan sambil bertekuk lutut dilantai.


     "Papa minta maaf putriku! harusnya papa dulu tidak ikut terpancing emosi mamamu! tapi iman papa yang begitu lemah ini membuat papa jadi lupa dengan perasaanmu," ucapnya dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya.


     "Iya pa... Miftah paham kok... Papa tapi jangan pernah berpikir kalau Miftah bakal benci papa sama mama... Sampai kapan pun Miftah bakal sayang pada kalian berdua," ucapnya.


     "Tapi... Mama sudah tidak dengan papa lagi," beritahunya sambil mengeratkan pelukannya.


     "Miftah tau pa! itu sebabnya Miftah datang kesini dan menyamar menjadi Jannah untuk memperlihatkan suatu hal pada papa," beritahunya sambil menatap lekat bola mata sang papa saat pelukan mereka terlepas.


     "Apa itu?" tanya sang papa.


     "Ini pa!" ucap Miftah sambil membuka hpnya lalu menyerahkannya pada papanya.


     "Coba papa dengar," pinta Miftah.


     Sang papa hanya menurut lalu mulai mendengarkannya dengan serius saat mereka sudah berpindah posisi kesofa yang ada diruangan tersebut.


     "Papa juga bisa lihat Vidio ini agar papa lebih percaya," unjuk Miftah.


     Itu adalah Vidio dimana para pekerja kebun dimarahi saat menumpuk sampah kemarin. Beruntung Miftah tak lupa meminta Virgo untuk mengirim rekaman cctv yang ada didekat situ ke ponsel Miftah.


     "Benar pa! tapi aku juga dibantu oleh temanku agar lebih mudah mendapatkannya," jawabnya sambil tersenyum.


     "Apakah papa percaya?" tanya Miftah sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Tentu saja papa percaya dengan putri papa yang satu ini," ucap sang papa balas tersenyum lalu merangkulnya sambil mengelus bahunya.


     "Makasih banyak ya pa," ucapnya senang lalu menyenderkan kepalanya di bahu sang papa.


     "Lho! harusnya kan papa yang berterima kasih karna kamu udah mau sadarin papa kalau istri kedua papa itu tidak baik. Kamu memang putri papa yang paling hebat," pujinya lalu memberikan sebuah kecupan di umbun - umbun kepalanya yang ditutupi jilbab.


     "Iya pa! ternyata mereka juga yang merencanakan itu semua hingga mama dan papa jadi bercerai," ucapnya.


     "Benar sekali! papa benar - benar kecewa dengannya. Makanya sejak dulu sampai sekarang meski pun kami sudah menikah papa masih saja tidak sanggup untuk menyentuh nya karna bayangan mamamu begitu kuat putriku," ungkapnya.


     "Papa seriusan kalau wanita yang papa cintai hanya mama? meskipun mama suka terpancing emosi," tanya Miftah sambil memandang lekat sang papa.


     "Tentu saja dong! mama kamu itu wanita nomor dua dihati papa! dan gak bisa digantikan dengan siapa pun," ucapnya sambil terkekeh pelan.


     "Iya pa! tapi bagaimana kalau kita jangan langsung labrak nyonya," usulnya.

__ADS_1


     "Terus? kalau gak dilabrak untuk apa semua bukti ini? lagian dia nanti bisa sadar dan merasa malu," tanya sang papa merasa bingung.


     "Itu biar jadi bukti untuk papa aja dulu," ucapnya sambil tersenyum.


     "Ah! papa ma gak butuh bukti juga bakal percaya sama kamu putriku! kamu kan gak pernah bohong orangnya," ucap sang papa sambil mencolek hidung putrinya dan Miftah hanya tertawa sambil berkata "papa bisa aja."


     "Jadi gimana rencanamu?" tanya sang papa.


     "Aku ingin kita labrak nyonya dengan pria itu terus pa, dengan kondisi papa sudah menikah dengan mama lagi." usulnya.


     "Jadi mereka kan bakal sama - sama malu dan merasa menyesal karna tertangkap basah secara bersamaan," sambungnya.


     "Wah! bagus juga ide putri papa ini," puji sang papa.


     "Jadi papa setuju?" tanya Miftah memastikan.


     "Ya setuju dong! papa gak bakal ragu sama ide putri papa yang terkenal cerdas ini," jawabnya sambil tersenyum.


     "Iya pa," ucapnya balas tersenyum.


     "Kalau begitu Miftah pamit dulu yah pa! sesuai rencana papa bersikap biasa aja dulu ya... Kita bakal cari cara untuk temuin mama dulu," peringatnya.


     "Baik putriku," respon sang papa lalu kembali kekursi kerjanya dengan senyuman yang tak berhenti merekah dari bibirnya sedangkan Miftah sudah keluar dari ruangannya.


     "Bagaimana?" tanya Virgo yang penasaran dengan hasilnya.


     "Alhamdulillah berhasil kak," senangnya.


     "Syukurlah kalau begitu, ayo cepat kita pergi dari sini sebelum terciduk dengan nyonya nantinya." ajaknya.


     "Iya kak mari," angguk Miftah.


     "Oh iya! gak langsung labrak nyonyanya?" tanya Virgo saat mereka sudah berada didalam ruangan Miftah.


     "Enggak! karna aku punya rencana lain dengan papa," ucapnya sambil menyipitkan satu matanya dengan tangan yang memegang dagu.


     "Wedeh... Baru ketemu udah kompak aja," ucapnya ikut senang.


     "Dari dulu kali... Dan itu gak akan pernah berubah sampai saat ini," ucapnya merasa sangat senang.


     "Oke! semoga rencana kalian bisa berjalan dengan lancar ya..." Doanya.


     "Amiiin... Makasih banyak ya Kaka..." ucapnya sambil mengusap kedua tangan ke wajahnya.


     "Sama - sama Jannah," responnya.

__ADS_1


     Akhirnya mereka pun kembali melakukan aktivitas mereka masing - masing dengan suasana hati yang riang.


__ADS_2