
Firdaus dan Miftah bangun dijam yang sama, mereka melihat kearah jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga malam.
Berapa menit setelah mereka bangkit dari kasur jam Alaram pun berbunyi, dengan gesit mereka langsung mematikannya sebelum mengganggu waktu istirahat yang lain.
Mereka lalu menuju kekamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu, usai dengan urusan kamar mandi mereka pun mulai melaksanakan sholat tahajjud dan tanpa disangka mereka melakukan gerakan yang sama jika Miftah ibarat sedang sholat dengan adanya imam begitu pun sebaliknya dengan Firdaus.
Usai melaksanakan sholat tahajjud Miftah dan Firdaus kembali berbaring setelah memanjatkan berdoa, rasa kantuk yang masih menguasai mereka membuat mereka lebih mudah terlelap dalam sekejap.
Dipagi hari yang cerah Miftah baru saja membereskan kamarnya lalu membawa debu yang ia bawa dengan sapu keluar kamar, sampai diujung pintu ia pun mengambil sodokan untuk menampung sedikit debu.
Bi Ati yang baru saja naik merasa terkejut dengan apa yang Miftah lakukan.
"Maaf non Miftah... Kenapa kamarnya malah non Miftah yang sapu? kan ada bi Ati yang akan membersihkannya," ucapnya panik.
"Gak usah panik gitu lah bi... Lagian Miftah udah biasa kok dirumah begini jadi kalau urusan kamar Miftah biar Miftah saja yang turun tangan ya bi... Kecuali jika Miftah sakit, tapi sekarang kan Miftah lagi sehat." responnya menenangkan bi Ati.
"Tapi non - " ucapan bi Ati terpotong oleh Miftah.
"Sudahlah bi... Bibi tidak perlu panik begitu ya... Lagian Miftah cuma bersihin kamar Miftah doang kok! tapi kalau nanti bibi sedang butuh bantuan Miftah... Bibi boleh kok panggil Miftah," tawarnya yang membuat bi Ati menjadi senang.
"Makasih ya non..." ucap bi Ati.
"Sama - sama bi... Untuk kedepannya lebih baik bibi membereskan kamar Firdaus aja ya... Kalau urusan kamar Miftah biar Miftah yang melakukannya sendiri," peringatnya lagi.
"Non Miftah memang baik sekali dan sangat mandiri... Tidak salah berarti den Firdaus memilih non Miftah," puji bi Ati.
"Bibi jadi merasa sangat tertolong berkat tawaran non Miftah," sambungnya dan Miftah hanya berkata "bibi tidak perlu terlalu memuji... Ini memang sudah biasa dilakukan anak perempuan ketika bagun pagi," jelasnya dan bi Ati hanya mengangguk membenarkan.
Tak berapa lama kemudian mama Firdaus pun datang dengan senyuman yang berseri - seri.
"Ya ampun... Menantu mama udah siap aja nih! kenapa gak langsung kebawah aja panggil mama?" tanyanya yang membuat Miftah menatapnya dengan sejuta tanda tanya.
Miftah pun berusaha mengingat kembali kejadian kemarin saat ia bersama sang mama ketika duduk di sofa taman belakang rumah.
"Oh iya! maaf ya mama, Miftah hampir saja lupa kalau kita ada janji pagi ini." ucapnya sambil menaruh sebelah tangannya didahi.
__ADS_1
"Tuh kan! untung aja mama datang awal," responnya yang tanpa ba bi bu langsung menarik tangan Miftah untuk menuruni tangga sedangkan bi Ati hanya melihat mereka dengan penuh rasa penasaran.
Firdaus yang baru saja keluar dari kamar hanya mampu bertanya kemana mereka pergi dengan wajah yang tak berhenti berseri.
"Bi! mama sama Miftah mau kemana ya?" tanyanya dan sang bibi hanya menggeleng sambil berkata "Bibi juga gak tau den... Tiba - tiba saja nyonya datang lalu menarik tangan non Miftah untuk pergi."
Firdaus hanya mampu menggeleng - gelengkan kepalanya melihat semangat mamanya yang akhir - akhir ini semakin memuncak, usia mamanya boleh dikatakan tua tapi tak ada yang bisa menandingi jiwa mudanya yang begitu kuat.
"Ya udah biarin aja deh mama senang - senang sama Miftah! tapi papa ikut juga gak?" tanyanya.
"Kayaknya enggak sih den... Tadi aja bibi liat tuan lagi sarapan sendiri dimeja makan," jawab bi Ati.
