Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 91


__ADS_3

     Sesampainya dirumah Miftah langsung menuju kekamar, kondisi tubuhnya sudah terlihat lemah. Tapi ia berusaha untuk selalu tampak ceria didepan mama dan papa saat melewati ruang tamu.


     "Eh! mantu kesayangan mama udah pulang rupanya," ucap sang mama saat Miftah berkata "Assalamualaikum! ma... Pa... Miftah pulang."


     Miftah jadi sangat terkejut saat sang mama menariknya untuk duduk didekatnya.


     "Kamu udah makan siang belum sayang?" tanyanya.


     "Alhamdulillah udah ma," jawabnya.


     "Yang benar? kamu gak lagi bohongin mama kan?" tanyanya lagi.


     "Enggak mama... Lagian mana mungkin Miftah membohongi mama yang sangat baik dan penuh perhatian ini..." pujinya sambil tersenyum lebar.


     "Ah! mantu mama yang satu ini bisa aja," ucapnya sambil memukul telapak tangan Mifthah pelan.


     "Emang mantu mama siapa lagi ma?" tanya Miftah sambil mengangkat satu alisnya dengan bibir yang tak berhenti merekahkan senyuman.


     "Ya cuma kamulah sayang... Mana mau mama punya mantu banyak..." responnya.


     "Ya pasti banyak lah ma... Kan anak mama bukan kak Firdaus saja..." ucap Miftah.


     "Oh... Kalau itu sudah pasti dong... Tapi kan kalau hanya Firdaus ya mantu mama yang terbaik itu cuma kamu..." ucapnya lalu kembali menonton acara kesukaannya yang baru saja mulai.


     "Yaudah kalau gitu Miftah mau istirahat dulu yah ma..." pamitnya.


     "Lho! kok cepet banget sayang? duduk dulu atu sama mama sama papa," rengeknya.


     "Ma... Sudah jangan bertingkah seperti anak kecil ya... Miftah itu baru pulang kerja... Bukannya abis jalan - jalan naik odong - odong... Jadi wajarlah ma... Kasian dia... Emang mama mau mantu kesayangan mama sakit nanti?" ucap sang papa mulai membuka suara yang sejak tadi hanya sibuk mendengarkan pembicaraan mereka.


     "Iya deh iya..." respon sang mama mengalah.


     "Miftah kamu pergi istirahat aja ya... Mama biar papa ikat dulu supaya gak kejar kamu," candanya sambil terkekeh pelan.


     "Apa? mama mau di ikat? udah kayak hewan ternak aja! papa ini! sebel deh jadinya," dengus sang mama sambil melipat kedua tangan dibawah dada dengan punggung yang sudah ia senderkan pada dindin sofa, tak lupa mulutnya yang manyun membuat sang papa sedikit gemas melihatnya.


     "Itu mulut kenapa harus maju beberapa senti sih..." gemasnya sambil menyolek bibir sang istri dengan jari telunjuknya.


     Sang mama yang masih tak terima dengan ucapan sang papa hanya mampu menepis tangan suaminya dengan kasar.


     "Udah! gak usah pegang - pegang," ambeknya.


     "Kenapa gak boleh? kan mama istri papa," herannya.


     "Apa papa gak tau ya! kalau mama ini lagi ngembek tau..." geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang sudah memerah.


     "Ya tapi mama ngambek sama siapa dulu..." responnya yang pura - pura tak tau.


     "Au! sama siapa entah! yang gak nyadar! barusan bilang kemama mau di ikat! pura - pura lupa lagi! dasar watados," sindirnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.


     Miftah yang tak ingin berlama - lama melihat adu mulut tersebut memilih pamit setelah meraih telapak tangan kanan mereka dan menyiumnya sesaat lalu ia langsung bergegas ke atas.


     "Tuh kan! gara - gara papa Miftah perginya cepat," omelnya lagi.

__ADS_1


     "Tar lu! apa itu watados?" tanya sang papa yang benar - benar belum mengetahui kepanjangan kalimat tersebut.


     "Hadeh Papa... Pa... Watados itu wajah tanpa dosa! udah ah! mama pegel duduk! mau nonton sambil berbaring aja dikamar, dan itu sendiri! papa tetap disini dan nikmati filmnya sendiri tanpa ma-ma," jelasnya sambil mematahkan kalimat mama lalu berlalu pergi dari hadapan suaminya dengan acuh.


     "Hadeh... Nasib... Nasib..." resah sang papa sambil menggeleng - gelengkan kepalanya dengan kedua tangan yang mengusap wajahnya beberapa kali.


     Sesampai dikamar Miftah tanpa ba bi bu langsung saja merebahkan tubuhnya yang terasa begitu remuk setelah lelah berperang dibawah terik matahari sambil mengontrol puluhan pekerja kebun yang ada disana.