"Bagus! jadi aku ada temannya deh!" senangnya lalu langsung berjalan menuruni tangga sedangkan bi Ati mulai menuju kekamar Firdaus seperti biasa untuk melakukan tugasnya.
Dimeja makan tampaklah papa Firdaus masih sibuk menikmati nasi gorengnya.
"Pagi pa," sapanya lalu duduk disalah satu kursi dimeja panjang.
"Akhirnya mama sudah menyuruh bibi untuk menggantikan meja seperti semula," batinnya.
"Jeh papa... Giliran anaknya nyapa malah dibilang gitu! kalau gak disapa apa lagi," resah Firdaus merajuk dan sang papa hanya terkekeh pelan karna berhasil mengganggu anaknya.
"Udah gak usah kusut gitu mukanya kayak baju yang belum digosok aja," gurau sang papa.
"Biarin aja! muka Firdaus yang ganteng ini kan udah papa lekuk kayak jeruk purut tadi," responnya masih dalam keadaan merajuk.
"Hahaha... Ada - ada saja kamu! mana bisa papa lekukin muka kamu... Yang ada kamu sendiri yang melekuknya," tawa sang papa sambil mengacak asal rambut putranya dan Firdaus hanya mengacuhkannya.
"Terserah papa lah! papa dari dulu sampai sekarang selalu saja bersikap serius kan jadi krik - krik!" dengus Firdaus yang hampir hilang selera makannya.
__ADS_1
"Udah jangan merajuk lagi," tegur sang papa.
"Kalau Firdaus gak mau berhenti merajuk gimana pa?" tanyanya acuh.
"Kamu yah kalau sama papa masih aja bersikap caper kayak anak kecil gitu," ucap sang papa kembali terkekeh pelan.
"Entah! papa sendiri yang selalu menganggab Firdaus seperti anak kecil," resahnya.
"Lagian sikapmu ketika dihadapan papa sangat mencirikan sekali di bandingkan saat berkumpul bersama yang lainnya," ucap sang papa lalu kembali memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya.
"Iya - iya... Suka - suka papa aja deh," ucapnya mengalah dan sang papa lagi - lagi hanya tersenyum penuh kemenangan karna puas memanasi anaknya.
"Udah jangan ngambek lagi... Mendingan kamu cepat habiskan makanan mu," suruh sang papa.
"Ngapain buru - buru! kayak orang mau pergi kemana aja" respon Firdaus sambil mengunyah makanannya.
"Emang rencana papa mau ajak kamu pergi tapi kalau kamu gak mau gak papa sih! papa kan bisa pergi sendiri atau ajak teman papa aja," ucap sang papa sambil menekan kalimat teman di ucapkannya.
Firdaus yang mendengar ucapan papanya jadi tersedak seketika.
"Benaran ini pa? khuk huk huk! papa gak boong kan sama Firdaus?" tanyanya hingga terbantuk saking terkejutnya, karna tidak seperti biasanya papanya ada waktu untuk bermain dengannya.
"Ngapain papa becanda! papa kalau udah bilang ingin pergi ya pergi... Lagian kapan lagi papa sempat bermain sama kamu lagi ketika kamu sudah menikah nanti," ucapnya yang membuat Firdaus terdiam.
"Jadi hanya karna Firdaus ingin menikah dan tak lama lagi meninggalkan rumah ini baru papa berinisiatif mengajak Firdaus bermain?" tanyanya sedikit sedih saat mendengar alasan dari papanya.
"Udah... Gak usah sedih begitu... Gak juga kok... Papa emang lagi ada waktu libur untuk hari ini, kan kamu tau sendiri kalau setiap papa ada waktu senggang selalu mamamu duluan yang minta diajak jalan - jalan sama papa, tapi semenjak ada Miftah mamamu seperti lebih menghabiskan waktu bersamanya dibandingkan sama papa." jelasnya.
"Oh ternyata selama ini begitu toh alasannya," respon Firdaus sambil mengangguk mengerti sekaligus memahami kenapa sang papa jarang ada waktu untuk bermain bersamanya bahkan dengan adiknya yang lain.
"Alhamdulillah," ucapnya setelah menghabiskan suapan terakhirnya lalu mulai membaca doa setelah makan.
"Papa kalau begitu Firdaus pergi siap - siap dulu yah," pamitnya.
__ADS_1
"Baiklah! nanti papa akan menunggumu digarasi mobil," jelas sang papa dan Firdaus hanya mengangguk mengerti sambil berkata "oke pa," lalu mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar dengan perasaan senang.