     "Pantas saja banyak mandor yang tidak sanggup. Ditambah tekanan dari nyonya membuat mereka gak ada yang bertahan sampai ketitik yang paling rendah hingga tidak ada satu pun lagi mandor yang mengatur disetiap hektarnya," gumamnya.


     "Hari ini aku belum berhasil mencari buktinya. Tapi untuk kedepannya, aku harus berusaha lebih keras lagi! setidaknya para pekerja tadi bisa di ajak bekerja sama nantinya, agar tau sikap nyonya yang suka berbuat semena - mena pada mereka," tekatnya.


     Tak berapa lama kemudian Miftah pun terlelap. Untung ia sudah melaksanakan sholat asar tadi dijalan, sebelum pulang disebuah Musalla yang ada dikampung tersebut.


________________________________


     Hari sudah mulai gelap, Miftah yang baru saja terbangun sangat terkejut saat melihat jam yang tak lama lagi akan memasuki waktu sholat magrib.


     Ia langsung bangkit dari tidurnya dengan tergesa - gesa, menuju kekamar mandi setelah menyambar salah satu anduknya asal.


     Tak terasa, usai melaksanakan sholat Magrib ia memutuskan untuk membaca Al-Qur'an sebentar sambil menunggu waktu Isya dan saat waktu tersebut tiba baru ia menutup kitab suci tersebut lalu menyambung untuk melaksanakannya.


     Disisi lain Firdaus yang baru saja keluar dari kamarnya usai melaksanakan kewajiban mulai melangkahkan kakinya lalu berhenti tepat didepan kamar Miftah.


     "Tok! Tok! Tok!"


     Suara ketukan pintu mulai terdengar membuat insan yang ada didalam buru - buru membuka pintu kamarnya.


     Firdaus yang mendengar ucapan lembut Miftah hanya tersenyum, lalu ia menarik tangan Miftah untuk berjalan mengikutinya.


     "Lho! Kaka! aku tanya sama Kaka kok gak dijawab sih kak?" tanya Miftah merasa heran.


     "Kamu udah siap kan?" bukannya menjawab Firdaus malah balik bertanya.


     "Sudah! terus?" responnya sedikit mengadahkan kepalanya saat melihat  Firdaus yang jauh lebih tinggi darinya.


     "Ya tinggal ajak aja lah! kan gak perlu nunggu lagi," jelasnya.


     "Iya... Tapi kemana Kaka..." herannya yang masih diselimuti rasa penasaran.


     "Ya kemana lagi kalau bukan makan," ucapnya santai.


     "Ya ampun kaka... Miftah pikir apa coba tadi," resahnya.


     "Emang kamu pikir apa?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Sudahlah! lupakan aja kak! gak penting lagian," ucapnya menyerah.


     "Lho! kok gitu sih," dengusnya.


     "Ya aku ginilah kak... Masak gitu," responnya acuh tak acuh.


     "Oh iya! berapa kali Miftah bilang, kalau kita itu belum muhrim. Tapi Kaka sering banget deh main sambar - sambar aja tangan Miftah," ucapnya merasa lelah.

__ADS_1


     "Ya gak papa! sekali - kali," responnya dengan pandangan yang sudah lurus kedepan.


     "Apa? sekali - kali? apa telingaku gak salah dengar kak?" tanyanya tak habis pikir dengan ucapan Firdaus.


     "Ya gak salah dong! itu buktinya kamu bisa dengar dengan jelas dari tadi," responnya yang membuat Miftah hanya menghembuskan nafas kasar lalu melepaskan genggaman tangan Firdaus dari tangannya.


     Tapi Firdaus malah memperkuat genggamannya hingga membuat Miftah harus menggunakan otak cantiknya.


     "Kakaku yang baik... Kalau Kaka gak mau lepasin tangan Kaka dari ku sekarang, untuk kedepannya aku gak bakalan mau jalan bareng sama Kaka lagi." ancamnya.


     "Ya gak papa kalau gak mau! kan tinggal ku paksa nanti! kamu kan kalah sama aku," bangganya.


     "Apa?" tanyanya dengan wajah yang sudah cemberut.


     "Ya udahlah! nanti aku bakal aduin ke mama aja," ucapnya sambil memanyunkan bibirnya.


     "Aduin aja terus kalau berani," ucapnya sambil tersenyum miring.


     "Bener ya," tantangnya.


     "Iya," jawabnya singkat, padat dan yang pastinya jelas.


     Mau tidak mau karna Miftah malam ini sedang malas mencari ribut ia memilih diam.


     "Oke! sebelum sampai dapur, lepaskan!" peringatnya.


     "Beres..." respon Firdaus merasa menang dengan bibir yang tak berhenti tersenyum penuh kemenangan sedangkan Miftah hanya memalingkan wajahnya ke arah lain tanpa ingin melihat raut wajah bahagia dari Firdaus.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2